“Citayam Fashion Week” (3) – Perlawanan Kultural dan Perubahan Sosial

Home » Artikel » “Citayam Fashion Week” (3) – Perlawanan Kultural dan Perubahan Sosial

Dilihat

Dilihat : 16 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Jo Priastana

 

 “Ketika terjadi sebuah perubahan tiba-tiba secara domestik di tengah masyarakat, dan melibatkan perubahan dalam stuktur sosial, dapat dipastikan bahwa di dalam masyarakat itu sedang berlangsung revolusi sosial. Revolusi selalu bermula dari berbagai gejolak di tengah masyarakat yang tidak terselesaikan (Samuel P. Huntington, Sosiolog)

Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi justru tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Anak-anak muda Citayam yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas telah membuat sejarah. Sejarah yang mereka buat adalah tentang masa depan yang menginspirasi Indonesia. Banyak kota di berbagai daerah semarak dengan apa yang mereka lakukan di SCBD, Dukuh Atas, Jakarta, bersamaan aktivitas “Citayam Fashion Week.”

Hanya dengan ide sederhana mereka mengguncang masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Sebuah ide ragam kreasi yang mendapat penghargaan dimana-mana, ditiru, diduplikasi dan juga disinisi namun tetap terasa bahwa semua terinspirasi dari kreasi anak muda di kawasan Dukuh Atas, “Citayam Fashion Week,” sebagai sebuah peristiwa sosial budaya yang mengguncang kota-kota lainnya.

Tampaknya, kegiatan mereka yang telah menyebar ke berbagai kota besar di Nusantara itu bukan sekedar peristiwa fashion semata. Kegiatan yang menginspirasi dan mengandung dinamika kemajuan dalam perlawanan dari sub-culture atas kelas elite sosial dan sekaligus membawa perubahan sosial seiring dengan aspirasi jiwa anak muda masa kini.

Ruang Publik dan Perlawanan Kultural

Peragaan fashion yang selama ini hanya milik kelas elite adalah juga hak anak-anak SCBD, begitu pula dengan ruang sosial di kawasan Dukuh Atas. Keragamam yang terlihat dalam Citayam Outfit menunjukkan pemberontakan terhadap kecenderungan penyeragaman dalam berbusana. Keragaman merupakan ciri tumbuhnya masyarakat modern, social progress atau kemajuan sosial dengan identitas inklusif dan tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.

Bonge, Jeje, Roy, Kurma cs, adalah manifestasi dari kalangan kaum anak muda marjinal sosialis yang berusaha mengatasi kerasnya kehidupan seperti himpitan ekonomi, putus sekolah, broken home, lingkungan mabuk agama, kekerasan dan lain-lain. Mereka mengatasi dengan caranya sendiri yaitu joget-joget, outfit seadanya, nongkrong, ngopi starling, hidup apa adanya, polos, lugu, bahkan tidur di jalan di kawasan SCBD, stasiun Sudirman terowongan jalan Kendal. (Cult classic 1/5/22. Komentar YouTube. Jedah Nulis).

Jika fenomena CFW dikooptasi oleh kalangan elite itu masih bisa berkembang secara organik dan bisa bertahan lama, maka bisa dipastikan mereka telah membuat sejarah. Lagi pula CFW telah ditiru di daerah lain, menunjukkan bahwa CFW telah menginspirasi karena sejalan dan mewakili aspirasi jiwa anak-anak muda di berbagai kota.

Ekspresi dan kreasi anak CFW lewat busana yang sederhana dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan atas selera arus utama yang dikuasai kalangan mapan. Meski mungkin pada awalnya mereka tidak bermaksud seperti apa yang terjadi di Harajuku Jepang, namun hanya sekedar mencari ruang yang sesuai untuk menghibur, menemukan identitas diri, aktualisasi diri dan bersosialisasi. Secara kebetulan saja mereka menjadi trendsetter dengan aktivitas budayanya dimana SCBD berkembang menjadi penanda anak-anak muda di berbagai kota dan tidak mustahil dapat membangun identitas nasional.

Fenomena CFW memperlihatkan keberagamam busana dan inklusivitas di ruang publik. Sebuah cara mengekspresikan diri cermin masyarakat pluralistis modern. SCBD Dukuh Atas berubah menjadi kiblat anak-anak muda di daerah yang mengekspresikan dirinya di jalanan. Mereka menebar keragaman sebagai jawaban atas dahaga ruang publik dan bentuk perlawanan kultural terhadap kebudayaan kota yang mapan.

