Oleh: Vijjavati Aninditha
Saya pernah mendapat nasihat selewat yang kedengarannya sudah lawas: laki-laki jangan salah pilih pekerjaan, perempuan jangan salah pilih jodoh. Masalah rumah tangga dan ekonomi bagaimanapun juga saling terkait. Kelancaran sebuah rumah tangga dilihat dari dapurnya yang terus mengebul. Untuk memastikan dapur terus bekerja, kestabilan ekonomi amatlah diperlukan. Rumah tangga yang lancar didukung oleh ekonomi yang lancar, selain itu oleh manajemen rumah tangga yang baik di mana keduanya didukung penuh oleh keterampilan serta kematangan diri laki-laki dan perempuan yang menjalankannya.
Pergaulan antara laki-laki dan perempuan memiliki batasan tertentu, sejauh apakah batasan tersebut diberlakukan bergantung pada kemajuan zaman dan konteks sosial. Dewasa ini, hubungan akrab laki-laki dan perempuan tidak lagi dibatasi dalam lingkup pernikahan. Belakangan, semakin banyak muda-mudi yang menyatakan dampak positif dari tinggal bersama tanpa menikah dimulai dari melatih diri untuk kesiapan berumah tangga serta memiliki teman dekat yang ada setiap saat. Dengan demikian, mereka mendapatkan insight mengenai kehidupan pernikahan sebelum benar-benar menjalani pernikahan. Mengapa tidak memilih untuk langsung menikah saja?
Ketakutan perempuan akan menikahi laki-laki yang salah adalah pertimbangan yang perlu mendapat perhatian penuh. Penyebab ketakutannya beragam mulai dari calon laki-laki yang tidak jujur mengenai kapasitas dirinya, takut diperlakukan buruk oleh mertua, atau bias gender yang cenderung memberatkan peran perempuan di rumah tangga daripada laki-laki. Barangkali, selama masih melajang dan tinggal bersama orang tua, muda-mudi hanya mendapatkan gambaran mengenai kehidupan pernikahan secara terbatas melalui media film dan cerita orang-orang yang sudah duluan menikah. Menjelang pernikahan, muda-mudi tersebut dikursuskan secara kilat mengenai kehidupan pernikahan lalu langsung menikah.
Demi mencegah terjadinya permasalahan rumah tangga, ada baiknya memang calon pasangan mengenali dirinya, diri pasangannya, maupun hak dan kewajiban masing-masing sejak sebelum menikah. Pertanyaannya adalah, “bagaimana kelancaran rumah tangga tercapai jika pasangan yang menjalankannya tidak memiliki gambaran tugas dan tanggung jawabnya?” Menyikapi kekurangan tersebut, tidak sedikit muda-mudi yang mempertimbangkan untuk tinggal bersama padahal bukan pasangan menikah.
Muda-mudi modern menjalin hubungan pacaran yang berlanjut tinggal bersama di bawah satu atap – disebut juga kumpul kebo. Kumpul kebo bukanlah simulasi pernikahan pertama yang pernah dicatat di dalam sejarah peradaban manusia. Di era kerajaan kuno di China, simulasi pernikahan dilangsungkan melalui pengantin percobaan (Inggris: trial bride). Trial bride bertujuan untuk mengetahui kondisi asli kehidupan calon pengantin laki-laki yang ditunjuk untuk menikahi calon pengantin perempuan – biasanya calon perempuan berasal dari keluarga terhormat seperti keluarga kerajaan.
Seorang pelayan perempuan dari keluarga calon perempuan dikirim ke rumah calon laki-laki untuk tinggal bersama sementara sebelum kembali ke rumah calon perempuan untuk melapor. Laporan tersebut diharapkan adalah laporan yang mendetail dan autentik, bebas dari sogokan keluarga calon laki-laki yang mengharapkan trial bride hanya menyebutkan aspek-aspek positif dan melewatkan aspek-aspek negatif. Laporan yang dibuat akan menjadi pertimbangan keluarga calon perempuan untuk melangsungkan pernikahan atau tidak. Konten dari laporan tersebut sebenarnya juga menentukan kehidupan pelayan yang ditunjuk sebagai trial bride.
