Oleh: Jo Priastana
“Segala sesuatu adalah ilusi, dan begitu suatu momen terjadi, itu sudah berlalu.
Oleh karena itu, fokus pada saat ini dan berusaha sebaik mungkin setiap saat”
(Chow Yun-fat, Aktor Legendaris)
Selain pengagum Konfusius, Chow Yun-Fat juga diresapi oleh filosofi hidup Buddha. Ia pernah mengungkapkan, “Sebenarnya, saya seorang Buddha. Saya tidak suka kekerasan sama sekali. Tapi saya terpaksa melakukannya karena ini pekerjaan saya.” Hal ini diungkapkannya dalam biografinya di Tribu.ca. Kekerasan memang sering mewarnai film-filmnya, seperti film the Killer dan lainnya, namun kalau diperhatikan, dalam film-filmnya itu sendiri, sang tokoh yang diperankannya akhirnya menyesali penggunaan kekerasan atau setidaknya berlawanan dengan kata hatinya.
Chow Yun-Fat tidak pernah membawakan peran sebagai seorang Bhiksu. Namun dalam film “Bulletproof Monk” (2003) yang ia sebut mengandung filosofi Buddha, Chow Yun-Fat memainkan peran yang sepertinya sebagai seorang bhiksu namun bukan dalam arti bhiksu formal yang berjubah. Karakter yang ia mainkan bukanlah seorang bhiksu tradisional dalam pengertian agama Buddha, melainkan seorang “monk” (tanda kutip) with no name, seorang bhiksu Tibet abadi yang memiliki misi khusus. Tepatnya sebagai pahlawan aksi yang mengembara selama lebih dari enam dekade untuk menjaga sebuah gulungan kuno.
Gulungan kuno yang memiliki kekuatan keabadian dan kekuatan luar biasa bagi yang memilikinya. Dalam film adaptasi dari komik karya Brett Lewis dan Michael Avon Oeming ini, bercerita tentang bhiksu yang mencari penerus yang layak untuk mewarisi tugasnya dan mencegah seorang wanita jahat yang akan memanfaatkan gulungan tersebut untuk tujuan jahatnya. Perannya sebagai pahlawan aksi yang memiliki filosofi hidup yang dalam, dan tampaknya juga mempengaruhi cara hidup Chow Yun-Fat kemudian yang senyatanya, dan mendapat julukan sebagai Bhiksu Urban.
Nilai Pribadi dan Filosofi Hidup
Jauh dari kehidupan para aktor layar perak yang cenderung glamor, Chow justru hidup seperti seorang biksu urban. Ia naik bus umum, belanja di pasar, dan tertawa lepas di warung mie pinggir jalan, karena ia tidak mengagungkan kekayaan. Baginya, hidup bahagia adalah hidup sederhana, sehat dan bermakna. Chow percaya bahwa kebahagiaan bukan berasal dari kekayaan atau ketenaran, tetapi dari kesederhanaan, kesehatan, dan cinta.
Chow juga sangat menjaga privasinya, dan hubungannya dengan istrinya, Jasmine Tan, sangat erat. Mereka tidak punya anak, tapi menjalani hidup tenang dan bahagia bersama. Chow Yun-Fat adalah bukti bahwa seseorang bisa menyentuh dunia dengan ketenaran, tetapi menjaga akar dengan kesederhanaan bebas dari keserakahan.
Ia tak hanya menghibur lewat film-film besar, tetapi juga memberi inspirasi lewat gaya hidup yang membumi. Dalam dirinya, jiwa seorang aktor bijak dan seorang filosof tampaknya benar-benar menyatu. Sebagai aktor yang mampu hidup mewah, ia justru hidup sederhana dengan menyumbangkan hampir seluruh kekayaannya untuk amal. “Uang bukan milikku,” katanya suatu kali dalam wawancara. “Aku hanya menjaganya sementara.”
Chow Yun-Fat meratakan hidupnya di dunia bersama rata-rata manusia pada umumnya. Penggunaan sejumlah kekayaannya layaknya seperti hidup para karyawan pabrik yang sekedar hidup dengan UMR (Upah Minimun Regional). Ia pernah mengatakan bahwa ia hanya butuh hidup dengan sekitar USD 100 per bulan, sisanya ia sumbangkan. Ia berkomitmen menyumbangkan seluruh kekayaannya (sekitar 700 juta dolar AS) untuk amal. Perbuatan yang mencerminkan dana (pemberian) dalam Buddhisme dan kebajikan “ren” dalam Konfusianisme.
