Kemajuan Tiongkok, Ideologi Xi Jinping dan Kontinuitas Peradaban Kuno

Home » Artikel » Kemajuan Tiongkok, Ideologi Xi Jinping dan Kontinuitas Peradaban Kuno

Dilihat

Dilihat : 6 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 216
  • 411
  • 283,937
Pic 2694

Oleh: Jo Priastana

 

“Dunia tidak perlu takut dengan Kebangkitan Singa Tiongkok,

Tetapi Singa ini adalah Singa yang Damai, Ramah, dan Beradab.”

(Xi Jinping, lahir 1953, Presiden Republik Rakyat Tiongkok sejak 2013)

 

Adakah kemajuan dan kebangkitan Tiongkok saat ini yang spektakuler tetap menyertai warisan kebijaksanaan dan sejarahnya yang telah menjadi karakteristik peradaban oriental? Memasuki negeri Tiongkok beberapa kali, memperlihatkan bahwa Tiongkok hari ini terasa seperti pertemuan antara negeri kuno ribuan tahun, sosialisme abad-ke 20, dan futurisme digital abad ke-21. Di satu sisi ada kuil tua, kaligrafi, ajaran Konfusius dan Tao, Buddha; di sisi lain ada AI, kamera pengawas, mobil listrik, situs spiritual yang dipulihkan atau dibangun baru, dan kota hiper-modern.

Sepertinya kemegahan masa lalu sedang beradu dengan kemajuan masa kini. Tiongkok yang telah keluar dari kemiskinan “zero poverty,” tetapi tetap menjaga peradaban kunonya dan sungguh membawa rakyatnya maju bahagia. Tampaknya Tiongkok juga memperhatikan kebesaran masa lalunya yang mengandung kebijaksanaan dan kekayaan spiritualitas. Sebuah peradaban lama sedang mencoba memasuki masa depan tanpa benar-benar memutus hubungan dengan akar sejarah dan budayanya sendiri. Peradaban maju Tiongkok masa kini yang bergerak seperti tidak meninggalkan warisan masa lalunya.

Berdiri di tepi sungai Huangpo di kota Shanghai yang begitu megah dan modern dengan latar belakang gedung pencakar langit, namun tetap terasa juga langsung mengingatkan suasana kota Shanghai masa lalu yang tergambar dalam film “The Bund” yang dibintangi Chou Yun Fat. Begitu pula, ketika berada di kota-kota besar dan kecil lainnya, terasa nuansa kemajuan Tiongkok yang bukan berarti menjadi Barat, melainkan menjadi “Tiongkok yang sepenuhnya modern.” Gambaran Tiongkok kini sering dilihat sebagai salah satu transformasi peradaban tercepat dalam sejarah modern.

 

Tiongkok Spektakuler

Dalam beberapa dekade, negeri yang dahulu identik dengan kemiskinan pasca-revolusi telah berubah menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan geopolitik lokal. Tetapi perkembangan itu juga membawa ketegangan sosial, pengawasan negara yang kuat, dan pertanyaan tentang arah manusia modern. Langkah Tiongkok dengan tidak meninggalkan kemegahan masa lalunya dengan kemajuannya di tengah iklim persaingan dan kompetisi dunia global saat ini begitu menarik dan selalu dinanti.

Secara ekonomi, Tiongkok berkembang dari “pabrik dunia” menjadi negara yang mulai memimpin banyak sektor strategis, seperti: manufaktur skala besar, kendaraan listrik, energi terbarukan, AI, infrastruktur, kereta cepat, e-commerce, hingga eksplorasi antariksa. Perusahaan seperti Huawei, BYD, Alibaba Group, dan Tancent menjadi simbol yang menunjukkan bahwa Tiongkok tidak lagi meniru teknologi Barat, tetapi mulai menciptakan ekosistem teknologisnya sendiri.

Dalam IPTEK, Tiongkok sangat menonjol, seperti terlihat pada jaringan kereta cepat terbesar di dunia, pembayaran digital nyaris tanpa uang tunai, AI dan pengenalan wajah, energi surya dan baterai, riset kuantum, serta program luar angkasa seperti Tiangong Space Station.

