ITC BOROBUDUR – Budaya Religius Buddhis Global Modern: Gema Suci Kolektif dan Hening Batin Individu

Home » Artikel » ITC BOROBUDUR – Budaya Religius Buddhis Global Modern: Gema Suci Kolektif dan Hening Batin Individu

Dilihat

Dilihat : 41 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2681

Oleh: Jo Priastana

 

“Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci, namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma

dengan sungguh-sungguh, melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian,

tidak melekat pada apa pun dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang,

 maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan dalam pasamuan para bhikkhu petapa”

(Dhammapada 20, Yayasan Abdi Dhamma Indonesia, 2014: 9)

 

Indonesia Tripitaka Chanting atau ITC yang telah berlangsung untuk kesekian kalinya, ke 11 sejak 2015 hingga Juli 2026 di Candi Borobudur ini merupakan sebuah fenomena pembacaan kitab suci secara massal, besar dan spektakuler dalam dunia modern saat ini. Fenomena yang menarik sebagai peristiwa budaya religius tentang saddha atau iman, sejarah spiritual, tetapi juga secara sosiologi agama dapat dipandang berkaiatan dengan identitas sosial, politik, budaya massa, media, dan kebutuhan psikologis manusia modern.

Indonesia Tripitaka Chanting (ITC) di Borobudur merupakan fenomena budaya Buddhis global modern yang menarik karena mempertemukan warisan teks kuno, situs sakral Nusantara, dan bentuk religiusitas publik modern. Kegiatan ini mulai diselenggarakan pada tahun 2015 dan kemudian menjadi agenda tahunan yang sejalan dengan peringatan Asalha Mahapuja atau Hari Khotbah Pertama Buddha atau pemutaran roda dharma, Dharmacakrapavarthana sutta kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana.

Dalam masyarakat tradisional, pembacaan kitab suci biasanya berada dalam ruang ritual yang relatif sakral dan komunitas kecil. Namun dalam masyarakat modern, ia dapat berubah menjadi peristiwa publik (public religious event) yang melibatkan ribuan bahkan jutaan orang, berhubungan dengan perkembangan teknologi, panggung besar, teknologi suara, siaran langsung, tata cahaya, dan simbol-simbol visual. ITC sepertinya menjadi kontinuitas pembacaan kitab suci yang diwariskan para bijaksana Buddhis dahulu kala di dunia modern saat ini.

 

Gema Suara Massal di Ruang Publik

Perspektif sosiologi agama dapat melihat ITC sebagai fenomena “collective effervescence.” Sosiolog Emile Durkheim (1858-1917) menjelaskan bahwa ritual bersama dapat menghasilkan “collective effervescence,” yaitu suatu energi emosional kolektif ketika individu merasa menyatu dengan kelompok yang lebih besar.

Ketika ribuan orang membaca ayat yang sama serentak, terjadi pengalaman rasa kebersamaan, perasaan menjadi bagian dari komunitas besar, penguatan identitas keagamaan, pengalaman transendensi sosial. Dalam pandangan Emile Durkheim, yang sakral bukan hanya teksnya, tetapi juga kekuatan komunitas yang muncul melalui ritual itu.

Fenomena massal ini memperlihatkan agama sebagai identitas publik. Dalam dunia modern yang semakin plural dan global, agama tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga menjadi penanda identitas kolektif. Pembacaan massal kitab suci dapat menjadi cara sebuah komunitas mengatakan: “Kami hadir, kami memiliki nilai, kami memiliki suara.”

Ia menjadi semacam “pernyataan keberadaan” (statement of presence) dalam ruang sosial. Ini terutama terlihat ketika agama berhadapan dengan modernitas sekuler, globalisasi, atau perubahan nilai budaya. Ritual publik menjadi cara mempertahankan rasa memiliki.

Selain itu, peristiwa itu juga memperlihatkan bagaimana fenomena agama menjadi budaya tontonan (spectacle). Pemikir Marxis dari Prancis seperti Guy Debord (1931-1994) dalam gagasannya “society of spectacle” melihat bahwa masyarakat modern semakin banyak mengalami realitas melalui tampilan visual.

