Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan Yang Membebaskan

Home » Artikel » Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan Yang Membebaskan

Dilihat

Dilihat : 8 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
Pic Ki Hajar pikiran

Oleh: Jo Priastana

 

“Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggauta persatuan (rakyat)”

(Ki Hajar Dewantara 1889-1959)

 

Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, disingkat Hardiknas. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 tahun 1961 dalam rangka untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, tokoh penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia sejak masa penjajahan.

Raden Mas Soewardi Suryaningrat yang dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara berani mengeritik pemerintah Hindia Belanda karena hanya memberi akses pendidikan bagi keturunan Belanda dan kaum priyayi. Aspirasi Ki Hajar Dewantara menghendaki pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan dimaksudkan untuk memerdekakan manusia sejalan dengan keinginan untuk kemerdekaan dan pembebasan bangsa Indonesia dari kolonialisme Belanda.

Ada semboyan yang dibentuk Ki Hajar Dewantara dalam menerapkan sistem pendidikan Indonesia, yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti “Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoah tindakan yang baik.” Ing Madyo Mangun Karso yang berarti “Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Tut Wuri Handayani yang berarti “Di belakang guru harus bisa memberikan dorongan atau arahan.”

 

Pendidikan Yang Memerdekakan

Ki Hajar Dewantara banyak belajar model-model pendidikan dari tokoh-tokoh pendidikan seperti: Montessori, Froebel atau Rabindranath Tagore. Meski begitu, Ki Hajar Dewantara mempelajari model-model pendidikan dari luar itu dan menyesuaikannya untuk praktik pendidikan yang memperhatikan kondisi negeri, kebutuhan saat Indonesia jelang merdeka. Aspirasi ini juga sejalan dengan tokoh Proklamator Bung Hatta tentang pentingnya peranan pendidikan bagi kemerdekaan dan menciptakan manusia merdeka.

Pendidikan yang memerdekakan dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) ini juga sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan. Paulo Freire (1921-1997), seorang filsuf dan ahli pendidikan berkebangsaan Brasil mengemukakan pendidikan yang membebaskan dalam arti anti kolonialis. Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan harus menjadi upaya untuk membebaskan diri dari segala macam bentuk penjajahan dan penindasan.

Baik Paulo Freire maupun Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi yang memerdekakan jiwa, mencerdaskan dan mensejahterahkan anak didik terbebas dari segala belenggu dan ikatan kebodohan maupun kemiskinan. Zaman sekarang, zaman merdeka, meski begitu kiranya apa yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara itu juga masih relevan, sebagaimana kini terbukti hadirnya kurikulum merdeka belajar, meski entah apakah sejalan dengan apa yang dimaksud Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan.

Buddhadharma dikenal juga sebagai pendidikan. Buddhadharma dikenal karena Sang Buddha mengajarkan dharmanya. Ketika Sang Buddha mengajar pertama kali adalah suatu proses pendidikan. Sang Buddha membangkitkan potensi siswanya, benih-benih kebuddhaan, kodrat terdalam diri manusia yang memungkinkan para siswa mengalami transformasi atau perubahan, tercerahkan sehingga mampu menghadapi tantangan kehidupannya dengan baik. Buddhadharma sebagai pendidikan bertujuan membebaskan manusia dari belenggu kebodohan (avijja), menjadi manusia merdeka dari segenap kekotoran batin.

 

Buddhadharma Sebagai Pendidikan

Buddha mengajar pada kepada segenap makhluk hidup sehingga memperoleh julukan “Satta Deva Manussanam atau Guru para dewa dan manusia.” Pergerakan Buddha sebagai guru menjadi cermin bahwa Buddhadharma itu mengandung misi pendidikan pembebasan, membawa manusia tercerahkan, habis gelap terbitlah terang, memerdekakan manusia dari belenggu, keterikatan akan kebodohan (moha), keserakahan (lobha) dan kebencian (dosa).

Pendidikan dan Kemerdekaan sejalan dengan misi Buddhadharma dalam Dharmacakra atau pemutaran roda dharma. Dhamma mengandung pendidikan yang mengandung misi mulia untuk pencerahan dan pembebasan, menumbuhkan kodrat terdalam diri manusia, benih-benih kebuddhaan dalam praksis moralitas (sila), samadhi dan tumbuhnya prajna (pandangan terang).

