Jangan Menyanjung Atasan Atau Meremehkan Bawahan – Don’t Flatter Superiors or Belittle Those Below

Home » Artikel » Jangan Menyanjung Atasan Atau Meremehkan Bawahan – Don’t Flatter Superiors or Belittle Those Below

Dilihat

Dilihat : 23 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 120
  • 571
  • 278,647
Pic 3 Jangan Menyanjung

Oleh: Xie Zheng Ming 謝峥明

 

Pepatah kuno ini, “Jangan menyanjung atasan atau meremehkan bawahan,” berasal dari “I Ching 易经” dan memberikan pedoman filosofis untuk hubungan antarmanusia. Pepatah ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang-orang dari semua tingkatan dan posisi dengan hormat dan setara, daripada terlalu tunduk atau meremehkan. Pendekatan ini sangat penting untuk pengembangan karakter pribadi dan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

This ancient saying, “Don’t flatter superiors or belittle those below,” comes from the “I Ching 易经 (Adegunawan, 2020)” and provides a philosophical guideline for interpersonal relationships.  It teaches us to treat people of all levels and positions with respect and equality, rather than being overly submissive or dismissive. This approach is vital for personal character development and for creating a harmonious and thriving society.

Di dunia yang serba cepat saat ini, hubungan antarmanusia lebih rumit dari sebelumnya. Hal ini terutama berlaku dalam lingkungan pendidikan, seperti universitas, khususnya dalam interaksi guru-siswa dan antar sesama siswa. Sebagai mahasiswa baru, saya sangat menghargai pentingnya prinsip ini. Dalam diskusi kelas dan proyek kelompok, kita sering kali menemukan sudut pandang yang berbeda dari profesor dan mahasiswa senior. Jika kita memilih untuk mengikuti pendapat mereka karena takut atau merasa superior, kita mengabaikan prinsip ini.

In today’s fast-paced world, interpersonal relationships are more complicated than ever.  This is especially true in the educational setting, like university, particularly in the teacher-student and peer-to-peer interactions. As a new student, I’ve deeply appreciated the importance of this principle.  In class discussions and group projects, we frequently encounter differing viewpoints from professors and upperclassmen. If we choose to go along with their opinions out of fear or a sense of superiority, we disregard this principle.

“Jangan menyanjung atasan” berarti kita harus berinteraksi dengan pengajar kita dengan tulus, bukan dengan sanjungan. Saya telah mengamati beberapa mahasiswa baru yang secara membabi buta mengikuti ide-ide profesor di kelas, takut untuk menyuarakan pendapat yang berbeda karena khawatir menyinggung otoritas mereka. Mereka tetap diam atau menggunakan bahasa yang menjilat, menghindari kontradiksi yang dianggap ada. Meskipun ini berasal dari rasa hormat terhadap otoritas, hal ini menghambat pemikiran independen dan keberanian untuk mengungkapkan pandangan sendiri.

“Don’t flatter superiors” means we should interact with our instructors with sincerity, not flattery. I’ve observed some new students blindly follow professors’ ideas in class, afraid to voice differing opinions for fear of offending their authority. They remain silent or use flattering language instead, avoiding any perceived contradiction. While this stems from respect for authority, it hinders independent thinking and the courage to express one’s views.

Dalam kelas keadilan sosial, seorang profesor membahas tantangan pengajaran dan mengundang umpan balik dari mahasiswa. Seorang mahasiswa senior dengan cepat setuju dan dengan antusias menggemakan pandangan profesor. Meskipun ini tampak hormat, hal ini berpotensi membungkam suara mahasiswa yang lebih muda. Jika semua orang hanya setuju, kekayaan diskusi kelas dan beragam perspektif akan hilang, dan wacana akademis menjadi seragam.

In a social justice class, a professor discussed a teaching challenge and invited student feedback.  A senior student quickly agreed and enthusiastically echoed the professor’s views. While this seemed respectful, it potentially stifled the voices of the younger students.  If everyone just agrees, the richness of class discussion and diverse perspectives become lost, and academic discourse becomes uniform.

