How Do Buddhist Colleges Currently Create Buddhist Scholars?

Home » Artikel » How Do Buddhist Colleges Currently Create Buddhist Scholars?

Dilihat

Dilihat : 28 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 6
  • 63
  • 9,446

By: Jo Priastana

 

(Naskah “How Do Buddhist Colleges Currently Create Buddhist Scholars? ini pernah disampaikan penulis dalam: “The 1st IABU Summit, IABU Conference on Buddhism and Ethics. at Mahachulalongkornrajavidyalaya University Main Campus Wong Nai, Ayutthaya, Thailand, 1-5 September 2008/2551)

 

 “Pendidikan itu mengobarkan api, bukan mengisi benjana”

(Socrates)

 

Sejarah kejayaan pendidikan tinggi agama Buddha berawal dari sistem pendidikan kebhikkhuan atau keviharaan yang berfokus pada pelajaran agama atau dharma. Kemudian berkembang menjadi maha-vihara, menjadi lembaga pendidikan intelektual dan pusat kebudayaan, seperti perguruan tinggi Nalanda, Vikramasila dan lainnya. (Encyclopedia Britanica, 2007)

Perguruan tinggi Buddhis masa lalu memiliki fasilitas, ilmu pengetahuan dan jenis pendidikan beragam. Ini memperlihatkan kemampuannya berantisipasi dan berkreasi menjawab kebutuhan dan tantangan jamannya, dengan kurikulum yang adaptif dan kontekstual.

Nalanda tumbuh sebagai universitas dan menjadi pertanda hadirnya puncak budaya dunia dalam memajukan agama dan ilmu pengetahuan. (Encyclopedia Britanica, 2007). Nalanda menjadi rujukan bagi kemajuan peradaban umat manusia, baik dalam kemajuan ilmu pengetahuan maupun spiritualitas.

 

Metode Nissaya dan Katha

Perguruan Tinggi Agama Buddha masa lalu memiliki sistem pendidikan yang sarat dengan ciri metodologi keilmuan yakni metode nissaya dan katha. Nissaya berlaku dan menonjol ketika pendidikan agama Buddha masih dalam sebatas vihara dan metode Katha semakin menggejala ketika vihara telah berkembang menjadi mahavihara. (Mulyadi Wahyono, SH., 1992:210.)

Metode Nissaya dan Katha dapat menjadi syarat yang mencukupi untuk menumbuhkan sarjana agama Buddha yang menguasai pengetahuan teks-teks Dharma dan mengungkapkannya secara intelektual. Metode Nissaya dan Katha juga sejalan dengan cara kerja ilmu pengetahuan modern yang mencakup siklus empiris yang menyertakan cara berpikir deduktif dan induktif.  (C. Verhaak., R. Haryono Imam, 1995: 24-28.)

Penerapan teori dalam situasi khusus dengan cara berpikir deduktif memerlukan penguasaan pengetahuan yang diperoleh dengan metode Nissaya. Sedangkan penemuan kebenaran dalam gejala-gejala khusus yang sifat induktif-empiris dapat tercapai dengan mengembangkan metode Katha.

 

Metode Nissaya

Nissaya adalah metode pemula yang diberlakukan dalam sistem pendidikan kebhikkhuan. Suatu metode pengajaran yang menempatkan peran guru yang dominan terhadap siswanya, dengan cirinya transfer-pengetahuan, dimana para siswa menerima ajaran dharma seperti: peraturan-peraturan kebhikkhuan (vinaya), cerita-cerita moral (jataka) ataupun dasar-dasar Buddhadhamma (Buddhasasana), untuk diingat dengan cara menyanyikannya. (Edward J. Thomas, 1953:23)

Tujuannya agar pengetahuan vinaya dan sutta melekat kuat sehinga kemurnian dan keaslian agama Buddha tetap terlestarikan. Kegiatan semacam ini apabila dilakukan secara bersama pada suatu maksud tertentu atau khusus dinamakan Sangiti (Mircea Eliade: 1987:510,)

Dengan melalui metode pengajaran seperti itu tumbuhlah bermacam keahlian di seputar penguasaaan Buddhadharma. Ada sebutan Dhamma-katthika yakni ahli dalam mengajarkan materi dhamma. Suttantika, ahli mengajar sutta, maupun Vinaya-dhara yakni ahli mengajar vinaya, dan Matikadharma yaitu ahli khusus dalam matika (merumuskan).

