Jari Menunjuk Bulan Di Era Post Truth

Home » Artikel » Jari Menunjuk Bulan Di Era Post Truth

Dilihat

Dilihat : 69 Kali

Pengunjung

  • 15
  • 13
  • 37
  • 33,031
april 3

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

Hui Neng 慧能 adalah seorang Partriarkh ke 6 (Terakhir) dari Zen Buddhisme, ia hidup pada era 638-713 Masehi.  Sebagai master Zen, ia sangat dikenal karena kebijaksanaannya dalam mengupas khotbah-khotbah Dharma dan mengajarkan Dharma secara praktis.

Suatu ketika, saat Bhikhuni Wu Jin Cang menemuinya untuk bertanya tentang Mahaparinirvana Sutra yang belum juga dapat ia mengerti walaupun telah dipelajarinya selama bertahun-tahun. 

Bhikhuni Wu Jin Cang sangat terkejut saat mengetahui bahwa Master Hui Neng buta huruf adanya. Ia bertanya bagaimana sesepuh ke 6 tersebut dapat memahami kebenaran padahal ia tidak mampu membaca. 

Kala itu Bhikhuni Wu Jing menemui Master Hui Neng sambil membawa kitab Buddha. Katanya, “Guru, saya tidak mengerti dengan sutra (ajaran Buddha) di halaman sekian.”

Lalu Master Hui Neng berkata, “Bacakanlah untukku.”

Si Bhikhuni bertanya, “Bukankah guru seharusnya sudah hafal isi kitab ini di luar kepala? Jangan-jangan guru…”

Master Hui Neng menjawab, ” Benar sekali muridku, aku buta huruf sejak kecil. Jadi tidak mungkin bagiku untuk menghafal isi sebuah kitab.”

Si Bhikhuni kaget dan marah, “Jadi selama ini aku diajarkan oleh orang yang tidak bisa membaca dan menulis? Percuma aku belajar Zen darimu, tidak ada gunanya.!”

Master Hui Neng menjawabnya dengan tenang, “Muridku, tenanglah. Kau tahu apa ini?’, katanya sambil mengangkat telunjuknya.

Si murid menjawab, “Itu adalah jari telunjuk.”

Master Hui Neng menunjuk bulan sambil bertanya, “Kalau itu apa?”

Jawab si murid, “Itu adalah bulan.”

Master Hui Neng berkata lagi, “Kalau tidak kutunjuk dengan telunjukku, apakah kau bisa melihat bulan?” Si murid bertambah bingung.

Lanjut Hui Neng, “Telunjuk adalah kitab dan semua ajaran di dunia. Rembulan adalah kebenaran. Muridku, aku sudah bisa melihat rembulan tanpa bantuan telunjuk, bagaimana denganmu?”

Si murid pun akhirnya tersadar dan memohon maaf. Sebenarnya kalimat yang diucapkan oleh Master Hui Neng ini sangat menarik dan memiliki makna yang sangat dalam. Kisah inilah yang kemudian dikenal dengan kalimat filsafat Zen “Jari Menunjuk Bulan”.

Secara Semiotika, ‘Telunjuk’ dapat diibaratkan sebagai kitab suci, segala pengetahuan teoritis, ataupun segala pengalaman empirik berupa kata-kata dan tulisan yang kita dengar, baca, atau pun kita lihat. Sementara ‘Bulan’ adalah ibarat kebenaran (truth) yang hakiki itu sendiri.

‘Jari dapat menunjuk bulan’ dapat kita maknakan sebagai kitab suci dan semua pengetahuan yang kita kuasai dapat menunjukkan arah kepada kebenaran. Tapi, jangan lalu kita bersandar pada keyakinan bahwa kitab suci adalah kebenaran itu sendiri. Kebenaran adalah kebenaran. Kitab suci adalah kitab suci. Kata-kata adalah kata-kata. 

Adanya intensi manusia akan atribut seseorang seringkali membuat seseorang terjebak pada konsep satu arah semata bahwa ‘kata-kata bisa menunjukan kepada kebenaran hakiki’ dan pada akhirnya menjadikan kata-kata tersebut sebagai tujuan akhir perjuangan seseorang. Misalnya, ketika kata-kata tersebut tertulis di kitab suci, ataupun diucapkan oleh seseorang guru yang terkenal, maka dengan memperhatikan atribut berupa ‘Kesakralan’ dari kitab ataupun guru tersebut, kita melakukan generalisisasi bahwa kitab dan kata-kata itu adalah kebenaran itu sendiri, dan kebenaran tidak terlepas dari kitab tersebut. Sehingga kita berhenti untuk berpikir, menganalisa, dan berhenti untuk praktik.

