Filsafat Taoisme (道家): Konsesi Tambang Ormas Menentang Keselarasan dengan Alam Semesta

Home » Artikel » Filsafat Taoisme (道家): Konsesi Tambang Ormas Menentang Keselarasan dengan Alam Semesta

Dilihat

Dilihat : 6 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 3
  • 38
  • 33,967
Pic 7 Taoisme Konsesi

Oleh: Gifari Andika Ferisqo (方诸德)

 

Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia. Setiap tanggal 5 Juni, di lebih dari 150 negara, dan masyarakat dunia didorong untuk turut berpartisipasi dalam hari internasional PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang bertujuan mendorong dunia yang lebih berkelanjutan dan berkesinambungan. Melalui Perjanjian Paris pada tahun 2015, para pemimpin dunia berkomitmen untuk meningkatkan Komitmen Kontribusi Nasional, juga dikenal sebagai Nationally Determined Contribution (NDC). Namun, berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia, yang justru memberikan konsesi izin tambang kepada ormas (organisasi masyarakat) keagamaan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2024 yang merupakan perubahan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, yang mengatur pemberian Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tambang pada wilayah bekas PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) kepada ormas keagamaan.

Dikhawatirkan bahwa pemberian izin tambang kepada ormas keagamaan akan menyebabkan perselisihan dengan warga anggotanya sendiri. Ini adalah keprihatinan bagi ormas keagamaan yang didirikan untuk tujuan mulia jika terjadi konflik atau pertikaian dengan masyarakat secara umum, terutama dengan warga anggotanya sendiri, sebagai akibat dari pemberian izin tambang ini. Selain itu, memberi prioritas IUPK kepada ormas keagamaan berisiko menyebabkan bancakan para pemain tambang yang telah memiliki pengalaman dalam tata niaga tambang. Karena ormas keagamaan tidak dibentuk dengan tujuan bisnis tambang, mereka tidak memiliki kemampuan untuk memobilisasi sumber daya untuk mendukung operasi teknis dalam bisnis tambang dan tidak menguasai tata niaga batu bara. Bisnis tambang biasanya berisiko menyebabkan kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia, tetapi dengan ini para pemain tambang yang akan mengambil keuntungan dan ormas keagamaan yang mendapatkan reputasi yang rusak karena terlibat bisnis tambang.

 

Ketidakselarasan dengan Alam

Dalam pandangan Taoisme (道家) yang memiliki penekanan kuat terhadap keselarasan manusia dengan alam semesta, dikatakan bahwa manusia harus hidup menurut tata cara alam, memahami hakekatnya, dan hidup selaras dengannya. Ini diperkuat melalui salah satu kutipan dalam kitab Dào Dé Jīng (道德经) bab 42 yang berbunyi:

“道生一,一生二,二生三,三生万物。万物负阴而抱阳,冲气以为和”

“Dàoshēng yī, yīshēng èr, èr shēng sān, sān shēng wànwù. Wànwù fù yīn ér bào yáng, chōng qì yǐwéi hé”

Artinya:

Dào (道) melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan Yin (阴) dan Yang (阳), Kemudian dari dua menjadi tiga (Sebagai akibat dari perpaduan Yin dan Yang), Yinyang (阴阳) saling melengkapi untuk menghasilkan tenaga atau kekuatan. Kekuatan tersebut sebagai sumber dari jutaan benda di alam semesta. Setiap benda di alam semesta yang berupa benda hidup ataupun benda mati mengandung Yinyang (阴阳) yang saling melengkapi untuk mencapai keseimbangan.

Lalu terkait dengan negara yang memberikan konsesi tambang kepada ormas keagamaan, dalam pandangan Taoisme (道家) juga mendasarkan pemerintahan berdasarkan wúwéi (无为) yang bermaksud ketentraman negara dapat dicapai dengan tanpa melakukan usaha apapun. Bagaimana maksudnya? Maksudnya adalah jika seorang yang arif dan bijaksana mampu meneladani rakyat maka pemimpin tersebut tentunya tidak perlu melakukan apapun lagi karena dengan teladan yang baik akan memberi contoh kepada semua. Serta menempatkan segalanya berdasarkan lǐ (禮) kesusilaan atau etika moral yang pantas agar mampu menumbuhkan harga diri rakyat dan menjadikan rakyat hidup di jalan yang benar. Seperti pertanyaan, apakah negara pantas memberikan konsesi izin tambang kepada ormas keagamaan mengingat bukan keahlian dan tujuan utama terbentuknya? Kemudian apakah yang dimaksud dengan wúwéi (无为) itu sendiri? Secara terminologi diterjemahkan dengan ‘tidak memiliki kegiatan’ atau ‘tidak berbuat’. Istilah ini sesungguhnya tidak berarti sama sekali tidak ada kegiatan, atau sama sekali tidak berbuat apapun, melainkan berarti berbuat tanpa dibuat-buat dan tidak berbuat ‘seenak jidat’. Karena wúwéi (无为) adalah sifat dasar kehidupan yang selaras dengan alam semesta. Bersikap dibuat-buat dan ‘seenak jidat’ berlawanan dengan sikap kodrati atau sikap yang wajar. Dalam melakukan segala sesuatu, hendaknya orang mengambil kesederhanaan sebagai prinsip hidup yang membimbingnya, sebab manusia memiliki terlampau banyak keinginan. Manusia mencari kebahagiaan dengan cara memenuhi keinginan mereka, akan tetapi, ketika berusaha memenuhi terlampau banyak keinginan, yang diperoleh adalah hasil yang sebaliknya. Menurut pandangan Taoisme (道家), air adalah gejala alam yang paling mirip dengan Dào (道). Air dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mencari tempat yang paling rendah. Air juga dapat meluluhkan batu karang dan menghanyutkan bukit. Sifatnya kokoh namun luwes, itu adalah kebajikan wúwéi (无为) dan air, begitulah manusia semestinya dalam menyelaraskan diri dengan alam, bukan malah sebaliknya yang mana menentang keselarasan dengan alam. Ciri dari kejernihan air saat tenang; namun, kejernihan ini hanya dapat diamati oleh mata batin jika kehidupan manusia mencapai ketenangan, yang tenang dari telaga yang dalam dan hening.