Di ruang publik itu, CFW seakan menjadi jalan keluar dan cara bersaudara yang lebih alamiah dan ramah. Kelak bukan tidak mungkin nama CFW itu menjadi kosakata harafiah, teks hidup yang selalu dibicarakan. Sebuah proses yang sekarang secara fisik terlihat apa adanya namun lebih berwarna, lebih hidup, karena hadirnya sebuah imajinasi. (Leonita Lestari, youTube 1/8/22). Sebuah imajinasi dalam merespon kenyataan akan kebutuhan ruang publik yang mencerminkan demokratisasi, kesetaraan, perlawan kultural atas keseragaman komoditas kapitalistik dan kontrol teknologi.

 Filsuf Jurgen Habermas menyadari bahwa kapitalisme yang tidak dijinakkan akan menghasilkan malapetaka di dunia. Habermas menyarankan untuk mencari jalan lebih efektif untuk mengontrol perkembangan ekonomi di dunia yang makin kapitalistik ini dan jangan sampai perkembangan teknologi serta ekonomi mengontrol manusia habis-habisan. (Paulus Witotomo, “Pembangunan Sosietal,” 2021: 60-61).

Habermas (lahir 1929) menawarkan untuk menghidupkan kembali apa yang dia namakan public-sphere (ranah publik), yaitu suatu pranata perangkat demokrasi (baik formal maupun tidak) yang dapat menjadi tempat bagi anggota masyarakat untuk menyatakan pendapat dan aspirasinya, -menghidupkan kembali lembaga yang berfungsi sebagai public-sphere di tingkat komunitas lokal. (ibid).

 

 Dinamika Ekonomi dan Perubahan Sosial

Peristiwa CFW terjadi di tahun 2022 di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, di tengah mulai meredanya kirisis kesehatan pandemi covid-19, dan secara tak sengaja menggerakkan perekonomian orang kecil di sekitar kawasan Dukuh Atas. CFW juga ditiru di berbagai kota dengan dinamika ekonominya yang melibatkan jutaan orang di dalamnya. Ekonomi bergerak secara masif oleh pedagang kecil yang beragam dengan diikuti juga oleh bisnis online serta dampak ikutan ekonomi lainnya.

CFW menggerakkan ekonomi dengan konsumsi domestik, dimana akan ada banyak produk domestik yang tiba-tiba bermunculan secara signifikan. Sesuatu daya dinamika yang muncul dari bawah bagi negeri yang sedang berada di tengah keterpurukan ekonomi dunia dari ancaman resesi, yang mengingatkan akan cafe tenda semanggi di tahun 1998.

Cafe di tahun 1998 dari anak-anak muda yang mencoba bertahan akibat krisis ekonomi, dan yang pada awalnya tak luput dari pergunjingan. (Leonita Lestari, youTube 1/8/22).  CFW pun sempat didesak untuk dibubarkan, dan bahkan istilah “Citayam Fashion Week” awalnya sebutan sinis bagi anak-anak Citayam, Bojong Gede, Bogor yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas berlenggang-lenggok di zebra-cross jalan Kendal.

CFW menjadi indikasi dinamika sosial yang dimotori oleh agen-agen dari pinggiran bermodalkan solidaritas kelompok, keberanian, pola pikir sederhana, namun mampu menggerakkan rekan-rekannya di berbagai kota, seperti: Makasar, Surabaya, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Yogyakarta, Cikarang, Malang, NTT. Anak-anak itu turun ke jalan merubah jalan di kota-kota besar, menambah fungsi zebracross menjadi catwalk jalanan, mengekspresikan kebebasan, mendobrak tatanan, bebas dari formalitas.

 Pemain utamanya adalah Bonge dan kawan-kawannya, Roy, Jeje, dan Kurma yang berada di level terendah dan kemudian menjadi trendsetter. Mereka berhasil menjadi pembuat konten atau content creator yang kemudian didompleng para pesohor, politikus, dan Youtuber yang hadir turun dari posisi mereka ke dalam panggung jalanan buatan anak-anak muda tersebut.

Indikasi Kemajuan Sosial

Buddha menyatakan kehidupan adalah anicca, dan itu artinya kenyataan selalu mengalami perubahan. Kehidupan tidak lepas dari perubahan, karena perubahan menjadi hakekat realitas. Tinggal bagaimana jalan dan terjadinya perubahan itu, apakah lambat atau cepat, apakah ada yang menggerakkannya, ada agen-agen perubahan sosial, ataukah lambat bahkan mendekati statis karena dipenuhi oleh paham-paham konservatif ketimbang progresif.

