Debat Nagasena VS Raja Milinda

Home » Artikel » Debat Nagasena VS Raja Milinda

Dilihat

Dilihat : 39 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 20
  • 41
  • 29,357
Milinda Nagasena

Oleh: Jo Priastana

 

“Pemimpin besar hampir selalu penyederhana besar, yang dapat memotong

argumen, debat, dan ragu untuk menawarkan orang bisa mengerti solusi”

(Colin Powell, Jenderal dan Menteri dari Amerika Serikat, 1937)

 

KBBI menjelaskan arti debat, bahwa debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Contoh: debat tentang calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2024.  Para filsuf dalam sejarah melakukan debat antar sesamanya. Terjadi pertukaran ide dan perkembangan pikiran dimana dunia penuh dengan gagasan, penemuan kebenaran dan kebijaksanaan demi kemajuan peradaban.

Seperti the Sun dalam bahasa Inggris yang berarti matahari, (bukan dibaca The Son, bocil), dalam debat tersimpan sumber kebenaran dan kebijaksanaan layaknya sinar matahari yang menerobos dan menguak awan kegelapan. Dalam abad-abad pencerahan banyak dihasilkan penemuan ilmu pengetahuan. Melalui debat, diskusi dan adu argumen, karena manusia diberkahi rasionalitas   kemampuan bernalar dimana kreativitas, kreasi ide-ide bermunculan.

Kebenaran dan kebijaksanaan tepancarkan melalui debat, juga dalam dialog, dalam berdialektika. Debat merupakan sarana manusia mengungkapkan kemampuan dan menyampaikan kebenaran. Para filsuf yang aktivitasnya mencintai kebenaran menemukan kebenaran lewat debat, diskusi dan dialog-dialog. Ada Socrates (470-399 SM) yang terkenal di Yunani, dan dalam sejarah perkembangan agama Buddha pun dikenal adanya perdebatan-perdebatan seperti yang menjadi tradisi di Universitas Nalanda dahulu atau debat Bhikkhu Nagasena dengan Raja Milinda dari Yunani pada sekitar 150 sebelum Masehi.

 

King Filsuf Milinda

Setelah pudarnya Asoka, India kedatangan Raja Yunani dari Asia Barat pada abad kedua SM, diantaranya Raja Menander yang merupakan juga seorang filsuf. Raja Menander tampil menjadi tokoh penting dalam sejarah Buddhisme, titik persentuhan Buddhisme dengan budaya Yunani. Dalam Buddhisme terdapat sebuah karya yang berjudul “Milinda Panha atau Beberapa Pertanyaan Raja Milinda”. (The Question of King Milind,” Rhys Davids, New York: Dover Publications, 1963).

Milinda adalah sebutan dalam bahasa Pali untuk nama Menander. Raja Menander (165/155-130 SM) dari Yunani seorang yang terpelajar, berbicara dengan lancar, bijaksana dan pandai; dia seorang pengamat yang cermat. Banyak seni dan ilmu pengetahuan yang diketahuinya, seperti tradisi suci dan hukum sekuler bangsa India; sistem filsafat Samkhya, Yoga, Nyaya, dan Vaisheshika; ilmu hitung, musik, obat-obatan; empat Veda, Puraha dan Itihasa, astronomi, magi, ilmu sebab, dan mantra; seni perang; puisi, ilmu tentang dokumen angkutan. Singkatnya banyak ilmu dan seni dikuasainya. (Daisaku Ikeda, 1993:53).

Begitu banyak ilmu yang dikuasainya dan karenanya Raja Menander juga seorang pendebat ulung yang sulit disamai, apalagi dikalahkan. Banyak keunggulan dimilikinya, baik dalam hikmah kebijaksanaan maupun kekuatan fisiknya, lincah gagah perwira, kaya, kuasa dalam harta dan kemakmuran serta memiliki pasukan yang tak terbilang banyaknya. Raja Milinda menerima pengajaran dan pelajaran tradisi Yunani yang terkenal dengan diskusi-diskusi dan penggunaan nalarnya. Ia ingin mengenal kebudayaan India, untuk menjadikan dirinya sebagai seorang yang memiliki keterpelajaran Barat dan Timur.

Konon sejumlah filsuf India pernah berdebat dengannya, namun semuanya kalah, diantaranya filsuf Purana Kassapa. Tampaknya ada juga motif politik yang mendorong Raja Milinda untuk berdebat dengan para filsuf dan pemimpin agama di India, Brahmanisme maupun Buddhisme. Selain sudah kebiasaan orang Yunani untuk mencari petunjuk dan kebijaksaaan, Raja Milinda pun tampaknya ingin merealisasikan ide filsuf Plato (427-347 SM) tentang Raja-Filsuf, atau layaknya Iskandar Agung (356 SM – 323 SM) yang mempelajari filsafat di bawah filsuf Aristoteles (384-322 SM).

