Hantu di Malam Waisak (2) – Godaan Mara dan Samaran Buddha

Home » Artikel » Hantu di Malam Waisak (2) – Godaan Mara dan Samaran Buddha

Dilihat

Dilihat : 71 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 139
  • 571
  • 278,666
Pic 2663 Bumisparsa-Mudra-Buddha-assailed-by-demons-Buddha-Weekly

Oleh: Jo Priastana

 

“Dari satu sisi, ya, saya percaya pada hantu, tetapi

 kitalah yang menciptakannya. Kita menghantui diri kita sendiri.”

(Laurie Halse Anderson, Lahir 1962, Penulis Novel Anak-anak Amerika)

 

Ada tujuh dosa besar (seven deadly sins) yang bersarang dalam hati manusia, seperti greed– tamak, nafsu-percabulan, iri-hati dengki, kesombongan-angkuh, amarah-murka, kemalasan-kelalaian, dan kerakusan-konsumsi berlebihan. Tujuh dosa atau tujuh hantu yang dikemas dalam narasi horor satir di dalam penjara melalui kematian karakter seperti dalam film Ghost in the Cell (2026) karya Joko Anwar. “Hantu” tampaknya tidak bermakna tunggal, dan ada beberapa lapisan penafsiran, seperti kosmologis, psikologis, simbolik, bahkan meditatif.

Karena itu tentang hantu dalam Buddhisme, bisa dipahami sebagai makhluk halus, tetapi juga bisa dipahami sebagai fenomena batin seperti karakter psikologis, hantu yang terpenjara dalam diri manusia.  Dalam tradisi Buddhis awal, dikenal istilah peta atau makhluk kelaparan” – keadan eksistensi yang diliputi kehausan, keterikatan, penyesalan, atau penderitaan yang tak terpenuhi. Mereka digambarkan sebagai makhlus halus yang sulit mencapai ketenangan, dan budaya Buddhis di Asia menerima keberadaan bentuk-bentuk kehidupan non-manusia ini sebagai bagian dari samsara.

Namun, Buddhisme juga tidak menekankan ‘percaya buta’.  Buddha sering mengarahkan perhatian pada penderitaan batin yang nyata di sini dan sekarang. Maka “hantu” juga dapat dipahami secara psikologis, seperti dalam rasa bersalah yang menghantui, kenangan yang tak selesai, kemarahan yang terus hidup, keserakahan yang tak pernah kenyang, ego yang terus meminta pengakuan. Dalam arti ini, seseorang bisa hidup sebagai “hantu” bahkan ketika bernapas, hadir secara fisik tetapi terikat oleh luka, ketakutan, atau kelekatan masa lalu. Hantu tampaknya luka batin yang terpenjara dalam diri manusia.

 

Eksistensial, Meditatif dan Jalan Tengah

Beberapa guru Buddhis modern menafsirkan hantu secara lebih eksistensial dan meditatif. Misalnya, saat seseorang kehilangan orang tercinta, “kehadiran” yang terasa bukan semata makhluk eksternal, tetapi jejak batin, memori emosional, dan keterhubungan mendalam yang belum sepenuhnya larut. Dalam meditasi, batin yang sunyi dapat memunculkan banyak citra dan sensasi yang terasa sangat nyata.

Buddhadharma mengajak sikap jalan tengah. Tidak terlalu cepat menyangkal semua pengalaman sebagai khayalan-imajinasi, tetapi juga tidak mudah tenggelam dalam ketakutan atau takhayul-halusinasi. Yang lebih penting bukan “apakah hantunya benar-benar ada,” melainkan apakah pengalaman itu menambah kebijaksanaan atau ketakutan. Apakah membuat batin lebih welas asih atau lebih terikat, apakah membantu memahami ketidakkekalan dan penderitaan.

Dalam meditasi Buddhis, bahkan ketakutan terhadap hantu sering dijadikan objek pengamatan: “Siapa yang takut?” Di mana letak takut itu? Bagaimana ia muncul dan lenyap?” Karena pada akhirnya, dalam pandangan Buddhis, banyak “hantu” terbesar justru lahir dari batin manusia sendiri – dari kelekatan, kebencian, dan ilusi tentang aku yang ingin terus kekal.

Dalam banyak penafsiran Buddhis modern dan meditatif, “hantu-hantu” itu bisa dipahami sebagai luka batin, ketakutan, hasrat, ego, dan penderitaan manusia sendiri. Dan ini sangat dekat dengan kisah peristiwa pertapa Siddharta Gautama pada malam pencerahan Waisak menjadi Buddha.