Anak-anak adalah masa depan kehidupan dan anak-anak muda CFW itu telah menggerakkan perubahan sosial. Sebuah gerakan yang wajar terjadi di dalam sebuah dinamika masyarakat yang ingin bergerak maju, hidup tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak itu sendiri yang tumbuh dan berkembang menyatakan dirinya, dan secara tak sengaja telah berperan sebagai agen perubahan sosial yang menyimpan benih kehidupan yang dinamis.  

Revolusi merupakan sebuah sebutan untuk perubahan sosial-politik yang cepat tiba-tiba yang seringkali  bermula dari suatu peristiwa yang tampaknya tidak berarti. Runtuhnya tembok Berlin, bubarnya negeri besar Uni Soviet dimana anak-anak muda terinspirasi lagu grup band Scorpion, “Wind of Change.”

Juga fenomena Arab Spring, gelombang gerakan revolusioner di Timur Tengah yang bermula oleh adanya aksi selfimmolation (bakar diri) seorang pemuda sebgai bentuk protes atas ketidakadilan sosial (Tunisia, 2010). Aksi sosial yang mengingatkan Biksu di Vietnam, Thich Quang Duc pada 11 Juni 1963 membakar diri sebagai bentuk aksi protes.

Buddha sesungguhnya pun tidak meninggalkan peranan bidang sosial dan politik di dalam mewujudkan misinya melakukan transformasi diri dan transformasi sosial. Buddha mengajak raja-raja atau pemimpin sosial pada saat itu untuk melakukan reformasi sosial dan politik, sebagaimana diungkapkan Karen Armstrong dalam bukunya “Buddha” (2002:129).

Penulis buku-buku studi agama terkenal ini mengungkapkan bahwa Sang Buddha adalah seorang pembaharu sosial yang bercita-cita mewujudkan suatu masyarakat Buddhis atau menanamkan nilai-nilai Buddhis dalam kehidupan masyarakat di tengah berbagai sistem filsafat-keagamaan, sosial budaya yang ada waktu itu. (2002:129)

Proses Sosial Kreatif Unik

Perubahan sosial yang cepat dan segera dimungkinkan karena telah ada prasyarat dan kondisi yang melatarbelakanginya, seperti: masalah-masalah ketimpangan sosial, stratifikasi antar-kelompok yang tajam, pembiaran masalah sosial dan ketidakadilan hukum, kelas pekerja yang selalu menjadi korban para pemilik modal, para pemimpin oportunis, aspirasi yang tak tersalurkan,  krisis kepercayaan terhadap para pemimpin, serta permasalahan sosial lainnya yang memperlihatkan kesenjangan yang  dialami oleh masyarakat.

Mungkin saja terlalu berlebihan bila mengatakan CFW berpengaruh untuk perubahan sosial apalagi revolusi sosial, karena fashion sebagai bagian dari budaya pop dan CFW ini hanya akan bersifat sementara dan segera berakhir. Namun begitu, bukankah bibit yang baik, bila ditanam dengan baik serta dipupuk dengan kesuburan lingkungan akan bisa tumbuh besar menjadi pohon yang berbuah lebat dan mendatangkan kebaikan bagi sesamanya.

Selayaknya bibit CFW ini dibiarkan tumbuh secara organik dibantu perhatian dan pemeliharaan secukupnya dan bukan ditumbangkan yang seolah sudah ditakdirkan sehingga memupus pertumbuhannya. Pertumbuhan yang berkemungkinan justru menyimpan potensi yang membuahkan kebermanfaatan. Sebuah proses sosial dari kegiatan kreatif dan unik yang mencoba melawan kemapanan melalui pentas jalanan.

 Dengan sedikit mengembangkan imajinasi sosiologis atas kegiatan mereka yang mungkin dipandang sinis itu, maka akan dikenali bahwa fenomena kehidupan dan penderitaan yang dialami manusia itu juga berlaku secara sosial, selalu berkaitan, saling tergantung satu sama lain sebagai fenomena kultural dan struktural. CFW yang kreatif dan unik adalah bagian dari proses sosial dari arus perubahan kultural dan struktural yang selalu berlangsung dalam dunia kehidupan. (JP)

Pembaca yang terhormat

  • Redaksi menyediakan ruang sponsor (Iklan) Rp 500.000,- Per 1 Bulan tayang. Mari beriklan untuk mendukung operasional Setangkaidupa.com
  • Redaksi turut membuka bila ada penulis yang berkenan berkontribusi mengirimkan artikel bertemakan kebijaksanaan timur (Minimal 800 Kata, semi ilmiah).
  • Silahkan hubungi: Maja – 089678975279 (Chief Editor).

 

sumber foto: https://www.facebook.com/TBNH.theseries/photos/a.613028088781443/5249151121835760/?type=3&app=fbl

 

Butuh bantuan?