Oleh: Jo Priastana
“Mungkin ada banyak waktu yang indah,
Namun saat ini adalah milik kita.”
(Jean Paul Sartre, 1905-1980, Tokoh Filsuf Eksistensialis)
Dalam hidup bersama, kohabitasi, “samen leven”, atau kumpul kebo, seksualitas dan relasi berkaitan dengan filosofi dan prinsip etis, bukan sekedar relasi yang semata legalistik dan dogmatis. Relasi intim dua anak manusia bisa didekati secara lebih dalam, merasuki internal batin dalam meneropong sejauh mana kelekatan dan kebebasan bersemayam. Relasi dalam makna spiritualitas dimana cinta kasih sebagai ruang pertumbuhan batin atau proses individuasi.
Buddhadharma tidak semata harus didekati secara doktrinal-dogmatis-normatif, namun terlebih adalah mengkaji secara filosofis karena Dharma itu terbuka bagi kekritisan dan pembuktian, datang, lihat dan alami, serta melalui refleksi atau renungan mendalam. Buddha menyatakan bahwa Dharma itu dalam dan luas, butuh dialami, menghasilkan pengalaman batin.
Untuk itu, cinta perlu dialami menumbuhkan batin yang berisi dimana dia akan mampu berkata satu sama lain. Dimungkinkan terjadinya dialog batin antara dua kekasih, dialog batin bernuansa yang mencerminkan pengalaman relasi intim dalam hubungan dua anak manusia itu, Dia dan Aku. Relasi yang tidak akan muncul dari moralitas kaku dalam sekedar janji dan sumpah dalam kertas legalitas, namun dari pengalaman kesadaran cinta yang tersirat dalam dialog batin.
Dialog “Dia dan Aku”
Dialog batin imajiner tentang relasi cinta dalam makna yang dalam secara spiritual, dari hati yang jujur, dari cipta pikiran yang bagus, rasa yang indah dan karsa yang bermartabat, yang tercerminkan dalam budaya “samen leven,” meski itu pun bukan berarti tanpa tantangan, khususnya berkenaan dengan kelekatan dan kebebasan dari hati dua anak manusia, “Dia dan Aku.” Legitimasi cinta yang bersarang di dalam batin yang terdalam dan bukan pada legalitas sehelai kertas bermaterai pernikahan sakral.
Cinta dalam kelekatan dan kebebasan, dapat diteropong dalam dialog batin imajiner “dia dan aku”. “Mengapa aku takut kehilanganmu, padahal engkau belum pergi? Karena engkau mulai menganggapku milikmu, bukan tamu yang singgah dengan anugerah waktu. Tapi cintaku nyata, getar ini, rindu ini, luka ini, apakah semua itu salah? Tidak salah, namun lihatlah lebih dalam: apakah cintamu ingin membahagiakanku, atau ingin menjaminku agar tak pernah pergi?
Aku ingin engkau tinggal, dan aku ingin dunia tetap seperti sekarang. Itulah awal dukkha, keinginan agar segala sesuatu tak berubah adalah permohonan yang tak mungkin dipenuhi. Lalu bagaimana mencintai tanpa menggenggam? Seperti memegang burung di telapak tangan: cukup hangat agar ia tak kedinginan, cukup longgar agar ia tidak merasa terpenjara.
Dan jika suatu hari engkau terbang? Maka aku akan berterima kasih karena pernah ada sayap yang bersandar padaku. Apakah itu tidak menyakitkan? Menyakitkan, ya, namun tidak menghancurkan, karena cinta yang bebas masih bisa bernapas, sementara cinta yang melekat mati oleh ketakutannya sendiri.
Jadi, kita bersama bukan karena harus, tapi karena memilih setiap hari? Ya, bukan “aku membutuhkanmu agar utuh”, melainkan “aku utuh, pribadi dan kesadaranku berkembang, dan untuk itu aku memilih berjalan di sampingmu, dimana kita saling membutuhkan dan membantu dalam menumbuhkan proses individuasi kita, sama-sama dalam kebijaksanaan, kepercayaan, bermoralitas dan empati.”
Cinta yang bebas dan tak menggenggam tetap memerlukan keterbukaan hati yang besar, mengingat lebih dalam daripada cinta yang mengikat. Karena di situ tak ada penjara, hanya perjumpaan dari dua individu dalam kesadaran yang sama dan setara yang saling menghormati kefanaan.
