HANYA BINTANG KESEPIAN YANG BERSINAR SENDIRI

Home » Artikel » HANYA BINTANG KESEPIAN YANG BERSINAR SENDIRI

Dilihat

Dilihat : 35 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
up ig sd com

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd. (Sia Wie Kiong謝偉)

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI terus mengkampanyekan 6C sebagai nilai pembelajaran abad ke-21. Salah satunya adalah Collaborative (Kolaborasi). Sebagai pendidik selain mengajar, juga diminta memfasilitasi peserta didik untuk dapat berkolaborasi sebagai tim, sehingga kelak ketika mereka terjun di dunia profesional, bisa saling bahu membahu dan bekerja sama bersama tim.

Metode ajar yang digunakan untuk mencapai tujuan ini disebut Collaborative learning, metode pembelajaran yang menekankan kolaborasi (kerja sama) untuk meningkatkan pengalaman belajar secara berkelompok yang pada akhirnya membuat setiap anggotanya bisa mendapatkan pengalaman, relasi, kemampuan problem solving, serta keterampilan yang lebih luas akan bidang yang sedang dikerjakan dengan waktu kerja yang lebih singkat serta hasil lebih optimal (LinovHR, 2023).

Kalau mau jujur, sebenarnya kerja sama atau kolaborasi bukan barang baru bagi orang timur. Pemerintahan Hindia Belanda ketika menjajah Nusantara tempo dulu, sadar betul bahwa masyarakat Nusantara kala itu sarat akan nilai gotong royong dan guyup rukun. Makanya mereka menggunakan taktik devide et impera (Adu domba) untuk memecahkan kerukunan dan kerjasama tersebut.

Para pendahulu orang Sunda juga demikian adanya. Pada mulanya mengenal ajaran Silih asih, silih asih, silih asuh, dan silih wangi yang konon adalah warisan dari Baginda Prabu Siliwangi, salah satu Maharaja Pajajaran dahulu. Masing-masing penjabarannya adalah:

Silih Asah: Artinya saling mengasah, mengembangkan diri dan berbagi pengetahuan.

Silih Asih: Artinya Saling mengasihi, merawat, dan menyayangi.

Silih Asuh: Artinya Saling mengasuh, mengayomi, dan melindungi.

Nah kalau sudah bisa ketiganya, maka mereka akan menjadi Silih Wangi, yang artinya Saling mewangikan, saling mengharumkan nama satu sama lain.

Ajaran tersebut adalah bagian dari kearifan lokal (Local genius) yang ada di masyarakat sunda. Para leluhur zaman dahulu sudah sadar bahwa untuk menjadi bersinar, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Hanya bintang kesepian yang bersinar sendirian dan pada akhirnya akan tenggelam dalam kelamnya kabut malam.

Hanya saat ini, ajaran-ajaran tentang gotong royong dan kerja kelompok mulai meredup adanya. Adanya tumpang tindih dengan paham yang kebanyakan terjadi di masyarakat. Sebagai contoh adanya istilah “Silih Nyikut” (Saling menyikut, saling menjatuhkan) dan “Aji Mumpung” (Selagi ada selagi bisa) yang konotasinya memperkaya diri sendiri, belum lagi kebiasaan masyarakat yang terbiasa narsistik dan selfish (terlalu berbangga dan menonjolkan diri sendiri). Hingga adanya istilah “Kerja—Kelompok” (Dipenggal, ada yang kerja dan ada kelompok yang turut mendapatkan manfaat sekalipun tidak ikut kerja).

Sekarang kembali budaya tersebut mulai digaungkan. Para profesional semakin sadar bahwa tidak ada bintang yang bisa bersinar sendiri dan mulai bekerja secara tim. Sekalipun di dunia kerja tetap saja masih ada sikut-sikutan, minimal di level pendidikan sudah tidak diajarkan demikian. Kompetisi memang ada, tetapi kompetisi bukan untuk saling sikut menyikut, melainkan untuk saling memacu diri satu sama lain.

Banyak juga di antara orang-orang yang salah mengartikan kompetisi sebagai sarana memacu diri malah dipakai sebagai sarana menjatuhkan orang lain. Padahal mereka berada di satu wadah yang sama. Makanya kalau kita belajar budi pekerti klasik Tionghoa, baik dalam ajaran Taoisme dan Konfusianisme sama-sama mengajarkan untuk tidak saling berebut.

Misalnya dalam Taoisme diajarkan oleh Laozi bahwa Bijaksanawan tidak pandai berebut sementara orang rendahan pandai berebut (上士不争,下士好争, lihat kitab Qingjing Jing 清净经). Konfusius juga bilang bahwa seorang susilawan mau berlomba tetapi tidak mau berebut, mau berkumpul tapi tidak mau berkomplot (Lihat Lun Gi XV: 22). Dari sini saja sudah terlihat jelas bahwa ajaran-ajaran timur sejak dahulu kala sudah menyuarakan kolaborasi untuk saling maju bersama. Karena apa? Tidak ada rasi bintang-bintang berkilauan yang bersinar sendiri, hanya bintang kesepian saja yang bersinar sendiri dan akan ditelan oleh gelapnya malam.

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Daftar Pustaka:

https://www.linovhr.com/collaborative-learning/. Diakses 22 Oktober 2023.

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/09/mengenal-peran-6c-dalam-pembelajaran-abad-ke21. Diakses 22 Oktober 2023.

https://prabu.unpad.ac.id/infografis/kebudayaan. Diakses 22 Oktober 2023.

Adegunawan, Suyena. 2018. Kompilasi 《四书》– Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. USA.

https://setangkaidupa.com/artikel/tai-shang-lao-jun-shuo-chang-qingjing-jing/. Diakses 22 Oktober 2023.
https://pngtree.com/freepng/angry-star-fun-draw-design-vector_9851276.html. Diakses 22 Okt. 23.

Butuh bantuan?