Ketika Cinta Pertama Membawaku Pada Transformasi Kesadaran Beragama

Home » Artikel » Ketika Cinta Pertama Membawaku Pada Transformasi Kesadaran Beragama

Dilihat

Dilihat : 8 Kali

Pengunjung

  • 17
  • 1
  • 17
  • 30,758
Pic 5 Ketika Cinta Pertama

Oleh: Majaputera Karniawan (Sia Wie Kiong 謝偉強)

 

“Cinta bisa menghilangkan rasa sakit, dan juga bisa menimbulkan penyakit.”

(Rhoma Irama, Tung Keripit)

 

Petikan syair di atas memang berdasarkan pada keadaan sebenarnya. Adalah wajar bagi makhluk pada umumnya baik manusia maupun hewan memiliki rasa cinta. Rasa atraktif dari cinta ini akan menghantarkan orang pada bagaimana menikmati cinta itu sendiri. Cara orang menikmati cinta dan menjalani hari-hari cintanya tidak selalu negatif, meski memang dari cinta juga ada ranah seksualitas, namun cinta tidak selalu soal seks. Pada porsi yang lebih tinggi, cinta akan bicara bagaimana memaknai nilai antara pasangan satu sama lain.

 

Pada tahapan lebih lanjut, bukan hanya soal memaknai nilai, namun juga saling mengisi dan melengkapi. Meskipun pada akhirnya cinta tidak harus selalu memiliki, tetapi kehadiran dan kepergiannya bisa memberi kesan mendalam bagi para pelakunya.

 

Sebut saja soal kesadaran beragama. Berapa banyak orang menjadi lebih religius karena jatuh cinta pada mulanya? Kadang kala cinta sendiri menjadi pengantar seseorang menjalani kehidupan religi yang lebih baik.

 

Saya pribadi pernah memiliki cinta pertama, bisa dibilang cinta monyet. Kala itu kami yang masih duduk di kelas 2 SD bermain di taman sekolah bersama. Rupanya gadis yang saya kagumi adalah seorang penganut Buddhisme yang taat.

 

Kami tanpa sadar malah “Sparing” pengetahuan agama kami (meski kala itu masih setingkat pengetahuan anak kelas 2 SD). Mulai dari saling melantunkan beberapa paritta sambil bermain ayunan, hingga melantunkan mantra Mahakaruna Dharani/Da Bei Zou 大悲咒 bersama. Lucunya adalah kami berdua hafal mantra ini kala kelas 2 SD dan kami melantunkannya bersama sambil bermain ayunan. Sejak saat itu pandangan saya terhadap gadis yang saya kagumi juga berubah.

 

Saya memandang ia sebagai anak yang sangat taat pada Sang Buddha. Juga pada welas asih Dewi Kwan Im. Sikapnya selalu lemah lembut dan tidak mau merepotkan orang lain membuat saya merasa harus seperti ia. Minimal bisa mengimbangi karakternya. Pikiran saya kala itu, bila saya ingin seorang dewi, maka saya harus menjadi seorang dewa. Sesimpel itu dan kejadian itu mengubah cara pandang saya soal beragama, dari yang pada mulanya hanya karena disuruh orang tua menjadi kesadaran agar bisa mengimbangi calon pasangan saya.

 

Kami berpisah karena keluarganya pindah ke daerah Pademangan di kala pertengahan kelas 3 SD. Saat itu selama 3 hari saya menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan rembulan malam. Mengapa kita harus berpisah? Apa kita tidak ditakdirkan untuk bersama? Ya mungkin itulah masa-masa saya paling bodoh dihajar mabuk cinta monyet.

 

Suatu saat saya memperoleh nomor teleponnya. Bahkan konyolnya sampai saat ini saya masih ingat nomor teleponnya 021-64006** (demi alasan privasi saya tidak tampilkan 2 nomor terakhir). Akhirnya kami kembali berhubungan.