Dialog batin imajiner “Dia dan Aku,” yang terasa seperti Dia dan Aku yang sedang menjalani “samen leven,” meski bukan tidak mungkin juga terjadi dalan relasi pernikahan. Nuansa cinta dari individu yang gamang dalam melekat dan melepas, dalam keterikatan dan kebebasan.
Pasangan “Samen Leven” Urban
Banyak pasangan kumpul kebo itu mengira bebas karena tanpa status. Tapi sesungguhnya mereka masih terikat. Terikat oleh harapan diam-diam, terikat oleh ketergantungan emosional, dan rasa aman palsu. Zen Buddhism menunjukkan bahwa kebebasan bukan bentuk relasi, tapi keadaan batin yang tak menggenggam.
Berikut dalam Koan Zen modern berlatar pembicaraan di kafe, tentang pasangan yang hidup bersama tanpa label, mempertanyakan: apa itu kebebasan sejati? Koan “Dua Cangkir di Meja Kayu.”
Di sebuah kafe Jakarta Selatan, dua orang duduk berhadapan. MacBook terbuka. Latte tinggal setengah. Sejak sedari mahasiswa, kini hubungan mereka sudah seperempat abad, tanpa status, tanpa janji. Perempuan itu bertanya. “Kini kita bebas, kan?” Laki-laki itu mengangguk. “Tentu. Kamu tidak terikat apa pun.”
Perempuan itu lalu mendorong ponselnya ke tengah meja. Di layar: tidak ada chat dari siapa pun selain dirinya. Ia bertanya lagi, “Kalau aku benar-benar bebas. Mengapa aku selalu menunggumu datang untuk bertemu dan menyatu?” Laki-laki itu terdiam. Barista memanggil nama pelanggan lain. Sendok jatuh, dan es mencair di gelas. Langit Jakarta sore itu kedatangan awan dari selatan.
Sebelum butir-butir air hujan jatuh, perempuan itu mengangkat cangkirnya dan berkata pelan: “Aku tak terikat oleh cincin. Tapi aku terikat oleh harapan dan sesuatu yang sangat halus yang tak kumengerti.” Laki-laki itu menjawab, “Aku tak memenjarakanmu, tapi aku senang kamu tetap tinggal dan kita bisa bertemu dan memadu.”
Perempuan itu tersenyum. Lalu bertanya seperti guru Zen. “Jika aku pergi hari ini, apakah kamu kehilangan aku atau kehilangan kenyamanan memiliki seseorang yang tak pernah kamu janjikan apa-apa?” Laki-laki itu tak mampu menjawab. Ia meneguk kopi yang sudah dingin.
Perempuan itu berdiri, mengenakan tasnya. Sebelum pergi, ia meninggalkan satu kalimat: “Kebebasan bukan ketika kita boleh pergi. Kebebasan adalah ketika kita tak lagi takut jika seseorang benar-benar pergi.” Laki-laki itu tetap duduk lama. Menatap dua cangkir kosong.
Barista datang dan bertanya: “Mau tambah?” Ia menjawab: “Tidak. Saya baru sadar, yang membuat saya haus bukan kopi.” Barista ahli meracik kopi itu pun bengong, pikirnya: mungkin dia masih belum ketemu pelepas dahaga hati.
Melekat dan Melepas
Hati yang melepas dalam keterikatan. Relasi cinta itu memang indah namun bisa berakhir dramatis kadang tragis. Ada narasi relasi yang tragis namun membebaskan, tentang dua insan yang hidup bersama tanpa label, tanpa janji formal, namun penuh pergulatan batin antara kelekatan dan kebebasan, melelahkan dan melepas yang tinggal dalam “rumah tak bernama.”
Rumah cinta itu adalah hunian apartemen kecil. Meski tak pernah ada akad, tak pernah ada cincin, tak pernah ada pengumuman. Hanya dua sikat gigi berdampingan. Dua cangkir kopi yang selalu dibiarkan dingin. Dua tubuh yang tahu persis lekuk sunyi satu sama lain, dan dua handuk yang kadang terlihat masih basah
Pada awalnya, semuanya terasa sederhana. Cinta tanpa upacara. Kehangatan tanpa saksi. “Selama kita saling memilih”, katanya dulu, “itu sudah cukup”. Dan kita saling percaya. Waktu berjalan pelan, lalu diam-diam berubah menjadi pisau. Bukan karena pengkhianatan, bukan karena kekerasan. Justru karena sesuatu yang lebih halus dan lebih kejam. Ketakutan kehilangan.