Dalam tradisi Buddhis, sebelum mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, Siddharta menghadapi godaan dan serangan Mara. Mara sering digambarkan sebagai makhluk kosmis, penguasa ilusi dan kematian. Tetapi banyak guru Buddhis memahami Mara juga sebagai simbol kondisi batin manusia: rasa takut kehilangan diri, godaan kekuasaan dan kenikmatan, keraguan, kesombongan spiritual, kecemasan terhadap kematian, keterikan pada “aku.”

Dalam Maradhitu Sutta, Mara diartikan sebagai “the temptation” atau godaan. Godaan Mara dengan anak-anaknya, seperti: tanha (craving) atau nafsu indria, arati (boredom) atau kebosanan, dan raga (lust) atau nafsu birahi sensual.

Maka malam Waisak bisa dibaca bukan sekadar pertarungan melawan makhluk luar, tetapi perjalanan menembus “hantu-hantu batin” terdalam. Ketika Mara menyerang dengan pasukan anak-anaknya yang menakutkan, itu dapat dimaknai sebagai ledakan ketakutan dan penderitaan dalam kesadaran manusia. Ketika Mara mengirim anak-anaknya untuk menggoda Siddharta, itu dipahami sebagai simbol nafsu, keinginan dan kelekatan. Ketika Mara berkata, “Siapa saksimu?”, itu menyerupai suara ego dan keraguan eksistensial.

Dan Siddharta tidak menghancurkan semuanya dengan kebencian. Ia hanya menyentuh bumi (bhumisparsamudra). Gestur menyentuh bumi itu sangat mendalam secara spiritual,yakni: kembali pada kenyataan apa adanya, hadir penuh, tidak lari dari penderitaan, tidak terjebak ilusi batin. Dalam keheningan itu, “hantu-hantu” kehilangan kekuatan.

Karena yang tercerahkan adalah bukan berarti seseorang yang berhasil membunuh monster luar, tetapi seseorang yang melihat dengan jernih bahwa semua fenomena – takut, ego, hasrat, bahkan diri – muncul dan lenyap, tidak kekal, tidak memiliki inti tetap.

Maka dalan pembacaan yang lebih psikologis dan kontemplatif, malam Waisak adalah malam ketika manusia menatap langsung seluruh “hantu” dalam dirinya sendiri dan juga lagi diperbudak olehnya. Pengalaman pencerahan yang terjadi dalam diri Siddharta di malam suci sunyi Waisak Purnama Siddhi menyapa hantu-hantu yang terpenjara dalam diri manusia.

 

Hening Malam Purnama Siddhi

Di malam suci sunyi Waisak Purnama Siddhi, langit tidak sedang merayakan kemenangan seorang manusia, melainkan keheningan yang akhirnya memahami dirinya sendiri. Bulan bulat menggantung di atas dunia seperti mangkuk bening dari cahaya hening yang menampung air mata semua makhluk.

Hutan Uruwela diam. Sungai Neranjara mengalirkan airnya perlahan, perlahan sekali bahkan berhenti. Dan dalam pantulan sinar rembulan purnama Siddhi setiap orang bisa mengaca melihat dirinya sebenarnya, bukan sebagai seorang sisiphus-narsis untuk mengenali, mengakali serta mengekali citra dirinya yang ilusif, tetapi sebagai seorang yang mau mengetuk bumi yang menjadi saksi sepenuhnya atas proses meditatif dalam mengenali dirinya sebagaimana adanya.

Hutan Uruwela diam. Angin berjalan perlahan di antara daun-daun. Tanah bernapas lembut. Dan di bawah pohon Bodhi, seorang manusia duduk tanpa mahkota, tanpa senjata, tanpa menjadi siapa-siapa, tanpa menjadi luar biasa, justru hanya biasa-biasa saja dan semakin biasa-biasa saja.

Hanya keheningan hati yang bersih suci yang terasa dalam lembutnya malam sunyi, hanya kebeningan jiwa yang murni yang terasa dalam tenangnya sungai Neranjara. Hanya kesadaran sempurna yang terlihat dalam bulan bulat purnama siddhi di langit malam yang mengangkasa tinggi.

Ia sesungguhnya bukan siapa-siapa, hanya Buddha, kesadaran. Namun justru malam itu seluruh “hantu” kehidupan datang menghampiri, ketakutan akan kematian, kenangan masa lalu, rasa kehilangan, keinginan untuk dicintai, hasrat menjadi abadi, suara ego yang berbisik: “jangan lenyap, jadilah seseorang,” ego spiritual yang menyelinap dan tersamar menggemakan: “jadilah seorang yang luar biasa, yang utama di di dunia bahkan bumi dan langit.”