 

Metode Katha

Pelengkap Nissaya adalah Katha. Metode Katha memungkinkan para siswa mampu mengaktualisasikan dan mengembangkan teks-teks dharma secara kontekstual. Metode katha ini adalah metode berdiskusi atau berdebat, menekankan keaktifan siswa di dalam merumuskan permasalahan, membaca realitas dan menemukan kebenaran. (Mircea Eliade 1987:.514.)

Lebih jauh esensi dialog dalam metode Katha ini adalah juga kemampuan di dalam melakukan refleksi atau berdialog dengan dirinya sendiri, berdialog dengan realitas dan alam semesta serta menuangkannya secara lisan atau tulisan dalam bentuk risalah, sastra dan karya tulis lainnya.

Dalam konteks masa kini kemampuan katha tersebut adalah kemampuan menyusun atau mendialogkan tata pikiran, nilai, aplikasi teori dengan data atau peristiwa aktual dan kontekstual.

Kemampuan itu tertuang seperti dalam penulisan skripsi, tesis dan disertasi, yang merupakan cerminan dalam berdiskusi dengan realitas, menjawab kebutuhan intelektual saat itu dengan problem-probelem aktual dan kontekstual.

Sistem yang mengacu kepada kecerdasan kebijaksanaan adalah juga sistem yang diterapkan oleh Buddha sendiri dalam komunitas Sangha yang menumbuhkan intelektualitas para Bhikkhu seperti yang tampak pada berbagai karya dharma, seperti: Kitab Katthavatthu, sebuah kitab yang berarti Pokok-pokok Katha atau debat tentang ajaran yang terjadi pada Sanghayana (Sanghasamaya) di jaman Raja Asoka. (Mircea Eliade 1987:.514)

Mahagosingasutta yang memperlihatkan terjadinya percakapan mengenai Abhidhamma oleh dua orang bhikkhu, masing-masing bertanya dan menjawab dan kemudian merumuskan bersama. Dhammasangani, “kumpulan Dharma,” yang mengklasifikakan ajaran Abhidharma. (Mulyadi Wahyono, 1992:210).

Penggunaan intelektualitas juga terlihat pada Sutta. Komentar-komentar tentang sutta yang disebut “Nidesa” (berarti “penjelasan”) terdiri dari dua buku, masing-masing “Maha” (besar) dan “Culla” (kecil). Juga dijumpai semacam katekismus mengenai kelompok ajaran yang disebut “patisambhida-magga” (cara menganalisa, menguraikan), yang bersangkutan dengan karakter, kamus (lexicon), daftar istilah/kata-kata (glossary), ringkasan (summary) dan lain-lain.

 

Tradisi Intelektualitas

Tradisi Katha ini umumnya juga dilakukan oleh kaum pencari kebijaksanan, seperti para filsuf di Yunani kuno. Phytagoras yang terkenal dengan padepokannya, Socrates dengan dialog-dialognya, Plato dengan akademinya. Aristoteles dengan universitasnya, yang kemudian diadopsi dan dikembangkan dalam sistem pendidikan Barat modern dengan skolastika, seminari dan universitas masa kini.

Tumbuhnya metode katha yang menekankan pendidikan berbasis pada intelektual ini juga cermin dari karakter filsafat Buddha sendiri dan tampak pada perkembangan pemikiran keagamaan dalam Buddhadharma. Sang Budha mengajarkan Jalan Tengah, cara berpikir yang pada dasarnya telah mendesakkan manusia melakukan refleksi dan berpikir secara kritis-dialektis dalam menghadapi adanya tesa dan antitesa.

“What the Buddhavadana? The Nettipakarana passage epitomizes the Buddhist tendency to use philosophical rather than historical argument authority.” (Mircea Eliade, “The Encyclopedia of Religion, Volume 2, Mac.Millan Publishing Company, 1987, p.514.)

