Handphone: Antara Kemelekatan atau Kebutuhan Bagi Masyarakat Modern

Home » Artikel » Handphone: Antara Kemelekatan atau Kebutuhan Bagi Masyarakat Modern

Dilihat

Dilihat : 3 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Handphone pic

Oleh: Majaputera Karniwan


Teknologi Komunikasi telah berkembang begitu rupa sehingga tidak ada masyarakat modern yang mampu bertahan tanpa komunikasi” (Jalaluddin Rakhmat, 2018: 7)

Ungkapan diatas bisa dikatakan benar adanya, di era banjir informasi dan keterhubungan seperti ini, sangat sulit bisa melepaskan diri dari komunikasi, tak ayal alat komunikasi Handphone (HP/Telepon genggam) bagi masyarakat modern telah menjadi satu kebutuhan yang tidak bisa terlepas dari kehidupan.

Pada tanggal 16 Februari 2022 HP saya terkena air hujan saat hendak melakukan peliputan di Panembahan Kuburan Empe Bongkong (Lim Jiok Tat Sian Su/Lin Zhui Da Xian Shi林追達先师, ANNO 1752M/Era kaisar Qing Qian Long ke 16 皇清乾隆十六年) yang berada di Kp. Pasar Lama Cileungsi Kab. Bogor. Dikarenakan HP rusak terkena air,maka peliputan batal dilakukan walau sudah Siopwe (Setuju) dari Empe Bongkong sendiri. Karena saya tidak memegang HP, saya buru-buru pulang khawatir orang tua di rumah mencemaskan saya yang tidak ada kabar.

Tetapi yang saya cemaskan justru data-data penting yang ada di HP tersebut, ketika mengetahui LCD konslet akibat air hujan saya panik sekali. Mulai dari file-file kuliah sampai catatan hutang ada di HP semua. Memang benar dikatakan bahwa komunikasi ditujukan tidak sekedar memberi informasi, tetapi juga mempengaruhi sekaligus menghibur (Rakhmat, 2018:6). Bahkan alat komunikasi begitu memberikan pengaruh besar dalam hidup, sampai Biokong dipanembahan bilang “Wahh HP mah sekarang udah kaya jantung koh, gak bisa lepas dari HP apa apa sekarang mah”.

Sampai rumah saya memberi kabar lewat akun media sosial kakak bahwa HP saya rusak dan tidak dapat dihubungi. Besok pagi tanpa HP saya merasa kikuk. Tidak terhubung dengan dunia sosial media, tidak bisa bekerja, tidak bisa mengakses layanan perbankan dengan mudah, sekaligus tidak bisa kemana-mana karena tidak bisa mengakses aplikasi Peduli Lindungi. Ditambah mama saya yang semakin girang karena catatan hutangnya ke saya ada di HP mati tersebut, maka kalau catatannya hilang bagaimana mau saya tagih? Hidup tanpa HP benar-benar terasa hambar. Sempat saya berpikir benarkah kecemasan karena HP ini kemelekatan?

Buddha sendiri menyatakan bahwa wujud materi (Rupa) adalah satu hal yang tunduk pada kemelekatan (SN56.13 Khanda Sutta) di mana beliau menjelaskan bentuk dari wujud materi ini baik yang di masa lalu, masa depan, masa kini, internal maupun eksternal, kasar maupun halus, hina ataupun luhur, jauh ataupun dekat, semuanya bersifat terbakar oleh api nafsu ragawi dan kegelapan batin, serta karena sifat tidak kekalnya akan membawa penderitaan jika dilekati (Vin. Kd 1.1212. Uruvelapāṭihāriya kathā). HP sendiri termasuk wujud materi yang mana tunduk dengan kemelekatan, penggunanya tidak dapat terlepas dari tidak menggunakannya namun seharusnya dapat tidak melekat kepadanya.

