Kemerosotan Moralitas Zaman Edan

Home » Artikel » Kemerosotan Moralitas Zaman Edan

Dilihat

Dilihat : 44 Kali

Pengunjung

  • 17
  • 1
  • 17
  • 30,758
pic moralitas zaman edan

Oleh: Jo Priastana

 

“Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus Zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman.” (R.Ng. Ronggowarsito, Selat Kalatida 1873)

 

Bila kegelapan nyata sudah dapat disembunyikan oleh terang yang direkayasa. Bila sikap hidup bersenang-senang telah dipandang sebagai tujuan akhir dari kehidupan. Bila pemupukan harta benda telah dipandang sebagai kebenaran yang nyata, maka dunia pun seakan berputar tanpa lagi mengenal siang dan malam, hitam dan putih.  

Adalah seorang R. Ng. Ronggowarsito yang berani melukiskan keedanannya zamannya dimana rambu-rambu moralitas dan kepantasan etika telah menjadi kabur. Adalah Ronggowarsito pencetus istilah “zaman edan” yang melukiskan kehidupan banyak orang semasanya yang terlena dalam mimpi duniawi dan sekaligus mengingatkan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan dalam menjalani kehidupan. 

Ronggowarsito adalah Pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat. Pujangga ini sering dikaitkan dengan ramalannya tentang “Zaman Edan” yang berkaitan dengan karyanya, Serat Jaka Lodang dan Serat Kalatida, tembang Sinom, pupuh 7. Dalam karyanya itu secara tegas ia  menyuratkan keadaan zamannya, dan yang kemudian menjadi pedoman kehidupan banyak orang karena dipandang begitu relevan dan kontekstual dengan keadaan yang berkembang.

 

Zaman Edan

Karya yang menyiratkan nada futuristik ini didalamnya memuat kalimat yang sangat terkenal dan fenomenal, yakni “Zaman Edan”. Istilah Zaman Edan yang akan selalu mengingatkan orang kepada pencetusnya, Ronggowarsito ini, lengkapnya berbunyi:

“Amenangi Zaman edan. Ewuh aya ing pambudi. Milu edan nora tahan. Yen tan milu anglakoni. Boya kadumen melik. Kaliren wekasanipun. Ndilalah kersa Allah. Begja begjane lali. Luwih begja kang eling law lan waspada.”

Secara harafiah, tembang Sinom tersebut memiliki arti sebagai berikut: 

“Menyaksikan zaman gila. Serba susah dalam bertindak. Ikut gila tidak akan tahan. Tapi kalau tidak mengikuti (gila). Tidak akan mendapat bagian. Kelaparan pada akhirnya. Namun telah menjadi kehendak Allah. Sebahagia-bahagianya orang yang lalai. Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat (sadar) dan waspada.”

Inikah zaman edan? Zaman dimana dalam suatu masa moralitas telah tidak lagi mendasari perilaku banyak orang. Zaman dimana segalanya menjadi begitu serba diperbolehkan dan tidak lagi jelas mana yang baik dan yang buruk. Zaman dimana segala kebaikan tampaknya

menjadi absurd dan tidak berdaya ketimbang segala keburukan yang merajalela karena memperoleh segala apa pun juga.

Ronggowarsito melukiskan situasi kehidupan pada zamannya, yang mungkin juga pemotretan situasi sosial dan perilaku manusia yang sekarang ini masih tetap berlaku. Secara historis, karya R. Ng. Ronggowarsito tersebut ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwono IX – yang kala itu dikelilingi oleh para penjilat yang menggemari mencari keuntungan pribadi maupun keuntungan golongannya saja dan haus kekuasaan, takhta, harta dan godaan wanita, suatu keadaan hedon dalam amoralitas.

 

Hedonisme dan Amoralitas

Suatu keadaan yang mungkin dapat disejajarkan dengan situasi saat ini dimana sikap hidup hedonisme yang menyertai perilaku amoralitas begitu menggejala.

“Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indera, pikirannya kacau dan tak pernah puas, akan berada dibawah kekuasaan Sang Penghancur/Kematian.” (Dhammapada 49)

Kini, ketika hedonisme yang menganjurkan agar manusia dapat mencapai kebahagiaannya melalui kenikmatan dan kesenangan (pleasure), sebagaimana yang dikatakan oleh filsuf Yunani Cyrenic (400 SM) tengah terjadi di sekeliling kita. Sepertinya apa yang tersurat di dalam karya R. Ng. Ronggowarsito itu benar-benar kembali menjadi kenyataan.

Zaman edan yang sarat dengan pengejaran kesenangan, harta takhta dan kenikmatan begitu meresapi segenap sendi-sendi kehidupan masyarakat kita dewasa ini. Berbagai perilaku buruk, kriminalitas, kejahatan, amoralitas, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, makan minum yang memabukkan, kebohongan dan tindak korupsi pun, penyalahgunaan kekuasaan menjadi hiasan pemandangan sehari-hari.