Jika pernikahan akhirnya terjadi, kemungkinannya bagi pelayan bekas trial bride ada dua: bertahan atau disingkirkan karena rasa cemburu. Jika pernikahannya dibatalkan, trial bride akan menerima kemarahan dari keluarga calon laki-laki yang dirasa telah merugikan nama baik keluarga dan reputasi calon laki-laki. Pada akhirnya, menjadi trial bride memang mendatangkan kebahagiaan sesaat yang berujung pada ketidaknyamanan bahkan ketidakselamatan hidup. Banyak pelayan perempuan yang tidak mau dipilih menjadi trial bride meskipun keuntungannya luar biasa.
Trial bride terjadi di dinasti Qing di mana pernikahan terjadi atas perjodohan orang tua. Pelayan atau anak perempuan dari status sosial yang lebih rendah dari status pengantin perempuan direkrut sebagai trial bride. Setelah pernikahan, trial bride bisa jadi disingkirkan atau dipertahankan di rumah tangga pengantin laki-laki sebagai gege atau selir. Masalahnya, masyarakat di kala itu menganggap perempuan yang pernah berhubungan di luar nikah adalah aib. Kemungkinan terparahnya, jika trial bride disingkirkan tanpa menerima kompensasi, trial bride tidak dapat menghidupi dirinya. Penolakan tersebut berdasarkan pada kembali keluarga dan komunitas yang memandang trial bride memalukan.
Baik kumpul kebo maupun trial bride adalah fenomena yang merendahkan martabat perempuan. Idealnya, laki-laki dan perempuan yang hendak menikah mengenal diri dan pasangannya dengan baik secara terbuka. Dengan mengenal diri, calon pasangan mampu mempertimbangkan sejauh apa batas toleransi yang dapat diberikan dan apakah kehendak menikah laik diteruskan atau tidak. Pada akhirnya, kebahagiaan pernikahan tidak sepantasnya dibentuk dari kesengsaraan yang dialami oleh orang lain. Di sinilah cerminan dari dampak ketiadaan edukasi seks bagi muda-mudi.
Selama ini, pemberian edukasi seks di sekolah-sekolah ditentang oleh masyarakat dan orang tua karena dianggap akan mengajarkan anak-anak sekolah tentang hal yang tidak sepantasnya dibahas di luar lingkup pernikahan. Lantas, mengapa tidak menjadikan edukasi seks sebagai pintu gerbang awal untuk memperkenalkan laki-laki dan perempuan terhadap pernikahan? Dengan menjadikan edikasi seks sebagai pengenalan terhadap kehidupan setelah menikah, harapannya laki-laki dan perempuan dapat mengenali hal-hal yang akan terjadi setelah menikah dan bagaimana mempersiapkannya jauh-jauh sebelum menentukan pasangan hidup tanpa menjatuhkan martabat orang lain melalui tindakan yang dipandang tidak pantas secara sosial maupun agama.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
China & World History. (2024). The Unique Tradition of Trial Marriage for Qing Dynasty Princesses: Trial Marriage Gege. https://youtu.be/lUiqasZ1Q0I?si=pV9dQhr8tL6683re
DayDayNews. (2020). What did Trial Marriage Gege in the Qing Dynasty do? Why do the ladies avoid it? https://daydaynews.cc/en/history/770182.html
iMedia. (2025). Qianlong’s “trial marriage palace maid”, after serving in bed, made him miss him for life, but scolded her son many years later. https://min.news/en/history/e2c34ce3b7056deee450790d1fc434bc.html
Kompas.com. (2025). Mengenal Tradisi Gowok di Banyumas, Pendidikan Seks untuk Calon Pengantin Laki-laki. https://www.kompas.com/jawa-timur/read/2025/05/27/111458688/mengenal-tradisi-gowok-di-banyumas-pendidikan-seks-untuk-calon?page=all.