Kisah-kisah Buddhis Dibalik Minuman Keras

Home » Artikel » Kisah-kisah Buddhis Dibalik Minuman Keras

Dilihat

Dilihat : 5 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Majaputera Karniawan 谢偉强 

 

Meminum minuman keras dan anggur, yang berulang-ulang dilakukan, dikembangkan, dan dilatih, adalah kondusif untuk mencapai neraka, mencapai alam binatang, dan mencapai alam hantu menderita; Bagi seorang yang terlahir kembali sebagai manusia, meminum minuman keras dan anggur paling sedikit adalah kondusif untuk mengalami kegilaan. Inilah nasihat Buddha yang beliau sampaikan pada AN. 8.40. Duccaritavipāka Sutta. Memang bisa dikatakan demikian karena minuman keras yang dipergunakan secara berlebihan dan dijadikan rutinitas akan menyebabkan melemahnya kesadaran. Saat lemahnya kesadaran seseorang memungkinkannya untuk berbuat hal-hal buruk di luar kendalinya.

A. DARI SAKTI SAMPAI JADI PECUNDANG

Ambil contoh di balik kisah minuman keras dapat membuat seorang bhikkhu sakti yang bisa melawan naga sebelumnya, menjadi tidak bisa bertarung lagi, bahkan untuk sekedar melawan kadal. Sang Buddha memiliki seorang murid  sakti bernama Bhikkhu Sagata, ia mampu mengalahkan seekor naga bernama Ambatittha yang membakar desa, setelah ia mampu mengalahkan naga, penduduk desa sangat menghargainya, karena penduduk desa menghargai jasanya, mereka berpikir bagaimana cara berterima kasih kepada Bhikkhu Sagata. Akhirnya mereka bertanya kepada grup bhikkhu ‘Nakal’ yang terdiri dari enam orang (Chabbagiya Bhikkhu). Keenam bhikkhu nakal tersebut memberikan saran agar warga desa memberikan minuman keras Kapotika kepada Bhikkhu Sagata.

Sekedar diketahui bahwa Kapotika adalah minuman keras yang berwarna merah terang seperti kaki burung merpati, sulit didapat sehingga berharga cukup mahal. Setelah para penduduk desa mendapatkan minuman keras tersebut, mereka memberikan minuman tersebut kepada Bhikkhu Sagata. Segera, Ia meminum arak Kapotika tersebut sampai mabuk, pada akhirnya ia menjadi mabuk dan bergerak kesana-kemari.

Ia pun dengan keadaan mabuk berat, terkapar di gerbang kota tak sadarkan diri, bahkan untuk bertarung dengan seekor kadal saja ia tidak mampu. Sang Buddha meminta para bhikkhu memapahnya kembali ke Arama, dan setelah sampai di Kuti Bhikkhu Sagata segera tertidur dengan posisi kaki menjurus kepada Sang Buddha (tidak sopan). Sang Buddha pun melihat fenomena ini mengingatkan kepada para bhikkhu tentang bahaya minuman keras. (Vin. Pc51. Surāpānasikkhāpadaṃ).

 

B. KISAH ASAL MULA TERCIPTANYA MINUMAN KERAS

Dahulu kala di daerah pegunungan Himalaya, Ada sebuah pohon tumbuh tinggi seperti seorang manusia yang tangannya dijulurkan di atas kepala, dan terbagi ke dalam tiga bagian. Dibagian tengah dari tiga cabang tersebut terdapat satu lubang sebesar kendi anggur. Saat hujan, lubang ini akan dipenuhi dengan air. Di sekelilingnya tumbuh tanaman Kedekai (Terminalia citrina), Malaka (Phyllanthus emblic), dan tanaman lada hitam.

Buah yang matang dari tanaman-tanaman ini jatuh ke dalam lubang tersebut. Tidak jauh dari pohon ini terdapat tanaman padi yang tumbuh liar. Burung-burung Nuri yang bertengger di atas pohon ini, mematuk bagian atas padi itu dan memakannya. Ketika sedang makan, padi dan sekam (ragi alami) turut jatuh ke dalam lubang. Karena terjadi fermentasi oleh panasnya matahari, maka air di lubang itu berubah warna menjadi merah darah. Di saat cuaca panas, kelompok-kelompok burung yang merasa haus akan meminum air itu dan menjadi mabuk, terjatuh ke kaki pohon. Setelah tertidur beberapa lama, mereka kemudian terbang kembali sambil berkicau dengan gembira.

Ada seorang pemburu bernama Sura yang berasal dari Kasi kebetulan melihat kejadian ini, tidak hanya burung-burung bahkan anjing huta, babi liar, kera, dan lainnya. Mereka pingsan lalu bangun dengan ekspresi gembira. Ia berpikir ‘Ini bukan racun, kalau racun mereka pasti sudah mati.’ Ia pun ikut meminumnya dan menjadi mabuk, ingin makan daging dan mulai menyembelih beberapa hewan di sekitarnya. Saat itu seorang petapa bernama Varuna mendatanginya, ia pun turut meminumnya dan menjadi mabuk (kelak minuman keras disebut surā dan vāruṇī).

Mereka mulai memproduksi minuman tersebut secara massal dan memperkenalkannya kepada Raja Kota Kasi, Raja Kota Saketa, dan Raja Kota Savatthi secara bertahap ketiga penduduk kota bersama rajanya hanya menjadi peminum yang malas bekerja, sehingga ekonomi kota tersebut hancur. Raja Savatthi yang hampir saja meminum minuman keras tersebut berhasil dicegah Raja Dewa Sakka, ia mengatakan bahwa di minuman tersebut mengandung bahan yang dapat membuat siapapun yang meminumnya melakukan hal-hal memalukan di luar kesadarannya, karena keadaan mabuk dapat membuat seseorang menjadi lengah. Akhirnya Raja Savatthi tidak meminum minuman keras itu dan berhasil mempertahankan kedaulatan wilayah, rakyat, dan pemerintahannya (Ja512. Kumbha-Jātaka).