Peristiwa keagamaan itu dapat memasuki logika spektakel karena didalamnya menghadirkan panggung megah, ribuan peserta, viral di media sosial, jumlah peserta menjadi simbol keberhasilan.

Di sini muncul pertanyaan kritis: apakah yang utama adalah kedalaman transformasi batin, ataukah besarnya tampilan sosial?

Sebuah pembacaan kitab suci dapat tetap menjdi pengalaman spiritual mendalam, tetapi juga dapat bergeser menjadi simbol prestise, kompetisi antar kelompok, atau pertunjukkan identitas.

Fenomena kegamaan massal itu bisa menjadi daya tarik komersialisasi dan industri spiritual. Dalam masyarakat kapitalisme modern, agama juga dapat berinteraksi dengan pasar dengan melibatkan: industri media, pariwisata religi, sponsor, merchandise, branding tokoh agama, ekonomi acara.

Sosiologi agama menyebut ini sebagai bagian dari religious economy, yaitu bagaimana agama beroperasi dalam lingkungan sosial yang memiliki kompetisi, konsumsi, dan pasar perhatian (attention economy).

ITC adalah pertunjukan dari salah satu aliran Buddhis, yakni Theravada, dimana Buddhis di Indonesia yang minoritas juga mencakup berbagai aliran. Berbagai aliran juga seakan tak mau ketinggalan untuk mengambil kesempatan memperlihatkan kegiatan budaya ritualnya di candi-candi Nusantara termasuk Candi Borobudur, situs sakral Nusantara yang menjadi daya tarik dunia.

Namun ini tidak berarti otomatis berarti negatif. Acara besar juga bisa menjadi kekuatan positif sebagai sarana solidaritas sosial, pengalaman melayani, pendidikan agama, pengalaman spiritual bersama. Persoalannya adalah ketika kemegahan eksternal menggantikan kedalaman internal.

Di sinilah kita memasuki perspektuf Buddhis yang sesungguhnya, yaitu antara ritual kolektif dan transformasi batin. Dari sudut pandang Buddhis, fenomena ini bisa dibaca melalui pertanyaan tentang tujuan praktik.

Pembacaan Dhamma atau sutta secara bersama dapat memiliki nilai: saddha (keyakinan), sati (kesadaran), kebersamaan dalam praktik. Namun Buddha juga sering menekankan bahwa pembebasan bukan sekadar mendengar atau mengulang kata-kata suci, melainkan mengalami transformasi batin melalui pemahaman dan praktik. Bukankah pemutaran Buddhadharma dalam hari Suci Asadha yang dikenal sebagai pemutaran roda dharma dalam empat kesunyataan mulia itu bersifat soteriologis, dalam arti spiritualitas yang mencerminkan pembebasan dukkha.

Ada perbedaan antara: “ribuan orang mengucapkan kata tentang lenyapnya ego” dengan “satu orang benar-benar melihat lenyapnya kemelekatan dalam dirinya.” Yang pertama adalah fenomena sosial, yang kedua adalah perjalanan spiritual.

Menariknya, di tengah modernitas yang individualistis, manusia di tengah zaman modern ini justru mencari kembali pengalaman kolektif. Kegiatan ITC bisa menjadi cermin fenomena kebutuhan manusia di dunia modern, umat Buddha saat ini akan makna dan kebersamaan.

Pembacaan kitab suci massal dapat dilihat sebagai respons terhadap: kesepian orang modern, fragmentasi sosial, kehilangan makna dan pencaharian makna, kebutuhan akan komunitas, kolektivitas, identitas bahkan kompensasi psikologi sebagai minoritas.

Manusia modern bukan hanya makhluk rasional dan individual, tetapi juga membutuhkan simbol, ritus, dan pengalaman bersama. Maka secara sosiologis, pembacaan ayat suci massal berada di antara dua kutub.