Logika berpikir Buddhistik yang bersifat dialektik (tesis, antitesis, sintesis) juga tercermin di dalam metodologi ilmu pengetahuan modern seperti kritis yang memiliki daya tarik besar dan sangat subur bagi proses perkembangan intekektual. (Jacob Vredenbregt, 1985:62)

Perkembangan pemikiran Buddhis itu tampak dalam logika berpikir catuskoti, dialog cerdas Bhikkhu Nagasena dengan Raja Menannder dalam Milinda Panha, logika Dinnaga. Seterusnya memunculkan aliran-aliran filsafat Buddha, seperti:

Madhyamika Nagarjuna, Vijnanavadin-Yogacara, Realisme Abhidharma Sarvastivadin, transendensi intelektualitas Zen Buddhism, dan lain sebagainya. Termasuk kemunculan Enganged Buddhism yang melibatkan peranan nilai-etik didalam merumuskan pandangan-pandangan sosialnya, dan bersumber pada Buddhism etis itu sendiri. (Ken Jones, 2003:173)

 

Matriks Teori, Data dan Nilai

Bagaimanakah Perguruan Tinggi Agama Buddha (PTAB) dapat menghasilkan sarjana agama Buddha masa kini? Sarjana agama Buddha yang mampu menjawab tantangan IPTEK dan permasalahan dunia modern, globalisasi dan kebutuhan manusia masa kini?

Jawabnya, adalah dengan menerapkan kembali tradisi, metodologi pendidikan tinggi Buddhis nissaya dan katha. Selain itu juga memadukannya dengan metodologi ilmu pengetahuan masa kini seperti matriks segi tiga ilmu pengetahuan modern yang meliputi: teori, data, dan nilai.

Metodologi ilmu atau logic of sciences yang terdiri teori dan data mencerminkan kerja siklus empiris. Teori dalam makna penguasaan materi dari disiplin ilmu pengetahuan, sedangkan data adalah pandai dalam membaca persoalan-persoalan yang sedang berkembang.  

Nilai berhubungan dengan bekerjanya suatu ilmu pengetahuan secara kritis untuk diabdikan bagi kemanusiaan. Fungsi nilai sangat tepat bagi Buddhisme sebagai ilmu pengetahuan yang tergolong dalam human sciences (humaniora).

Dengan berlandas pada nilai yaitu nilai kemanusiaan memungkinkan munculnya kepekaan terhadap masalah (sensitivity to problems). Selain itu juga menjadi penggerak kreativitas dan sekaligus menceminkan Buddhisme yang bercirikan ilmu pengetahuan itu memiliki tanggung jawab etis.  

Penguasaan data sangat dibutuhkan dengan menerapkan metode nissaya, sedangkan metode katha sangat berperan untuk tumbuhnya kemampuan di dalam menerapkan teori atau mengkontekstualisasikan ajaran dengan semangat kritisme. Begitu pula dengan nilai, mengingat Buddhadharma adalah ilmu pengetahuan eksistensi manusia dan dapat digolongkan sebagai human sciences, maka Buddhadharma pun sarat dengan nilai.

Ilmu kemanusiaan mencakup juga ilmu-ilmu sosial merupakan sebuah ilmu empiris yang mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya, baik perorangan maupun bersama. Dengan cara berpikirnya yang analog yakni setiap lingkungan masyarakat sama namun dalam kesamaannya itu juga berbeda, maka pendekatan ilmu ini adalah bukan bebas nilai (wertfrei) namun justru mengandung nilai, berbasis pada contex of discovery. (C. Verhaak., R. Haryono Imam, 1995: 66-73)

Selain menguasai metode nissaya dan katha yang telah menjadi tradisi dalam perguruan agama Buddha masa lalu, Pendidikan Tinggi Agama Buddha saat ini juga perlu memperhatikan metodologi ilmu pengetahuan modern. Metodologi yang meliputi aspek teori, data dan nilai yang menempatkan sarjana agama Buddha selain menguasai logika sciences, menguasasi data juga memiliki kepekaan etis.

