Kartini: Spiritualitas Buddha dan Anak Klenteng Welahan

Home » Artikel » Kartini: Spiritualitas Buddha dan Anak Klenteng Welahan

Dilihat

Dilihat : 1 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
kartini pic

Oleh: Jo Priastana

 

“Orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman, tak peduli di bidang apa pun. Dan tiada ayal lagi, Kartini adalah seniman –di berbagai bidang pula. Dia menulis buku, melukis, membatik.”

(Pramoedya Ananta Toer, “Panggil Aku Kartini Saja” 1962)

 

Jepara Bumi Kartini, begitulah slogan yang kerap terlihat dipasang pada bus-bus atau mobil-mobil truk di jalan-jalan di berbagai kota di seluruh Indonesia, khususnya yang melintasi kota-kota di Jawa Tengah. Ya, Jepara memang tidak bisa dilepaskan dengan nama Kartini. Kebesaran kota Jepara adalah kebesaran Kartini juga.

Kota Jepara sudah sangat terkenal sejak dahulu kala. Dari kota kecil di utara Jawa Tengah inilah lahir Kartini pendekar bangsa Indonesia bagi kesetaraan kaumnya, kaum perempuan, yang sangat terkenal tidak hanya di Nusantara tapi juga menggema di mancanegara berkat surat-suratnya yang dikirimkan kepada sahabatnya di negeri Belanda yang akhirnya terkumpul menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Melalui surat-suratnya itu pula diketahui, ternyata pendekar kaum perempuan yang bernama Kartini itu mempunyai pertalian batin yang erat dengan ajaran Buddha, dan terutama dengan Klenteng Hian Thian Siang Tee di Welahan Jepara, dimana dia diakui sebagai anak (di-kwepang) oleh Toa-pekong Klenteng Hian Thian Siang Tee itu.

 

Habis Gelap Terbitlah Terang

Kita kenal Kartini sebagai tokoh perempuan dalam sejarah Indonesia yang paling terkenal memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi kaumnya. Raden Ajeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904), ini terkenal karena kecerdasan dan cita-citanya memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia untuk mencapai kesetaraan dengan kaum lelaki.

Siapa sangka, puteri dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingun (1880-1905), yang menjadi pahlawan nasional dan bercita-cita tinggi itu memetik spiritualitas perjuangannya juga dari ajaran Buddha. Bahkan menyangkut Buddha, Kartini memiliki pengalaman pribadi, sebuah pengalaman yang akhirnya  justru amat menentukan perjalanan hidupnya.

  Dalam suasana berkembangnya politik etis (politik balas budi pemerintah kolonial Belanda untuk memajukan anak negeri jajahannya), Kartini sebagai anak bupati dapat mengecap pendidikan sekolah dasar di Jepara. Namun cita-citanya untuk melanjutkan ke sekolah  yang lebih tinggi di Semarang atau Jakarta bahkan ke negeri Belanda ini terhalang oleh budaya bangsanya, lantaran karena dia adalah seorang perempuan, dimana gadis pada seusia dia sudah harus dipingit.

 Berbeda dengan pemuda-pemuda lainnya, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, Soetomo dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang dapat melanjutkan pendidikan tinggi bahkan sampai ke negeri Belanda, cita-cita tinggi Kartini kandas cuma lantaran dia seorang perempuan.

 Cita-citanya yang tinggi yang selalu bergemuruh di dalam dadanya itu hanya dapat ia tuangkan dalam surat-surat kepada sahabatnya di negeri Belanda dari tahun 1900-1904. Cita-citanya yang setinggi langit, kecerdasannya dan pandangannya yang luas bagi kemajuan bangsa dan kaum perempuan terlihat melalui surat-suratnya.

Surat-suratnya itu kemudian oleh Mr. J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda, pada tahun 1911 diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul Door duisternis tot licht. Buku ini kemudian diterjemahkan oleh Balai Pustaka dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Dalam buku itu tersirat duka derita batin Kartini yang berisikan gagasan-gagasan besarnya yang melampaui keadaan jamannya yang masih dibelenggu alam feodal. Pandangannya jauh ke depan dan nasionalismenya yang tebal serta hatinya penuh kasih sayang bagi pembebasan kesetaraan dan keadilan kaum perempuan bangsanya.

 

Melawan Egoisme

Gadis yang bercita-cita tinggi ini harus menerima nasib mati muda dan dinikahkan dengan lelaki yang berpoligami. Tapi semangat perjuangan dan pikiran-pikiran cerdasnya akan selalu memberi semangat dan inspirasi bagi setiap pejuang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi kaumnya di berbagai bidang.

 Siapa sangka, gadis Jepara yang bercita-cita tinggi di tengah himpitan dan belenggu yang harus dijalaninya ini ternyata juga memperoleh spiritualitas dari ajaran Sang Buddha. Bagi Kartini, perjuangan pembebasannya itu semata-mata ditujukan terhadap penghancuran egoisme. Kartini menganggap akar segala penindasan, feodalisme, penjajahan, ketidakadilan itu bersumber dari egoisme.

Dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja,” (Pramoedya Ananta Toer, 2000), dikatakan bahwa cinta agung Kartini itu datang dari kejijikannya yang mendalam terhadap egoisme yakni rangsang hidup yang berlebih-lebihan buat diri sendiri, yang mewujudkan dirinya dalam bentuk keserakahan yang melahirkan kezaliman, kepalsuan, atau seperti terwujud dalam feodalisme, penjajahan, pengekangan terhadap kemajuan. Kartini menaruh iba yang dalam terhadap sesamanya yang terkekang tanpa bisa membela diri.

Kesadaran dan persatuan didalam penderitaan itu menyebabkan ia mencintai semuanya itu, rakyat jelata yang menderita karena kaum feodal, anak-anak yang menderita karena orang tua yang tidak berpendidikan, perempuan yang menderita karena ajaran palsu tentang kebenaran. Sumber dari segala macam penderitaan itu adalah egoisme. Kartini tahu, tidak ada perubahan bakal terjadi kalau tiada seorang pun yang tampil ke depan atau ada yang memelopori. Dan Kartini pun tampil ke depan, menjadi pelopor kaumnya, pelopor kemajuan bangsanya!

 

Pejuang Kesetaraan Gender

Seperti legenda dalam kisah Bodhisattva Avalokitesvara di negeri Cina, dimana para Buddha di alam sana mengutus Sang Avalokitesvara yang terwujud dalam diri seorang perempuan muda, puteri Mio Shan (lihat buku, Buddhadharma dan Kesetaraan Gender, Yasodhara Puteri, 2005), maka demikian pula dengan Kartini. Masa waktu di mana jaman membutuhkan perubahan, sejarah justru memilih seorang perempuan, seorang gadis muda.

Kemunculan Kartini dengan cita-cita dan pikiran-pikirannya yang cerdas itu mengilhami pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi lainnya untuk berjuang menggerakkan kemerdekaan bangsanya. Kartini melancarkan perjuangannya dengan panji-panji cinta, dimana setiap detik ia bersedia memberikan segala-galanya tanpa ragu, tanpa sesuatu pun untuk dirinya sendiri. Bagi Kartini cinta itu tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberikan segala-galanya dan berhenti memberi apabila nafas telah berhenti menghembus.

Kartini menimba sumber semangatnya melalui bacaannya yang luas dan observasi yang tajam terhadap lingkungan di sekitarnya. Ia juga berkenalan dengan agama Buddha. Perkenalan Kartini dengan agama Buddha itu langsung kepada hakikat ajarannya.

Justru dari hakikat ajaran Buddha itu, Kartini mendapatkan patokan hidup baru untuk merebut kebahagiaan melalui penderitaan, bahagia bagi orang-orang lain dan penderitaan bagi dirinya sendiri yang dilakoninya secara konsekwen. Melalui pelajaran  dari banyak agama Kartini menganggap bahwa nilai manusia bukan terletak pada status dan keturunannya melainkan pada perbuatannya, amalnya pada sesama dan masyarakatnya.

Diantara buku-buku tentang Buddhisme yang dibacanya, Kartini membacanya dari karangan Henry Fielding, dimana tentang Fielding ini ia menulis (surat 10 Agustus 1901 kepada Dr. N. Adriani). “Itulah seorang idealis, yang mempropagandakan keyakinannya yang sangat indah, ‘mengalahkan kejahatan dengan cinta’. Sangat bagus dalam teori, tapi duh betapa sulitnya dalam praktek.”

Tapi tulisan itu bukanlah tulisan yang pertama kali dimana Kartini bersinggungan dengan Buddhisme. Sebelum ia memasuki teori tentang Buddhisme ini sebenarnya ia telah merasuki kepercayaan itu tanpa sengaja, yaitu melalui pengenalannya dengan patung suci Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara.

 

Vegetarian dan Anak Klenteng Welahan

 Dalam hidup keagamannya, Kartini sebagaimana dengan para leluhurnya, percaya adanya kekuasaan-kekuasaan dan kekuatan-kekuatan gaib, yang hidup dan bekerja, yang ia sendiri mungkin tidak memahaminya namun merasainya. Daya sinkretik leluhurnya masih bekerja di dalam jiwanya, sehingga ia yang sebagai seorang gadis Jawa  tanpa ragu-ragu dapat menerima anggapan baru dalam dirinya sebagai anak Buddha.

 Bahwa di dalam kehidupan batinnya yang sesungguhnya itu, Kartini sebenarnya mengakui akan ke-anak-Buddha-an-nya. Seperti  diketahui, pengakuan Kartini sebagai Anak-Buddha itu bersumber dari pengalaman pribadinya ketika kecil, yaitu ketika penyakitnya menjadi sembuh yang dianggapnya terjadi berkat meminum air abu dari patung suci yang terdapat di sebuah klenteng di Welahan, Jepara, Jawa Tengah.

