Di Tengah Kehidupan Digitalisasi Dunia Maya

Home » Artikel » Di Tengah Kehidupan Digitalisasi Dunia Maya

Dilihat

Dilihat : 1 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
14 di tengah digitalisasi pic

Oleh: Jo Priastana

 

The Human Spirit must Prevail over Technology.

(Albert Einstein)

Dunia kehidupan dewasa ini tidak lepas dari kehadiran teknologi. Kemajuan teknologi telah menghujani kehidupan manusia di dalam segala seginya. Teknologi yang merupakan aplikasi dari ilmu pengetahuan telah mempermudah kehidupan manusia. Banyak manfaat dan kemudahan yang dialami manusia dengan hadirnya teknologi.

Teknologi komunikasi misalnya, telah menjadikan manusia terhubungkan satu sama lain. Tidak usah pergi ke lain tempat, manusia dengan kecanggihan teknologi dewasa ini telah mampu berkomunikasi. Manusia terhubungkan satu sama lain berkat teknologi komunikasi. Namun begitu, kehadiran teknologi komunikasi ini juga menjelmakan sebuah paradoks.

 Suatu paradoks yang terjadi misalnya, teknologi komunikasi ternyata tidak selalu menghubungkan namun juga memisahkan.  Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir.

Komunikasi dan Keterpisahan

Pernahkah kita merasakan dihadapan orang yang sedang bersama kita tiba-tiba handphonenya berbunyi. Seketika itu juga teknologi komunikasi itu memisahkan kita dengan dia yang sedang meladeni orang yang menghubungkannya. Bahkan seringkali lebih jauh, kita sedang berhadapan dengannya namun dia nyatanya sedang ber-sms ria tidak mempedulikan kehadiran kita.

Bercampur dengan semangat hiperkonsumerisme, manusia-manusia yang bergantung dengan teknologi komunikasi seakan telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktunya.  Bahkan seorang pakar yang bernama Benjamin Barber menyebutnya manusia yang dilanda teknologi komunikasi itu telah menjelma sebagai civic schizophrenia alias kegilaan warga.

 Sungguhkah kita berkomunikasi dengan manusia yang sesungguhnya di era teknologi komunikasi ini? Sungguhkah dunia teknologi yang merupakan ciptaan manusia atau dunia kehidupan manusia tingkah dua telah menggantikan dunia kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang riil dan realitas yang nyata?

Realitas Semu dan Dunia Pencitraan

Di jaman yang serba teknologis ini, sungguhkah kita berkomunikasi dengan manusia yang sesungguhnya? Di jaman yang serba teknologis dengan kemajuannya yang tak terbatas ini, sungguhkah kita menjalani kehidupan yang utuh sepenuhnya? Tidakkah kita menyadari bahwa teknologi yang canggih dan memudahkan serta menyamankan itu bisa menjauhkan kita dari kebenaran kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai?

Kehadiran teknologi yang memudahkan dan mendatangkan manfaat itu nyatanya juga menimbulkan keterasingan. Inikah yang dalam perbendaharan lama disebut zaman edan? Pergeseran manusia dalam menghayati ruang dan waktu.  Ruang dan waktu kini tidak lagi terhayati secara eksistensial, melainkan secara teknologis-digital.

Penghayatan yang demikian itu berarti bergesernya penghayatan atas makna hidup yang  terungkap dalam seluruh praktek kehidupan kita,  dari kehidupan pribadi sehari-hari di ruang privat sampai kehidupan sosial, termasuk di dalamnya dinamika politik. Penghayatan tersebut menjauhkan diri dari komunikasi yang sungguh-sungguh eksistensial yakni nyata dan manusiawi.

Popularitas Sejauh Impresi

Dalam dunia politik, seorang pemimpin mempopulerkan menggunakan perangkat komunikasi masa kini yang disebut gadget atau media televisi. Melalui teknologi itu, seorang pemimpin atau calon pemimpin dapat tidak lagi bersentuhan secara langsung dengan yang diwakilinya. Para pemimpin tersebut hanya sepertinya sedang bermain-main saja padahal yang diwakili adalah kehidupan nyata banyak orang.

