Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.
Pernahkah anda merasa bahwa anak-anak generasi ke belakang mulai dari generasi Z (1997-2012, tetapi distribusi karakter merata mulai tahun 2000) dan generasi Alpha (2013 – sekarang) cenderung lebih mudah putus asa? Dengan jiwa yang kurang tahan banting dan cepat menyerah dengan tekanan lingkungan? Kurang purposif dalam mempersiapkan segala sesuatu, juga terkesan kurang memiliki daya juang?
Mungkin kita perlu kembali ke era awal tahun 2000-2010, kala itu anak-anak generasi Y (1981-1996) mungkin baru saja menginjak usia remaja, sedangkan generasi X (1965-1980) sedang membangun keluarga. Kala itu hiburan masih terbatas. Handphone juga memiliki fitur internet yang sangat terbatas, facebook dan youtube saja baru mulai populer di Indonesia tahun 2008. Kala itu aplikasi perpesanan (chatting) baru ada Yahoo Messenger dan Blackberry messenger. Sebelum era tersebut, kita masih berkirim pesan via SMS (Short Message Services, batas maksimal 160 karakter) dan MMS (Batas Maksimal 5000 karakter atau 2048 Kb untuk file transfer, video 50000 KB dan Audio 10000 KB). Itupun kita berusaha menghindari MMS karena biayanya mahal sekali.
Untuk keperluan hiburan, kita masih berusaha menunggu acara TV dan Radio favorit. Meskipun TV di era 2000-2010 sudah berwarna dengan siaran UHF, siaran radio sudah cukup jernih dengan jaringan FM, tetapi tetap saja kita harus menunggu jam-jam tertentu untuk bisa mendengarkan acara-acara tertentu. Para bapak-bapak generasi X harus begadang untuk bisa nonton piala dunia sepak bola yang biasanya disiarkan larut malam hingga subuh. Anak dan remaja generasi Y, untuk bisa nonton Dora, Spongebob, Chalkzone, dan sebagainya harus menunggu siaran Global TV pada jam 06.00-10.00 pagi, sedangkan jam sore untuk kartun anak adalah 16.00-19.00. Bahkan untuk mandi masih ada yang harus menimba sumur atau memompa dengan pompa dragon.
Akhirnya bagaimana? Kita bisa melihat generasi Y dapat mendominasi menjadi tokoh-tokoh terkemuka kala ini, atau sekedar menjadi pekerja giat. Setiap hari jika anda berdomisili di Jabodetabek dan rutin berdesakan naik Busway atau KRL Commuterline, pasti kebanyakan diisi generasi Y dan generasi X. Meski begitu, banyak juga di antara mereka yang sudah punya kendaraan pribadi hasil mereka bekerja keras walau kadang mereka memilih untuk mengistirahatkannya. Pola hidup juga cenderung lebih sederhana dan bisa bertahan dalam situasi-situasi sulit.
Lalu mungkin kita bertanya, mengapa karakter generasi Z dan Alpha tidak bisa demikian? Jawabannya adalah karena mereka tidak dipaksa keadaan untuk “Delayed Gratification” (menunda/menunggu sesuatu yang bisa didapatkan secara instan). Misalnya untuk menonton hiburan saja harus menunggu waktu-waktu tertentu alih-alih membeli kaset VCD kala itu. Untuk menonton piala dunia saja harus menunggu musim tertentu. Belum lagi para generasi X dan Y ada yang berasal dari keluarga tak mampu, sehingga harus menumpang tetangga untuk sekedar nonton atau meminjam mesin ketik untuk mengerjakan keperluan kuliah, menunggu berminggu-minggu kiriman surat cinta (biasanya berupa kartu pos) yang dikirimkan dengan perangko/pos.
Anak-anak di generasi Z dan Alpha tidak mengalami itu semua. Berkirim surat tinggal memakai email dan sampai dalam hitungan detik, mau hiburan tinggal buka Youtube dan Netflix, mau nulis tinggal ketik di komputer dan print, mau mandi tinggal putar kran air sudah ada. Kalau mereka nangis, orang tua menyodorkan Handphone agar mereka nonton kartun dan diam. Inilah yang membuat anak generasi Z dan Alpha rata-rata tidak bermental tangguh serta mudah putus asa, karena tidak adanya kemampuan untuk “Delayed Gratification” (menunda/menunggu sesuatu yang bisa didapatkan secara instan).
