Kegagalan dalam Pendidikan

Home » Artikel » Kegagalan dalam Pendidikan

Dilihat

Dilihat : 89 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 22
  • 41
  • 29,359
kegagalan pendidikan

Oleh: Arya Karniawan

Bercita-cita menjadi seorang pendidik adalah cita-cita mulia yang dimiliki oleh sebagian anak ketika kecil. Cita-cita itupun juga menjadi cita-cita saya, tepatnya menjadi seorang guru agama Buddha. Saya sangat ingin menanamkan akar keyakinan yang kuat berlandaskan pengetahuan kepada kawula muda. Cita-cita itulah yang memotivasi saya untuk mengambil kuliah dengan jurusan Pendidikan Keagamaan Buddha. 

Empat tahun adalah proses yang cukup panjang dalam mengenyam pendidikan, hingga pada akhirnya saya menjadi seorang Sarjana. Setelah lulus pun, keinginan untuk mengajar sudah sampai ke ubun-ubun. Tidak terasa sudah puluhan lamaran ke berbagai sekolah saya kirimkan. Ada yang sempat diterima, namun pada akhirnya harus saya lepaskan karena jam mengajar yang terlalu banyak, yang mungkin akan mengganggu perkuliahan pascasarjana saya. Singkat cerita, saat ini saya dapat mengajar di suatu SMP di Jakarta.

Mengajar tentu tidaklah semudah yang dibayangkan oleh orang-orang. Sudah menjadi rahasia umum jika pengajar di Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah yang ada, mulai dari rasio kelas yang sangat tidak ideal, tugas-tugas administrasi guru yang cukup menyulitkan, keterbatasan sarana dan prasarana, murid-murid dengan berbagai latar belakang dan tingkat kecerdasan yang berbeda, dan belum lagi pengajar harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang ada. Dengan segala keterbatasan yang ada, adalah tidak mungkin untuk mencapai keadaan ideal untuk seluruh siswa yang diajar.

Para guru harus mengupayakan agar para siswanya mencapai keadaan terbaik yang bisa dicapai. Amit-amitnya, murid itu harus mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal/ KKM. Baik secara pengetahuan, keterampilan, dan moralitasnya. Namun, bagaimana jika murid tersebut tidak mencapai KKM? Jika murid tersebut tidak memenuhi KKM, maka dapat dikatakan bahwa murid tersebut mengalami kegagalan dalam pendidikannya.

Sebagai seorang pendidik, kita tentu tidak ingin peserta didik kita mengalami kegagalan. Jika terdapat peserta didik yang mengalami kegagalan, hal ini terkadang menjadi beban batin tersendiri bagi guru-guru yang berhati mulia. Seringkali, kita sebagai guru merasa gagal dalam mendidik murid-murid kita. Lantas, bagaimanakah menyikapi hal ini?

Yang perlu dipahami adalah, sebagai seorang guru, kita tidak perlu merasa terbebani oleh peserta didik kita yang mengalami kegagalan dalam pendidikannya apabila kita telah berupaya dengan semaksimal mungkin. Karena sejatinya, tidak semua orang dapat dididik, bahkan oleh guru terbaik sekalipun. Sebagai seorang Buddhis, saya meyakini bahwa Sang Buddha Gotama adalah guru terbaik yang ada. Bahkan dengan guru sebaik Beliau, terdapat orang-orang yang gagal Beliau didik.

Sebagai seorang guru, Sang Buddha membagi peserta didiknya menjadi empat jenis. Keempat jenis itu adalah: (1) seorang yang memahami dengan cepat; (2) seorang yang memahami melalui penjelasan terperinci; (3) seorang yang perlu dituntun; dan (4) seorang yang baginya kata-kata adalah maksimum.[1] 

Seorang yang memahami dengan cepat akan dapat menangkap makna ajaran dengan pengajaran secara ringkas. Seseorang yang memahami dengan penjelasan terperinci hanya membutuhkan penjelasan terperinci untuk mencapai tujuan pendidikan. Kedua jenis ini adalah bagaikan teratai yang sudah siap mekar.

Lalu ada tipe ketiga, yaitu orang-orang yang perlu dibimbing. Mereka perlu dibimbing secara bertahap agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Dan yang terakhir adalah orang-orang yang bagi mereka kata-kata adalah maksimum, yakni mereka yang diajari dengan cara apapun, tidak akan mencapai tujuan pendidikan/akan tetap gagal dalam pendidikan.

Lebih jauh, Sang Buddha pernah menyatakan, apabila seseorang salah mengambil langkah setelah mempelajari Ajaran-Nya, Beliau tidak dapat bertindak untuk menyelamatkannya. Karena pada hakikatnya, Beliau sendiri hanyalah penunjuk jalan. 

… Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna bertanya kepada Sang Bhagavā: “Ketika para siswa Guru Gotama dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian, apakah mereka semuanya mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, atau apakah beberapa di antara mereka tidak mencapainya?” 

“Ketika, Brahmana, mereka dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian, beberapa siswaKu mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya.”

“Guru Gotama, karena Nibbāna ada dan jalan menuju Nibbāna ada dan Guru Gotama juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika para siswa Guru Gotama dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian oleh Beliau, beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya?”

“Sehubungan dengan hal itu, Brahmana, Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu sebagai balasan. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu benar. Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah engkau mengenal baik jalan menuju Rājagaha?”

“Benar, Guru Gotama, aku mengenal baik jalan menuju Rājagaha.”

“Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seseorang yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat dan engkau akan sampai di sebuah desa tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan sampai di sebuah pemukiman tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’

Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia mengambil jalan yang salah dan pergi menuju ke barat. Kemudian orang ke dua yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat … dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’

Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia tiba dengan selamat di Rājagaha. Sekarang, Brahmana, karena Rājagaha ada dan jalan menuju Rājagaha ada, dan engkau juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika orang-orang itu yang telah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, seorang mengambil jalan yang salah dan pergi ke barat dan seorang lainnya sampai dengan selamat di Rājagaha?”

“Apakah yang dapat kulakukan sehubungan dengan hal itu, Guru Gotama? Aku hanyalah seorang yang menunjukkan jalan.”

“Demikian pula, Brahmana, Nibbāna ada, dan jalan menuju Nibbāna ada dan Aku juga ada sebagai penuntun. Namun ketika para siswaKu telah dinasihati dan diberikan instruksi demikian, beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna, tujuan Tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya. Apakah yang dapat Kulakukan sehubungan dengan hal itu, Brahmana? Sang Tathāgata hanyalah seorang yang menunjukkan jalan.” … [2]

Lantas, bagaimanakah seharusnya kita bertindak terhadap peserta didik yang tidak dapat dididik? Sang Buddha sendiri, setelah berusaha mendidik murid-Nya dengan berbagai cara, namun masih gagal dalam mendidiknya, maka Beliau akan ‘membunuhnya’. Perlu dicatat, ‘membunuh’ di sini bukanlah makna secara literal, namun ‘membunuh’ di sini adalah tidak berbicara dengannya.

… “Tetapi, Bhante, jika orang yang harus dijinakkan olehMu tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu metode ini, apakah yang Engkau lakukan terhadapnya?”

(4) “Jika orang yang harus dijinakkan olehKu tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu metode ini, maka Aku membunuhnya.”

“Tetapi, Bhante, adalah tidak diperbolehkan bagi Sang Bhagavā untuk membunuh. Namun Beliau mengatakan, ‘Maka Aku membunuhnya.’”

“Benar, Kesi, adalah tidak diperbolehkan bagi Sang Bhagavā untuk membunuh. Akan tetapi, jika orang yang harus dijinakkan olehKu tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui metode lembut, metode keras, atau metode lembut dan keras, maka Sang Tathāgata berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari, dan teman-temannya para bhikkhu, juga berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari. Karena ini, Kesi, adalah ‘pembunuhan’ dalam disiplin Yang Mulia: Sang Tathāgata berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari, dan teman-temannya para bhikkhu, juga berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari.” … [3]

Kesimpulannya, kita dapat berupaya dengan berbagai keterbatasan yang ada, untuk mendidik murid-murid kita agar dapat mencapai keadaan ‘ideal’ semaksimal mungkin, namun bagi peserta didik yang tidak dapat kita didik, janganlah membuang-buang energi kita terhadapnya dan menjadi beban ganjalan batin. Kita sendiri sebagai guru harus dapat fokus dalam mendidik murid-murid kita yang dapat kita didik.

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

Referensi

[1] Suttacentral (Legacy Version). Anguttara Nikaya 4.133 Dengan Pemahaman Cepat. https://legacy.suttacentral.net/id/an4.133. Diakses pada 31/12/2022 20.20 WIB. 

[2] Suttacentral (Legacy Version). Majjhima Nikaya 107. Gaṇakamoggallāna Sutta Kepada Gaṇaka Moggallāna. https://legacy.suttacentral.net/id/mn107. Diakses pada 31/12/2022 20.27 WIB. 

[3] Suttacentral (Legacy Version). Anguttara Nikaya 4.111 Kesi. https://legacy.suttacentral.net/id/an4.111.  Diakses pada 31/12/2022 20.37 WIB.

Butuh bantuan?