Kutub spiritual: “ribuan hati berkumpul untuk mengingat yang transenden atau yang suci, mulia, luhur.” Kutub spektakel sosial: “agama tampil sebagai kekuatan massa dalam ruang publik.”

Keduanya bisa hadir bersamaan. Tantangan agama modern adalah bagaimana menjaga agar suara ribuan orang membaca kitab suci tidak hanya menjadi gema di ruang publik, tetapi juga menjadi keheningan yang mengubah manusia di ruang batinnya.

 

Akar Sejarah Teologis dan Keheningan di Ruang Batin

Indonesia Tripitaka Chanting (ITC) di Borobudur merupakan fenomena Buddhis modern yang menarik karena mempertemukan warisan teks kuno, situs sakral Nusantara, dan bentuk religiositas publik modern. Kegiatan yang mulai diselenggarakan pada tahun 2015 kini telah menjdi agenda tahunan sejalan dengan peringatan Asalha Mahapuja atau Hari Khotbah Pertama Buddha.

Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa chanting massal seperti ini memiliki dasar teologis-hitoris dari zaman Buddha dan juga tradisi yang terdapat di negara Buddhis lain.

Pada masa Buddha, belum ada kitab tertulis seperti Tipitaka sekarang. Ajaran Buddha dipelihara melalui tradisi lisan atau oral tradition. Karenanya, fenomena ITC memiliki akar sejarah dan teologis, dimana Buddha memang menekankan pelestarian Dhamma melalui pengulangan bersama.

Para bhikkhu menghafalkan dan mengulang khotbah-khotbah Buddha bersama-sama, sebagaimana yang diperlihatkan menjadi peristiwa penting terbentuknya kitab suci, seperti pada Konsili Buddhis pertama di Rajagaha setelah wafatnya Buddha.

Dalam Tradisi Theravada, para bhikkhu senior seperti Mahakassapa memimpin pengumpulan ajaran, dengan Ananda mengulang khotbah (Sutta): “Demikianlah yang telah saya dengar…” (evam me sutam).

Kejadian itu bukan sekadar pembacaan, tetapi usaha menjaga agar Dhamma tidak berubah. Bahkan filsuf Socrates (abad 6 SM) di Yunani juga sangat menekankan tradisi oral dimana dia melahirkan kebijaksanaan di hati pendengarnya melalui dialog-dialog. Dialog Sokrates sangat terkenal dalam menumbuhkan wisdom, tidak terkecuali juga Buddha dengan dialognya dalam sutta-sutta.

Secara teologi dan juga historis, mengulang Dhamma bersama memiliki dasar dalam tradisi Buddha awal. Menjaga ingatan terhadap ajaran, memperkuat perhatian, dan mewariskan kebijaksanaan.

Chantng dalam tradisi Buddhadharma bukan menyembah teks, tetapi menghadirkan Dhamma. Dalam tradisi Theravada, pembacaan paritta (khotbah perlindungan seperti Mangala Sutta, Metta Sutta, Ratana Sutta) sudah sangat tua dan memainkan peran besar dalam kehidupan umat manusia.

Fungsi sutra tersebut antara lain, mengingat ajaran Buddha, membangkitkan keyakinan (saddha), melatih konsentrasi, maupun menciptakan suasana batin yang bajik.

Namun perlu juga dicamkan, secara filosofis dan rasional, teks bukan semata dianggap memiliki kekuatan magis karena kata-kata itu sendiri. Nilainya terletak pada mendengar, memahami, merenungkan dan mempraktikkan.

Dalam semangat Kalama Sutta, Buddha tidak meminta seseorang hanya mengulang ajaran, tetapi menguji dan mengalami kebenaran itu semdiri. Ini pantasnya memang berlaku dan tercermin dan menjadi sikap dari siapa saja yang termasuk masyarakat Buddhis modern dewasa ini.

ITC Borobudur tampaknya juga ada pengaruh dari tradisi Buddhis negara lain, seperti di Srilanka, Myanmar, Thailand, Kamboja, dan Laos. Kegiatan membaca kitab suci atau chanting bersama merupakan bagian dari budaya Buddhis yang sangat kuat.

