Darsana Dharmaduta: Bukan Sekedar Public Speaking

Home » Artikel » Darsana Dharmaduta: Bukan Sekedar Public Speaking

Dilihat

Dilihat : 6 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 129
  • 482
  • 282,137
Pic 2693

Oleh: Jo Priastana

 

“Sebagaimana samudra luas hanya memiliki satu rasa, yaitu rasa asin,

demikian pula ajaran dan disiplin ini hanya memiliki satu rasa, yaitu rasa pembebasan”

(Udana 5.5)

 

Hari suci Asadha tiba mengingatkan akan Darsana, ajaran Buddha yang bersifat filosofis. Lebih jauh lagi, hari Asadha adalah hari Dharmaduta. Kenapa? Dharmaduta sebagai tugas mulia dalam mengembangkan misi Buddhadharma yang diawali Sang Buddha pada pembabaran dharmanya pertama kali di Taman Rusa Isipatana, yang kini diperingati sebagai hari suci Asadha. Lalu, apakah yang dimaksud Dharmaduta? Apakah Dharmaduta sekedar Komunikator Dharma, penyampai pesan Dharma dalam keterampilan public speaking semata?  Jawabannya pastinya tidak, bukan itu.

Atau kalau jawabnya bisa juga Ya, meski Buddha menyampaikan Dharma kepada publik pertama kali sebatas kepada lima orang siswa utamanya yang pada akhirnya tercerahkan. Sang Buddha pastinya memiliki kemampuan menyampaikan pesan dharma, sebagai komunikator Dharma, menyampaikan dharma yang mengandung dan mengemban misi luhurnya melenyapkan penderitaan. Sejak itulah, 2570 tahun lalu Buddhadharma meluas mendunia, mewujudkan perannya sebagai soteriologi, mengandung esensi filosofi pembebasan, melenyapkan dukkha.

Secara esensial, sepertinya Dharmaduta mengandung misi Buddhadharma dengan berkaca pada peristiwa hari suci Asadha. Pergilah wahai para Bhikkhu, kabarkan Dharma ini yang indah pada awalnya, indah pada tengahnya, indah pada akhirnya, demi kebahagiaan umat manusia, demi mengurangi dukkha dunia. Buddhadharma pun dikenal sebagai agama misi, ada penyebarluasan ajaran dengan misi yang sangat dalam sebagaimana yang terkandung dalam ajaran yang pertama kali dibabarkan Buddha tentang “Empat Kesunyataan Mulia” tentang dukkha, sebab, jalan dan akhir, singkatnya tentang dukkha dan pembebasan dukkha.

 

Public Presence Dharmaduta

Dharmaduta dan Asadha mengingatkan akan peran seorang public speaker dan public presence. Dengan melihat kehidupan Buddha Gautama, misi beliau bukanlah menjadi orator ulung atau pandai dalam public speaking. Beliau berbicara ketika diperlukan, diam ketika diam lebih bermanfaat, berdialog, mendamaikan konflik, merawat orang sakit, membimbing meditasi, membentuk komunitas, dan menata kehidupan para murid. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: mengurangi dan mengakhiri dukkha.

Karena itu, peran dharmaduta sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekedar public speaking. Berbicara di mimbar hanyalah salah satu sarana, bukan hakikat atau esensi misinya. Andaikata ada pendidikan Dharmaduta yang melahirkan ijazah atau sertifikat, maka sertifikasi Dharmaduta sebagai komunikator Dharma (bukan komunikator dharmaduta) pastinya diberikan kepada dharmaduta yang telah menyentuh esensi Buddhadharma sebagai agama misi melenyapkan dukkha. Seorang Dharmaduta masa kini yang ideal kiranya memiliki makna yang luas dan dalam, bukan semata public speaking.

Dharmaduta bisa berperan sebagai pendidik, atau jurnalis, akademisi, penulis artikel yang menjelaskan Dharma dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Sebagai pembimbing batin, yang melatih meditasi, mendampingi orang menghadapi kecemasan, kehilangan, dan penderitaan. Menjadi pendengar yang welas asih, sebab sering kali orang lebih membutuhkan telinga yang mendengar daripada ceramah yang panjang. Menjadi contoh teladan hidup, karena perilaku lebih fasih daripada kata-kata.

Sangat terpuji bila beperan sebagai pembangun komunitas, yang menumbuhkan persaudaraan, bukan sekadar mengumpulkan peserta ceramah berbayar. Dharmaduta adalah pengabdian dalam pelayanan kemanusiaan, yang hadir ketika masyarakat mengalami kemiskinan, bencana, konflik, atau kesepian. Lebih keren juga, bila ia seorang intelektual dan dialogis, yang mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan, filsafat budaya, dan agama lain dan permasalahan masa kini yang aktual dan kontekstual sehingga Dharma tetap relevan bagi zaman.