Kisah ini memiliki alur yang sama dengan kisah Du Kang 杜康 sang Dewa Arak dari Negeri Tiongkok. Legenda mengatakan bahwa Du Kang dipercaya sebagai penemu proses fermentasi pembuatan arak di Tiongkok. Dikatakan pada zaman Kaisar Kuning (Huang Di 黄帝), Du Kang adalah penanggung jawab untuk pengelolaan pangan. Saat itu, dengan berkembangnya teknologi pertanian, masyarakat dapat memanen gandum setiap tahun. Saat itu ada kendala berupa terjadi lebih banyak bahan pangan daripada yang dapat dikonsumsi, sehingga kelebihannya hanya bisa disimpan di gua. Seiring waktu, semua stok pangan itu membusuk. Du Kang memikirkan bagaimana cara menyimpan dan mengawetkan gandum agar lebih tahan lama.

Suatu ketika, Du Kang pergi ke hutan dan menemukan beberapa pohon besar yang sudah mati, hanya menyisakan batang yang tebal dan kosong. Iapun segera menyimpan sejumlah besar biji-bijian ke dalam batang pohon tersebut. Setelah beberapa waktu, Du Kang kembali ke hutan untuk memeriksa, ia terkejut menemukan bahwa beberapa babi hutan, kambing, dan kelinci tergeletak di depan pohon mati tempat biji-bijian disimpan, tidak bergerak bagaikan sudah mati.

Du Kang segera memeriksa apa yang terjadi, rupanya batang biji-bijian telah retak, dan air merembes dari retakan-retakan itu. Tampaknya hewan-hewan ini menjilat air sebelum jatuh terbaring. Du Kang membungkuk untuk mencium aroma air itu, dan merasakan aroma memabukkan melayang menerpa wajahnya. Du Kang mencicipi cairan beraroma kuat ini beberapa teguk, dan merasa lebih segar. Pada akhirnya, Du Kang membawa pulang sedikit cairan baru tersebut dan mempersilakan orang lain mencicipi, semua orang mengatakan rasanya enak. Perlahan-lahan, cairan baru yang diberi nama 酒 Jiu, Arak, ini menjadi populer di masyarakat, dan Du Kang pun dihormati sebagai “Dewa Arak” (Dalam Rio, 2021).

 

C. BOLEH KOK KALAU SEBAGAI OBAT

Polemik minuman keras sebenarnya sudah cukup lama diperdebatkan, biar bagaimanapun keberadaan minuman keras juga memiliki kontribusi dalam dunia pengobatan khususnya dalam pengobatan herbal tradisional tionghoa bahkan india. Misalnya ambil contoh ketika kasus Bhikkhu Pilindavaccha sakit masuk angin dan meminta seorang tabib mengobati. Saat itu minuman keras harus dicampurkan ke dalam minyak didih. Sang Buddha pun memberi izin dengan berkata “Para Bhikkhu, Saya mengizinkan kalian untuk mencampur minuman keras ke dalam minyak didih.” Ketika itu kelenggangan dari Sang Buddha disalah gunakan kelompok enam bhikkhu (Chabbagiya Bhikkhu) dengan secara serampangan mencampur minuman keras terlalu banyak ke dalam minyak didih. Setelah minum, jelas mereka mabu

Akhirnnya Sang Buddha sendiri memberikan batasan agar tidak ada penyalah gunaan minuman keras lagi.  Beliau berkata: “Para Bhikkhu, minyak yang bercampur dengan minuman keras yang terlalu banyak tidak boleh diminum. Barang siapa yang minum (demikian) akan ditindak sesuai peraturan. Para Bhikkhu, Saya mengizinkan kalian, jika tidak ada warna, aroma, maupun cita rasa minuman keras di dalam minyak didih, barulah campuran minuman keras dengan minyak didih boleh diminum.”. Lalu bagaimana jika seorang bhikkhu terlanjur mencampur terlalu banyak minuman keras di dalam obat/minyak? Ia bisa menggunakannya sebagai bahan untuk membuat salep sebagai obat luar, namun tidak dikonsumsi (Vin. Kd. 6. Bhesaj­jak­khan­dhaka, Pilindavacchavatthu).

Sebagai penutup, gunakan arak dan minuman keras apapun dengan bijaksana, bukan untuk bermabuk-mabukan, namun sebatas untuk tujuan kesehatan dan kebugaran. Dalam agama tradisi Tionghoa seperti Taoisme dan Ruisme, arak menjadi sesuatu yang sakral karena banyak ritual memerlukan arak seperti sembahyang atau memandikan rupang dewa dari kayu. Arak bisa menjadi sesuatu yang sakral atau sesuatu yang profan, sebagai obat ataupun sebagai racun, semua kembali kepada kebijaksanaan penggunanya sendiri.

 

Rio, Gabriel. 2021. Du Kang, Dewa Arak Tiongkok Kuno. https://www.facebook.com/groups/739235906943507/permalink/961541618046267/. Diakses 29 Juli 2022.

Wijaya, Wisnu. 2019. VINAYA-PIṬAKA Volume IV (MAHĀVAGGA). Medan. Indonesia Tipitaka Center.

Suttacentral (Online Legacy Version). 2015. Anguttara Nikaya. http://legacy.suttacental.net/an. Diakses 29 Juli 2022.

Thamrin, Chaidir. 2012. VINAYA-PIṬAKA Volume II (SUTTAVIBHAṄGA). Medan. Indonesia Tipitaka Center.

Butuh bantuan?