Hasrat Berperang dan Semangat Berdamai

Home » Artikel » Hasrat Berperang dan Semangat Berdamai

Dilihat

Dilihat : 95 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2641

 

Oleh: Jo Priastana

 

“Jika kita mengakui bahwa kehidupan manusia dapat diatur oleh akal,

maka semua kemungkinan hidup hancur”

(Leo Tolstoy, 1828-1910, Sastrawan dalam “War and Peace”)

 

Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada Sabtu 28/2/26 berlanjut pada serangkaian perang berkepanjangan. Bisa dipertanyakan, apakah perang sebagai bentuk konflik dari perilaku yang saling mematikan itu bersumber bawaan sejak lahir bersifat naluriah ataukah bersifat bentukan budaya, kultural dan peradaban? Pertanyaan yang hendak merujuk untuk memahami akar penyebab perang, dan dari pemahaman itu diharapkan penyelesaian perang bisa diharapkan.

Apakah semangat berperang itu ada karena ada akar penyebabnya dalam diri manusia? Pelopor psikologi evolusi asal AS, Edward O Wilson (1929-2021), menggambarkan perang sebagai “kutukan turun temurun umat manusia”. Hal senada dikatakan juga oleh psikolog evolusioner Kanada, Steven Pinker (lahir 1954), “Penyerangan dan permusuhan kronis merupakan ciri kehidupan yang alamiah,” dan tampaknya perang merupakan naluriah alami manusia yang bersumber secara evolusi.

Profesor Hubungan Internasional Universitas Brown, Providence, AS, Rose Mc Dermont dalam jurnal “Politics and the Life Sciences,” 14 Juli 2025, mengungkapkan bahwa, “asal usul konflik pada manusia telah mendahului manusia.” Pernyataan ilmuwan politik Amerika ini menunjukkan jauh sebelum adanya manusia, konflik sudah terdapat pada nenek moyang manusia. Apakah yang dimaksud dengan nenek moyang manusia itu adalah simpanse? Adakah hominid lainnya yang justru kebalikannya seperti yang mengutamakan kedamaian?

 

Simpanse dan Bonobo

M Zaid Wahyudi, dalam tulisannya, “Perang Belum Tentu Bawaan Lahir, Kegilaan Berperang (Kompas, 10/3/26) melukiskan perang tidak hanya bawaan tapi juga bersifat kultural. Ia mengungkapkan beberapa pandangan dari ilmuwan psikologi, termasuk psikologi evolusi dan penemuan arkelogi tentang nenek moyang hominid mapun homo sapiens.

Diyakini bahwa perang berasal dari perilaku nenek moyang simpanse yang mempraktikkan berbagai bentuk konflik kekerasan sejak dari 6 juta tahun lalu. Simpanse berperilaku agresi terencana dan selektif. Simpanse menargetkan anggota spesies yang lebih lemah dan terisolasi. Simpanse memiliki kemiripan genetik 96-99 persen dengan manusia.

Oleh karena itu, perilaku agresi dan naluri membunuh simpanse diyakini diwariskan kepada manusia ataupun primata lain. Bedanya, sebagian besar manusia telah hidup dalam masyarakat yang terorganisasi yang bisa mencegah ataupun mendukung kekerasan intra-grup. Sementara simpanse hidup dalam masyarakat yang saling memperebutkan sumber daya atau pasangan.

Tidak hanya itu, simpanse dan manusia juga memiliki altruisme yang tinggi, yaitu sikap atau naluri tulus untuk mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan pribadi tanpa pamrih. Altruisme itu memberikan kesiapan mental pada manusia untuk mengabdikan bahkan mengorbankan diri untuk membela “kebaikan lebih besar” kelompoknya.

Oleh karena itu, altruisme dipercaya memberikan kecenderungan bawaan pada kelompok manusia untuk menyerang kelompok lain secara terorganisasi demi mencapai tujuan bersama. Kelompok itu bisa diikat dengan berbagai hal, mulai dari tanah, suku, kewarganegaraan, hingga keyakinan. Perang terjadi karena membela sejengkal tanah, membela negara, bahkan keyakinan seperti agama.

Dari simpanse, hasrat berperang muncul dalam kehidupan hominid alias kera besar. Pada 200.000-300.000 tahun lalu, homo sapiens hanyalah satu dari berbagai jenis hominid. Pada 30.000-70,000 tahun lalu, homo sapiens mulai memperluas ruang hidup dan berbaur dengan spesies yang lain hingga menyebabkan kepunahan sejumlah hominid, termasuk Neanderthal.

Sejarawan Israel, Yuval Noah Harari (lahir 1976), dalam buku “Homo Sapiens” (2011) menyebut keberhasilan homo sapiens menyingkirkan hominid yang lain ditopang oleh kekuatan pemikiran simbolis dan abstrak tentang leluhur, bangsa, hingga dewa-dewa. Kemampuan berpikir itu memungkinkan nenek moyang manusia berorganisasi dalam komunitas lebih besar.