Sebagai dharmaduta intelektual yang berperan sebagai penggerak transformasi sosial, dimana ia mampu melihat bahwa dukkha tidak hanya lahir dari keserakahan individu, tetapi juga dapat muncul dari struktur sosial yang tidak adil. Dalam semangat ini, dharmaduta dapat menginspirasi perubahan tanpa kehilangan kebijaksanaan dan welas asih.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan dharmaduta bukanlah seberapa memukau ia berbicara atau seberapa banyak pengikutnya, melainkan apakah kehadirannya membuat penderitaan seseorang berkurang, kebijaksanaan bertambah, dan kehidupan menjadi lebih damai.

Dalam konteks masyarakat modern dewasa ini, kemampuan public speaking memang penting, tetapi ia adalah alat. Yang jauh lebih penting adalah public presence, yakni kehadiran yang membawa ketenangan, sejalan dengan spiritual companionship, yaitu pendampingan batin, dan compassionate action atau tindakan nyata mewujudkan welas asih.

Sejalan dengan semangat ajaran Buddha, seorang dharmaduta dapat dipahami sebagai “penyembuh dukkha”: bukan hanya melalui kata-kata yang fasih, melainkan melalui kebijaksanaan, kehadiran, keteladanan, dialog, dan tindakan yang menolong makhluk hidup sedikit demi sedikit terbebas dari sebab-sebab penderitaan.

“Kebaikan terbesar adalah pikiran yang tenang. Kesabaran terbesar adalah kerendahan hati. Upaya terbesar tidak berkaitan dengan hasil.” (Aitken Roshi via View on Buddhism).

 

Public Speaking Dharmaduta

Tidak ada yang salah dengan public speaking dan dharmaduta harus menguasai keterampilan berbicara yang juga dilengkapi dengan penguasaan dan pemahaman Dharma. Apa yang harus disampaikan dalam pembicaraan atau public speaking jika tidak berisikan ajaran Buddhadharma dan esensi yang dikandunganya?

Itulah esensi komunikasi, mampu menyampaikan message, bahkan pesan (dharma) itu juga bisa terjadi dalam komunikasi non-verbal, sebagaimana yang terlihat di dalam sejarah agama Buddha tentang guru dan murid yang tercerahkan.

Justru dalam sejarah Buddhadharma, kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu keterampilan penting seorang dharmaduta. Ajaran Buddha sendiri tersebar karena disampaikan dari mulut ke mulut selama berabad-abad sebelum akhirnya dibukukan. Tanpa kemampuan menyampaikan Dharma, sangat mungkin ajaran itu tidak akan bertahan dan berkembang.

Yang perlu disadari adalah bahwa public speaking bukanlah tujuan, melainkan sarana. Seorang komunikator Dharma tidak sedang menjual dirinya, melainkan menjembatani pemahaman pendengar Dharma. Karenanya pemahaman terhadap Buddhadharma adalah syarat yang tidak bisa diabaikan.

Karena apa yang mau disampaikan Dharmaduta dalam perannya sebagai komunikartor Dharma, bila tidak ada pesan Dharma yang disampaikan, terlebih esensi dan spiritualitas Dharma sebagaimana Buddha mengawali pembabarannya sebagai komunikator Dharma di hari suci Asadha tentang dukkha dan pembebasan. Karenanya pesan Buddha di hari Asadha adalah filosofi, prinsip dasar aktivitas bagi para Dharmaduta.

“Pergilah para Bhikkhu, berkelanalah untuk kebahagiaan dan kesejahteraan banyak orang, demi belas kasih kepada dunia, demi kesejahteraan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah kalian pergi berdua ke arah yang sama. Babarkanlah Dharma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya.” (Vinaya Pitaka, Mahavagga).

Namun yang terjadi, tampaknya Dharmaduta mengalami degradasi dimana perannya direduksi hanya sekedar menjadi penceramah. Mengapa dalam banyak komunitas Buddhis peran dharmaduta lebih sering sebagai penceramah?

Ceramah adalah bentuk pelayanan yang paling mudah menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Banyak umat memang mengenal pembinaan agama melalui kebaktian dan khotbah, sehingga kebutuhan itu terus ada. Ada dimensi efektifitas dalam berceramah,

Namun begitu, dharmaduta juga penting untuk dapat berperan secara psikologis, spiritual dan sosial, alih-alih komunikasi lahiriah. Berperan melakukan pendampingan pribadi dan sosial, seperti care giver atau merawat orang sakit, pelatihan meditasi, atau pelayanan sosial yang lebih intensif.