Tentang pengalamannya ini, (termuat dalam “Panggil Aku Kartini Saja,” hal. 219-220, Surat 27 Oktober 1902, kepada Nyonya Abendanon), ia bercerita.

  “Aku adalah anak Buddha, dan sebutan itu saja sudah cukup jadi alasan bagiku  untuk tidak makan daging. Waktu aku masih bocah, aku jatuh sakit keras; para dokter tak sanggup menyembuhkan aku; mereka tak berpengharapan lagi. Maka adalah seorang Tionghoa, yang menjadi sahabat kami, yang menawarkan jasanya untuk menolong aku. Orang tua kami menerima tawaran itu dan sembuhlah aku. Obat-obatan orang-orang terpelajar itu tiada dapat menolong aku, tapi “perdukunan” itu ternyata dapat. Ia sembuhkan aku hanya dengan jalan memberi aku minum abu sesaji yang dipersembahkan kepada sebuah patung Tionghoa. Karena minum itulah aku menjdi anak orang suci Tionghoa itu, yaitu Santik-Kong dari Welahan. Kira-kira setahun yang lalu kami mengunjungi kembali orang suci itu. Arca itu kecil terbuat daripada emas, siang malam diukup dupa. Di musim-musim wabah patung ini dikeluarkan, di arak ketempat-tempat berjangkitnya wabah tersebut untuk menolak roh-roh jahat. Dengan bersemarak ulang tahun orang kudus tersebut dirayakan. Orang Tionghoa darimana-mana datang. Dari orang Tionghoa tua-tua kami dengan dongengan tentang arca emas tersebut, yaitu dongengan yang bagi mereka benar-benar hidup.” 

Sejak sembuh dari sakitnya semasa kecil sampai jauh kemudian hari, Kartini sukar melepaskan batinnya sebagai anak-Buddha, sekalipun itu menyebabkan terjadinya perselisihan faham dengan ayahnya. Perselisihan itu rupanya sedemikian melarutnya, dan dalam masa putus cinta ini, ia berpelukan erat-erat pada kepercayaannya pada patung suci dari Welahan itu. Dalam suratnya itu ia menulis,

     “… kasihan, kasihan Ayahku, baginya betapa akan baiknya kalau aku bukanlah anak-Buddha, dengan demikian dapatlah ia miliki aku seluruhnya dalam keadaaannya tidak terbagi, sekalipun di dalam kenang-kenangan saja.”

 Kemudian sejak sembuh dari sakitnya semasa kecil itu, ditambah dengan pengetahuan dari penghayatannya terhadap ajaran Buddha yang penuh cinta kasih, Kartini juga secara konsekuen terus menerus menjadi seorang vegetarian, dan ini membuktikan bahwa Kartini adalah seorang yang menggabungkan perjuangan cita-citanya dengan cinta kasih.

 

Cinta dan Cita-cita Kartini

Tanpa jera-jera Kartini, pejuang yang bercita-cita membebaskan kaumnya dari kebodohan ini berseru: Cinta! Cinta! Cinta sesama. Cinta pada jiwa-jiwa sederhana. Cinta pada sahabat-sahabat, pada jiwa-jiwa yang setia. Cinta pada umat manusia, cinta pada setiap makhluk, sampai-sampai ia menjadi vegetarian tidak makan daging. Cinta pada rakyat, sehingga ia tak pernah dapat melepaskan gagasan untuk tinggal bersama-sama rakyat jelata, cinta pada alam, cinta pada bumi kelahirannya.

Melalui ketajamannya menulis, Kartini telah berjuang agar perempuan tidak diperlakukan sebagai makhuk kelas dua, the second sex, yang dianggap sebagai budak tanpa hak dan kewajiban. Ia membuat catatan reflektif tentang kepedihan dan kepiluan eksistensi perempuan pada jamannya, meskipun kemudian ia sendiri menjadi korban dari budaya patriarki (budaya yang menempatkan lelaki paling berkuasa), menderita ketidak-adilan sosial karena gender. Namun begitu, toh pada akhirnya perjuangannya tidak sia-sia dalam mendorong munculnya gerakan emansipasi di Indonesia.

 Belajar dari Kartini yang menimba spiritualitasnya dari Buddha, kini perempuan Buddhis pun dapat menimba api semangat Kartini dan bersama-sama dengan gerakan emansipasi dan feminisme lainnya memperjuangkan kesetaraan perempuan di berbagai bidang terutama di dalam mendekonstruksi (menghancurkan) ideologi patriarki yang secara halus masih bersemayam di dalam kesadaran banyak orang.  (JP)

***

 

Sumber:

Majalah Perempuan Buddhis Kumari”, Edisi 03/Juni-Agustus 2002.

Hermanto Dharmasurya, ed. 2002. “Kartini Anak Buddha.” Jakarta: Yasodhara Puteri.

Butuh bantuan?