Secara sosial, jutaan orang keluar dari kemiskinan dalam waktu relatif singkat. Kota-kota seperti Shanghai, Shenzhen, dan Beijing, menjadi simbol modernitas Asia dengan gedung tinggi, transportasi cepat, kota digital, dan budaya kerja yang sangat kompetitif.

Tetapi di balik kemajuan itu ada sisi lain, seperti terjadinya tekanan kerja yang tinggi, budaya kompetisi ekstrem, pengawasan digital negara, kontrol informasi, kesenjangan kota-desa, krisis populasi manusia, dan juga pertanyaan tentang kebebasan individu.

Secara budaya, Tiongkok modern mencoba memadukan tradisi Konfusianisme, nasionalisme, sosialisme, dan futurisme teknologi. Film, game, sastra web, arsitektur, hingga festival tradisional kini hidup berdampingan dengan AI, robotika, dan kota pintar. Ada semacam usaha membangun kembali rasa “peradaban besar” setelah pengalaman kolonialisme dan abad penghinaan di masa lalu.

Dari sisi kekuatan negara, Tiongkok kini dipandang sebagai salah satu pusat kekuatan dunia bersama Amerika Serikat. Pengaruhnya terasa dalam berbagai bidang, melalui perdagangan global, proyek infrastruktur lintas negara, diplomasi, investasi, teknologi, dan kekuatan militernya.

Dari sisi geopolitik, Tiongkok di era Xi Jinping bergerak dari negara yang dulu cenderung “rendah hati” di panggung global menjadi kekuatan yang percaya diri, jauh lebih aktif dan strategis.

Kalau pada era Deng Xiaoping ada semangat: “sembunyikan kemampuan, tunggu waktu” maka di era Xi, Tiongkok lebih terbuka menunjukkan dirinya sebagai pusat kekuatan dunia dan bahkan sebagai alternatif tatanan global yang selama ini didominasi Barat.

Inti pemikiran geopolitik Xi Jinping bisa dipahami lewat beberapa hal, seperti: Kebangkitan Peradaban dan Negara Besar. Tiongkok tidak ingin hanya kaya secara ekonomi, tetapi juga dihormati sebagai kekuatan militer, pusat teknologi, pengaruh budaya, dan poros geopolitik dunia. Ada kesadaran historis kuat bahwa Tiongkok adalah negara yang pernah menjadi pusat peradaban Asia selama ribuan tahun sebelum “abad penghinaan” akibat kolonialisme dan perang candu.

Karena itu, kebangkitan Tiongkok sering dipandang oleh pemerintahnya sebagai bukan ekspansi baru, tetapi “kembalinya posisi historis.” Secara peradaban, sebagian pemikir melihat Tiongkok sedang mencoba menawarkan model modernitas alternatif. Tiongkok kini bukan liberalisme Barat klasik, tetapi modernitas yang kolektif, terpusat, stabil, teknokratis, dan sangat berorientasi negara.

 

Kekuatan dan Pengaruh Peradaban-Politik

Ada salah satu proyek paling simbolik era Xi Jinping, yaitu BRI (belt and road initiative) atau “jalur sutra baru” yang diluncurkan tahun 2013. Secara simbolik, Xi menghidupkan kembali imajinasi tentang jalur sutra kuno, perdagangan lintas Asia, hubungan peradaban, dan konektivitas Eurasia. Tetapi versi modernnya memakai pelabuhan, rel kereta, jalan raya, energi, kabel digital, dan investasi besar.

Tiongkok membangun atau membantu membiayai pelabuhan di Asia-Afrika, kereta cepat, kawasan industri, pembangkit listrik, dan jalur perdagangan global. Dari sudut pandang Tiongkok, BRI adalah: pembangunan bersama, konektivitas, perdagangan, dan multipolaritas dunia.

Namun, dari kritik Barat, BRI kadang dianggap sebagai alat pengaruh politik, diplomasi utang, atau cara memperluas pengaruh strategis Tiongkok. Realitasnya mungkin campuran keduanya, ada pembangunan nyata, tetapi juga kepentingan geopolitik nyata.