Keberhasilan seorang dharmaduta kadang masih diukur dari seberapa sering ia diundang berbicara, sehingga aspek komunikasi menjadi lebih menonjol dibanding dimensi pelayanan lainnya.

Namun, jika public speaking menjadi satu-satunya identitas dharmaduta, ada risiko bahwa Dharma dipersempit menjadi sekedar retorika. Ceramah dapat menjadi menarik, tetapi belum tentu mengubah cara hidup atau menghadirkan paradigma Buddhistik.

Sebaliknya, jika kemampuan berpadu dengan penguasaan dharma termasuk spirtualitasnya dalam semangat kemanusiaan, humanistik, dan praktik, keteladanan dan pendampingan, maka ceramah menjadi pintu masuk menuju transformasi batin dan pengenalan Buddhadharma yang sesungguhnya kepada masyarakat luas.

Barangkali rumusan yang seimbang adalah: Dharmaduta adalah komunikator Dharma, tetapi bukan sekadar komunikator. Ia menguasai ajaran agar mampu menjelaskannya dengan benar, menghayatinya agar mampu meneladankannya, dan mengamalkannya agar kehadirannya sendiri sebagai dharmaduta menjadi Dharma yang hidup.

Dengan demikian, public speaking tetap memiliki tempat yang terhormat dalam misi Dharmaduta, duta dharma, utusan dharma, selama ia dipahami sebagai salah satu ekspresi dari welas asih dan kebijaksanaan (karuna dan prajna), bukan sebagai pusat dari seluruh pengabdian apalagi sekedar pertujunkan citra kepribadian.

 

Public Presence dan Public Speaking

Public speaking berarti kemampuan berbicara di depan publik. Fokusnya adalah penyampaian pesan: menguasai materi Dharma, menyusun argumen, menggunakan bahasa yang jelas, intonasi yang baik, serta mampu menginspirasi pendengar. Ukuran keberhasilannya sering kali adalah apakah pesan dipahami dan menyentuh audiens.

Melengkapi public speaking adalah public presence. Public presence berarti kehadiran yang bermakna di ruang publik. Fokusnya bukan terutama pada apa yang diucapkan, melainkan siapa dirinya ketika hadir. Seorang dharmaduta menjadi representasi nilai-nilai Dharma melalui sikap, cara mendengar, cara merespons, keputusan yang diambil, dan keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat.

Public speaking berpusat pada komunikasi, mengandalkan kata-kata, terjadi terutama saat ceramah, mengajar Dharma. Public presence berpusat pada kehadiran, mengandalkan keteladanan dan relasi, terjadi dalam seluruh kehidupan, dan menghidupi Dharma.

Dalam konteks Buddhis, Buddha Gautama menunjukkan keduanya. Beliau mampu menyampaikan dharma dengan sangat baik, tetapi yang membuat orang bertahan menjadi murid bukan hanya kata-kata beliau. Mereka merasakan kehadiran seseorang yang memancarkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kasih sayang. Kehadiran itu sendiri menjadi ajaran.

Karena itu, seorang Dharmaduta masa kini idealnya mengembangkan keduanya. Public speaking membuat dharma terdengar. Public presence membuat Dharma terlihat. Yang pertama mengubah cara orang berpikir, sedangkan yang kedua mengubah cara orang mengalami makna Dharma dalam kehidupan nyata.

Kedua istilah ini sangat menarik dan penting bagi perkembangan dharmaduta di zaman sekarang. Bisa dikatakan, public speaking adalah suara seorang dharmaduta, sedangkan public presence adalah kehidupan seorang dharmaduta. Ketika suara dan kehidupan menyatu, Dharma tidak hanya didengar, tetapi juga dipercaya dan dihayati.

 

Darsana Dharmaduta

Sekedar ilustrasi tentang perjalanan batin, mungkin gambaran ideal yang patut diperjuangkan, dari kiprah seorang Dharmaduta dari sekedar piawai berbicara (public speaking) menuju pemahaman yang lebih utuh tentang misi Buddhadharma. Dharmaduta yang berkembang berperan menjadi public presence, siap siaga hadir, seperti pendamping, membimbing meditasi, pelayanan sosial.

Selain itu, bisa juga sebagai cendekiawan yang tanggap menghadapi permasalahan kontemporer dengan mengembangkan pemikiran Buddhadharma kritis dalam paradigma “darsana” atau filsafat Buddha. Bisa sebagai relawan (volunteer) yang membangun literasi dan aksi melintas batas.

