Fenomena Burnout Di Masa Kuliah

Home » Artikel » Fenomena Burnout Di Masa Kuliah

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Fnmn Burnout Picture3

Oleh: Majaputera Karniawan (Tjia Wie Kiong 謝偉強)

 

A. Latar Belakang

Demikianlah keadaan yang dirasakan salah satu mahasiswa aktif program Sarjana Ekonomi di salah satu kampus swasta di DKI Jakarta. Sejak semester satu mahasiswa tersebut mengaku sudah mendapat banyak tugas kuliah, terkadang satu dosen mengumumkan tugas lebih dari satu. Sekedar informasi, setiap semester biasanya mahasiswa tingkat strata satu mengikuti 10-12 mata kuliah dengan beban SKS setiap mata kuliah 2-3 SKS.

Akibatnya karena terlalu dibebankan dengan tugas-tugas serta dikejar deadline, ia mengalami gangguan berupa krisis kepercayaan diri karena minim bereksplorasi dan berkomunikasi. Puncaknya pada waktu penelitian tugas akhir bahkan merasa kurang percaya diri untuk meneliti di masyarakat. Belajar hanya dilakukan secara konvensional berdasarkan penugasan dari dosen, pada akhirnya masih mengabaikan sisi lain berupa eksploratif dan kesegaran resiliensi-psikis diri.

 

B. Burnout, Semua Ide Jadi Jenuh!

Membuat data jenuh dalam analisis penelitian kualitatif lapangan memang diharuskan, data jenuh artinya data sudah tidak banyak bergerak atau bahkan tidak bergerak sama sekali sekalipun ditambahkan data dari sumber baru (Jahja, 2017), tetapi akan jadi masalah kalo ide dan daya imajinasi mahasiswa yang jenuh tak bergerak lagi karena terlalu banyak tarik ulur, jadinya Burnout!

Burnout adalah kondisi stres berat yang dipicu oleh pekerjaan, orang yang mengalami burnout akan menunjukan gejala kelelahan, hilangnya semangat kerja, rasa benci dengan apa yang dikerjakan, mudah emosional, mudah sakit, menarik diri dari lingkungan sosial, dan yang terburuk adalah penurunan performa dalam apa yang dikerjakan (Nareza, 2020).

Seorang mahasiswa harus menjaga kesehatan mentalnya agar jangan sampai Burnout baik dalam mengerjakan tugas rutin kuliah ataupun penelitian. Juga hendaknya pemberian beban tugas harus diperhatikan, karena seringkali circle pendidikan memperlakukan manusia seperti robot dengan pemberian tugas yang gila gilaan dalam waktu sempit.

Bahkan kesehatan mental peneliti perlu dijaga psikisnya agar jangan sampai Burnout dalam penelitian, kalau sampai terjadi, dapat dipastikan riset akan gagal, dan gagalnya sebuah riset bukan kegagalan mahasiswa pribadi (kecuali memang mahasiswanya malas, itu konsekuensi), tetapi bahkan tanda bahwa ada masalah berupa sistem pembelajaran yang tidak sehat.

Bahkan saya pernah mewawancarai satu mahasiswa bidang humaniora, ia memutuskan berhenti kuliah karena selain burnout, kehidupannya tidak tertunjang secara finansial, malah terbebani karena harus merogoh kocek lebih untuk tugas. Ini dikarenakan tugas yang dibebankan terlalu banyak dan menyita waktu kerja. Sementara kalau dia bekerja, ia bisa memiliki tabungan yang cukup untuk modal menikah. Sehingga ini menjadi pertanyaan buat dia “Apakah kuliah adalah jalan yang tepat buat meningkatkan taraf hidup?” Pada akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah demi menyelamatkan finansial keluarga. Realita ini sangat menyedihkan.