Di bidang diplomasi, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok kini lebih aktif dan tegas. Cirinya tampak dalam membangun hubungan dengan Global South, memperkuat BRICS, menyaingi pengaruh AS, mengurangi ketergantungan teknologi Barat, dan menciptakan sistem global yang lebih multipolar.

Tiongkok banyak menarik simpati negara berkembang karena menawarkan investasi cepat, infrastruktur, kerja sama ekonomi, tanpa terlalu banyak syarat politik ala Barat. Tetapi ada juga kekhawatiran misalnya dalam pengaruh politik, ketergantungan ekonomi, keamanan data, dan dominasi strategis.

Yang unik dari Tiongkok adalah bawa ia tidak hanya tampil sebagai negara-bangsa modern, tetapi juga sebagai “negara peradaban.” Artinya Tiongkok melihat dirinya bukan sekadar republik modern, melainkan kelanjutan sejarah panjang dari dinasti dalam lintasan sejarah, warisan kebijaksanaan, filsafat konfusius, administrasi birokratik kuno, hingga identitas budaya ribuan tahun.

Karena itu, geopolitik Tiongkok sering terasa berbeda dari Barat. Ia lebih menekankan stabilitas, kontinuitas sejarah, keharmonisan sosial, dan kekuatan negara pusat. Secara simbolik, dunia hari ini sedang melihat, di satu pihak Amerika mewakili modernitas liberal abad ke-20, sementara di lain pihak, Tiongkok sedang mencoba menawarkan modernitas alternatif abad ke-21. Tiongkok yang modern, teknologis, kolektif, nasional, dan berakar pada peradaban tua.

Itulah sebabnya banyak orang merasa kebangkitan Tiongkok bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal bagaimana atau “bisakah sebuah peradaban kuno memasuki masa depan tanpa menjadi Barat?” Seperti kata Xi Jinping sendiri: “Mewujudkan peremajaan besar bangsa Tiongkok adalah impian terbesar bagi bangsa Tiongkok di era modern.” dan “Impian Tiongkok pada dasarnya adalah impian rakyat. Impian ini hanya bisa dicapai melalui rakyat dan untuk rakyat,” yang tak lepas pula dari pendasaran ideologinya.

 

Ideologi Xi Jinping dan Marxisme Nasional

Banyak pengamat melihat pemimpin Tiongkok masa kini yang sudah tiga periode, Xi Jinping mencoba membawa Tiongkok maju tanpa “memutus rantai sejarahnya”. Berbeda dengan sebagian proyek modernitas yang ingin meninggalkan masa lalu, Xi justru sering menekankan “peremajaan peradaban Tiongkok” – bahwa Tiongkok modern harus tetap terhubung dengan akar sejarah, budaya, dan identitas nasionalnya.

Kalau Mao Zedong (1893-1976), pendiri Republik Rakyat Tiongkok punya slogan seperti: Great Leap Forward (lompatan Jauh ke Depan), dan Deng Xiaoping (1904-1997), pemimpin generasi kedua setelah Mao dan tokoh reformasi Tiongkok modern, terkenal dengan ungkapannya: “tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting menangkap tikus,” maka era Xi Jinping punya beberapa frase khas yang sangat penting. Salah satunya yang paling terkenal adalah “Zhonghua minzu weida fuxing, artinya Kebangkitan besar bangsa Tionghoa.”

Ini sering diterjemahkan sebagai: The Great Rejuvenation of the Chinese Nation. Frasa ini merupakan intisari ideologi Xi, yaitu: bukan sekadar ekonomi tumbuh, tetapi Tiongkok “bangkit kembali” sebagai peradaban besar setelah masa kemunduran dan kolonialisme.

Lalu ada konsep: Chinese Dream atau Impian Tiongkok. Mirip secara simbolik dengan American Dream, tetapi versinya Xi lebih kolektif daripada individual, intinya: kemakmuran nasional, stabilitas sosial, kekuatan negara, dan kebangkitan budaya/peradaban.