Ia mulai bertanya lebih sering: “Kamu benar-benar mau bersamaku, kan? Kalau suatu hari kamu bosan, kamu pergi? Aku ini siapa buat kamu?” Dan setiap pertanyaan itu seperti benang tak terlihat yang perlahan mengikat leher mereka berdua.
Suatu malam, setelah hujan panjang, ia berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar: “Aku lelah mencintaimu dengan rasa takut. Takut bahwa setiap pagi aku bangun, aku harus bersyukur kamu masih di sini. Dan setiap malam aku tidur, aku cemas kamu pergi tanpa salah.”
Ia ingin membantah. Ia ingin berkata: “Aku cinta kamu, bukankah itu cukup?” Tapi ia tahu, cintanya telah berubah menjadi pegangan, bukan lagi perjumpaan. Hari perpisahan mereka pun terjadi, tanpa dramatis. Tak ada teriakan. Tak ada air mata meledak. Hanya dua koper kecil. Dua pasang mata yang sudah terlalu lelah untuk marah.
Di ambang pintu, ia berkata: “Aku pergi bukan karena tak cinta. Aku pergi karena aku ingin mencintai tanpa takut.” Dan untuk pertama kalinya, ia tak mencoba menahannya. Berbulan-bulan setelah itu, apartemen itu terasa seperti cangkang kosong. Namun di dalam kesepian itu, sesuatu yang baru mulai tumbuh: Ruang. Ruang untuk bernapas, ruang untuk tak memiliki, ruang untuk tak tergantung.
Dan suatu sore, saat menatap senja sendirian, ia akhirnya memahami, bahwa cinta sejati bukan tentang tinggal melainkan tentang tidak memenjarakan, bahkan ketika hati ingin sekali menggenggam. Pasangan hidup mengajarkan, ada pertemuan yang datang bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengedukasi, bagaimana melepaskan tanpa membenci, mencintai tanpa mengikat, dan kehilangan tanpa hancur.
Siddharta Muda itu pun melepas istrinya sekalipun sangat mencintainya, dan bahkan menamakan anaknya yang baru lahir Rahula, “belenggu,” seakan mau mengeraskan ikatan yang sudah dirasa harus dilepas. Ia melepas penjara kepemilikan, posesifitas cinta, karena tahu ada cinta yang lebih besar yang mengatasi segalanya, dan cinta itu memerlukan ruang kebebasan bukan pengikatan, bahkan andai pun ditemui dalam kesendirian, namun kesendirian yang berdaya.
Yasodhara Puteri dan Siddharta Muda
Siddharta Muda yang eksistensialis mencontohkan hidup dalam kesendirian yang berdaya, dalam ruang kebebasan dimana pencerahan Buddha, proses individuasi teruji dan terjadi tanpa janji. Namun, Yasodhara Puteri yang ditinggalkannya tanpa pamit dan pesan itu pun bukan tidak menggugat cintanya. Setelah kepergiannya, suara gugatan batin Yasodhara Puteri itu tetap berbunyi, ia mengatakan:
“Berapakah jarak hutan Uruvela dari puri istana ini? Kita yang dipisahkan oleh jarak, tak sepenuhnya paham soal waktu. Berapa panjang, lama dan pendeknya. Meski setidaknya kita tahu. Bahwa waktu tempat kita bermula adalah sama. Tetapi entahlah waktu kita berakhir. Mesti sebelum waktu itu datang, engkau telah melalukan dirimu, tanpa ada kata perpisahan tertinggal. Membiarkan aku menunggu, dalam kekosongan waktu” (Bait 1.1. Jo Priastana “Meditasi Cinta Yasodhara Puteri dan Siddharta Muda.” Jakarta, 2015: 9).
Pelajaran atau edukasi berharga dari relasi dalam cinta, baik dalam pernikahan maupun “samen leven.” Keduanya tidak harus dibaca secara normatif, “semestinya” hitam putih, satu atau lainnya, cukup didekati dalam alur refleksi selama kesadaran masih bekerja. Kesadaran yang berkembang tentang relasi sebagai ruang untuk proses individuasi bersama, proses pertumbuhan diri sepenuhnya, seutuhnya.