 

C. Kembali Pada Tujuan Awal Pendidikan Merdeka

Presiden RI Joko Widodo (Dalam Yanuar, 2021) mengatakan bahwa pendidikan haruslah memerdekakan manusia, beliau mengambil pemikiran dari Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan yang memerdekakan tersebut adalah semua orang bebas merdeka menjadi apa saja, membangun jiwa dan raga bangsa, namun tetap menghormati kemerdekaan orang lain.

Ia juga kembali menegaskan bahwa Ki Hajar Dewantara memiliki 3 pemikiran filosofis yang mendalam: Didepan memberi teladan, ditengah membangun karsa (Kekuatan untuk berkehendak), dan dibelakang memberi dorongan semangat. Penekanan di sini adalah keseimbangan suasana pendidikan, dan memandang peserta didik adalah manusia yang merdeka dalam hal mempelajari ilmu dalam dunia pendidikan.

Sudahkah sistem pendidikan dan pengujian kampus anda menerapkan hal ini? Kebanyakan sih, cuma sekedar menerapkan yang terakhir saja, sekedar memberi dorongan tanpa membangun karsa ataupun bahkan memberikan teladan yang baik bagi para peserta didiknya. Sekedar memberi dorongan tetapi tidak memberi ilmu, pemikiran teladan, dan kekuatan itu berbahaya. Ingat bahwa Konfusius, sang bapak pendidikan dari timur berkata “Belajar tanpa berpikir adalah sia-sia, berpikir tanpa berlajar itu berbahaya!” (Lun Gi II:15).

Dengan dikekangnya kebebasan belajar meneliti dan berpikir menandakan bahwa tidak ada jiwa kepemimpinan yang muncul, daya juang juga menjadi lemah yang akibatnya bisa saja mereka lulus dengan hasil sekedar “Ikutin saja asal lulus”. Status kelulusan itu bukan lagi menjadi jaminan mereka telah belajar ilmu yang cukup dari Sang Dosen, apalagi telah berpikir! Sama seperti kritik pedas Ivan Illich tentang pendidikan formal bahwa ijazah bukan legitimasi bahwa seseorang pernah belajar ataupun berpikir, tetapi sekedar bukti bahwa ia pernah lulus dalam satu pendidikan (Dalam Julian, 2021).

Akibatnya, mereka menjadi sulit untuk bisa mengemukakan gagasan penelitiannya dalam karya ilmiah formal, dan karena sulit inilah yang membuat banyak penelitian yang sifatnya Replikasi, karena bagi mereka yang menyerah, hanya yang penting lulus saja konsepnya. Padahal sejatinya pendidikan adalah ladang di mana gagasan inovasi baru muncul. Buddha sendiri memberikan saran untuk mencari berkah berupa memiliki pengetahuan luas dan keterampilan (Kp.6. Mahamangala Sutta), dengan adanya intervensi subjektif justru mencegah munculnya keterampilan dan perluasan pengetahuan itu bukan?

 

Daftar Pustaka

Jahja, Adi Susilo. 2017. Berapa Jumlah Informan Riset Kualitatif?. https://dosen.perbanas.id/berapa-jumlah-informan-riset-kualitatif/. Diakses April 2022.

Julian, Aristedes. 2021. Merefleksikan Ulang Hakikat Pendidikan dan Sekolah Modern Bersama Ivan Illich. https://bestariedu.com/featured/merefleksikan-ulang-hakikat-pendidikan-dan-sekolah-modern-bersama-ivan-illich/. Diakses April 2022.

Nareza, Meva. 2020. Ciri-Ciri Burnout dan Cara Mengatasinya. https://www.alodokter.com/ciri-ciri-burnout-dan-cara-mengatasinya. Diakses April 2022.

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Suttacentral.net (Online Legacy Version). 2015. Khudakapatha. http://legacy.suttacentral.net/id/kp6. Diakses April 2022.

Yanuar. 2021. Presiden Joko Widodo: Pendidikan Itu Mensejahterakan Manusia.  https://puslapdik.kemdikbud.go.id/artikel/presiden-joko-widodo-:-pendidikan-itu-memerdekakan-manusia. Diakses April 2022.

Butuh bantuan?