Gayatri Rajapatni – Pancaran Prajnaparamita

Home » Artikel » Gayatri Rajapatni – Pancaran Prajnaparamita

Dilihat

Dilihat : 29 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
Pic Gayatri

Oleh: Jo Priastana

 

“Kecantikan seorang perempuan bukanlah dari wajahnya tetapi kecantikan sesungguhnya dari seorang perempuan tercermin dari jiwanya. Kepedulian untuk memberikan semangat yang selalu ia tunjukkan. Kecantikan perempuan bertumbuh dari tahun ke tahun.”

(Audrey Hepburn, 1929-1993, Aktris, Ikon Film dan Mode, Pekerja Kemanusiaan)

 

Disebutkan dibalik kebesaran Kerajaan Majapahit terdapat sosok perempuan yang bernama Gayatri. Gayatri (wafat 1350) adalah seorang ibu Kerajaan Majapahit yang digambarkan sebagai sosok Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan Tertinggi. Gayatri dinilai berhasil melahirkan pemimpin besar Majapahit. Bukan saja yang lahir dari rahimnya, tapi juga dari kebijaksanaan dan akal budi yang terasah.

Diakui sejarah atau tidak, Gayatri adalah sosok di belakang nama besar para pemimpin Majapahit. Ada Raden Wijaya, suaminya, Gadjah Mada, mahapatihnya, Ratu Tribhuwana, putri sulungnya, dan cucunya, Raja Hayam Wuruk. Gayatri dikenal sebagai ibu suri Kerajaan Majapahit. Prof. Earl Drake, sejarawan dari University Of British Columbia menulis tentang sosok Gayatri melalui karyanya yang berjudul “Gayatri Rajapatni: Perempuan di balik Kerajaan Majapahit.” (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012).   

Dengan mengungkapkan sosok Gayatri perempuan di balik keagungan Majapahit ini, sejarawan, Prof. Earl Drake, saat menceritakan sejarah Majapahit, mampu mengubah (his) story menjadi (her) story. Kisah besar yang tidak banyak diketahui orang di balik kejayaan sebuah kerajaan besar di Jawa Timur, Kejayaan Majapahit, sosok Gayatri Rajapatni yang penting diketahui mampu memberi kontribusi bagi peran perempuan-perempuan lainnya dalam sejarah.

 

Kontroversi Patung Prajnaparamita

Prof. Earl Drake. Prof. Drake adalah juga seorang mantan Duta Besar Kanada untuk Indonesia (1982-1983) dan mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia (1975-1982). Sejarawan ini juga bahkan meyakini bahwa patung Prajnaparamita yang selama ini diyakini sebagai personifikasi Ken Dedes sesungguhnya adalah ditujukan bagi Gayatri. Menurut Drake, patung Prajnaparamita yang termashyur itu adalah Gayatri Rajapatni, bukan Ken Dedes seperti diyakini publik selama ini.

Ken Dedes adalah isteri Ke Arok pendiri kerajaan Singasari, sedangkan Gayatri sendiri merupakan anak dari Kertanegera, raja Singasari terakhir, dan istri Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit. Ken Dedes dan Gayatri memang ada pertalian sejarah dan leluhur.

Patung Prajnaparamita, simbol dari dewi pengetahuan atau kebijaksanaan adalah salah satu peninggalan artistik dari masa lalu Nusantara. Patung Dewi Pengetahuan dan Kebijaksanaan ini mungkin patung yang paling dikenal di dunia Barat karena begitu mempesona pengunjung pameran museum dari Paris hingga Tokyo.

Ken Dedes sendiri hidup 100 tahun sebelum era Gayatri. Pemahaman selama ini, Ken Dedes adalah wajah di balik Prajnaparamita. Saat ditemukan oleh pejabat kolonial Belanda tahun 1818, patung itu berada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, tempat Candi Singosari berada. Daerah ini dinilai sebagai lokasi Singhasari.

Di pintu gerbang Kota Malang, di Kecamatan Blimbing, patung Prajnaparamita yang dipahami patung Ken Dedes dibangun berukuran raksasa, sebagai ikon selamat datang. Ken Dedes digunakan untuk nama pusat kerajinan, juga galeri seni. Rumah makan Inggil memasang patung itu di pintunya.