Ada seorang Dharmaduta muda Buddhis yang pada mulanya belajar berbicara. Ia menguasai panggung, dan dharmasala vihara, merangkai kalimat, menyulut semangat. Ceramahnya dipenuhi kata-kata tentang motivasi, pengembangan diri, dan keberhasilan hidup. Ia mengira itulah wajah agama Buddha yang sebenarnya agama yang maju, mudah diterima, menghibur, dan memberi energi.

Namun di antara tepuk tangan yang meriah, ada ruang sunyi yang tak mampu dijawabnya. Dharmaduta muda itu mulai bertanya, benarkah Dharma hanya membuat orang merasa lebih baik, ataukah membimbing mereka memahami akar penderitaan?

Hari Asadha datang sebagai lonceng yang dibunyikan kembali dari Taman Rusa Isipatana dua ribu lima ratus lebih lalu. Ia mengenang bahwa Buddha pertama kali memutar Roda Dharma (dharmacakra) bukan untuk menjual harapan, melainkan menujukkan dukkha, sebab-sebabnya, lenyapnya, dan jalan pembebasannya.

Saat itulah ia tersadar. Menjadi dharmaduta bukan sekadar menjadi pembicara yang baik, melainkan kehadiran sebagai pelayan bagi berkurangnya penderitaan makhluk. Sejak itu langkahnya berubah.

Ia kembali membuka kitab-kitab Buddhadharma dengan kerendahan hati, dan menemukan sebuah buku kecil sederhana bersampul putih berjudul “Filsafat Buddha.” Ia menemukan kata “Darsana” dan mempesonanya bahkan membangkitkan pencerahannya sebagai Dharmaduta Buddhis modern.

Makna Darsana yang berisi kandungan Filsafat Buddha terus diperdalamnya sebagai pencarian dan penemuan dirinya, karena Darsana tidak sekedar berarti “filsafat” dalam arti spekulasi intelektual, melainkan “cara melihat realitas dan sebuah visi yang mengubah hidup.” Dalam Buddhadharma, melihat dengan benar (samma-ditthi) adalah awal dari pembebasan.

Hari-hari selanjutnya ia kerap habiskan dengan duduk lebih lama dalam keheningan retret meditasi, atau berkunjung ke desa menikmati kesunyian alam asri nan alami. Ia belajar bahwa kebijaksanaan lahir bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari batin yang dilatih. Ia mendatangi rumah sakit, menemani mereka yang bergumul dengan sakit dan kehilangan.

Ia memasuki lapas, bukan untuk menghakimi dan melontarkan moralitas, melainkan menemani manusia yang masih menyimpan benih kebangkitan di balik tembok dan kawat berduri, seakan menghadirkan Buddha di dalam vihara lapas. Ia juga bergaul dengan kalangan queer, dan kebinekaan gender yang sedang bergumul dengan identitas seksualitasnya tanpa penghakiman moralitas tapi dengan pemakluman sepenuhnya atas dasar karuna dan prajna.

Perlahan ia memahami bahwa dharmaduta memikul panggilan yang luhur dan kompleks: menjadi komunikator dharma, pendamping spiritual, pembimbing meditasi, sahabat bagi yang menderita, dan pelayan masyarakat yang ikut meredakan dukkha dalam kehidupan bersama.

Sebagaimana Buddha berkeliling kota dan desa menjumpai mereka yang menderita, Dharma tidak berhenti di ruang ceramah; ia mengalir ke ruang gawat darurat, bangsal rumah sakit, ke sel penjara, ke keluarga yang berduka, ke masyarakat yang mencari keadilan dan belas kasih.

Ia pun menyadari, perjalanan ini terlalu luas untuk ditempuh sendirian. Ia memerlukan sahabat spiritual, kalyanamitta, komunitas, dan latihan yang tak pernah usai. Sebab, seorang Dharmaduta tidak pernah benar-benar lulus; ia terus dibentuk oleh Dharma yang diwartakannya dengan rasa pengabdian yang tulus.

Ia tetap berbicara di hadapan banyak orang. Tetapi kata-katanya tidak lagi lahir demi kekaguman, melainkan dari keheningan. Dan setiap kali ia mengakhiri ceramahnya, ia tahu bahwa tugas  sesungguhnya baru saja dimulai: hadir di tengah kehidupan, agar Dharma bukan hanya terdengar, melainkan dirasakan sebagai jalan yang menuntun manusia keluar dari dukkha.