 

Hanya saja hubungan lewat telepon sudah tidak terasa sama. Mungkin, orang tuanya meminta “jangan pacaran kamu masih kecil” akhirnya ia pun berusaha menarik diri dari saya. Saya karena mengerti maksud tersebut memilih menghilang dari hidupnya. Meski begitu, saya bertekad dalam hati saya untuk mempelajari Buddha Dharma dan agama warisan leluhur sebagai bentuk menjaga komitmen sebelum kami berpisah untuk menjadi pribadi yang lebih baik sesuai Dharma.

 

Sekitar 15 tahun berlalu. Tanpa sadar cinta pertama saya berhasil mempengaruhi batin bawah sadar menjadi pribadi yang begitu religius. Saat ini, bahkan saya sudah selesai menempuh S2 Pendidikan Keagamaan Buddha, melakukan pelayanan Dharma di mana-mana sebagai umat awam, juga memiliki sebuah Sin Thua (Altar dewa) yang sudah aktif untuk pribadi sejak 2006 masa-masa saya masih mengenalnya. Hingga kini  Sin Thua telah aktif memberikan pelayanan spiritual tanpa batas dan biaya kepada siapa saja yang datang dan memerlukan bantuan.

 

Manusia terus berubah, meski saya tidak tahu saat ini dia di mana dan menjadi apa, dia di masa lalu telah berhasil menanamkan tapak jalan yang membuat saya bisa menjadi seperti saat ini. Ada kalanya benih-benih cinta malah berdampak anomali berupa transformasi ke arah lebih baik meski pada akhirnya kita tidak saling memiliki.

 

Jika kita belajar “sedikit lebih bijaksana”, sangat wajar bagi manusia memiliki perasaan ekspresif yang bisa menggugah hati kecil dan pikirannya. Kita sebut saja hal tersebut sebagai Lima musuh (Wu Zei 五贼) yang adalah:

  1. Kegembiraan (xi 希),
  2. Kegembiraan yang berlebihan (le 樂),
  3. Kesedihan (ai 哀),
  4. Nafsu keinginan (yu 欲), dan
  5. Amarah (nu 怒).

 

Keberadaan kelimanya bukan untuk selalu dimusuhi, tetapi kalau seseorang cukup bijaksana untuk memanfaatkan kelimanya dengan memahami cara kerja mereka sesuai jalan kebenaran, maka seluruh ruang dan waktu tersedia dalam genggamannya, dan ia sebagai pribadi akan terus menerima transformasi dari segala sesuatu (di sekitarnya), demikian sebaliknya segala sesuatu di sekitarnya juga akan menerima transformasi dari dirinya sendiri (黄帝阴符经 Huangdi Yinfu Jing).

 

Sebagai contoh mudah adalah bagaimana saya mengelola energi rasa cinta yang saya alami. Bagaimana energi rasa cinta yang saya alami bisa saya transformasikan menjadi bagian dari kultivasi batin saya. Hasil daripada kultivasi batin saya bisa berdampak pada semua yang ada di sekitar saya dan kemudian dampak positif tersebut kembali kepada diri saya. Demikian siklus ini berlangsung terus hingga kini.

 

Kita bisa melihat di serial-serial anime seperti Naruto yang pada awalnya bocah ingusan namun bertekad melindungi orang-orang yang dicintainya (seperti Sakura) pada akhirnya ia menjadi Hokage (Kepala desa). Meskipun pada akhirnya Sakura menjadi milik Sasuke dan ia sendiri menjadi milik Hinata.

 

Cinta tidak harus memiliki, tapi jadikan cinta yang hadir menjadi tenaga untuk mentransformasi batin ke arah lebih baik. Buatlah kesan meski cinta itu sudah tiada namun kehadirannya akan membawa kesan positif sepanjang hayat.

 

Daftar Pustaka:

https://setangkaidupa.com/artikel/%E9%BB%84%E5%B8%9D%E9%98%B4%E7%AC%A6%E7%BB%8F-huangdi-yinfu-jing-scripture-on-the-hidden-talisman-of-yellow-emperor-kitab-suci-kaisar-kuning-tentang-jimat-tersembunyi/. Diakses 4 Maret 2024.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Butuh bantuan?