Sulit memahami, saat patung ini harus dikenali dengan karakter lain, Gayatri Rajapatni. Dalam dokumentasi luar negeri, seperti “The Sculpture of Indonesia” (National Gallery of Art, Washington, 1990), Drake sudah menyatakan Prajnaparamita adalah Gayatri Rajapatni. Drake sendiri tidak menghindari perdebatan soal ini. Posisi duduk Prajnaparamita menunjuk cara duduk pendeta Buddhis Dharmacakramudra, yang disebut Buddhist Iconography. Ini cocok dengan Negarakertagama, sumber utama tentang Majapahit.

Gayatri saat dewasa memilih menjadi pendeta Buddha dan mengasingkan diri ke selatan. Padahal, agama kerajaan masih Hindu. Sebaliknya, karakter Ken Dedes lebih tepat dikaitkan dengan Dewi Hindu, Parvati. Ken Dedes berasal dari zaman Hindu di Singhasari.

Siapakah yang dipatungkan menjadi Prajnaparamita? Masyarakat telanjur ada keputusan, bahwa Prajnaparamita adalah Ken Dedes. Kecantikan Ken Dedes telanjur merasuk dalam cerita rakyat Jawa Timur sehingga patung yang cantik ini mudah diyakini sebagai wujud Ken Dedes.

Arca dewa atau dewi pada situs kekunoan dipahami sebagai potret tokoh tertentu. Di balik wajah itu ada karakter manusia asli. Jika benar demikian, betapa cantiknya, siapa pun perempuan yang menjadi wujud patung itu.

Gayatri sebagai karakter sejarah agak luput dari perhatian peneliti nasional. Menurut Drake, dia dipuja Prapanca, penulis Negarakertagama (Nagarakretagama atau Desawarnana) yang rampung ditulis 1365.

 

Pancaran Prajnaparamita

Biografi Gayatri memang agak samar karena tak banyak sumber sejarah pembandingnya. Namun, Drake dengan pengalaman 20 tahun menelusuri sejarah Majapahit dan terpukau dengan peran Gayatri sebagai perempuan di tengah iklim patriarki pada peradaban kuno Singhasari dan Majapahit pada abad ke-14 itu. Ia juga berani menyejajarkan Gayatri dengan Cleopatra dari Mesir, perempuan “penakluk” Romawi.

“Hollywood yang membuat Cleopatra tampak besar. Gayatri tak hanya tokoh nasional di Majapahit, tetapi tokoh perempuan internasional pula. Wawasannya diwarisi dari ayahnya, raja besar Singhasari, Kertanegara, yang berani menghadapi dominasi Kubilai Khan”.

Ada keterkaitan antara Prajnaparamita dan Gayatri. Patung Gayatri itu memenuhi gaya Majapahit Style, sebab bunga teratai pada tatakan patung itu ada di luar vas. Artinya, gaya Majapahit, bukan gaya Singhasari.

Tampaknya arca Prajnaparamita dari Singosari pas dilekatkan pada Gayatri. Negarakertagama mengasumsikan ada dua arca “pendarmaan” Gayatri. Yang satu di Prajnaparamitapuri, Bhayalangu. Arca yang diyakini perwujudan ibu suri Kerajaan Majapahit era Hayam Wuruk (masa keemasan Majapahit), Gayatri Rajapatni, dalam keadaan tidak utuh lagi di Candi Boyolangu, atau candi Gayatri, menurut penamaan warga di Desa dan Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Satu lagi, diduga kini berada di Museum Nasional Jakarta. Patung ini pernah diangkut ke Leiden, Belanda, sebelum dikembalikan ke Indonesia. Kini banyak ahli yang meyakini patung Prajnaparamita ini adalah Gayatri dan bukan Ken Dedes.

Satu hal penting yang dapat kita panuti dari sejarah hidup Gayatri Rajapatni bagi perempuan di era kekinian, adalah bahwa perempuan masih dapat berkiprah untuk menjadikan masa depan kehidupannya lebih baik tanpa harus menunjukkan eksistensi dirinya di depan khalayak.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan menjadi ibu yang melahirkan generasi-generasi terbaik. Tentunya menjadi ibu yang bertanggung jawab atas kualitas anak-anak yang dilahirkannya bukanlah tugas yang ringan. Gayatri dengan lelaku hidupnya yang memancarkan kebijaksanaan Prajnaparamita sungguh telah memberikan inspirasi nyata bagi perempuan bahkan di masa kini. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://alfiindah.blogspot.com/2015/04/gayatri-rajapatni-permpuan-dibalik.html

Butuh bantuan?