Perlahan ia tumbuh menjadi dharmaduta yang mampu menghubungkan kebijaksanaan meditasi dengan pelayanan sosial secara eksplisit. Nama Darsana yang mengandung filosofi Buddha pun semakin membatin di dalam dirinya, mencerminkan pengetahuan kritis dan tindakan nyata. Kini ia semakin terlibat dalam aksi literasi dan aktivis lintas batas.

 

Darsana Aksi Literasi Lintas Batas

Selain makna Asadha yang mengandung misi Buddhadharma tentang dukkha dan pembebasan, ia selalu ingat bahwa ia terbangkitkan oleh kata “darsana” dari sebuah buku kecil “Filsafat Buddha” bersampul putih sederhana yang dia peroleh dari sudut rak perpustakaan gelap sekolah tinggi agama Buddha. Namun dari situ justru ia terbangun dalam terang batin dengan makna kata “darsana,” istilah yang merujuk untuk filsafat dan kebijaksanaan timur.

Dalam perjalanan selanjutnya, istilah Darsana itu pun seakan menempel dalam dirinya, dalam setiap aktivitas Buddhisnya, dan memperluas aktivitas kedharmadutaannya dengan mengembangkan literasi. Ia membangun komunitas literasi kebijaksanaan Buddha yang mengundang anak-anak muda Buddhis bergabung untuk sama-sama tercerahkan dan terbebaskan, dalam studi mengembangkan pemikiran Buddhis yang kritis dan humanis, untuk melakukan aksi kepedulian.

Mereka kemudian menjadi aktivis dharmaduta literasi sebagai bagian dari perjalanan pertumbuhan spiritualitas dalam dirinya, pertumbuhan kebijaksanaan dan welas asih, serta dalam studi dan aksi. Maka tulisan-tulisan, artikel kebijaksanaan Buddha pun muncul dari komunitas yang mengembangkan dan meneruskan nyala api kebajikan dharma.

“Membantu orang lain itu saling menguntungkan; suatu tindakan welas asih, seperti menyalakan pelita untuk seseorang, juga akan menerangi jalanmu sendiri.” (Komunitas Buddhis Global, di Quora).

Kini anak Buddha itu tumbuh sebagai dharmaduta dengan mendekati Buddhadharma secara filosofis, filsafat Budda dalam konteks modern. Makna Asadha dan nama Darsana, telah membangunkan kesadaran dan langkah dharmadutanya semakin jauh dan semakin lebih lebar. Ia mengembangkan literasi, terutama literasi Buddhis, membangun perpustakaan, mengarsipkan buku-pustaka Buddhis masa lalu sebagaian sejarah kolektif yang tak lenyap dari memori, menggairahkan membaca buku Buddhis dan menulis artikel-artikel Buddhis.

Melalui artikel-artikel Buddhadharma konteksual, Dharmaduta yang menyandang nama Darsana itu pun terbang melintas batas komunitas mengenggam Satu Buddha untuk Pencerahan dan Pembebasan. Terbang bersama lintas agama mewatarkan segi-segi dan esensi Buddhadharma yang juga terlibat dengan masalah sosial-ekonomi, politik, lingkungan dan persoalan derita dunia dan untuk pembangunan dunia serta kehidupan manusianya yang damai sejahtera.

Darsana bukan hanya melahirkan pengetahuan Buddhadharma dalam literasi tetapi juga membangkitkan kesadaran komitmen, dan praksis-aksi. Bersama makna Asadha, ia membangkitkan pemahaman yang dalam akan makna darsana yang bukan sekedar nama bagi filsafat Buddha, melainkan sebuah cara melihat kenyataan sebagaimana adanya. Melihat dengan jernih, dan dari sanalah lahir kebijaksanaan, welas asih, dan keberanian bertindak.

Penglihatan itu terus menyemangatinya. Ia tersadar bahwa seorang Dharmaduta bukan hanya penyampai kata-kata, melainkan penumbuh pandangan benar. Ia dipanggil bukan sekadar menghibur hati yang gelisah, tetapi membimbing manusia melihat akar penderitaan dan menemukan jalan pembebasan.

Sejak saat itu, baginya filsafat Buddhis bukan lagi sekadar bacaan, melainkan cahaya yang menuntun langkah, menghubungkan perenungan dengan pelayanan, dan Dhamma dengan kehidupan.

Darsana membangkitkan bukan hanya kecintaan pada filsafat Buddhis, kebijaksanaan Timur tetapi juga visi hidup dan misi dharmaduta: melihat realitas dengan benar agar mampu menolong orang lain untuk melihat dan membebaskan dirinya sendiri, dan juga turut terlibat (engaged Buddhism) dalam dukkha sosial, derita dunia. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: meta AI

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?