Metode nissaya membekali sarjana untuk menguasai pengetahuan Buddhadharma sepenuhnya, secara holistik dan inklusif. Metode katha memampukan mahasiswa untuk mengembangkan Buddhadharma secara kontekstual melalui penalaran yang baik serta argumentatif dan cerdas, baik secara lisan maupun tulisan.

 

Agamawan, Ilmuwan dan Cendekiawan/Budayawan

Kemudian dengan memiliki kemampuan menghubungkan matriks segi tiga ilmu pengetahuan modern: teori, nilai dan data akan memungkinkan seorang sarjana agama Buddha mampu menjawab tantangan dan problem-problem dunia masa kini. Sejalan dengan itu, sarjana agama Buddha dapat berperan baik sebagai agamawan, ilmuwan maupun intelektual-cendekiawan.

Sebagai agamawan, memiliki kemampuan memadukan antara nilai dan data. Sarjana agamawan akan dapat melihat kesenjangan antara fakta-fakta kehidupan (data) yang terjadi dengan nilai agamanya yang universal, sehingga tahu problem-problem yang harus diatasinya.  Peran agamawan sebagai seorang penjaga kehidupan, yang pandai menghubungkan data dengan nilai, menjaga agar apa yang ada sesuai dengan nilai-nilai.

Sebagai ilmuwan, mampu menjelaskan fakta-fakta kehidupan (data) dengan teori. Ilmuwan agama menguasai pengetahuan agama yang dimilikinya dan pandai menghubungkannya dengan data/fakta dan teori.

Ilmuwan agama dapat mempergunakan teori-teori dan pengetahuan agamanya untuk kemajuan dan perkembangan masyarakatnya. Selain itu juga mampu membimbing masyarakatnya untuk menjalani hidup dengan semakin mendalam, mudah, baik, menyenangkan dan berkualitas.

Sebagai seorang intelektual, cendekiawan, budayawan atau filsuf, sarjana agama Buddha mampu memadukan antara teori dan nilai. Seorang yang bijaksana karena pandai menghubungkan teori dengan nilai sehingga ilmu pengetahuan yang dikuasainya sungguh untuk meningkatkan harkat dan mutu kehidupan manusia.

Sebagai intelektual, cendekiawan Buddhis mampu merumuskan konsep-konsep, pemikiran Buddhis untuk dunia kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Buddhadharma.  Kemampuan ini terwujud dalam karya dan aktivitasnya, baik dalam risalah, sastra, dan karya-karya tulis dan aktivitas kemanusiaan. 

Tentu saja penerapan pokok-pokok pandangan ini untuk menghasilkan Sarjana Agama Buddha seperti itu masih perlu memperoleh eksplorasi lebih jauh. Kemajuan teknologi informasi masa kini memungkinkan mahasiswa mudah mengakses data pengetahuan yang mempercepat bekerjanya metode tradisional Nissaya dan dapat sejalan seiring dengan penerapan metode Katha.

Dengan begitu diharapkan mahasiswa dapat memiliki pengetahuan Buddhadharma inklusif-kontekstual. Buddhadharma inklusif-kontekstual yang mampu merumuskan kebenaran Dharma yang mengandung nilai-nilai universal dengan fenomena kehidupan masa kini.

Segi-tiga data/fakta, teori dan nilai itulah yang kini harus diselami oleh generasi muda para mahasiswa Buddhis dengan sebaik-baiknya dan menjadi sikap hidupnya. Sebagai sarjana agama Buddha, sesuai dengan teladan Siddhartha Muda ketika melangkah memperjuangkan cita-citanya mencapai gelar Buddha.

Sarjana Agama Buddha yang mampu menerapkan Buddhadharma di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini. Sarjana Agama Buddha masa kini yang dapat berperan menyantuni jaman, berbuat untuk kemanusiaan, kemajuan budaya dan peradaban sebagai Ilmuwan, Cendekiawan maupun Agamawan! (JP) ***

(Presentasi dalam: The 1st IABU Summit, IABU Conference on Buddhism and Ethics. at Mahachulalongkornrajavidyalaya University Main Campus Wong Nai, Ayutthaya, Thailand, 1-5 September 2008/2551, “How Do Buddhist Colleges Currently Create Buddhist Scholars?”) ***

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
Butuh bantuan?