Kehidupan politik seperti itu, dikatakan sebagai politik yang menjadi bagian “waktu luang, yakni “free time” seperti dikatakan Theodor Adorno. Politik waktu luang ini jadinya hanya mencerminkan kesenangan para politisi atau leisure dalam teori Thorstein Veblen. 

Politik waktu luang menunjukkan bahwa hidup bukan dalam arti yang sepenuhnya. Mereka berpolitik bukan dalam makna yang sejatinya demi mengangkat kemiskinan orang banyak yang sesungguhnya nyata. Realitas sosial yang sesungguhnya kini tergantikan oleh realitas maya, politik pencitraan sebagaimana yang terefleksikan dengan sempurna oleh televisi.

Seakan apa yang ada di televisi itulah realitas, padahal hal itu adalah realitas maya, realitas citraan. Media massa kita, terutama media elektronik, menjadi penyokong utama dari apa yang kemudian diistilahkan para ahli sebagai politik pencitraan. Mereka menciptakan impresi instan, bukan pencatatan sistematis tentang kinerja.

Berbagai bidang kehidupan lainnya juga dilanda penguasaan teknologis yang membentuk impresi dan pencitraan. Para figur publik, pembicara publik dan pekerja di perusahaan swasta dianggap sudah berprestasi jika bisa memberi impresi mengenai apa yang dikerjakan lewat presentasi dibantu program Power Point. Kinerja semu? Mungkin saja, soalnya ada buku yang topiknya lebih kurang: Real CEO Doesn’t Use Power Point.  Apakah prestasi identik dengan citraan atau impresi? 

Digitalisasi Kehidupan

Kemajuan teknologi telah menyentuh segi-segi terdalam kehidupan manusia. Teknologi komunikasi yang memudahkan dan sekaligus dapat mengasingkan manusia satu sama lain. Begitu pula dengan perkembangan digitalisasi teknologi seperti internet yang begitu dahsyat dan memaku kehidupan manusia dan menimbulkan konsekuensi merubah cara pikir manusia.

 Cukup banyak yang menyoroti konsekuensi digitalisasi kehidupan sekarang, diantaranya adalah Nicholas Carr yang mengingatkan konsekuensi teknologi digital dalam cara pikir manusia sekarang. Melalui bukunya yang berjudul “The Shallows” (2010), dia mengingatkan bagaimana internet mengubah cara  berpikir, cara  membaca, dan cara  mengingat manusia.

Menyangkut soal membaca, Nicholas Carr membandingkan dua cara. Pertama, membaca teks secara linier. Ini terjadi saat membaca buku, koran, atau majalah. Yang kedua, membaca teks secara berlapis-lapis atau diistilahkan hiperteks. Ini seperti membaca lewat layar komputer, cara scrolling memungkinkan kita membaca berbagai teks secara bersamaan.

Yang terakhir itulah yang ditawarkan teknologi multimedia atau lebih lanjut menjadi hypermedia.  Berbagai hasil penelitian disebutkannya, dan yang paling menonjol, menunjukkan bahwa ternyata penyerapan orang dalam pembacaan hiperteks jauh lebih rendah daripada pembacaan secara linier.

Informasi yang mengalir melebihi muatan kognitif. Informasi seperti air dimana air akan tumpah. Kita tak sanggup menangkap informasi itu atau menarik hubungan dengan informasi lain yang telah tersimpan sebelumnya di memori. Dengan kata lain, informasi hanya berseliweran, tak nyangkut di memori apalagi membentuk pengetahuan koheren.

Kondisi ini menjadikan tidak banyak orang mampu berpikir koheren. Yang dikuasai cuma informasi sesaat. Karena itulah manusia jadi kurang bisa berpikir dalam, dan hal ini secara cerdik diindustrialisasikan media menjadi komoditas laris bernama gosip, bernama talk-show, rekonstruksi gosip atau informasi entertainment.

Otentisitas Kehidupan

 Apa yang dibangga-banggakan orang dengan multimedia sekarang – di mana orang katanya bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking) sebenarnya mengandung ancaman yang serius. Tantangan bagi kesejatian, spirit jiwa manusia dan kepenuhan hidup yang otentik, karena multitasking nyatanya hanyalah keterampilan pada tingkat superfisial.

