Diambang Kematian: Menjadi Kaya Bersama Dewa Asura Baphomet!

Home » Artikel » Diambang Kematian: Menjadi Kaya Bersama Dewa Asura Baphomet!

Dilihat

Dilihat : 121 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
kematian

Ditulis oleh: Gifari Andika Ferisqo ()

Judul tulisan ini dibuat sama persis seperti judul film horror lokal yang diangkat dari kisah nyata di Sidoarjo dan belakangan baru saja tayang di bioskop. Hampir semua orang menginginkan harapan hidup bahagia dengan memiliki harta atau kekayaan yang melimpah, tetapi tentu itu sesuatu yang perlu banyak usaha dan perjuangan disertai dengan berbagai faktor penunjang. Sebagian orang menginginkan jalan pintas untuk menjadi kaya tanpa melalui kerja keras. Oleh karena itu ada fenomena banyak orang melakukan pesugihan yang biasa disebut oleh masyarakat etnis Jawa sebagai kandang bubrah melalui ritual renovasi rumah setiap tahun atau bahkan setiap bulan serta dilarang untuk membersihkan rumah, bahkan beberapa ada yang ditambah dengan persembahan kepala kambing hitam seperti cerita di dalam film horror berjudul Diambang Kematian, dengan harapan bisa memperoleh kekayaan. Tetapi karena kesalahan dan kerakusan dari tokoh bapak dalam film tersebut yang menginginkan usahanya lebih maju sehingga tanpa sadar dan di luar dugaannya mengorbankan anak dan istrinya menjadi tumbal ke sejenis dewa asura yang bisa diduga sebagai baphomet atau iblis berkepala kambing dan berbadan manusia berbulut lebat.

Uang bisa menyebabkan seseorang menjadi asing atau dijadikan asing (outsider) oleh suatu kelompok yang dikenalnya, bahkan mungkin oleh keluarganya. Uang di dalam masyarakat kapitalis cenderung mengarah pada apa yang dikatakan Karl Marx sebagai alienasi. Uang bisa merusak hubungan persaudaraan dan persahabatan sehingga tidak heran jika ada istilah, manusia bisa bersahabat, tetapi tidak demikian dengan uang. Uang menjadi sesuatu yang penting dan tidak bisa dihindarkan di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi di dalam market based system di mana uang menjadi medium utama transaksi. Di satu sisi, uang bisa sangat menggembirakan pemiliknya karena banyak sesuatu bisa dibuat dan didapatkan (powerful), namun di sisi lain, uang bisa menjadi sumber kesengsaraan (vulnerability) karena banyak yang diukur, dinilai, dan didapatkan berdasarkan uang. Orang yang tidak memiliki cukup uang, dengan sendirinya tergeser dalam arena (pasar) yang memang menuntut adanya uang.

Asura Pemberi Kekayaan

Asura adalah sejenis makhluk setengah dewa atau biasa dikenal sebagai iblis, siluman, atau jin. Kategori mahkluk ini berbeda dari hantu (peta) maupun dewa. Makhluk ini cenderung memiliki kekuatan, kesenangan, dan usia panjang seperti para dewa, namun mereka bukanlah dewa. Kehidupan mereka pun juga sangat berbeda dengan kehidupan di alam-alam menderita di mana makhluk menderita lain seperti peta tidak dapat merasakan kesenangan.  Di alam asura, mereka masih dapat merasakan kesenangan, dan dari segi karakteristik, para asura ini memiliki pikiran yang berakarkan kesombongan, iri hati, dan keserakahan yang kuat, mereka juga lalai menjalankan dan melatih sila. Buddha mengelompokkan makhluk ini menjadi 3 kelompok yaitu; (1) Dewa Asuraasura yang dulunya adalah dewa namun karena perbuatan buruknya di usir dari alam surga Tavatimsa, (2) Niraya Asuraasura yang tinggal di alam neraka, (3) Peta Asurapeta/hantu yang memiliki kekuatan seperti asura. Dewa asura dikategorikan sebagai yang terkuat di antara ketiganya, mereka terlahir sebagai dewa, tetapi karena perbuatan buruknya, mereka harus diusir keluar dari alam surga Tavatimsa. Sejarah tentang di usirnya para asura ini di ceritakan di berbagai Sutta seperti Deva Sutta, Vepacitti Sutta, dan Subhasita Jaya Sutta. Mereka umumnya masih sangat haus kekuasaan, pengikut dan bertindak layaknya big boss. Sehingga tidak heran mereka bisa mengumpulkan manusia-manusia yang serakah untuk bersekutu dengan mereka dan membuat perjanjian layaknya MoU (Memorandum of Understanding) dengan manusia melalui pesugihan dengan berbagai syarat yang sebenarnya membuat boncos karena tidak fair bila dicermati isi perjanjiannya.

