Dewi Lestari dan Supernova Episode “Akar” (2) – Bodhi Jadilah Buddha

Home » Artikel » Dewi Lestari dan Supernova Episode “Akar” (2) – Bodhi Jadilah Buddha

Dilihat

Dilihat : 70 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 49
  • 70
  • 6,332

Oleh: Jo Priastana

 

“Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena  kini kumiliki segalanya”. (Dewi Lestari, Rectoverso)

 

Supernova 2 karya Dewi Lestari (Dee) yang diberi judul AKAR (2002), yang merupakan bagian pertama dari dua episode. Dalam episode Akar ini dikisahkan tentang tokoh yang bernama Bodhi, sesosok yang datang entah dari mana, dipungut dari halaman depan sebuah Vihara, dan dibesarkan di dalam Vihara. Tampaknya, episode berikutnya “Intelegensi Embun Pagi”, akan tetap melanjutkan kisah tokoh yang bernama BODHI, sebuah nama yang akrab terdengar di kalangan Buddhis. Sampul belakang AKAR mengenalkan selintas tokoh Bodhi ini:

“.. Kuraih simpul bandanaku, menguraikan perlahan, mengangkatnya hati-hati. Dan kusambut kesiap sunyi. Reaksi semua manusia kala pertama mereka melihatku tanpa penutup kepala. Mereka diam karena meragu … Adakah anak bernama Bodhi, yang mencuci sebagian tubuhnya cuma untuk bercerita, bersila sempurna dengan tasbih kayu di tangan kiri, adalah manusia? Sekalipun ia berkata-kata seperti mereka. Bernapas dengan paru-paru. Berjalan di atas dua kaki. Dan sering nongkrong di warung si gombel.”

 

Kutipan “Akar” Supernova

Semua diawali dengan kalimat sama. Ini kisah perjalanan menemukan diri, yang di ujung ceritanya nanti, perjalanan itu pun masih belum selesai …. Om Ra Om Svar Namo Saptanam Samyaksambuddha Kotinam Jita Om Jarah Wajra Kundhi Svaga Om Bhur Om Mani Padme Hum. Itulah mantra Bodhisatva Tangan Seribu. Bukan jampi-jampi. Jangan merasa terintimidasi. Saya tidak menyuruh kalian menirukannya. Ini hanya syariat saya, ritual yang selama delapan belas tahun saya jalankan di vihara. Ritual yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja. (30)

  Pulang ke vihara, Guru Liong langsung mengajak saya puasa. Dan berbulan-bulan, nggak berhenti-henti, kami berdua membaca dharani, sutra, mantra. Guru Liong menduga karma saya pada masa lalu sangat-sangat parah, termasuk garuka karma – lima karma terberat,  empat parajika, dan dasa akusala karma – sepuluh perbuatan paling jahat. (37)

 Saya membaca dharani Sukhavativyuha – kata Guru Liong dapat menghancurkan akar dari segala karma buruk – genap sampai 300.000 kali, yang konon bisa mempertemukan kita dengan Buddha Amitabha. Tapi nggak ketemu-ketemu. Supaya kembali suci, saya lalu baca mantra Mahacundi sebanyak 900.000 kali, yang mestinya dapat imbalan dua dewa pelindung dari para bodhisattva. Tapi mereka juga nggak datang-datang. (37) 

   “Kamu mungkin tidak pernah jadi Nabi atau juru selamat, Sanders, tapi kau bisa jadi dirimu sendiri. Karena, apabila kamu ingin mencicipi apelku, jangan cuma pandangi gambarnya. Makan! Apabila kamu ingin Buddha, jangan cari dia. Jadilah dia!” (129).

  “Dan yang terpenting, tambahku. Kalau bertemu dengan Buddha di jalan, bunuh dia! Kalau enggak, kita cuma berhenti pada tahap mengimitasi, bukan begitu?” Have you killed Buddha before? Aku menggeleng. But he killed me, gumamku. Ribuan kali ia membunuhku.” (131)

 “Oh, ya Tristan, teruslah bicara. Aku ingin menjadi guru Tilopa yang menggaplok Naropa dengan kelom kayu supaya muridnya itu tersadar dan dapat pencerahan. Aku tidak bisa kasih jaminan kau tercerahkan, tapi aku bisa jamin gaplokanku mantap punya. Bolak-balik kalau perlu. Supaya kau berhenti menatapku dengan mata kelinci penuh mimpi itu.” (123).

  “Sanders, kemana rambutmu? Tristan tertawa lebar – saya jadi Getsul sekarang! Getsul, otot sekitar alisku lenjeng berkontraksi. Calon Bhikhu – Vajrayana! Dia jadi Buddhis?! Tibetan Buddhis? Aku kehilangan kata-kata. Aneh nian hidup ini.” (116).

