“Crouching Tiger, Hidden Dragon” – Kebenaran Diri Tidak Tersembunyikan

Home » Artikel » “Crouching Tiger, Hidden Dragon” – Kebenaran Diri Tidak Tersembunyikan

Dilihat

Dilihat : 45 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 2
  • 38
  • 33,966
p25570_p_v10_av

Oleh: Jo Priastana

 

“Di balik batu dalam kegelapan mungkin menyembunyikan seekor harimau, dan raksasa yang melingkari akarnya menyerupai naga yang sedang berjongkok”

(Puisi  Yu Xin, 513-581, penyair Tiongkok Kuno)

 

Budaya tradisional Cina mengenal siklus 12 tahunan yang dilambangkan dengan shio, lambang binatang. Di tahun 2024 ini menghadirkan Shio naga berlemen kayu, dan serasa mengingatkan tahun naga 24 tahun lalu, dejavu tahun 2000 yang berelemen logam. Teringat dan terasakan seperti berada ketika menonton sebuah film yang berjudul “Crouching Tiger, Hidden Dragon,” sebuah film di tahun 2000 itu yang serasa hadir dan tergambar kembali interpretasi makna terhadap film tersebut yang berkenaan dengan keberadaan dan kebenaran diri sendiri ketika memasuki tahun Naga ini.

Setiap datang tahun baru hampir dipasikan menjadikan kita berefleksi tentang keberadaan kita sebagai manusia. Tentang perjalanan dan kebenaran diri kita yang sesungguhnya. Kita ingat Filsuf Martin Heidegger (1889-1976) tentang keberadaan subyek manusia sebagai das sein dan ketaktersembunyian kebenaran sebagai aletheia. Keduanya saling berkaitan, dimana keberadaan manusia akan selalu tidak pernah dapat tersembunyikan.

Sepertinya, kebenaran, realitas yang sesungguhnya seperti yang ada dan terjadi dalam diri manusia meski terpendam namun justru mendesak untuk terungkapkan. Datangnya tahun Baru 2024 akan selalu mengundang untuk menyelam ke dalam diri, melihat kebenaran diri yang sesungguhnya. Masih adakah naluri yang terpendam dan selalu minta terungkap. Itulah refleksi yang kembali terpancar dari menyaksikan Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon” di tahun Naga 2000, tepatnya tayang pada 18 Mei 2000 (Cannes Film Festival). Siklus yang berputar kembali, dan 24 tahun lalu tak terasa kita dihadapkan kembali pada keberadaan diri kita sendiri yang tidak dapat tersembunyikan.

 

Macan Berjongkok, Naga Tersembunyi

Mengenai diri manusia, dunia psikologi mengenal endapan-endapan bawah sadar, naluri terpendam yang pada akhirnya juga tidak dapat disembunyikan. Realitas diri manusia sesungguhnya, dunia dalamnya yang mendesak untuk terungkap melalui tanda-tanda, impuls-impuls, gerak gerik tubuh. Dalam kerlingan mata atau sentuhan refleks otomatis. Kebenaran diri seperti itu yang kiranya diungkapkan dari film “Crouching Tiger, Hidden Dragon”, sebagai sebagai sebuah tontonan untuk menyelam ke dalam diri.

Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon”, diangkat dari sebuah novel Tiongkok yang muncul di awal tahun 1940-an, karya Wang Dulu. Sebagai bagian dari karya keempat yang secara kolektif disebut Pentalogi Besi Bangau, terbitan Pertama 6 Maret 1942. Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon” muncul di tahun 2000,” sebagai sebuah film sangat indah dan menarik perhatian khalayak, menyajikan mengenai hasrat manusia yang terpendam dan ingin lepas bebas dari segala ikatannya.

Ungkapnya, “movie about the desire to be free – free from the constraints that keep you from being who want to be and, of course, from loving who you want to love.”  

Tokoh Psikologi Analisa, Sigmund Freud (1856-1939) mengungkapkan tentang eros dan thanatos, naluri hidup dan naluri mati. Naluri yang bersifat laten, terpendam dalam ketidaksadaran (unconscious). Penyakit psikologis muncul karena hasrat eros atau naluri sensualitas yang tidak selalu bisa diwujudkan karena adanya hambatan berupa norma-norma moral dan prinsip realitas, atau dalam norma dan kode etik hidup bermasyarakat. Senada dengan itu, dalam Buddhadharma pun kita kenal konsep “bhava-tanha” (hasrat hidup) dan “vibhava-tanha” (naluri kematian).

Dua naluri hidup, naluri eros dan naluri kematian yang menggerakkan manusia hidup. Heidegger menyatakan bahwa manusia berjalan menuju kematiannya, “Sein Zum To-de,” ada menuju kematian. Endapan naluri bawah sadar layaknya naga yang tersembunyi, “hidden dragon.” “Sein Zum To-de” yang kerap dilupakan banyak orang karena cenderung tenggelam dalam arus kehidupan semu dari tarikan duniawi bersama kebanyakan manusia.