Padahal sejatinya kebenaran hakiki melampaui kata-kata. Apa yang tertulis belum tentu 100% merefleksikan kebenaran itu sendiri. Misalnya dalam konteks kitab suci Tipitaka saja, Sang Buddha sering menggunakan kata ‘Banjir’ (Ogha), itu tidak selalu berarti banjir secara denotatif (sebenarnya), melainkan bisa berupa kata kiasan yang merujuk pada kebanjiran 4 kecenderungan batin yang buruk (Kama/Nafsu indrawi, Bhava/hasrat kemelekatan untuk menjadi sesuatu, Ditthi/pandangan salah, dan Avijja/ketidak-tahuan). Atau dalam kasus yang berbeda Sang Buddha mengatakan ‘Sang Naga’, ini bukan selalu Naga secara denotatif, melainkan bisa bermakna kata kiasan yang merujuk pada sosok yang agung bagaikan Naga. 

Sama seperti membaca nasihat melalui Ciamsi, ada syair sebagai penunjuk makna tapi kita perlu memberi atensi juga pada 28 Rasi bintang 二十八宿 (buat ciamsi 28 syair) atau Ka Ci 甲子 (buat syair 60) serta kondisi dan konteks pertanyaan. Ditambah adakah ranah subjektifitas yang terlibat di dalamnya. Baru bisa mendapati makna secara clear. Pada akhirnya ‘Makna Ciamsi’ adalah satu hal tujuan, sementara ‘Kertas Ciamsi dan teori penunjang’ adalah hal yang berbeda, seperti sebuah rakit penghantar saja.

Kebenaran yang ada pada kitab suci maupun teori-teori pengetahuan perlu direalisasi. Untuk merealisasinya, manusia memerlukan ketajaman berpikir dan beranalisa. Maka sejatinya manusia harus bisa melatih ketajaman analisis pikirannya. Sehingga bisa menuju penglihatan secara objektif apa adanya. Dalam ilmu pengetahuan ada yang dinamakan mengupas teks dalam praktis, seberapa tajam tentu bergantung si pengupas. Ketika telah bisa melihat dengan jelas sebagaimana adanya, manusia tidak bergantung 100% kepada pengantar teori dan teks lagi, karena semua itu sudah ia pahami dan hayati dalam kehidupan dirinya.

Hanya kadang, filsafat ini dimaknai secara keliru untuk mengesampingkan teori. No….ini soal ketajaman analisa dan sudut pandang. Filsafat ini sangat relevan dengan era Post truth (Pasca kebenaran) di mana fakta yang objektif kalah berpengaruh dibanding emosi atau keyakinan seseorang. Banyak orang yang meyakini sudah ‘Membawa’ kebenaran tersebut sehingga mengesampingkan teori. Padahal apa yang menjadi analisanya masih salah karena besarnya celah subjektifitas (keyakinan / emosi / pandangan pribadi) semata. 

Fakta kebenaran yang dimaksud dalam ‘Jari menunjuk bulan’ adalah: Dengan ilmu pengetahuan menujuk (melihat) kebenaran secara objektif dan tanpa tendensi. Bisa dikatakan seperti melihat secara jelas segala sesuatu secara apa adanya (As Well as It) tanpa menambahkan bumbu subjektifitas apapun. Jika kita telah melihat secara objektif, baru kita bisa melihat secara rill sekalipun tanpa bantuan teori.

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

 

Daftar Pustaka

Aditya, Yoga. 2021. “Apa Itu Post-truth? Ini Penjelasan Kemkominfo“. https://www.gatra.com/news-523787-teknologi-apa-itu-post-truth-ini-penjelasan-kemkominfo.html. Diakses 8 Maret 2023.

Chung, Tsai Chih. dan Koh Kok Kiang. 1991. Zen Membebaskan Pikiran. Jakarta. Karaniya 

http://kebajikandalamkehidupan.blogspot.com/2013/08/jari-telunjuk-dan-bulan.html. Diakses 8 Maret 2023.

http://kebajikandalamkehidupan.blogspot.com/2013/08/jari-telunjuk-dan-bulan.html. Diakses 8 Maret 2023.

Butuh bantuan?