- Ajarkan anak memiliki pengendalian diri
Biasakan anak anda memiliki kemampuan membawa dan menahan diri dari nafsu. Berikan percontohan, misal ajaklah anak anda ke bank, bukakan tabungan anak QQ orang tua (tabungan bersama anak dan orang tua) serta ajarkan anak menabung dengan menyisihkan uang jajannya. Kemudian ajarkan anak juga untuk ikut dalam aktivitas dan pelatihan keagamaan selain ibadah yang bersifat rutin (misalkan: Pabbaja Samanera atau retret meditasi bagi yang Buddhis, pesantren kilat bagi yang muslim, atau kegiatan non agama seperti perkemahan sabtu minggu/Persami juga boleh). Tujuannya adalah melatih mental mengendalikan diri dari nafsu mereka. Ketika anak-anak berada di luar rumah dengan keadaan yang terbatas, tentu mereka harus bisa dan terbiasa bertahan dengan keadaan yang terbatas, outputnya jiwa mereka akan lebih berdaya juang.
- Melatih anak memiliki kegigihan
Ajaklah anak anda ketika ada pekerjaan yang bisa dibantu olehnya, atau aktivitas yang bisa memunculkan kegigihannya seperti perbaikan ringan rumah, membantu ibu memasak, membantu ayah memperbaiki motor, atau bahkan ajak anak sama-sama membangun bisnis. Dengan adanya pendelegasian beberapa tugas membantu orang tua, akan membuat anak menjadi lebih gigih, selama tidak mengganggu jadwal belajar dan tetap memperhatikan waktu luang dan quality time pada anak, kegiatan ini akan membuat anak menjadi pribadi yang gigih dan pekerja keras.
- Beri tantangan, target dan tenggat
Misalnya: Jika kamu bisa mendapatkan ranking 3 besar di kelas, dengan ujian berbagai mata pelajaran tidak ada yang lebih rendah dari 75, maka ayah akan belikan ….; Jika kamu bisa kerjakan tugas ini sebelum …, maka ayah akan …. Dengan adanya tantangan, target, dan tenggat akan membantu melatih anak menjadi lebih purposif dan memiliki rencana matang dalam mengerjakan tugasnya.
- Jadi teman sekaligus orangtua
Menjadi suportif tanpa kehilangan figur sebagai orang tua. Hal ini akan membuat anak merasa nyaman untuk mengkomunikasikan masalah yang dihadapi kepada anda selaku orang tuanya, namun juga membuat mereka tetap memiliki rasa hormat kepada anda. Sekalipun anda supel dan friendly dengan anak anda, namun tetap pelihara ketegasan dengan mengajarkan anak pentingnya konsekuensi.
Sebagai penutup, saya ingin sampaikan filosofi naga dalam kebudayaan Tionghoa, menurut legenda dalam kisah鲤跃龙门Lǐ yuè lóngmén (seekor ikan mas melompati gerbang naga). Naga pada mulanya adalah seekor ikan mas, ia harus berenang memanjat air terjun untuk sampai ke gerbang naga, dan rupanya arusnya deras sekali dan kemudian gerbangnya tinggi sekali. Ikan tersebut harus mampu tetap berusaha berenang memanjat melawan arus dan melompat setinggi-tingginya, menahan kepuasan sementara berupa ajakan menyerah dan istirahat dari teman-temannya, hingga akhirnya karena konsistensinya ia berubah menjadi naga. Dengan demikian, setiap orang bisa menjadi manusia luar biasa seperti naga, selama ia memiliki karakter mampu menahan diri dalam segala kesulitan hingga merubah diri menjadi pribadi yang lebih berharga.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Daftar Pustaka:
https://www.sehatq.com/artikel/memahami-delayed-gratification-dan-manfaatnya-bagi-anak. Diakses 7 Desember 2023.
https://uici.ac.id/mengenal-6-macam-generasi-di-indonesia-sesuai-tahun-lahir-kamu-termasuk-yang-mana/. Diakses 7 Desember 2023.
https://youtu.be/EFDWMmUuRRY. Diakses 7 Desember 2023.
Gambar: https://media.licdn.com/dms/image/C5612AQEnPEifTLbkxQ/article-cover_image-shrink_720_1280/0/1629563753376?e=2147483647&v=beta&t=bMppdtnp4w3KzONpB5x7d_ZimtaP-rQBr-4zQ5qTlgM. Diakses 7 Desember 2023.