“Kalian mungkin harus menunggu kehidupan berikutnya untuk bertemu lagi denganku … Ayolah, Dalai Lama, Buddha, Bodhisattva, atau siapa pun itu, nggak bakal marah, kok! Dan, jangan kaget, siapa tahu kalian malah ketemu mereka malam ini …ha ha! Like I meet my ancestors every bleeding’day” (125).

    “Seumur hidupku atau beribadah mengatur nafas.” (125). “Tristan si maniak Buddha,” (126). “Ampun, Tristan. Aku ini tidak tahu apa-apa. Namun faktanya, kalau kau si gundul A, dan aku si gundul B, gundul A-lah yang akan berkarier cemerlang. Kita bisa langsung tahu dengan melihat semangatnya mereguk ilmu dan posenya bermeditasi. Si gundul B itu tak tertolong. Selagi kecil seperti tukang sihir. Gedean dikit jadi sapi sekarat. Puncaknya, gurunya memanggil dia Guru! Tidakkah dunia samsara ini lucu?” (122).

  “You gave me my first Abhiseka! Trumpa Rinpoche bilang, murid yang meminta ditunjukkan jalan menuju kebodhian akan diberi sesuatu oleh gurunya. Seumur hidup saya selalu mencari-cari kebenaran yang sejati, saya muak dengan kemunafikan global ini, dan tiba-tiba kita dipertemukan, even your name is Bodhi! Dan kamu berasal dari Indonesia, tanah suci, tempat Atisha belajar Agama Buddha yang lalu dia sebarkan ke Tibet, pada zaman kerajaan … eh, apa namanya?” (123).

  “Buku petuah hidup Dalai Lama, buku-buku Chogyam Trungpa, kumpulan Sutra, kitab Dharma, buku-buku Chogyam Trungpa, dan tak ketinggalan kamus Inggris-Pali. Hampir setiap malam dia minta izin ke yang lain untuk membawa lampu teplok dari depan supaya bisa terus membaca. Dia bicara denganku tentang sejarah Buddha, apa kesamaan dan perbedaan antara Mahayana – Hinayana, filosofi Yogachara –Madhyamika, dan betapa tak sabar dirinya menginjakkan kaki ke Nepal. Pose Bhumisparsa – Mudranya pun sempurna laksana arca Buddha di kuil-kuil.” (122).

  “Oh, Sanders, aku menjadi Buddhis karena terjebak dari lahir. Tidak pernah aku mempertanyakan beda ini dan itu. Kenapa, misalnya, di tempat pemujaanku Buddha Shyakyamuni bersanding dengan Dewi Kwan Im dan Khong Hoe Tjoe? Kenapa bukan dengan Khong Guan?” (122)

   “Kell juga menunjukkan ornamen simpul yang membelit tanpa ujung pangkal, yang merefleksikan bahwa jiwa individu merupakan fragmen dari keilahian, yang melalui sekian suksesi hidup-mati akan mengalami proses pemurnian – sama seperti pikiran yang mengucap mantra – melakukan pengulangan demi mencapai tiada. Dan aku bulat utuh menjadi muridnya. Terpengaruh setiap garisnya.” (67).

   “Kell dan gelandangan itu tertawa-tawa, seolah tersadar samsara masing-masing bahwa mereka sepasang kekasih dalam kehidupan terdahulu.” (62)

“Sepanjang hari yang kulihat adalah museummu, kuil, candi. Banyak sekali candi, dan banyak sekali Buddha. Sambil berjalan aku pun berpikir, pernahkah Sang Buddha membayangkan bahwa kelak fisiknya akan menjadi sumber seni? Demi beroleh Nirvananya atau sekadar bersentuhan dengan wujudnya, manusia memahat sepanjang hayat, mendulang emas, bahkan memermak gua. Melihat semua karya-karya membuatku merasa jadi manusia tak tahu terima kasih. Tanganku tak pernah memahat wajahnya, atau melukiskan pose-posenya. Sambil berjalan aku pun berpikir, dapatkah aku, yang hanya berjalan kaki ini, beroleh Nirwana yang sama? Dan apakah mereka-mereka, yang sudah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menghias Buddha, telah beroleh Nirwana itu?” (100).

 “Dalam hati, cukup di dalam hati, aku membaca sebuah mantram: Om-Siu Toli – Siu Toli – Siu Mo Li – So Poho. Mantram untuk menyucikan raga. Entah ragaku, atau raganya.” (77). “Om – Siu Li Siu Li – Mo Ho Siu Li – Siu Li – Sat – Po Ho. Mantram untuk menyucikan mulut Star bersih-bersih.” (77)

  “Kemajuan yang lumayan untuk bhikhu Bodhi” (86). “selalu timbul perasaan bahwa seharusnya aku di sana, dalam belitan tiga potong kain oranye yang melambangkan pengabdian, melepaskan bandana di kepalaku karena toh sudah sama-sama gundul …. Terkadang ada rasa getir di lidah saat melihat kebersamaan mereka … sementara aku sendiri di sini.” (92).