“Jangan meremehkan mereka yang berada di bawah” menekankan rasa hormat dan kesetaraan terhadap mereka yang berada di posisi bawahan. Terkadang mahasiswa senior atau profesor mengabaikan ide-ide mahasiswa baru, menganggap pendapat mereka tidak dewasa atau tidak penting. Hal ini mengurangi kepercayaan diri dan kreativitas mahasiswa. Ketika ide-ide mahasiswa terus-menerus ditantang dan diremehkan, mereka mulai meragukan pemikiran mereka sendiri, yang dapat menjadi kebiasaan, memengaruhi sikap belajar dan prestasi mereka.

“Don’t belittle those below” emphasizes respect and equality toward those in subordinate positions.  Sometimes upperclassmen or professors dismiss the ideas of new students, thinking their opinions are immature or unimportant.  This diminishes student confidence and creativity.  When students’ ideas are constantly challenged and belittled, they start doubting their own thinking, which can become a habit, affecting their learning attitude and achievements.

Mahasiswa senior sering merasa bertanggung jawab untuk membimbing mahasiswa baru karena pengalaman dan pengetahuan mereka. Namun, bimbingan tidak boleh berubah menjadi kritik terselubung atau sikap merendahkan. Lingkungan belajar yang sehat mendorong beragam suara dan pendapat, bukan menekan mereka demi otoritas. Guru dan mahasiswa senior yang saling menghormati menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan inklusif, mendorong benturan dan kolaborasi intelektual, yang mengarah pada pemahaman dan kerja sama yang lebih dalam.

Upperclassmen often feel a responsibility to guide new students due to their experience and knowledge. However, guidance should not turn into veiled criticism or condescension. A healthy learning environment fosters different voices and opinions, not stifles them for the sake of authority. Respectful teachers and upperclassmen create a more open and inclusive environment, fostering intellectual collisions and collaborations, leading to deeper understanding and cooperation.

Saya perhatikan bahwa banyak profesor hebat menyambut beragam sudut pandang dan menggunakan dialog yang penuh hormat untuk mendorong pembelajaran yang lebih mendalam. Mereka menciptakan diskusi kelas yang dinamis di mana mahasiswa dari semua angkatan merasa nyaman berbagi ide mereka, yang mengarah pada kesimpulan yang lebih kaya dan lebih bernuansa. Ini bermanfaat bagi mahasiswa dan menyegarkan ruang kelas serta komunitas universitas.

I’ve noticed that many excellent professors welcome diverse viewpoints and use respectful dialogue to promote deeper learning. They create dynamic class discussions where students of all years feel comfortable sharing their ideas, leading to richer and more nuanced conclusions. This benefits students and invigorates the classroom and university community.

“Jangan menyanjung atasan, jangan meremehkan bawahan” bukanlah prinsip yang terisolasi. Prinsip ini terkait erat dengan suasana sosial secara keseluruhan. Di dunia kita yang kaya informasi dan beragam, pedoman moral seperti itu sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan rasa hormat dasar dalam hubungan. Menyeimbangkan pertumbuhan individu dengan tanggung jawab sosial membantu membangun masyarakat yang lebih harmonis. Hal ini terutama berlaku dalam pendidikan, di mana rasa hormat dan kepercayaan antara siswa dan guru sangat penting untuk keberhasilan.

“Don’t flatter superiors, don’t belittle those below” isn’t an isolated principle. It’s intertwined with the overall social atmosphere.  In our information-rich and diverse world, such moral guidelines are crucial for maintaining basic trust and respect in relationships.  Balancing individual growth with societal responsibility helps build a more harmonious society. This is especially true in education, where respect and trust between students and teachers are critical to success.

Kesimpulannya, “Jangan menyanjung atasan, jangan meremehkan bawahan” lebih dari sekadar aturan untuk interaksi dengan orang-orang dari posisi yang berbeda. Ini mewakili pola pikir ketulusan dan kesetaraan. Memperlakukan semua orang dengan hormat, terlepas dari dinamika kekuasaan yang dirasakan, memungkinkan kita untuk menavigasi hubungan interpersonal yang kompleks secara efektif dan mencapai potensi penuh kita. Mari kita gunakan prinsip ini untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan saling percaya dalam hidup kita.

 

In conclusion, “Don’t flatter superiors, don’t belittle those below” is more than just a rule for interactions with people of different positions.  It represents a mindset of sincerity and equality. Treating everyone with respect, regardless of perceived power dynamics, enables us to navigate complex interpersonal relationships effectively and achieve our full potential. Let’s use this principle to create more harmonious and trusting relationships in our lives.

