Jangan Dibalik: Kebajikan Pondasinya – Kekayaan Ujungnya!

Home » Artikel » Jangan Dibalik: Kebajikan Pondasinya – Kekayaan Ujungnya!

Dilihat

Dilihat : 7 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Jangan Dibalik Pic

Oleh: Xie Zhen Ming

Editor: Majaputera Karniawan 谢偉强

Baru saja, saya mendapatkan sebuah pesan dalam WA group. Isi pesannya: Moral foundation and financial end. Idiom Tionghoa德本财末 (Pinyin:dé běn cái mò), yang berarti untuk memerintah negara dan bahkan tingkat dunia, kebajikan (De/Tek 德, bisa dimaknai sebagai moralitas juga) adalah pondasinya, dan kekayaan (Cai/Chai 财) datang dari kebajikan, maka manajemen finansial adalah ujungnya.

Idiom ini muncul dari kitab Li Ji 礼记 (Catatan Kesusilaan). Dalam kitab Da Xue 大学 Bab X: 7 (Ajaran Besar, salah satu dari 4 Kitab Si Shu) dikatakan “Kebajikan adalah esensi, kekayaan adalah ujungnya” Kong Ying Da Shu孔颖达疏 (Komentar dari cendekiawan Konfusius bernama Kong Ying Da 孔颖达 574-648M) berkata: “Kebajikan dapat memimpin kepada kekayaan. Kekayaan datang dari kebajikan. Maka sebab itu dikatakan kebajikan adalah pondasi dan kekayaan adalah ujungnya”

《礼记·大学》:「德者,本也;财者,末也。」孔颖达疏:「德能致财,财由德有,故德为本财为末也。」

“ Lǐjì · Dàxué” : “ Dé zhě, běn yě ; cái zhě, mò yě.” Kǒng Yǐngdá shū: “ Dé néng zhì cái, cái yóu dé yǒu, gù dé wéi běn cái wéi mò yě.”

Saya merasa terheran-heran terhadap si pengirim pesan. Tahun lalu saya sempat terlibat beberapa kali diskusi  panas dengan dia  menyangkut pandangan hidup. Pertama dia sangat gemar mencari tanah/ruko yang dijual murah-meriah karena tersangkut bank gelap. Dengan berdalih dia menolong orang yang membutuhkan uang secara cepat. Hemat saya, membeli tanah/ruko itu ada beberapa prinsip: Surat kepemilikan jelas, kita mampu beli, yang menjual iklas. Kita kan cuma orang biasa, bukan pengembang perumahan/badan usaha yang besar punya banyak dukungan, berani ramai. Yang berikutnya, saat terjadi kelangkaan oksigen medis. Dia berpendapat, jika ikut berbisnis oksigen medis dapat meraih keuntungan besar.

Waktu itu, saya sanggah: Coba kalau kamu berada pada posisi orang yang membutuhkan namun sengaja dipersulit untuk mendapatkan. Jengkel bukan?! Sekarang semua orang membutuhkan minyak goreng. Ada teman yang lain menjual minyak dengan harga lebih tinggi daripada patokan pemerintah, itupun bundling dengan produk lain. Seandainya saya berada pada posisi kebanyakan orang, tentu harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada anggaran. Butuh 1 liter minyak goreng, untuk dapat 1 liter minyak goreng seharga 15.000 harus belanja barang lain senilai 100.000. Total untuk dapat 1 liter minyak goreng saya harus membayar 100.000+15.000=115.000. Jauh lebih hemat membeli minyak 1 liter seharga 20.000.

Saya menjadi teringat sebuah cerita: Pada jaman dinasti Song, hiduplah seorang pejabat yang bernama: Fan Zhong Yan 范仲淹. Beliau memiliki prinsip: “Bersedia untuk berkorban, selama hal itu dapat bermanfaat bagi rakyat dan negara.” Ketika menjabat di daerah Tai Zhou泰州, para penduduk meminta beliau  memperbaiki tanggul laut. Kemudian, Fan Zhong Yan pindah tugas ke daerah Xing Hua 兴化, di tempat yang baru ini beliau juga membangun tanggul. Beberapa tahun kemudian, Fan Zhong Yan menjabat sebagai perdana menteri di ibukota kerajaan. Selama menjabat sebagai perdana menteri, Fan Zhong Yan memperbaiki birokrasi. Karena berselisih paham dengan pejabat yang kotor, Fan Zhong Yan  beberapa kali diturunkan jabatannya, hingga kembali menjadi pejabat rendahan.

Terlepas dari keuntungan dan kerugian pribadi, Fan Zhong Yan adalah seorang pejabat kerajaan yang dapat mengayomi rakyat. Selama hidupnya, Fan Zhong Yan menggunakan harta pribadinyai untuk membangun banyak desa, ladang, dan rumah penduduk,  membantu orang miskin, menyediakan sekolah bagi anak-anak. 

Maka dikatakan oleh Konfusius bila mengabaikan yang pokok (Kebajikan – De/Tek 德, red) dan mengutamakan yang ujung (Kekayaan – Cai/Chai 财, red) hal inilah yang meneladani rakyat untuk berebut (Da Xue大学Bab X: 8). Adanya rebut-rebutan minyak goreng, oksigen, masker, dan sebagainya yang kita semua lihat dalam beberapa tahun belakangan ini adalah akibat semakin banyak manusia yang mengutamakan kekayaan semata dan mengabaikan kebajikan. Bukankah demikian?

Selamat belajar, semoga bermanfaat….

 

Daftar Pustaka

  • Adegunawan, Suyena. 2018. Kompilasi 四书 – Si Shu Empat Kitab Klasik The Classic of Four Books. Bandung. Penerbit TSA.
  • Adegunawan, Suyena. 2018. Kompilasi礼记– Liji – Catatan Kesusilaan The Classic of Rites. Bandung. Penerbit TSA.
  • 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).
Butuh bantuan?