 

Bentara Budaya Jakarta, 20 Tahun Lalu

Supernova episode “Akar” kaya dengan kata-kata Buddhis. Mungkin karena itulah, pada kesempatan pembahasan novelnya Supernova di Bentara Budaya Kompas, lebih dari 20 tahun lalu, Dewi sampai sempat disebut-sebut oleh seorang paranormal – yang hadir dan lenyap tiba-tiba – yang mengatakan bahwa Dewi pernah tumimbal lahir sebagai seorang biarawati Buddhis atau Bhiksuni.

Tampaknya melalui novelnya itu, Dewi memang tidak sekadar mengutip kata-kata Buddhis, yang mencerminkan pemahamannya yang luas mengenai berbagai ajaran Buddha namun juga mencoba untuk memahami dan menghayatinya lewat jalan cerita yang dibangunnya melalui tokoh-tokoh dalam novelnya itu dan tampak meresapi dan menghayati Buddhadharma.

Mengingat tercerminnya spiritualitas Buddhis yang terdapat dalam novelnya itu, maka   bisa dipahami bisa saja benar ujaran paranormal tua berambut putih panjang  dalam diskusi Buku Supernova di Bentara Budaya Kompas, Jakarta itu. Paranormal yang menyatakan bahwa Dewi Lestari pada kesempatan kelahirannya yang terdahulu pernah sebagai seorang Bhikkhuni atau Bhiksuni. Sungguhkah?

 Lepas dari terkaan paranormal tersebut, yang jelas dalam kedua novelnya itu, Dewi telah menunjukkan kerja tuntas seorang seniman dalam mengetahui sesuatu persoalan seperti Buddha Dharma yang ditekuninya! Terkenang dan teringat akan pengalaman lebih dua puluh tahun lalu saat menghadiri dan menyaksikannya, bagaimana sastrawati pendatang baru, Dewi Lestari dengan cerdas menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens saat diskusi buku pertamanya “Supernova” di Bentara Budaya Kompas, Jakarta.

Selanjutnya penulis berkesempatan berkenalan di rumah makan Jepang Pondok Indah, berkunjung di apartemennya di daerah Pondok Indah, maupun berkesempatan bersama-sama dalam beberapa seminar, seperti di Jakarta dan di Palembang ditambah perbincangan menarik di tepi sungai Musi di malam hari. Ada lagi undangan wawancara berkenaan dengan peluncuran karyanya “Rectoverso” di Kuningan Jakarta, serta menyaksikan, mendengar, menyimak gema kiprah Dewi Lestari di belantara komunitas Buddhis.  

Sedikit teringat saat hadir dalam peluncuran novel Supernova, lebih 20 tahun lalu di Bentara Budaya Kompas, Jakarta itu. Banyak kalangan yang hadir mengagumi karya Supernova Dewi Letari yang muncul pada saat negara tengah terpuruk di awal reformasi. Banyak rekan juga sesama pecinta sastra, karya budaya, dan alumnus filsafat hadir diantaranya Rocky Gerung, alumnus filsafat Universitas Indonesia yang juga sempat  menyampaikan komentar dan kesannya yang positif akan kehadiran novelis muda kelahiran Bandung ini.

Sungguh kehadiran novelis, sastrawati baru Dewi Lestari yang berdarah batak ini sangat menyegarkan kehidupan dan dunia budaya sastra Indonesia pada saat negara sedang mengalami titik yang suram saat itu. Bahwa tidaklah berlebihan kalau kita juga merasa bangga atas kemunculan Dewi Lestari yang juga seorang penyanyi ini, bahwa ditengah-tengah keadaan situasi negara yang amat menyedihkan saat itu (baca di awal reformasi lebih 20 tahun lalu), bangsa Indonesia masih sempat melahirkan seorang anak muda cerdas yang amat berbakat yang menjadi kebanggaan, milik bangsa dan negara.

Hadirnya karangan bunga duka cita, di rumah duka Heaven dari Bapak Presiden Repubik Indonesia, Ir. Joko Widodo atas meninggalnya suaminya Reza Gunawan, pada Selasa, 7 September 2022 lalu menandakan dan memperlihatkan kebesarannya sebagai sastrawan modern Indonesia dan bahwa Dewi Lestari memang telah menjadi milik Indonesia, bangsa dan negara. Dengan sebutan akrabnya Dee, Dewi Lestari yang begitu fenomenal dengan karya-karya sastranya, seperti Supernova episode “Akar” dan lain-lain, kini dikenal luas sebagai seorang sastrawan dan figur publik kebanggaan Indonesia. Sungguh  Dewi! (JP).  ***

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

Butuh bantuan?