Raja Milinda, selain sebagai penakluk secara militer, raja dengan kuasa kekuatan bersenjata, juga berambisi sebagai filsuf, penguasa pikiran dan kebijaksaaan. Ia menggunakan energinya untuk memahami pikiran India melalui debat filsafat. Antara 160 SM dan 140 SM, dia menguasai daerah Kabul, Afghanistan, dan akhir abad ke2 SM menyerbu India, sampai ke India Tengah. Raja ini dikenal juga sebagai raja besar oleh orang India masa itu dan bahkan Raja Milinda mampu bertutur dalam beberapa bahasa India, gemar berbaur untuk mengenal seluk beluk India.

Kabarnya, Raja Milinda meninggal di India dan tulangnya disebarkan ke seluruh negeri serta dikubur di dalam berbagai tempat. Raja Milinda memiliki keinginan yang tulus ikhlas untuk mengerti tentang India, untuk mencapai pengertian yang menjembatani tembok-tembok pemisah antar-ras dan antar kebangsaan dengan cara, bercakap-cakap. Raja ini gemar berdebat dengan orang lain, karena merasa dengan cara itulah jalan ke arah saling pemahanam dan pengertian tercipta.

Raja Milinda menggunakan setiap kesempatan untuk bertemu dan bercakap dengan cerdik pandai India. Para bhiksu dan pemimpin agama yang cendekia ditantangnya untuk berdebat. Tetapi untuk waktu yang cukup lama, Raja ini rupanya tidak menemukan lawan tandingnya. Dia sering menghela nafas panjang dan mengeluh, bahwa katanya di India kosong belaka, tak ada seorang pun bhiksu atau Brahmana yang mampu membahas hal ikhwal bersamanya dan yang mampu menghalau keraguannya. Keadaan ini tentu saja menimbulkan rasa malu bagi cerdik cendekia India, Brahmana maupun Buddhis dan kelompok agama lainnya.

 

Raja Pikir Nagasena

Sampai suatu waktu muncullah seorang Bhiksu yang siap meladeni tantangan debat Raja Milinda itu. Tampillah Bhiksu Nagasena yang mampu berdebat dengan Raja Milinda. Nagasena konon kabarnya sewaktu lahir bersamaan dengan lahirnya gajah raksasa. Naga adalah istilah khas untuk gajah, hewan yang mendapat penghormatan di India. Nama Nagasena dimaksudkan juga untuk melambangkan bahwa, seperti Milinda adalah kepala negara, Nagasena adalah raja di dunia pikir.

Tidak dapat dihindarkan kedua tokoh ini pun bertemu dan terlibat dalam debat. Lawan Nagasena bukan saja seorang Raja Penakluk negeri, namun juga seorang cendekiawan tingkat tinggi yang diresapi oleh ilmu pengetahuan dan kebudayan filsafat Yunani. Menander yang menguasai khas cara pikir dualisme Yunani yang berpola “atau ini, atau itu.” Karenanya pertemuan dua tokoh besar itu menggambarkan konfrontasi antara filsafat dan hikmah dunia Timur dengan filsafat Barat.

Nagasena hadir meladeni tantangan debat Raja Milinda dengan mempertaruhkan nama baik kebudayaan, filsafat hikmah kebijaksanaan Timur termasuk Buddhisme. Dipertaruhkan banyak jiwa keberanian dan tekad untuk menyetujui penyelenggaraan debat itu, dan hal ini dimiliki Nagasena.  Bahkan Nagasena sempat mengungkapkan kepada gurunya, Rohana, “jangankan Raja Milinda bahkan biarlah sekalian raja di India datang mengemukakan pertanyaan kepadaku, maka akan saya uraikan semua teka-teka itu dan saya pecahkan.” (Daisaku Ikeda, 1993:59).

 

The Question of King Milinda

Debat Nagasena antara dengan Raja Milinda itu sangat terkenal dalam sejarah perkembangan agama Buddha, layaknya pertaruhan supremasi filsafat Timur versus Filsafat Barat. Sejumlah pertanyaan filosofis yang sulit dan muskil diajukan oleh Raja Milinda kepada Nagasena. Kesemuanya dapat dijawab dengan cerdas dan bijaksana oleh Nagasena. Debat, diskusi yang mengungkapkan dialog Raja Milinda dengan Bhiksu Nagasena itu menjadi karya terkenal dalam khasanah literatur filsafat Buddha yang ditulis dalam bahasa Pali dan berjudul, “Beberapa Pertanyaan Raja Milinda,” atau “The Question of King Milinda.” Ada terjemahannya oleh T.W. Rhys Davids, Sacred Books of the East, Vol. XXXV, Oxford: Clarendon Press, 1890. Ada pula cetak ulangnya oleh Dover Publications, New York, 1963. (Dasaiku Ikeda, “Buddhisme Seribu Tahun Pertama,” Jakarta: PT Indira, 1993: 53).