Cerita Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon,” bisa diinterpretasikan berdasarkan naluri manusia tersebut. Kisahnya tentang Pendekar pedang Li Mu Bai yang saling jatuh cinta dengan Shu Lien (Michelle Yeoh) namun tidak saling mengungkapkan. Cinta ini terhalang oleh norma kesetiaan karena Shu Lien adalah tunangan sahabat Mu Bai meski sudah meninggal.  

Ada pula Jen gadis muda, anak Gubernur yang bergelora, atraktif, sensual, cerdas dan mampu belajar silat sendiri bahkan melampaui gurunya Jade Fox. Jen yang hendak dinikahkan namun lebih bergairah kepada pacarnya, seorang bandit di gurun pasir yang pernah merampok keluarganya.

Jade Fox sendiri membunuh guru Mu Bai. Ia mengungkapkan bahwa dia melakukan itu karena dia jatuh cinta dan akan tidur dengannya, tetapi gurunya menolak untuk mengambil seorang wanita sebagai muridnya dan malah ingin mati secara indah puitis dalam pelukan wanita.

Hasrat murid mencintai (calon) guru atau guru berhasrat terhadap (calon) murid. Kenyataan ini juga tampak antara Mu Bai (Chow Yun-fat) kepada Jen. Mu Bai menyimpan hasrat terpendam dan sesungguhnya mereka juga saling mempesona. Kala Mu Bai mengejar Jen (Zhang Ziyi), gadis sensual ke dalam hutan bambu, dimana dia menawarkan untuk menjadikannya sebagai muridnya.

Jen setuju jika dia bisa mengambil pedang “Green Destiny” darinya dalam tiga langkah. Dengan gaya mempesona Mu Bai mampu mengambil pedang “Takdir Hijau” itu hanya dalam satu gerakan, tapi Jen mengingkari janjinya, dan Mu Bai melemparkan pedang itu ke atas air terjun. Jen segera menyelam mengambil pedang itu dan diselamatkan oleh Jade Fox.

Jade Fox (Chen Pei Pei) membuat Jen tertidur dan menempatkannya di sebuah gua, tempat Mu Bai dan Shu Lien menemukannya. Jade Fox tiba-tiba menyerang mereka dengan jarum beracun. Mu Bai melukai Fox dengan parah, sedangkan satu jarum beracun mengenai lehernya. Sebelum meninggal, Fox mengaku tujuannya adalah membunuh Jen karena Jen menyembunyikan rahasia teknik bertarung Wudang darinya.

Crouching Tiger, Hidden Dragon”, adalah film petualangan seni bela diri Wuxia tahun 2000 yang disutradari oleh Ang Lee dan ditulis untuk layar oleh Wang Hui-ling, James Schamus, dan Tsai Kuo-Jung. Mengisahkan Li Mu Bai, pendekar pedang, dengan jalinan cintanya pada Shu Lien maupun Jen dalam baluran keindahan sensualitas, lenting pedang di udara, melayang ringan bersama henbusan angin pada daun-daun bambu yang tipis, sebuah pertarungan dengan lenting suara pedang layaknya tarian cinta Mu Bai kepada Jen.

Film ini dibintangi oleh aktor terkenal Chow Yun-fat, Michelle Yeoh, Zhang Ziyi, dan ratu silat di tahun 1970-an Chen Pei-Pei. Selama bertahun-tahun retrospektif, “Crouching Tiger, Hidden Dragon” sering disebut-sebut sebagai salah satu film Wuxia terbaik yang pernah dibuat dan secara luas dianggap sebagai salah satu film terhebat di abad ke-21.

 

Endapan Naluri dan Peran Gender

“Macan Berjongkok, Naga Tersembunyi” merupakan terjemahan literal dari ungkapan Cina yang menggambarkan suatu tempat atau situasi yang penuh dengan tuan/kekuatan/hasrat yang tidak disadari. Ungkapan ini berasal dari puisi Tiongkok kuno Yu Xin (513-581) yang berarti “di balik batu dalam kegelapan mungkin menyembunyikan seekor harimau, dan raksasa yang melingkari akarnya menyerupai naga yang sedang berjongkok”.

Judul ini juga memiliki lapisan makna lain. Pada satu sisi, karakter Tionghoa dalam judulnya terhubung dengan narasi bahwa karakter terakhir dari nama Xiaohu dan Jialong masing-masing berarti “harimau” dan “naga”. Di tingkat lain, frasa idiomatik Tiongkok merupakan ungkapan yang mengacu pada arus bawah emosi, hasrat, dan hasrat rahasia yang tersembunyi di balik permukaan masyarakat yang sopan dan perilaku sipil, hasrat terpendam dan mendesak yang menjadi alur cerita film tersebut.