Singkatnya, kita memiliki kendali penuh agar dapat menjaga kewarasan kita dan bebas dari rasa cemas dalam kondisi tanpa HP, mungkin kita kehilangan akses informasi, namun kita harus menjaga agar batin jangan sampai terganggu karena kehilangan HP, apalagi sampai terjadi kemelekatan. Buddha mengajarkan untuk bisa mengendalikan kemelekatan, bukan anti terhadap barang-barang kebutuhan termasuk HP, bisa menggunakan secara bijaksana dan dapat mempertahankan kesadaran tetap jernih ketika kehilangan inilah yang diharapkan dari praktik Buddha.

Para pendahulu dari timur juga telah mengetahui bahwa perkembangan dunia selalu dinamis dan tidak statis. Dalam kitab perubahan (Yak Keng 易经) ada konsep pembuat perubahan dan penanggap perubahan, di mana pencipta menunjukan perubahan dan memberikan pengertian bahwa ‘ada perubahan’, sementara penanggap secara sewajarnya menunjukkan kemampuan menyempurnakan perubahan tersebut, dikatakan dengan menguasai perubahan-perubahan tersebutlah maka akan dapat memahami hukum kondisi atas kehidupan ini beserta perubahan-perubahannya, sehingga bisa menyempurnakan diri agar tetap bersikap tengah sempurna (Tiong 中, He Su/Babaran Agung A: Bab 1: 5-8)

Bersikap tengah adalah langkah yang tepat, karena perubahan tidak bisa ditolak, maka bisa memahami perubahan tanpa membuat batin sendiri terjerumus dalam kegandrungan atau kemelekatan akibat perubahan tersebut adalah satu sikap tengah. Menguasai teknologi membuat hidup manusia semakin mudah, tetapi saat kehilangan akses teknologi bisa membuat psikis manusia menjadi down. Dengan bersikap tengah setidaknya bisa membuat kontrol batin sendiri menjadi lebih baik.

Mungkin saja saat kehilangan akses teknologi membuat emosi negatif bermunculan. Tetapi dengan bersikap tengah mampu membuat emosi negatif tersebut terkendali dan berguna. Emosi negatif bukan untuk ditolak ataupun diikuti terus menerus sampai mempengaruhi kondisi diri, tetapi harus dipilah dan diterima sesuai konteks yang tepat. Misalnya rasa kecewa karena kehilangan sesuatu dapat dijadikan bahan perenungan bahwa ternyata kita perlu jeda serta belajar untuk menerima keadaan hidup apa adanya, tetapi jika tidak terkendali dengan baik kekecewaan menghasilkan keputusasaan dan depresi (Goei, 2021: 52-53).

Rasa atau emosi kecemasan bisa dikurangi dengan mempertahankan sikap mental yang sederhana, mengurangi egoisme, keserakahan, dan nafsu menggunakan sisi negatif dari pengetahuan (Dao De Jing 道德经Bab 19). Kehidupan kita yang sederhana bisa membuat rasa cemas akan kehilangan sesuatu termasuk HP berkurang. Teknologi sejatinya diciptakan untuk membantu meringankan kebutuhan manusia, bukan membuat manusia semakin cemas dan menderita, tetapi kita juga perlu bersikap tengah dengan tidak melekat agar kesehatan mental tetap terjaga dan mampu berpikir jernih jika tiba-tiba kita kehilangan akses komunikasi, termasuk kehilangan HP.

Bisakah kita? Kembali kepada diri masing-masing.

***

Daftar Pustaka

Lika, Id. 2012. Dao De Jing Kitab Suci Utama Agama Tao. Jakarta. Elex Media Komputindo.

Rakhmat, Jalaluddin. 2018. Psikologi Komunikasi. Cetakan ke 27. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Goei, Garvin. 2021. Psikologi Positif Memupuk Kebahagiaan dan Pengembangan Diri. Jakarta. Kompas Media Nusantara.

Tjhie Tjay Ing. 2017. Kitab Suci YAK KING. Jakarta. Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu SEKJEN KEMENAG RI.

Suttacentral (Online legacy version). 2015. Samyutta Nikaya. http://legacy.suttacentral.net/sn Diakses Februari 2022.

Suttacentral (Online legacy version). 2015. Vinaya Khandaka. http://legacy.suttacentral.net/vin-kd Diakses Februari 2022.

Butuh bantuan?