Karya tersebut merekam sejumlah 262 persoalan yang diperdebatkan oleh Raja Milinda dan Nagasena dari keseluruhan lengkapnya yang berjumlah 304 persoalan. Nagasena menjawab setiap pertanyaan Raja Milinda dengan cara yang jelas, mengena dan seluruhnya tepat. Pada penyimpulan setiap bagian yang bertalian dengan pertanyaan tertentu, Raja Milinda menyatakan: “Engkau benar Nagasena, aku sadar bahwa apa yang kau katakan memang tepat.” (Daisaku Ikeda, 1993:67). 

Raja Milinda bertanya kepada Nagasena tentang banyak konsep ajaran Buddha seperti karma, kelahiran kembali, dan tidak adanya jiwa yang abadi. Nagasena menguasai setiap segi ajaran Buddha dan setiap permasalahan yang diajukan oleh Raja Milinda. Nagasena menggunakan metode yang memungkinkan Raja Milinda mengiakan pendapatnya. Dalam debat itu, Nagasena menggiring Sang Raja yang tanpa disadari telah membenarkan jawaban Nagsena yang diungkapkan sebagai pendapat-pendapatnya sendiri, sampai akhirnya dan sesungguhnya Sang Raja sudah menguasai Buddhisme yang paling mendalam dan mendasar.

Pada akhirnya Raja Milinda ditundukkan. Ia membuang rasa bangga dan keangkuhan pribadinya, dan mengalami rasa gembira, karena telah mengatasi keraguannya mengenai Buddhadharma. Konon, kemudian ia menjadi Buddhis awam dan menganugerahkan sebuah vihara yang bernama Milinda.  Selanjutnya, ia menyerahkan tahta kepada putranya untuk kemudian dirinya sendiri menjadi bhiksu dan dihormati sebagai orang yang mencapai kesucian Arahat.

Seorang Arahat yang mencapai kesucian tertinggi, seorang Arahat telah mematahkan belenggu keakuannya dan memahami anatta. Masalah tentang tiadanya diri yang kekal atau anatta ini menjadi salah satu topik yang terkenal dan menjadi ciri khas dari masalah yang terdapat dalam karya “Pertanyaan-Pertanyaan Raja Milinda.”  Karya ini juga merupakan cermin dari betapa terbukanya ruang untuk kebebasan berpikir dan berpendapat baik pada Buddhisme maupun budaya Barat.

 

Pencerahan Manusia

Diskusi Nagasena dengan Sang Raja perihal tiada diri yang kekal atau anatta. Topik anatta ini memang menjadi begitu menarik bagi mereka yang tumbuh dalam budaya, filsafat Barat yang sarat dengan personalitas dan keakuan. Raja Milinda bertanya, “Apa itu, Nagasena, yang dilahirkan kembali?” “Nama dan bentuk-lah yang dilahirkan kembali”. Apa? “Nama-dan-bentuk itu jugakah yang dilahirkan kembali?”

“Bukan; tetapi dengan nama-dan-bentuk ini dilakukan perbuatan-perbuatan baik atau jahat, dan dengan perbuatan-perbuatan itu (karma), nama dan bentuk lainlah yang dilahirkan kembali”. Andaikata begitu, apakah bentuk baru itu tidak akan dilepaskan dari karma jahatnya? “Benar, andaikata tidak dilahirkan kembali. Tetapi justru karena lahir kembali, wahai Raja, maka karena itu bentuk baru itu tidak dilepaskan dari karmanya yang jahat.”

Raja akhirnya mengerti tentang anatta dengan penjelasan Nagasena bahwa tidak ada jiwa yang lestari atau kekal. Hanya “nama dan bentuk” yaitu pikiran dan badan yang merupakan suatu pribadi dalam satu keberadaan itu jika dilahirkan kembali dalam keberadaan lain. Raja menjadi tercerahkan atas penjelasan Nagasena mengenai persoalan yang menjadi latar belakang kelahiran kembali. Bahwa karmalah pengumpul tindakan yang baik dan jahat dalam satu keberadaan yang memberikan tenaga pembangkit untuk lahir kembali dalam keberadaan lain.

Manusia tercerahkan menembus anatta. Filsafat Buddha mengajarkan bahwa makhluk terdiri dari lima himpunan atau panca-khandha. Lima himpunan mengacu pada bentuk sebagai aspek material-jasmani dalam bentuk manusia. Jasmani yang berdampingan dengan empat atau himpunan lainnya, yaitu: persepsi, konsepsi pikiran, kehendak dan kesadaran pikiran. Lima himpunan berkumpul untuk membentuk manusia dalam keberadaan berturut-turut, dimana tidak ada hakikat jiwa yang kekal dalam manusia.

Selanjutnya, dalam perkembangan filsafat Barat, kritik dan penolakan terhadap antroposentrisme atau pandangan yang berpusat pada keakuan manusia seperti atta juga datang dari filsuf Barat sendiri seperti Baruch Spinoza (1632-77) dan Martin Heidegger (1889-1976). “Like Taoism and Buddhism, the philosophies of Spinoza and Heidegger deny the self-existence of anything, including us” (David Loy, 2003:188). (JP).  

 

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://web.facebook.com/LifeLessonsPage/photos/a.322478504511285/2901843059908137/

 

Butuh bantuan?