Srilanka memiliki tradisi Pirith Chanting yang dilakukan dalam komunitas besar. Thailand memiliki tradisi chanting dalam vihara kerajaan maupun acara nasional. Myanmar memiliki tradisi pembacaan Tipitaka dan perlombaan hafalan Tipitaka.

ITC Indonesia dapat dilihat sebagai bagian dari fenomena global Buddhadharma Theravada modern. Kegiatan ini berperan untuk menghidupkan kembali identitas tekstual dan komunitas melalui pembacaan bersama.

Kegiatan ITC yang dilakukan di Borobudur memunculkan dimensi sosiologis dan simbolik. Borobudur bukan sekadar bangunan kuno, tetapi simbol kebangkitan Buddhadharma Indonesia. Menghadirkan pembacaan Tipitaka di Borobudur menciptakan hubungan: teks suci dengan ruang sarkral melalui komunitas modern.

Seolah-olah batu-batu Borobudur yang diam selama berabad-abad, dimana terdapat relief perjalanan batin manusia, dan suara Tipitaka yang dilafalkan, bertemu kembali dalam suatu pengalaman spiritual bersama. ITC di bulan Asadha, ada suara Buddhadharma yang hidup.

Namun sebuah pertanyaan kritis mendasar filosofis bagi ITC tetap saja bisa hadir. Apakah ini kembali pada inti Buddha atau hanya menjadi spektakel agama? Jawabnya bisa dua kemungkinan: sisi positif dan sisi kritis.   

Sisi positif, memperkenalkan Tipitaka kepada umat bahkan menjadi sosialisasi dan internalisasi. Memperkuat pendidikan Dhamma, menciptakan solidaritas Buddhis, menghubungkan generasi muda dengan tradisi, dan mendekatkan hubungan atau relasi para anggota Sangha dengan umat berkenaan pembacaan kitab suci yang memasyarakat.

Sisi kritis untuk perimbangan. Jumlah peserta bisa menjadi simbol prestise, kemegahan acara dapat mengalahkan kedalaman meditasi, agama dapat masuk ke budaya pertunjukan modern.

Dalam perspektif Budhis, ukurannya tetap bukan: “Berapa ribu orang yang membaca Tipitaka?” tetapi: “Apakah setelah membaca Tipitaka, keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin berkurang?”

Bila ini berhasil, sungguh tak terkira sumbangan Buddhis Indonesia dalam hal ini kegiatan ITC mewujudkan masyarakat Indonesia menemukan kesejahteraan dan kebahagiaannya; terciptanya hidup damai, korupsi yang semakin berkurang, dan generasi yang tumbuh cerdas.

Bisa dirumuskan, Tipitaka Chanting Borobudur adalah bentuk Buddhadharma modern. Akarnya kuno dalam tradisi oral Sangha, tetapi bentuk massalnya adalah ekspresi zaman global. Tantangannya adalah menjaga agar suara ribuan manusia membaca Dhamma tidak berhenti sebagai gema kolektif, melainkan menjadi keheningan kebijaksanaan dalam diri masing-masing.

 

Suara Tipitaka dan Keheningan Hati

Selain dirumuskan, baiknya juga ada diberikan ilustrasi untuk perenungan yang lebih dalam. Di kaki Borobudur yang menyimpan jejak langkah pencari pencerahan, seorang perempuan berdiri dengan tangan yang telah lama belajar melayani. Ia bukan hanya melihat sebuah acara besar, bukan hanya ribuan suara yang bergema di antara batu-batu tua, tetapi melihat sebuah kesempatan kecil dalam hidupnya untuk menjadi jembatan bagi Dhamma.

Bertahun-tahun ia mempersiapkan untuk sebuah perhelatan seperti Tipitaka Chanting. Ia menghubungkan para bhikkhu, umat, relawan, dan mereka yang rindu mendengar kembali suara ajaran Buddha. Ia memastikan setiap halaman, setiap lantunan, setiap rangkaian acara berjalan dengan penuh penghormatan.