Mara penggoda (the temptation) muncul bukan hanya dari luar, tetapi dari kedalaman batin manusia sendiri, dan Siddharta tidak melawannya dengan perang dan pedang. Ia tidak mengusir luka, tidak membenci gelap, tidak menghancurkan ketakutan. Ia menerima semua yang berkunjung dan muncul di dasar hatinya yang terdalam itu secara ramah bagai sahabat karib yang telah lama tak berjumpa. Menerima sepenuhnya sebagaimana adanya.

Ia hanya duduk, menerima semuanya datang dan kemudian permisi pulang, mendengarkan keluh kesah dan ambisinya, ketidaktenangannya, kegelisahannya, dan memandang semuanya itu lewat seperti awan melintasi bulan purnama. Itulah malam sunyi Waisak. Bukan sunyi yang kosong dari suara, melainkan sunyi ketika batin berhenti bertengkar dengan riak batin dan corak kehidupan.

Purnama Siddhi bukan sekadar bulan penuh di langit, tetapi kesadaran yang utuh, bahwa segala sesuatu lahir dan padam, datang dan pergi, seperti embun di ujung rumput menjelang pagi. Maka malam suci itu menjadi terang bukan karena dunia berubah, tetapi karena tidak ada lagi “aku” yang menggenggam dunia. Dan ketika fajar perlahan muncul dari ufuk timur, bumi tetap bumi, daun masih gugur, manusia masih menangis, makhluk hidup masih mengalami kehilangan, hantu-hantu masih bergentayangan malam ataupun siang hari.

Namun sejak malam Waisak Siddharta itu, jalan welas asih terbuka. Karena seseorang telah membuktikan bahwa penderitaan, dukkha, luka-luka batin dalam diri manusia dapat dipahami tanpa kebencian. Bahwa, hantu-hantu batin dapat diterangi oleh kesadaran yang hening, hati yang sabar dan penyayang, langkah yang pasti dan tidak meninggalkan jejak luka, dan bahwa dalam sunyi terdalam kehidupan, ada kebebasan yang lembut seperti cahaya bulan di malam Waisak Purnama Siddhi, dimana Siddharta menerima kedatangan Mara.

 

Sang Buddha Menerima Mara

Ada kisah setelah Siddharta menjadi Buddha, ketika Sang Buddha sedang berada di guanya menerima Mara yang mau berkunjung. Kisah yang berkaitan dengan penafsiran humanistik dan meditatif dari Bhiksu Thich Nhat Hanh (1926-2022) yang seakan mencerminkan malam suci Waisak. Ini bukan kisah kanonik utama bentuk literal dalam kitab awal Pali, melainkan sebuah pengisahan ulang spiritual yang sangat terkenal dalam tradisi mindfulness modern.

Dalam kisah itu, suatu hari Mara datang mengunjungi Buddha di gua atau tempat kediamannya. Ketika Mara muncul, Ananda – murid yang sangat setia – panik dan ingin mengusirnya. Bagi Ananda, Mara adalah pengganggu, lambang kejahatan, pengacau jalan spiritual. Bukankah Ananda menganggap Mara sebagai hantu-hantu yang dulu sudah ditaklukkan oleh Sang Buddha di malam Waisak?

Namun Buddha justru berkata dengan tenang: “Jangan usir dia. Mara adalah sahabat lama.” Lalu Buddha menyambut Mara dengan penuh kesadaran dan kelembutan, seolah menerima tamu biasa. Dalam beberapa versi, Buddha bahkan berkata: “Aku tahu engkau ada di sana, Mara.”

Dalam pendekatan Thich Nhat Hanh, Mara tidak terutama dipahami sebagai setan, hantu eksternal, melainkan bagian dari batin manusia, seperti: ketakutan, kecemasan, kemarahan, kesepian, rasa rendah diri, kelekatan, luka lama yang terus kembali, ego yang menyamar.

Ananda ingin mengusir Mara karena manusia biasanya ingin menolak sisi gelap dirinya. Kita ingin cepat-cepat membuang takut, sedih, marah, atau trauma. Tetapi Buddha tidak memerangi Mara. Ia mengenalinya. Mara diterimanya dengan baik, disapa dengan ramah.