Ada juga slogan: Socialism with Chinese Characteristics for a New Era atau Sosialisme berciri khas Tiongkok untuk Era Baru. Ini sebenarnya kelanjutan garis Deng, tetapi di era Xi diperkuat kembali unsur-unsurnya seperti: ideologi, disiplin partai, nasionalisme, dan peran negara yang kuat.

Kalau Deng fokus membuka ekonomi secara pragmatis, Xi lebih menekankan pada kedaulatan teknologi, kekuatan negara, pengendalian strategis, dan identitas peradaban.

Karena itu, Tiongkok maju bukan hanya lewat pasar bebas, tetapi lewat kombinasi unik, seperti: kapitalisme terkontrol negara, perencanaan jangka panjang, investasi besar pada pendidikan dan infrastruktur, disiplin birokrasi, nasionalisme, serta budaya meritokrasi ujian dan kerja keras yang akarnya sudah tua sejak tradisi Konfusianisme.

Menariknya, Xi Jinping juga sering mengutip filsafat klasik Tiongkok. Ia tidak tampil sebagai revolusioner yang ingin menghancurkan masa lalu seperti masa awal revolusi budaya Mao, melainkan lebih seperti pemimpin yang ingin mengatakan: “Tiongkok modern harus menjadi masa depan, tetapi masa depan yang tetap merasa dirinya Tiongkok.”

Karena itu, di Tiongkok hari ini, orang bisa melihat: kereta super cepat melintas dekat kuil kuno, AI dan robot berdampingan dengan kaligrafi, komunisme berdampingan dengan tradisi konfusius, dan nasionalisme modern bercampur dengan kesadaran akan peradaban tua ribuan tahun. Karenanya kemajuan Tiongkok bukan berarti menjadi Barat tetapi tetap menjadi Tiongkok yang modern, maju spektakuler, karena dilapisi dan didasari ideologi yang dianut Xi Jinping, yang tidak melepaskan Marxisme.

Istilah Ten Classics of Marxism sering dikaitkan dengan Xi Jinping, dan ini biasanya merujuk pada kumpulan teks klasik Marxis yang dianjurkan untuk dipelajari kader dan masyarakat Tiongkok. Ini bukan karya Xi Jinping sendiri, melainkan kompilasi pemikiran tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, sampai Mao Zedong.

Dalam konteks Xi Jinping, yang menarik bukan hanya isi Marxismenya, tetapi bagaimana ia mencoba “mengawinkan” Marxisme dengan tradisi dan peradaban Tiongkok. Di bawah Xi, ada gagasan bahwa Marx tidak boleh diterapkan secara kaku, melainkan harus “di-sinisasi” (disesuaikan dengan konteks Tiongkok).

Karena itu, ideologi Xi sering terlihat sebagai campuran, dari Marxisme-Leninisme klasik, nasionalisme Tiongkok, warisan Mao, unsur Konfusianisme dan budaya klasik Tiongkok. Jadi kalau ditanya “gimana”, secara filosofis ideologi Xi Jinping. Jawabnya, Xi Jinping melihat Marxisme bukan sekadar teori ekonomi, tetapi sebagai kerangka moral, sejarah, dan kekuatan negara, lalu dipadukan dengan identitas budaya Tiongkok kuno.

Sebagian orang melihat ini sebagai kebangkitan ideologi komunis yang lebih serius setelah era pragmatis Deng Xiaoping. Sebagian lain melihatnya sebagai bentuk “Marxisme Nasional” yang lebih dekat ke proteksi peradaban dan kekuasaan negara daripada revolusi proletariat klasik.

Menariknya, Xi Jinping juga sering menekankan membaca “teks klasik Marxis” sebagai latihan intelektual dan moral, hampir seperti tradisi pembacaan kitab klasik dalam peradaban lama, misalnya dalam ajaran-ajaran Konfusianisme. Sebuah budaya mereguk kebijaksanaan yang tidak memisahkan teori dan praxis, dalam kehidupan sehari-hari atau kemajuan bangsa dan negara.