Ketika ribuan suara bersatu membaca Tipitaka, hatinya bergetar. Ia melihat sesuatu yang indah: Dhamma yang dahulu diwariskan dari guru ke murid, dari generasi ke generasi, kini kembali terdengar di tanah Nusantara. Suara-suara itu seperti aliran sungai panjang yang berasal dari zaman Buddha, mengalir melalui India, Srilanka, Asia Tenggara, hingga tiba di bawah langit Borobudur.

Ia bersyukur. “Bila dalam kehidupan ini aku dapat membantu ajaran Buddha tetap terdengar, semoga ini menjadi kebajikan,” bisiknya dalam hati.

Namun ketika ucapan selamat, pujian dari segala kalangan tinggal satu per satu, dan ketika panggung mulai kosong, ketika para peserta kembali pulang ke rumah masing-masing, ia duduk diam memandang stupa.

Dalam keheningan itu muncul sebuah perenungan. “Apakah Dhamma hanya hidup ketika ribuan orang berkumpul?” Ia tersenyum lembut. Ia menyadari bahwa pembacaan massal adalah sebuah persembahan yang indah, tetapi Dhamma sejatinya harus menemukan rumahnya di dalam batin setiap orang.

Sebab Buddha tidak hanya mengajarkan agar manusia mendengar suara kebenaran, tetapi agar manusia menjadikan kebenaran sebagai jalan hidup.

Satu orang yang setiap pagi membaca Dhamma dengan penuh perhatian, merenungkan maknanya, dan berusaha mengurangi kemarahan dalam dirinya, mungkin sedang melanjutkan semangat Tipitaka lebih dalam daripada ribuan suara yang hanya berhenti pada lantunan.

Baginya ITC bukanlah puncak perjalanan. ITC adalah sebuah pengingat. Seperti lonceng vihara yang berbunyi bukan untuk membuat orang terpukau pada suara lonceng, tetapi untuk membangunkan kesadaran, demikian pula Tipitaka Chanting bukan sekadar tentang suara yang terdengar di luar, melainkan tentang kebijaksanaan yang terbangun di dalam.

Ia berharap suatu hari umat Buddha tidak hanya menunggu acara besar untuk membaca Dhamma. Ia berharap di rumah-rumah sederhana, di pagi yang sunyi, di antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, ada seseorang membuka Tipitaka, membaca satu bait, lalu bertanya kepada dirinya.

“Apakah hari ini aku menjadi manusia yang lebih bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan?” karena akhirnya Dhamma tidak diabadikan hanya melalui panggung besar dan ribuan suara. Dhamma diabadikan setiap kali satu hati berubah.

Perempuan itu kembali memandang Borobudur. Ia tahu, batu-batu itu tetap berdiri bukan hanya karena pernah dipahat oleh tangan manusia, tetapi karena menyimpan pesan perjalanan batin.

Dan kini tugas manusia bukan hanya melestarikan suara Buddha, tetapi membiarkan suara itu menjadi kebijaksanaan yang hidup dalam keheningan hatinya dan kesadaran dirinya.

Semangat narasi perenungan ini menggambarkan ketegangan yang sering muncul dalam agama modern, termasuk Buddhadharma di Zaman Globalisasi Modern. Antara ritual kolektif sebagai ekspresi kebersamaan dan praktik personal individual sebagai jalan transformasi batin.

Dalam perspektif Buddhis yang memiliki “jalan tengah,” sebagai Darsana yang bersifat soteriologis atau filosofi spiritualitas Buddhis bersemangat perubahan batin atau pembebasan dukkha, keduanya dapat saling melengkapi. Satu menjaga warisan Dhamma dalam komunitas, yang lain memastikan Dhamma benar-benar menjadi pengalaman pembebasan. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://injourneydestination.id/2026/07/24/candi-borobudur-sambut-dua-ribu-umat-buddha-pada-indonesia-tipitaka-chanting-2026/

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?