Pesugihan dengan Dewa Asura Baphomet

Kata ‘pesugihan’ berasal dari kata ‘sugih’ yang dalam bahasa Jawa berarti ‘kaya’, yaitu segala sesuatu yang dilakukan untuk menjadi kaya. Namun lama-kelamaan kata pesugihan menjadi melenceng secara makna karena tindakan sebagian orang yang ingin menjadi kaya dengan cara yang instant seperti bersekutu dan membuat perjanjian dengan dewa asura. Ketika seseorang meminta kekayaan atau pesugihan dengan makhluk sejenis dewa asura maka SOP (Satuan Operasional Prosedur) yang dimiliki seperti layaknya mafia atau preman di Indonesia, kurang lebih dalam bahasa sehari-harinya seperti ini we’ll protect you from harm, see? But only if you pay up, see!. Si pelaku pesugihan atau pembuat MoU dengan dewa asura sebenarnya membayar lebih banyak dari yang didapatkan, makanya bisa dikatakan sebenarnya boncos dan jika sudah terikat perjanjian dengan mereka itu sama saja seperti kontrak yang harus subscription/langganan dan sangat sulit untuk lepas dari itu, dan jangan heran jika setelah si dewa asura memakan tumbalnya maka tiba-tiba usaha orang yang bersangkutan akan sangat maju pesat secara mendadak atau instant. Tetapi perlu diingat, apa yang dibayar untuk mendapatkan kekayaan instant tersebut sangat mahal dibandingkan apa yang didapat.

Dewa asura berkepala kambing dan berbadan manusia berbulu lebat di kalangan dunia barat dikenal dengan nama baphomet. Dalam tradisi Yahudi diceritakan bahwa perumpamaan tentang domba dan kambing untuk menggambarkan orang baik dan penurut sebagai domba, sedangkan orang yang keras kepala dan sulit diatur sebagai kambing, karena domba umumnya berbulu lembut dan berwarna putih sedangkan kambing berbulu lebih kasar dan berwarna gelap, serta lebih bodoh dan sulit diatur, dan jika diumpamakan seperti terang versus gelap. Kemudian lama-kelamaan figure kambing tersebut digunakan sebagai representasi dari iblis dan para pengikutnya yang bebal, serakah, dan meresahkan masyarakat. Juga karena ritual persembahan kepala kambing hitam memang sudah sangat lama digunakan dalam berbagai tradisi di peradaban tua manusia di berbagai belahan dunia sebagai medium komunikasi dengan dewa asura.

Dalam film horror berjudul Diambang Kematian, si dewa asura baphomet meminta tumbal nyawa keluarga tersebut setiap 10 tahun sekali dari istri, anak lelaki pertama, dan terakhir anak perempuan yang dimakan oleh dewa asura baphomet pada 2022 lalu. Semula si tokoh bapak hanya menyetujui tumbal kepala kambing hitam tetapi karena tidak puas dengan hasil perkembangan tokonya maka tanpa sadar dan persetujuan yang berat sebelah si dewa asura baphomet menginginkan tumbal lebih jika ingin tokonya lebih ramai dan besar lagi, maka terjadilah penagihan tumbal setiap 10 tahun sekali yang dimulai dari penumbalan istrinya di tahun 2002. Bagi beberapa orang yang memiliki kemampuan batin yang tinggi umumnya mengatakan jika mayat dari tumbal pesugihan yang dilihat sebenarnya sudah ditukar dengan gedebog pisang sedangkan mayat aslinya sudah menjadi santapan si dewa asura baphomet tersebut. Karena ilusi optik dan kemampuan batin yang rendah pada manusia umum yang menyebabkan gedebog pisang yang dilihat sebagai mayat yang utuh.