Konfusius dan Buddha hidup di belahan dunia yang berbeda walau tampaknya tidak jauh dari sezaman. Konfusius dan Chow Yun-Fat bukan seorang bhiksu, tapi sangat mirip dalam cara hidup dan nilai-nilainya. Konfusius melepaskan jabatan demi kebenaran, hidup dalam pengasingan, dan berjalan kaki dari satu kerajaan ke kerajaan lain untuk menyebarkan kebajikan. Chow Yun-Fat pun tampaknya serupa dengan melepas ketenaran dan kekayaannya.
Chow Yun-Fat tidak mengagungkan ketenaran dan kekayaan. Ia hidup tidak mengejar kemewahan, orang sering melihat dia naik bus umum dan makan makanan sederhana. Ia menjalani hidup dengan kesadaran spiritual, walau tidak menyebut dirinya religius. Dan ia seolah berkata: “Kita tak perlu lari ke gunung untuk menemukan damai. Temukan damai di dalam diri, bahkan di tengah hiruk pikuk kota.”
Bhiksu Urban di Tengah Kota
Pribadi dan sosok Chow Yun-Fat yang luar biasa ini kiranya dapat digambarkan: “di antara neon dan layar lebar, berjalan satu jiwa tanpa gelar. Ia bukan biksu, tak berselimut jubah, tapi matanya tenang, hatinya lapang. Ia tidak tinggal di gua, tidak bermeditasi di puncak Himalaya, tapi setiap langkahnya di trotoar kota, adalah dia sang kebajikan yang tak bersuara.”
Chow Yun-Fat bintang dunia yang bersinar. Tangannya tak menggenggam dunia, meski dunia bersujud di kakinya. Ia memilih nasi hangat dari warung tua, daripada makan malam di istana raja. Ponselnya kuno, bajunya biasa, tapi pikirannya jernih, jiwanya lega. Ia berkata: “ketenaran itu semu, kebahagiaan adalah tahu kapan cukup”.
“Bhiksu Urban” kiranya sebuah metafora yang cocok buat Chow Yun-Fat. Ia hidup di tengah kota besar, terkenal, tetapi menjalani hidup dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan ala pertapa. “Bhiksu Urban” bukan gelar, tapi semacam gambaran cara hidup Chow Yun-Fat. Seorang yang hidup seperti bhiksu, penuh kedamaian batin, menjauh dari nafsu duniawi tapi tetap tinggal di tengah keramaian kota, bukan di hutan atau kuil.
Maka tidak keliru bila orang-orang pun menyebutnya “bhiksu urban”, pertapa tanpa biara, yang membawa kebijaksanaan ke tengah pasar dan layar bioskop, bagai Konfusius dan Sokrates yang mengunjungi murid-muridnya di tengah kota. Chow Yun-Fat, sang legendaris dunia perfilman, bintang yang bersinar di langit ketenaran, menjalani kehidupan yang sangat membumi sederhana di dunia modern materialisme.
Cara hidup asketis kepertapaannya terasakan dunia lewat langkah-langkahnya layaknya bhiksu urban yang menyusuri jalan-jalan di tengah kota, menyapa mereka yang susah. Chow Yun-Fat tidak pernah secara resmi menjadi bhiksu. Gaya hidup dan cara pandangnya terhadap hidup sangat dekat dengan semangat kebhiksuan, cerminan ajaran Tridharma kebijaksanaan Timur, Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme. Gaya hidup yang sederhana, menolak kemewahan, dermawan luar biasa, menjaga kebahagiaan batin, keseimbangan dan ketenangan.
Hidup bukan soal kesuksesan dan ketenaran, ia bahkan mengatakan. “hidup itu singkat, jadi jangan buang waktu mengejar hal-hal yang tidak penting.” Chow Yun-Fat secara tidak langsung telah menjalani hidup seperti bhiksu dunia modern, berada di tengah masyarakat, tapi tidak terjerat oleh nafsu dunia oleh ketenaran, pengumpulan harta dan kemewahan hidup. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: ChatGPT