Manusia hanya perlu mencari jalan dan mengikutinya, serta tidak perlu memaksakan pandangan yang sempit dan tanpa kehendak ingin menyelewengkan diri dari alam demi keuntungan pribadi. Sikap semacam itulah yang disebut dengan wúwéi (无为). Menurut Taoisme (道家), apabila manusia menjadi sombong dan melakukan yang di luar kemampuannya, maka suatu saat dia akan mendapatkan celaka yang dapat membuatnya berduka atau menderita. Karena itu, seorang bijaksana yang mengenal Dào (道) dan hukum alam akan memilih mengundurkan diri dan menolak segala penghargaan atau ‘pemberian’ yang diberikan padanya, serta memilih untuk tidak menonjolkan dirinya. Meskipun demikian, Taoisme (道家) tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menyingkirkan seluruh harta benda yang dimilikinya untuk mencapai ketentraman batin, yang perlu disingkirkan adalah rasa kemelekatan terhadap harta tersebut. Apabila harta disingkirkan namun masih ada kemelekatan terhadap harta tersebut, maka itu semua sia-sia.

Manusia yang baik adalah yang mampu mengikuti jalannya alam semesta sesuai dengan Dào (道), dan membuang kemelekatan terhadap harta dari diri manusia, dan harta benda harus digunakan untuk kepentingan sosial seperti tujuan mulia semula terbentuknya ormas keagamaan dan negara. Jika yang terjadi sebaliknya mungkin memang keduanya dibubarkan saja sebaiknya, karena tidak ada kutuk yang lebih besar daripada merasa kurang puas, dan tidak ada keserakahan yang lebih besar daripada selalu ingin memiliki. Kemudian menyangkal diri adalah sikap menganggap diri dan hidup manusia bukan bagian dari alam semesta. Oleh karena itu, manusia yang bijaksana dan menginginkan hidup tenang dan tentram akan menyelaraskan seluruh hidupnya kepada Dào (道) atau alam semesta.

 

Konklusi

Ketika ormas keagamaan dihadapkan pada pilihan apakah akan menyelaraskan dengan alam semesta dengan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan, mengembangkan inovasi energi terbarukan, dan mendorong transisi energi, atau akan menghabiskan sumber daya saat ini dan menyebabkan kerusakan alam di masa mendatang. Umumnya kita berharap pilihan pertama adalah yang terbaik, ketika lingkungan rusak dan sumber daya habis, para pihak yang terlibat termasuk ormas keagamaan tidak terhindarkan dari bahaya terburuk.

Ke depannya tantangan global ini harus segera ditanggapi oleh ormas keagamaan dengan hidup selaras dengan alam melalui dorongan inovasi dan transisi energi, lebih banyak pusat pembelajaran tentang lingkungan hidup, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di sekolah-sekolah, kampus-kampus atau berbagai tempat kegiatan keagamaan yang dimiliki oleh ormas keagamaan sebagai praktik dari suatu ajaran. Menyiapkan Sumber Daya Manusia dan teknologi yang mumpuni untuk menghadapi tantangan ke depannya dan bukan terlibat dalam kerja-kerja eksploitasi yang rentan menjadi sarang korupsi, konflik atau pertikaian lahan, dan sangat berdampak pada kesehatan lingkungan di masyarakat yang tinggal di sekitar tambang dan ketidakseimbangan alam. 

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

  • Watra, I Wayan. 2008. Filsafat Timur (Sebuah Pengantar Dalam Memahami Filsafat Timur). Surabaya: Paramita.
  • Kusumohamidjojo, Budiono. 2010. Sejarah Filsafat Tiongkok. Yogyakarta: Jalasutra.
  • Creel, H. G., “What is Taoism?”. Jul. – Sep. 1956. Journal of the American Oriental Society, Vol. 76, No. 3, pp. 139- 152.
  • Pramono, M. September 2005. “Filsafat Seni Taoisme“. Prasasti, Vol 15 No. 58.
  • Lasiyo, “Filsafat Lao Tzu”. 1994. Yayasan Pembina Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
  • Gambar: https://www.tehrantimes.com/news/454441/Mining-must-not-come-at-cost-of-environmental-degradation. Diakses 15 Juni 2024
Butuh bantuan?