Ketika Buddha tanya apa maksud kedatangannya, Mara menjawab ia ingin bertukar tempat dengan Buddha. Mara layaknya hantu-hantu merasa iri kepada Buddha yang dilihatnya nyaman bahagia, selalu mendapat pujian, penghormatan dan pelayanan.  

Bagaimana tanggapan Buddha? Buddha tidak menolak namun mempersilahkannya. Kemudian Mara menjadi Buddha dan Buddha menjadi Mara. Mara menduduki posisi Buddha, dan apa yang dialaminya? Tak lama setelah menjalani fungsi sebagai Buddha, Mara menyerahkan kembali posisi itu kepada Buddha. Mengapa?

Makna spiritual kisah ini sangat dalam. Dalam mindfulness Buddhis, penderitaan tidak disembuhkan dengan kebencian terhadap penderitaan itu sendiri. Luka batin justru berubah ketika disadari dengan lembut dan penuh perhatian. Karena sesuatu yang ditolak sering semakin kuat. Tetapi sesuatu yang dilihat dengan jernih mulai kehilangan kuasanya. Karena itulah Buddha menerima Mara.

Itulah mengapa dalam ajaran Zen dan mindfulness modern, ada ungkapan yang sangat dekat dengan semangat kisah itu: “merangkul penderitaan seperti ibu memeluk anak yang menangis.”

Jadi ketika Buddha menyebut dan menyambut Mara sebagai “sahabat lama,” itu berarti bukan memuliakan kejahatan, melainkan menunjukkan kebijaksanaan mendalam, bahwa manusia tercerahkan bukanlah manusia tanpa gelap, melainkan manusia yang tidak lagi diperbudak oleh gelapnya sendiri.

Mara bisa datang. Ketakutan masih bisa muncul. Kesedihan masih bisa mengetuk pintu batin. Namun kesadaran yang hening tidak lagi panik. Ia berkata: “Aku mengenalmu.” Dan dalam pengenalan penuh welas asih itu, Mara perlahan berubah dari musuh menjadi guru.

Kenapa Mara yang telah bertukar tempat itu lalu melepaskan kedudukannya sebagai Buddha? Ternyata ketika ia sebagai Buddha, ia juga mengalami hal yang kurang lebih sama dengan dirinya, ketika sebagai Mara. Sering diperalat manusia, namanya sering dipergunakan untuk kepentingan manusia tanpa izin darinya. Kalau manusia berbuat buruk, Mara yang disalahkan, kalau manusia berbuat baik padahal kerja ego disebut atas nama Buddha, samaran Buddha.    

Orang berbuat sesuatu karena Mara, orang berbuat sesuatu karena atas nama Buddha. Buddha dan Mara adalah nama yang sering digunakan manusia untuk kepentingannya. Keburukan manusia sering ditimpakan kepada Mara, digoda Mara (temptation) dan banyak kebaikan yang dilakukan juga menyamar sebagai Buddha padahal dibaliknya adalah kepentingan ego atau aku.

Untuk itu, masihkah kita berani berguru kepadanya, mengenalinya, mara yang sungguh liat itu? Hantu-hantu yang masih bergentayangan sampai ke dalam sel penjara, hantu-hantu yang terpenjara dalam diri seperti hantu kelicikan, keserakan kedengkian. Hantu-hantu dalam ragam samaran citra dan branding sebagai Buddha, kebaikan, kepedulian, dengan topeng-topeng sosial-spiritual.

Di malam Waisak Purnama Siddhi, kita menyelami Siddharta yang menjadi Buddha, mencapai kesadaran Buddha sesungguhnya juga adalah kita berguru kepada Mara, dialektika hantu-hantu di dalam diri dalam godaan mara yang senantiasa bersemayam, juga dimana aku yang menyamar dengan liat dalam samaran Buddha seperti peta dalam Bhikkhu.

Kita berkaca pada Buddha yang selalu tersenyum (Buddha’s smile), atau kepada Maitreya yang selalu tertawa (laughter Buddha), tersenyum dan mentertawai kita. Manusia yang masih berada dalam tanha dan avijja, dalam godaan mara sekalipun berada di jalan dharma dan bermaksud menjadi Buddha. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Totalitas welas asih lepas bebas, di malam Waisak sunyi suci, bangkit sadar, jujur-jernih, dan semesta hening bening! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://buddhaweekly-com.translate.goog/transforming-demons-get-thee-behind-me-mara-how-buddhism-handles-demons-from-mindfulness-meditation-to-transformation-but-no-exorcisms/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?