 

上交不谄,下交不渎

 

“上交不谄,下交不渎”这一古训源自《易经》,其深刻的内涵富有哲理,提供了人际交往的基本准则。这句话蕴含的智慧,提醒人们在与不同地位、不同身份的人交往时,需保持一种平等、尊重的态度,而非对上级阿谀奉承,对下级轻视忽略。这种态度不仅关乎个人的道德素养,也深刻影响着社会的和谐与发展。

 

在当今快节奏的现代社会,人际关系变得愈加复杂。在高校,这一现象愈加明显,尤其是在师生关系和同学之间的互动中。作为一名新生,我深切体会到“上交不谄,下交不渎”的重要性。在课堂讨论或小组项目中,我们常常会遇到教授或高年级同学的不同观点。此时,如果我们出于对权威的恐惧而选择迎合,或是出于对我辈新人的自我优越感而轻视,我们都在践踏着这一原则。

 

“上交不谄”,即与上级交往时不应谄媚,而是要以真诚的态度与其互动。在我的大学生活中,我注意到一些新生常常在课堂上对教授的观点持盲目追随的态度,生怕表达出不同意见会得罪权威。他们选择不敢质疑教授的教导,而是选择了沉默,或是用赞美的话语来迎合,生怕自己的声音会显得格格不入。这种现象固然源于对权威的尊重,但实质上却损害了自身独立思考的能力和表达观点的勇气。

 

在一堂关于社会公平的课程中,一位教授提出了其面临的教学困境,并在讨论中希望听到学生们的意见。这时,有一位高年级学生便立即表示赞同,并进一步连声附和,显得尤为热衷。虽然这种态度在表面上看似对教授的尊重,但实际上却是对新生们发声的压制。最终,课堂讨论仅限于少数人的观点,新生们失去了表达自我的机会。若每个学生都选择迎合,那么课堂的丰富性和思想的多样性将难以呈现,学术探讨也日益趋于单一。

 

而“下交不渎”则强调了对下级或弱势者的尊重与平等对待。在实际生活中,有一些高年级学生或老师在处理新生的意见时往往采用轻视的态度,认为他们的观点不够成熟或不值一提,这无疑会影响新生的自信心,抑制他们的创造力。当新生在讨论中每每受到“挑战”而被贬低时,他们会逐渐对自己的想法感到怀疑,久而久之,这种自我怀疑将形成惰性,影响他们的学习态度及成就。

 

高年级的学生常常因为自身的经历和知识储备,觉得自己有义务引导新生。然而,如果引导变成了无形的批评和轻蔑,那么这种“引导”就偏离了教育的初衷。在一个良好的学习环境中,我们应当鼓励和包容彼此的不同声音,而不是为了自身的权威而剥夺他人的表达权。一个尊重他人观点的教师,和一个尊重下级的学长,能够在课堂上创造出更加开放和包容的氛围,促使思想的碰撞与交流,最终达成更高层次的理解与合作。

 

在我的观察中,许多优秀的教授往往以开放的心态欢迎不同的声音,并以真诚的探讨促进学习的深入。他们能够在课程中创造出活跃的讨论氛围,使得每一位学生无论年级高低,都能毫无顾忌地分享自己的观点,最后共同探讨出更有深度的结论。这样的过程,不仅让学生们从中获益,也在科室和学校的氛围中注入了正向的生机与活力。

 

“上交不谄,下交不渎”并非孤立存在,它与社会的整体氛围息息相关。在这个信息爆炸、价值观多元的时代,我们愈加需要类似的道德标准来维持人与人之间的基本信任与尊重。当我们在个体发展与社会责任之间取得平衡时,我们也在为创造一个更和谐的社会而共同努力。在教育领域尤其如此,师生之间的尊重和信任是教育成败的关键。

 

总之,“上交不谄,下交不渎”,不仅仅是对待上下级的道德准则,更是一种生活态度。我们在与他人交往时,应以真诚待人,以平等的姿态来尊重每一个个体。只有保持自我,不因权力高低而改变自己的立场,才能在复杂的人际关系中游刃有余,真正实现自我价值。希望我们都能以此为准则,在未来的生活中,与他人建立更加和谐与互信的关系。

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Adegunawan, S. (2020). Kompilasi Kitab 易經 ( 易 ) – Yi Jing.

Gambar: https://kheru2006.livejournal.com/1748849.html. Diakses 2 Agustus 2026

 

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?