Dengan demikian, meski manusia memiliki kekuatan berpikir dan berorganisasi yang menjadi sumber pertumbuhan budaya dan peradaban, naluri beperang itu tidak hilang dengan sendirinya. Semangat berperang justru akan selalu ada dalam diri manusia demi menjaga dan memperjuangkan akar mereka, dan tampaknya akar naluri berperang yang bersifat bawaan lahir itu semakin memperoleh kemajuannya menjadi budaya berperang, dan perang menandai budaya manusia.

Perang mungkin juga hasil dari budaya manusia, dan ini menjadi kutukan turun temurun umat manusia yang bersumber dari nenek moyangnya. Namun, perang juga bukan sekedar bawaan lahir manusia, dan budaya juga hasil dari perwujudan naluri manusia lainnya, seperti naluri kehidupan, keinginan untuk hidup damai dan harmomis. Psikolog Universitas Leeds Beckett, Leeds, Inggris, Steve Taylor, dalam bukunya “The Fall,” (2005), justru berpandangan bahwa kehidupan manusia prasejarah itu relatif harmonis.

Fenomena peperangan, dominasi laki-laki, hierarki sosial, dan kemunculan agama-agama teistik baru ada sekitar 6.000 tahun lalu. Studi literatur arkeolog AS, Jonathan Haas dan Matthew Piscitelli, pada 2013 yang meneliti 2.900 kerangka manusia prasejarah menemukan sangat terbatasnya kerangka korban peperangan. Selain dari satu situs pembantaian di Sudan dengan dua lusin korban, mereka hanya menemukan empat kerangka dengan tanda-tanda kekerasan pembunuhan, namun mereka bukan korban peperangan.

Steve Taylor menulis tentang keseimbangan antara sisi terang pencapaian manusia dan sisi gelapnya yang menghancurkan, yaitu perang, patriarki, dan ketidaksetaraan sosial. Ketidaksukaan manusia prasejarah pada konflik dan peperangan sebenarnya juga ditemukan pada primata, yaitu bonobo.

Jika simpanse dianggap suka berperang, bonobo adalah kebalikannya. Bonobo yang memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 98,7 persen dikenal sebagai sosok yang cinta damai. Para peneliti modern belum pernah sekalipun menemukan konflik kelompok atau pembunuhan di antara bonobo.

 

Naluri Kematian dan Naluri Kehidupan

Oleh karena itu, jika kesukaan pada peperangan datang dari simpanse, sikap cinta damai bonobo seharusnya bisa juga diwariskan. Kurangnya bukti manusia prasejarah korban peperangan itu seolah menegaskan bahwa kekerasan dan peperangan tidaklah identik dengan manusia. Kondisi itu, sebagaimana dinilai Steve Taylor dalam tulisannya di Psychology Today, 25 September 2016, menunjukkan bahwa manusia prasejarah, kelompok pemburu-pengumpul, cenderung bersifat damai dan egaliter.

Bahkan, profesor emeritus psikologi dari Universitas Washington AS, David P. Barash (lahir 1946), memandang sistem sosial pencari makan nomaden alias masyarakat pemburu-pengumpul cenderung menentang persaingan antarpribadi yang penuh kekerasan. Peperangan baru muncul di era lebih modern, ketika manusia semakin berbudaya.

Perang yang saling mematikan menjadi budaya modern, terlebih dengan penemuan senjata dan kemajuan teknologi senjata pemusnah massal. Perang tampaknya titik balik dari adanya dua naluri dalam diri manusia, nakuri kematian dan naluri kehidupan.

Ada buku berjudul “Life Against Death: The Psychoanalytical Meaning of History,” (1959) karya Norman O. Brown yang mengungkapkan tentang dorongan kematian atau “drive of death.” Buku ini mengemukakan pandangan tentang hidup dan mati dengan menggabungkan psikoanalisis Freudian, Filsafat, Sejarah, dan Kritisisme Budaya. Filsuf Norman O. Brown (1913-2002) mencoba memahami sejarah umat manusia melalui lensa psikoanalisis, khususnya konsep tentang represi dan dorongan kematian (drive) dari tokoh psikoanalisa Sigmund Freud.

Dalam bukunya tersebut Norman O. Brown menganggap teori Freud bukan hanya tentang individu, tapi digunakan juga untuk membaca perjalanan sejarah manusia. Pendiri Psiko Analisa Sigmund Freud (1856-1939) menyebut bahwa budaya hasil dari represi dorongan-dorongan biologis (terutama seksual) yang diarahkan oleh norma-norma sosial. 

Represi mewujudkan peradaban yang dibangun di atas penyangkalan naluri (instinctual denial) dan yang menyebabkan neurosis kolektif dimana manusia menjadi terasing dari tubuh dan nalurinya sendiri, beginilah penderitaan manusia yang dibentuk oleh peradaban.

Pandangan Norman O. Brown ini tampaknya menyatu dengan gagasan Sigmund Freud dalam “Civilization and Its Discontents”, buku yang membahas peradaban dalam konteks naluri kehidupan (eros) dan naluri kematian (thanatos).