 

Seorang Tua di Tepi Sungai Huangpu

Seseorang di masa senjanya datang menengok tanah leluhurnya. Ia sampai di Tiongkok dan berdiri di tepi Sungai Huangpu. Saat itu senja perlahan menurunkan tirai emasnya di atas cakrawala Shanghai. Di hadapannya, menara-menara kaca menjulang seperti hutan cahaya. Pantulan lampu-lampu kota bergetar di permukaan air, seolah ribuan bintang turun dari langit dan memilih berdiam di bumi. Kapal-kapal melintas dengan tenang, membawa denyut kehidupan sebuah negeri yang bergerak cepat menuju masa depan.

Angin sungai menyentuh wajahnya yang telah dipahat usia. Ia teringat masa mudanya, ketika Tiongkok yang ia kenal dari buku-buku sejarah adalah negeri yang berkali-kali bangkit dari perang, kelaparan, dan pergolakan zaman. Kini ia berdiri menyaksikan sebuah wajah lain: jalan-jalan yang tertata, kereta cepat yang melesat seperti anak panah yang dia naiki dari Beijing ke Shanghai, kota-koita modern yang tumbuh dari tanah yang dahulu hanya ia kenal sebagai lembaran kisah kuno.

“Begitu jauh perjalanan bangsa ini,” gumamnya. Namun yang lebih membuatnya terdiam bukanlah gedung-gedung tinggi itu. Melainkan kenyataan di balik modernitas yang berkilau, ia masih menemukan jejak-jejak kebijksanaan tua yang belum lenyap.

Di taman-taman kota, para lansia berlatih tai chi saat fajar. Di kuil-kuil kuno, dupa masih mengepul membawa doa manusia kepada langit. Namun nama seperti Konfusius, Laozi, dan para bijak masa silam masih dikenang dalam sekolah, buku, dan percakapan sehari-hari. Buku kutipan-kutipan sajak Mao dia temukan di pasar tradisional kota Shanghai.

Seolah negeri ini berkata: “Kita boleh berjalan ke depan, tetapi kita tidak harus melupakan dari mana kita berasal.”

Orang tua itu memandang arus Huangpu yang mengalir tanpa henti. Ia teringat ajaran bijak Timur bahwa sungai tidak pernah menolak perubahan. Air yang mengalir hari ini bukan air yang kemarin, namun sungai tetaplah sungai. Mungkin demikian pula sebuah peradaban. Ia berubah, namun tidak kehilangan jiwanya.

Di kejauhan, layar raksasa menampilkan wajah Xi Jinping, pemimpin Tiongkok masa kini, dalam sebuah siaran publik. Sang Tua mengetahui di bawah kepemimpinannya, Tiongkok menempatkan pembangunan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan kebangkitan nasional.

Banyak warga memandang keberhasilan pembangunan dan pengurangan kemiskinan sebagai pencapaian besar zaman ini, sementara pengamat juga terus memperdebatkan berbagai tantangan dan konsekuensi dari model pembangunan tersebut.

Namun malam itu, sang tua tidak sedang memikirkan politik. Ia memikirkan peradaban. Tentang bagaimana sebuah bangsa berusaha menjawab pertanyaan yang sama sejak ribuan tahun lalu:  Bagaimana manusia hidup lebih sejahtera tanpa kehilangan kebijaksanaannya?

Lampu-lampu Shanghai semakin terang. Air Huangpu membawa pantulan masa lalu dan masa depan sekaligus. Sang tua memejamkan mata.

Dalam desir angin, ia seakan mendengar suara para leluhur Tiongkok berbisik dari kedalaman sejarah: “Bangunlah jembatan menuju masa depan, tetapi jangan bakar jalan yang menghubungkanmu dengan kebijaksanaan masa lalu.”

Ketika ia membuka mata kembali, kota itu masih berdiri megah di hadapannya. Modern seperti mimpi. Tua seperti gunung. Dan sungai Huangpu terus mengalir, membawa cerita sebuah peradaban yang berusaha memadukan kemajuan zaman dengan ingatan akar-akarnya. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: www.gov.cn

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?