Konklusi

Untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian hidup duniawi memang membutuhkan harta benda sebagai sarana, tetapi harta duniawi bukanlah satu-satunya untuk menjadi bahagia. Wajar apabila sebagaian besar orang ingin hidup bahagia penuh kekayaan duniawi, tetapi hendaknya kekayaan itu diperoleh dengan cara yang baik dan benar, serta menghargai proses yang ada. Memang harus banyak jalan berliku yang dilewati, tetapi jika sudah menghargai proses bukankah akan menjadi lebih bijak dan lebih menghargai uang karena banyak pelajaran yang telah dipelajari dalam proses tersebut. Berkah akan diperoleh jika melakukan banyak kebajikan, melalui berdana, melaksanakan sila, rajin melatih samadhi serta menjaga badan jasmani, ucapan dan pikiran.

Menurut Buddhisme ada 4 cara umum dan sudah banyak diterapkan oleh orang untuk memperoleh kekayaan duniawi yang dirangkum dalam Anguttara Nikaya VIII, 54, yaitu; 1). Kesempurnaan dalam inisiatif, artinya rajin dan bersemangat dalam bekerja, 2). Kesempurnaan dalam perlindungan, artinya membuat perlindungan dan menjaga terhadap kekayaan yang diperoleh, 3). Persahabatan yang baik, berteman dengan para bijaksawan yang matang dan mantap dalam keyakinan, moralitas, kedermawanan, dan kebijaksanaan, selain itu juga rajin mencari circle yang menunjang kita untuk mendapatkan relasi bisnis yang lebih besar, 4). Kehidupan yang seimbang, tidak menghambur-hamburkan uang tetapi juga tidak pelit. Selain itu ada 4 sumber untuk bertambahnya kekayaan duniawi yaitu tidak main wanita, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi dan tidak memiliki persahabatan yang tidak baik.

Atau jika ingin menggunakan alternatif cara lain bisa dengan cara yang umum dilakukan orang Tionghoa seperti menggunakan feng shui (), karena lebih masuk akal dan menekankan kepada pengaturan aliran energi serta tata letak dan ruang yang berhubungan dengan psikologis manusia, dan selalu disertai dengan penjelasan sebab-akibat mengenai tata letak dan ruang bangunan usaha atau rumah dibuat sedemikian rupa. Atau jika masih merasa kurang cukup ditambah dengan bersembahyang ke dewa-dewi Tionghoa yang biasa disembahyangi dan tentunya tidak meminta tumbal seperti dewa asura. Cukup bersembahyang kepada para dewa-dewi seperti dewa chai shin () atau dewa rejeki, lak kwan ya/tek hai chin ji (澤海真人) atau dewa pelindung pedagang bahari, dan hok tek cheng shin (福德正神) atau dewa bumi. Ketiga dewa ini dikenal sebagai dewa rejeki dan jika disebut pengelaris juga bisa dikatakan demikian, tetapi juga perlu diingat bahwa perilaku dan tindak-tanduk yang lurus juga harus dilakukan serta tidak mengharapkan sesuatu yang instant terjadi, jadi semua kembali pada cara diri sendiri untuk mencapai kekayaan atau kesuksesan yang harus melalui berbagai proses.

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Daftar Pustaka

Anguttara Nikaya Jilid 4. Terjemahan. Bhikkhu Bodhi. 2015. Jakarta. Dhamma Citta Press.

Koentjraningrat. 2002. Pengantar Antropologi Pokok Etnografi II. Jakarta. Rineka Cipta.

Brujomusti. 2003. Pakar Pesugihan Lampung. edisi Liberty 443.

Hann, Chris & Keith Hart. 2011. Economic Anthropology: History, Ethnography, Critique. Cambridge: Polity.

Van Peursen, C.A. (diterjemahkan oleh Dick Hartoko). 1976. Strategi Kebudayaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Isaac, Barry L. Karl Polanyi dalam James G. Carrier. 2005. A Handbook of Economics of Anthropology. Cheltenham, UK: Edward Elgar. Hlm. 1425.

 

Butuh bantuan?