Siddharta membalas gugatan batin atas kepergiannya karena begitulah fakta relasi jika berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar, yang memerlukan ruang pertumbuhan melewati batas-batas relasi dalam hubungan cinta dua anak manusia. Ujar Siddharta Muda menjawab ucapan Yasodhara Puteri:
“Ketahuilah Yasodhara, semua itu ada waktunya, ada musimnya. Matahari terbit membangunkan dedaunan, daun-daun bertunas, bunga berkembang, buah berjatuhan. Dan malam mengirim kunang-kunang berkelap-kelip. Semua ada masa dan musimnya. Berkumpul dan berpisah. Pergi dan Kembali. Dan biarkan aku kini mengarungi masaku menyemai musimku! (Bait 1.2. “Meditasi Cinta Yasodhara Puteri dan Siddharta Muda.” 2015: 10).
Mungkin relasi cinta itu tak berakhir atau berakhir sebagai pasangan, tapi yang utama adalah mereka berakhir sebagai manusia yang lebih sadar. Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling sunyi, namun paling membebaskan. Siddharta Muda yang eksistensialis memilih kesendirian yang berdaya, ia berjalan di hutan sunyi Uruvela, dan akhirnya dia pun paham tentang cinta, melekat dan melepas, dengan simpati dan empati yang tumbuh dalam kemanusiaan welas asih yang membebaskan.
Yasodhara Puteri pun memahami dan mengerti dalam cinta yang melepas dan membebaskan. Dia berkata pada Siddharta Muda, “Lihatlah rembulan itu, Siddharta. Ia hening karena dipeluk malam. Dan malam menjadi begitu sunyi karena dihiasi bintang-bintang. Engkau pun akan menjadi purnama. Karena sadar yang kau pancarkan. Menerangi semesta.” (Bait 01 “Meditasi Cinta Yasodhara Puteri dan Siddharta Muda.”)
Siddharta Muda pun membalas ucapan Yasodhara Puteri itu: “Lihatlah pelangi itu, Yasodhara, ia cantik karena dititipkan hujan. Dan hujan menjadi indah. Karena ia ditaburkan awan. Engkaupun akan menjadi sempurna. Karena kasih yang kau tebarkan menghiasi semesta” (Bait 02, dalam Jo Priastana, “Meditasi Cinta Yasodhara Puteri dan Siddharta Muda, Jakarta, 2015: 6).
Dalam cinta yang kerap diliputi ketegangan antara kelekatan dan melepas, Siddharta Muda dan Yasodhara Puteri pada akhirnya sampai pada puncak kesadaran tertinggi dalam relasi cintanya yang setara dan murni, abadi tak terbatas. Mereka saling memahami satu sama lain, dalam welas asih dan kesadaran yang berkembang, hingga memutih rambutnya namun tetap muda hatinya.
Karenanya batin mereka pun serasi, setara dalam kebijaksanaan, kepercayaan, spiritualitas dan empati, dimana alam semesta turut merestui, dimana pelangi cantik dan rembulan hening menghias cakrawala batin dari proses individuasi diri mereka masing-masing.
Mungkin relasi ideal seperti Siddharta Muda dan Yasodhara Puteri itulah yang diangankan sebagai relasi intersubjektivitas dalam filsafat kebebasan eksistensialis, oleh pasangan “samen leven.” dimana esensi pembebasan dalam cinta yang melepas itu terjadi dalam relasi cinta Siddharta Muda dan Yasodhara Puteri. Masing-masing melepas kelekatannya dan memberi ruang bagi kebebasan pasangan agar kesadaran berkembang dan proses individuasi terjadi.
Esensi relasi cinta yang melepas dan membebaskan yang sesungguhnya menjadi dasar filosofis pasangan hidup bersama “samen leven,” kumpul kebo. Sebagaimana pasangan Sartre dan Simone yang abadi mempratikkan filsafat eksistensialis kebebasannya dalam hidup bersama, dan menjadi ikonik pasangan “samen leven” urban, masyarakat kota abad ini. Ah, andai pasangan “samen leven” masa kini di seluruh dunia tahu, dan pasangan yang bersama dalam pernikahan mengerti! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Meta AI