Sīla, samadhi, dan pañña yang dapat menjadi sumber bagi tumbuhnya nilai-nilai keutamaan manusia, seperti: kejujuran, bersaing sehat, disiplin yang diperlukan anak didik dalam menjawab tantangan global, masa depannya. Sīla (moralitas) menjadi standar kehidupan umat Buddha dan pejalan kesucian Bhikkhu.

Sīla menjadi dasar pendidikan dan pelatihan agama Buddha yang bertujuan mencapai pencerahan, pandangan terang, kebijaksanaan (wisdom, prajna), modal kecerdasan kebijaksanaan yang sangat penting untuk dapat menyikapi perubahan zaman dan berperan dalam mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pengajaran Buddhadharma adalah juga untuk mencapai kebijaksanaan, karena kebijaksanan akan menghalau kebodohan batin.

 “The goal of Buddha’s teaching-the goal of Buddhist education is to attain wisdom. In Sanskrit, the language of ancient India, the Buddhist wisdom was called ―Anuttara-Samyak-Sambodhi, meaning the perfect ultimate wisdom. The Buddha taught us that the main objective of our practice or cultivation was to achieve this ultimate wisdom. The Buddha further taught us that everyone has the potential to realize this state of ultimate wisdom, as it is an intrinsic part of our nature, not something one obtains externally.” (V.K. Maheshwari, Former Principal K.L.D.A.V (P. G) College, Roorkee, India, 2012)

 

Pendidikan Yang Membebaskan

Prajna atau kebijaksdanaan merupakan pikiran yang tercerahkan, kesadaran yang telah bangkit, manusia yang merdeka dari belenggu kebodohan. Dalai Lama mengungkapkan pencerahan kesadaran ini mengandung dua aspek yaitu: kepedulian terhadap orang lain yang menderita melalui karuna atau compassion, serta sejalan kebangkitan dari potensi kebuddhaan dalam diri manusia itu sendiri yang menimbulkan pencerahan, pandangan terang, kebijaksanaan, wisdom atau prajna.

The scriptures explain that the awakening mind is a mind with two aspirations. It is a mental consciousness induced by (1) an aspiration to fulfill the purposes of others, assisted by (2) an aspiration to achieve Buddhahood. Based on such reflections and thoughts we examine the meaning of enlightenment, as stated in the following lines: Compassion focusing on sentient beings, and wisdom focusing on enlightenment”, (Dalai Lama 2012:4-5).

Pencerahan dan compassion tidak dapat dipisahkan dan merupakan tujuan dari pendidikan Buddhadharma untuk terbebasnya manusia dari penderitaaan, memerdekakan manusia dari belenggu atau keterikatan kebodohan, keserakahan, kebencian. Dengan begitu, Buddhadharma sebagai Pendidikan adalah juga bersifat pembebasan, memerdekakan manusia dari belenggu penderitaannya dengan kasih sayang, compassion dan kebijaksanaan prajna. Sebagai pendidikan, Buddhadharma merupakan alat pembebasan, solusi bagi pemecahan masalah manusia tentang penderitaan.

Buddhism is not a religion for the spiritually inclined. Buddhism is not a philosophy for intellectuals. Buddhism is a technology by which atheists can find true happiness. It is the solution to the riddle that has plagued those of us so inclined down through the centuries — the riddle of finding a way to maintain our integrity in our sense of what is right (right in the sense that a square is made of ninety-degree angles) and yet to find happiness in the bargain. (Webster’s Dictionary)

Pembebasan berdasarkan kasih sayang mencerminkan tumbuhnya prajna, pandangan terang yang mampu melihat bahwa pada dasarnya segenap fenomena itu saling ketergantungan atau saling terhubung satu sama lain. Penderitaan dan belenggu yang melekati manusia disebabkan oleh berbagai faktor dan kondisi yang saling berhubungan satu sama lain. Nilai-nilai kemanusiaan itu melandasi relasi atau hubungan antara manusia, dan nilai-nilai humanis pantas tercermin dalam pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan.

Pendidikan yang membebaskan atau juga pendidikan yang memerdekakan masih harus  terus diperjuangkan. Pendidikan tampaknya adalah suatu proses yang tidak selesai dalam memerdekakan manusia. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimilikinya agar bisa tumbuh dan berkembang menjadi manusia. Pendidikan merupakan suatu proses menyangkut pengembangan potensi manusia sebagaimana proses kebuddhaan yang maih terus berlangsung dan bermanifestasi. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar:

https://voi.id/memori/14007/sisi-radikal-ki-hajar-dewantara

https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6698269/profil-ki-hadjar-dewantara-tokoh-pelopor-pendidikan-nasional

Butuh bantuan?