Manusia sesungguhnya mendambakan akan kesejatian, dan bukan sekedar kepraktisan yang nyatanya dapat mengasingkannya dari dirinya sendiri.  Filsuf Roma, Seneca, pada sekitar 2.000 tahun lalu telah mengingatkan bahwa  berada di mana-mana berarti tidak di mana-mana.

Manusia mau banyak, mau tambah mau berlebih dan akhirnya ketergesa-gesaan, ketergopoh-gopohan. Inilah yang menjadi ciri masyarakat kini. Munculnya jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, mengakselerasi ketergopohan itu. Masyarakat yang tergopoh-gopoh yang sibuk dengan jejaring sosialnya tiap beberapa menit, yang sibuk ber-facebook ria menarsiskan dirinya bahkan sampai ke kamar kecil pun terucapkan.

Kebaruan dan kesegeraan tampaknya menjadi ciri ketergopopan ciri kehidupan di jaman digital ini. Jadinya, masyarakat kini tidak lagi menghayati kehidupan yang dalam kerena selalu diburu oleh penekanan kesegeraan dengan istilah yang dikenal para penghuninya sebagai  “status update,” dengan memelototi handphonenya terus menerus.

Teknologi komunikasi memang memudahkan hidup manusia. Orang dapat menghemat waktu, tenaga, dan pikiran sehingga punya banyak waktu pula untuk melakukan refleksi atau mengerjakan aktivitas yang memperkaya hidup. Namun, kenyataannya justru yang terjadi adalah kedangkalan, keterasingan dimana waktu kehidupan habis tersedot oleh permainan teknologi.

Untuk mengatasi fenomena dunia serba teknologis ini, maka sangat perlu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Di tengah kepungan digitalisasi kehidupan dunia maya, mari menumbuhkan sikap yang penuh kesadaran agar kehidupan sungguh dapat dijalani dengan kedalaman, kepenuhan dan bermakna.

Human Spirit dan Meditatif Awareness

Dalam Buddhadharma kita diingatkan agar tidak tertipu oleh dunia yang bersifat ilusi, maya. Dunia inderawi misalnya, kerap menimbulkan kesan-kesan yang cepat, sesaat dan karenanya tidak harus tergantung padanya. Kehidupan yang otentik, utuh hanya akan terjadi bila manusia dapat melakukan perhatian yang sepenuhnya, fokus dan sadar terhadap sesuatu dan menjadikan sesuatu itu hadir terasa hidup dan utuh.  Begitulah awareness atau kesadaran yang ditekankan oleh Sang Buddha.

Dunia kehidupan yang serba teknologis dan bahkan kerap disebut sebagai digitalisasi kehidupan memang menawarkan kemudahan dan kenyamanan. Namun hendaknya tetap patut diwaspadai agar tidak tenggelam dalam lautan ketidaksadaran teknologis. Bahwa di dalam serba ketergesaan, kebanyakan, warna-warni itu, kesadaran (awareness) perlu terus ditumbuhkan. 

Hidup yang penuh bukan semata dipermudah oleh teknolologi bahwa sepenuhnya didasari oleh kesadaran. Hanya kesadaranlah yang menuntun orang kepada kehidupan yang sejati, otentisitas kehidupan. Teknologi yang merupakan hasil pemikian manusia yang sistematis mengandung fungsi aplikatif hanyalah sebagai sarana yang memudahkan dan tidak harus melenakan dan meninabobokan kesadaran kita. Spirit manusia tetap harus mengatasi teknologi.

Tetap harus diingat bahwa hendaknya jangan terikat oleh kehidupan yang artificial atau kehidupan yang hanya superfisial sebagaimana yang hadir dalam digitalisasi kehidupan. Kehidupan yang otentik hendaknya terus ditumbuhkan yakni kehidupan yang dilandasi oleh sikap meditasi yang sepenuhnya senantiasa berada dalam kesadaran, karena melalui kesadaranlah kehidupan sejati, human spirit itu tetap terjaga! (JP).

Butuh bantuan?