Life vs Death. Life di sini mewakili energi eros (dorongan hidup), kreativitas, spontanitas, sedangkan death bukan hanya kematian biologis, tapi kematian psikis akibat represi. Kematian juga bisa dalam makna positif, yakni melepaskan ego dari keterikatan.

Filsuf Norman O. Brown menawarkan “menuju individu baru” yaitu sebuah transformasi ke arah manusia yang lebih erotis dan bebas, dimana represi tidak lagi mendominasi hidup. Untuk kondisi ini, ia merujuk pada figur seperti anak-anak, seniman atau mistikus.

Dua naluri, eros dan thanatos, dikenal juga dalam Buddhadharma sebagai bhava-tanha atau naluri untuk hidup dan vibhava-tanha atau naluri kematian. Keduanya adalah motif yang tak-disadari. Keinginan untuk hidup langgeng (jivitukama) atau bhava-tanha dan keinginan untuk menghindar dari kematian (amaritukama), yang berkaitan dengan apa yang disebut Sigmund Freud “naluri untuk hidup” (eros) dan keinginan untuk menikmati kesenangan (sukhakama) dan penghindaran dari kesakitan (dukkhapatikkula) (David J. Kalupahana, “Filsafat Buddha: Sebuah Analisis Historis,” Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986: 40)

Dibalik naluri tersebut, terdapat suatu pandangan atau paham tentang eros yang berkenaan dengan bhava-tanha sebagai keinginan untuk hidup langgeng didasari oleh paham kekekalan (sassatavada). Sedangkan vibhava-tanha sebagai keinginan untuk pemusnahan diri atau kematian (thanatos) didasari oleh paham annihilionisme (ucchevada). 

Kedua naluri ini bersifat latent dan terepresi ke dalam bawah sadar namun mempengaruhi perilaku manusia. Menurut Norman O. Brown, naluri hidup dan mati itu disublimasi atau ditransfer menjadi wujud budaya dan peradaban manusia.

Dalam Buddhadharma, naluri tersebut, baik naluri vibhava-tanha maupun bhava-tanha hendaknya tidak terepresi dalam ketidaksadaran namun mampu disadari melalui pelepasan (nekkhama) dan menenangkan (vupasama) sebagai praktik kebijaksanaan jalan tengah melalui pengendalian diri.

 

Gerbang Sunyi Pengendalian Diri

Bisakah praktik jalan tengah dalam pengendalian diri, seperti mengendalikan naluri bhava-tanha dan vibhava-tanha disosialisasikan dalam dunia pendidikan dan dijadikan budaya kehidupan untuk dapat mencegah peperangan? Seharusnya demikian, sehingga dengan melalui jalan tengah ala Buddha itulah terletak akar dari perdamaian. Suara pengendalian diri yang diketengahkan Buddha merupakan akar damai yang menjadi apsirasi semua umat manusia.

Di dalam diri manusia selalu ada dua api, yaitu: api amarah yang ingin membakar dunia, dan api kesadaran yang ingin menerangi jalan. Perang sering lahir bukan dari medan tempur, melainkan dari hati yang tak mampu menahan diri. Dari satu kata yang tak dijaga, dari satu keinginan untuk menang sendiri, dari satu kemarahan yang dibiarkan tumbuh hingga berubah menjadi badai.

Padahal sebelum pedang terhunus dan sebelum meriam berbicara, ada satu gerbang sunyi yang bisa menahannya, yaitu pengendalian diri. Ia tidak tampak seperti pahlawan perang, tidak disambut atau didapat dari sorak-sorai, tetapi dialah penjaga dunia yang berdiri diam di dalam batin manusia. Ketika seseorang menahan amarahnya, ia sedang memadamkan satu percikan perang. Ketika seseorang memilih memahami daripada membalas, ia sedang menanam benih damai.

Pengendalian diri adalah keberanian yang lebih besar dari kemenangan di medan tempur. Karena menaklukkan musuh di luar masih lebih mudah daripada menaklukkan badai di dalam diri. Dan bila semakin banyak manusia belajar menenangkan hatinya, belajar mendengar sebelum menyerang, belajar berhenti sebelum melukai, maka dunia perlahan berubah. Perang tidak lagi menemukan rumahnya, karena hati manusia telah menjadi tanah damai.

Di situlah damai berakar. Bukan di perjanjian para penguasa yang kerap dilanggar, bukan di pagar besi dan senjata, melainkan di satu keputusan sederhana yang lahir dari kesadaran manusia menjaga diri. Pengendalian diri agar dunia bisa mulai sembuh dan kehidupan semarak semakin tumbuh, dan dari satu hati atau diri yang terkendali tidak akan menjadi teror kematian atau menajdi sumber penderitaan bagi yang lain, karena semangat berdamai yang konstruktif memadamkan naluri destruktif dalam perang! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.thenation.com/wp-content/uploads/2026/04/4-6_FEAT_1440.jpg

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?