Selain hasrat terpendam yang bersembunyi, ada pula peran gender yang hendak terungkap.  Kita tahu, kesuksesan film animasi Disney “Mulan” (1998) yang mempopulerkan citra pejuang wanita Tiongkok di barat. Keunggulan wanita dan kesetaraan gender menjadi bahan diskusi menarik dan telah ada sejak ribuan tahun lalu di Cina. Beberapa disiplin seni bela diri terkemuka secara tradisional pun sering dianggap berasal dari wanita, misalnya Wing Chun.

Alur cerita “Crouching Tiger, Hidden Dragon” sebagian besar didorong oleh tiga karakter wanita, Shu Lien, Jen dan Jade Fox. Secara khusus, Jen didorong oleh keinginannya untuk bebas dari peran gender yang dikenakan padanya, sementara Shu Lien, yang tertekan oleh peran gender, mencoba membawa Jen kembali ke peran yang dianggap sesuai untuknya. Namun dalam film ini peran gender itu tidak dieksplor lebih jauh sebagaimana dalam novelnya.

Naluri kematian, thanatos juga tersaji dalam film itu. Racun yang berasosiasi kematian menjadi tema penting. Lebih jauh, kata Cina (du) tidak hanya berarti racun fisik tetapi juga kekejaman dan keberdosaan. Dalam dunia silat, penggunaan racun dianggap sebagai tindakan pengecut dan tidak terhormat untuk bertarung. Karakter yang secara eksplisit terdapat pada Jade Fox. Racun adalah senjata kepahitannya dan upaya balas dendam: mencoba meracuni Jen, dan berhasil mematikan Mu Bai menggunakan jarum beracun.

 

Imajinasi Estetika Tiongkok

Cerita Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon,” itu berlatarkan masa Dinasti Qing (1644-1912), tetapi tidak menyebutkan waktu pastinya. Ang Lee berusaha menyajikan “Imajinasi Tiongkok” daripada visi akurat tentang sejarah Tiongkok. Sang Sutradara Ang Lee ingin membuat film yang ditonton oleh penonton Barat. Oleh karena itu, film ini dibuat untuk keseimbangan antara estetika Timur dan Barat.

Ada beberapa adegan yang menunjukkan kesenian yang tidak biasa untuk film seni bela diri pada umumnya, seperti pertarungan udara di antara tanaman bambu dengan dedaunannya yang tipis-tipis. Namun justru disini menariknya, bagaimana suara lentingan pedang Mu Bai dan Jen yang terdengar diantara kaki-kaki mereka yang menapak ringan diantara dedaunan bambu. Serasa bukan pertarungan ahli silat, alih-alih tarian cinta dalam dentingan pedang dalam gerak halus, senyum genit dan tatapan menggoda.

Kesuksesan Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon,” ini kemudian dilanjutkan, dirilis ulang dalam restorasi 4K oleh Sony Pictures Classics pada tahun 2023. “Crouching Tiger, Hidden Dragon”: an unsurpassed masterpiece of romance, swordplay and feminism. It’s hard to believe that Crouching Tiger, Hidden Dragon is 23 years old.” (Ang Lee). Tak disangka seperempat abad berlalu, film ini masih dibicarakan dan dibuat kembali. Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon,” (2000) memenangi empat Oscar dan dua Golden Globe, di antaranya Sutradara Terbaik untuk Ang Lee.

Para bintangnya, seperti Michelle Yeoh dan Chow Yun Fat, maupun Zhang Ziyi memperlihatkan aksi yang memukau. Ketika pedang “Green Destiny” hilang, semua kecurigaan mengarah pada buronan kejam yang bekerjasama dengan putri gubernur secara diam-diam. Petualangan menemukan pedang itu menampilkan pertarungan bela diri yang menantang gravitasi selain pemandangan indah Tiongkok kuno. Kisah lengkapnya, baiknya saksikan saja filmnya itu, mumpung masih terpancar aura tahun Naga, mari menyelami batin, agar jangan lagi ada dusta diantara kita karena cinta, eros hasrat yang masih bersembunyi.

Aletheia, kebenaran tak tersembuyikan. Hasrat terpendam yang menjadi keberadaan manusia, atau das sein manusia senantiasa menanti terungkap. Kebenaran diri itu tidak dapat disembunyikan karena senantiasa bisa meletup, entah hasrat dari murid, dan entah sebagai guru, entah hasrat terpendam diantara keduanya atau diantara siapapun. Mari menyadari sebelum segalanya terlambat, karena naluri eros dan tanathos dapat meletup tanpa disadari! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://www.rottentomatoes.com/m/crouching_tiger_hidden_dragon

Butuh bantuan?