Tak ada yang bisa menyangkal, hidup dan kehidupan pun mengalami perubahan – misalnya, hilangnya rasa gotong royong dewasa ini – sehingga terjadilah pelbagai unjuk rasa yang merupakan tuntutan akibat terjadinya gejala pendangkalan makna hidup (kali ilang kedhunge), dan hilangnya standar normatif (wong wadon ilang wirange). Kaum humanis, moral, spiritual penjaga etik dan nurani bangsa tak kuasa untuk tak tampil meski mungkin hanya sekelompok kecil yang tanpa daya.

Ronggowarsito tidak hanya sekadar pujangga dan peramal, namun juga adalah seorang filsuf. Ia adalah filsuf besar yang pernah dimiliki nusantara. Ronggowarsito lahir 15 Maret 1802 dan wafat pada 24 Desember 1873. Kalimatnya “zaman edan” sangat terkenal dan senantiasa bergulir kembali ketika zaman memang benar-benar edan, zaman dimana moralitas tinggal 25%.

Masa dimana moralitas tinggal 25% adalah cermin dari Kaliyuga. Masa Kaliyuga berlangsung selama 360.000 tahun. Masa sekarang dimana manusia hidup termasuk abad Kaliyuga yaitu dalam ribuan tahun yang keenam. Abad Kaliyuga ini juga ditandai oleh zaman Pralaya dimana manusia mengharapkan hadirnya seorang penolong, pemimpin yang baik dan bermoral.

“Yang baik itu kalau mengerti akan hidup bermasyarakat dan bernegara, maka, di depan memberi teladan, di tengah menjadi penggerak, di belakang memberi daya kekuatan.” (Butir-butir Budaya Jawa).

           

Zaman Kemerosotan Moral

Kaliyuga adalah semaraknya kemerosotan moral yang dikenal juga sebagai zaman edan, zaman dimana perilaku baik yang menjadi teladan telah semakin langka. Zaman edan dimana kebaikan dan kebenaran tidak menjelma menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebaikan menjadi reklame dan sarana kuasa duniawi.   

Adakah abad Kaliyuga masa kini dengan kemoralam manusia yang tinggal 25% itu sejalan dengan Zaman Edan yang dicetuskan oleh Ronggowarsito? Tampaknya memang memiliki kesamaan. Gejala adanya kemerosotan masyarakat seperti dalam Zaman Edan itu sepertinya juga disinggung dalam Digha Nikaya III, (Corneles Wowor, dkk, 1990, “Pendidikan Agama Buddha, Universitas Terbuka,”: 221).

“Apabila kekayaan tidak dilimpahkan kepada kaum miskin, maka kemiskinan makin meluas di kalangan manusia; dengan demikian, pencurian pun merajalela … penggunaan senjata … pemusnahan kehidupan … penipuan … kebencian … pandangan salah … perzinahan di kalangan keluarga, nafsu birahi yang tak terkendali, nafsu birahi yang salah .. merajalela; maka berkuranglah penghormatan kepada orang tua, … kepada para pertapa dan brahmana … kepada kepala keluarga … Di kalangan umat manusia yang demikian kesepuluh jenis perbuatan baik digantikan oleh kesepuluh jenis perbuatan jahat; bahkan istilah “baik” tidak lagi dikenal, apalagi pembawa kebaikan … Mereka tidak lagi menghormati para pertapa dan brahmana … dan kepala keluarga … malah dipuji dan dihormati. Umat manusia akan terbenam dalam pergaulan bebas, seperti kambing dan domba, unggas dan babi. Di kalangan umat manusia yang demikian, saling membenci menjadi biasa, kejahatan, permusuhan, dorongan membunuh … menjadi biasa. Bagaikan pemburu melihat binatang buruannya, demikian pula mereka berpikir: ‘Di kalangan umat manusia akan muncul zaman senjata … di mana mereka memandang sesamanya (bukan sebagai manusia, melainkan) Sebagai binatang buruan’…  dan mereka saling membunuh sesamanya … Tetapi bilamana mereka kemudian berpikir: ‘Karena kita jatuh dalam kejahatan, kita menderita kerugian sanak saudara … Marilah kita sekarang berbuat baik … menghindari pembunuhan … marilah kita menghormati orang tua, menghormati para pertapa dan brahmana, menghormati para kepala keluarga … Maka diantara orang-orang demikian hanya akan ada tiga penyakit, yaitu: keinginan, kelaparan dan usia tua; dan dunia ini akan makmur dan sejahtera kembali  …”. (JP) ****

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: Ai creation image

Butuh bantuan?