Kitab Sarasamusccaya (Sarasamuccaya, Pustaka Suci Agama Hindu)

Home » Artikel » Kitab Sarasamusccaya (Sarasamuccaya, Pustaka Suci Agama Hindu)

Dilihat

Dilihat : 110 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
apr 1

Pengantar: Majaputera Karniawan, M.Pd.

Kitab Sarasamusccaya adalah salah satu pustaka suci agama Hindu (Smerti) yang terdiri dari 511 Sloka (ayat), berbahasa sansekerta dan jawa kuno, berisikan ajaran-ajaran pendidikan, filsafat, etika, dan pelatihan diri. Disusun oleh Bhagawan Wararuci sekitar abad 9-10 masehi. Sarasamusccaya bila diartikan secara harfiah adalah Himpunan yang lengkap dan sempurna. Konstruksinya mirip dengan kitab suci Dhammapada dalam agama Buddha.

Kitab ini relatif universal dan agak jauh dari unsur dogmatis keagamaan. Sehingga hampir semua isi kitab ini bisa diterima hampir semua kalangan tanpa merasa keberatan karena memang sebagian besar ajarannya bersifat kemanusiaan dan universal. Dari 511 sloka ada 35 pembagian (dibuat oleh masyarakat modern dengan tujuan membuatnya mudah dipahami) Untuk lebih mudah dipahami, pengelompokannya akan kami sajikan di sini bersama penjelasan/resensi setiap bagiannya, yakni:

Bagian 1. Tujuan hidup manusia

Bicara tentang manfaat dan karunia kesempatan terlahir sebagai manusia yang harus dimanfaatkan untuk  mengembangkan kebajikan dan melebur segala kejahatan.

Bagian 2, Hakikat Kebenaran

Bicara tentang dalam kehidupan manusia bisa saja mengejar kekayaan dan kesenangan, namun sebelumnya harus benar2 teguh memupuk kebajikan & kebenaran dahulu (seakan besok sudah mati). Dengan senantiasa melakukan kebajikan dan kebenaran (sekalipun ia hanya pekerja rendahan) ia tidak akan menyusahkan orang lain dan senantiasa membawa manfaat bagi siapapun, semesta secara otomatis akan melindungi, mencukupi bahkan melimpahi kebutuhan hidupnya  karena ia bersikap selaras dengan hukum kebenaran yang adi duniawi.

Bagian 3, Kebenaran Agama

Bicara tentang bahwasannya semua agama mengajarkan tujuan yang sama, yakni kebajikan dan kebenaran. Hanya dengan caranya masing-masing yang berbeda dalam mencari dan merealisasi kebenaran. Tetapi perlu diwaspadai beragama yang bingung, dalam arti beragama yang tidak benar seperti kebenaran dan tuhan hanya milik kelompoknya, kebenaran kelompok dianggap kebenaran untuk semua, atau kebenaran ada di dalam gua, dsb.

Bagian 4, Sumber Kebenaran 

Bicara tentang bagaimana menguliti wahyu tuhan dalam teks kitab suci dengan teliti dan cerdas, pelajari tafisirnya, termasuk dikontekstualisasikan dengan aturan etika moral yang berlaku dalam masyarakat. Dengan cara ini bisa merealisasi sumber kebenaran dari teks. Bila tidak dilakukan dgn benar (dangkal analisisnya), wahyu tuhan hanya akan dijadikan alat pembenaran bagi tindakan sesat seseorang.

Bagian 5, Kebaikan dan Kebenaran

Bicara tentang sifat hakiki kebajikan dan kebenaran yang tanpa ikatan sehingga tidak ekslusif dimiliki perorangan/kelompok tertentu, juga sebagian besar manusia yang tidak memahami kebenaran hanya hidup tanpa tujuan dan semata menunggu mati. Maka seseorang perlu senantiasa menganalisa perbuatannya apa sudah sesuai dengan kebajikan dan kebenaran, setelah dipahami simpan dalam hati. Dalam bertindak hendaknya tepasalira, apa yg diri sendiri tidak inginkan, jangan lakukan pada orang lain. Dengan senantiasa berjalan sesuai kebenaran, maka ia akan secara ajaib berkelimpahan segala kebutuhannya.

Bagian 6, Pekerjaan dan Profesi

Menjelaskan tentang 4 golongan pekerjaan masyarakat pada masa lalu (Agamawan, negarawan, usahawan, dan pelayan) beserta segala kewajiban dan tugasnya. Profesi apapun yang dijalankan tidak boleh bersikap egois, tahan godaan, serta bersikap altruis (orang lain juga bagian dari diri sendiri). Serta makna humanis tentang surga (sukses dalam pengendalian nafsu) dan neraka (kegagalan dalam mengendalikan nafsu).

Bagian 7, Trikaya Parisuda

Bagian ini bicara tentang 3 jalur perbuatan dan 10 perbuatan salah yang bisa dilakukan (3 lewat jalur tindakan, 4 lewat jalur ucapan, 3 lewat jalur pikiran). Juga penjelasan bahwa semua perbuatan baik atau buruk semuanya ditentukan pikiran. Objek yang sepenuhnya menjijikan seperti liur akan digandrungi ketika sedang birahi, ini semua karena perbedaan dalam pikiran seseorang.

Bagian 8, Pengendalian Indra

Bagian ini berisi nasihat untuk mengendalikan indera, bagi mereka yang ingin bahagia jangan lewat jalan menindas mahluk lain, jangan menginginkan sesuatu yang mustahil, atau dengki dengan pencapaian orang lain.

Bagian 9, Kesabaran

Menjelaskan tentang manfaat kesabaran hati sebagai kekayaan yang utama.

Bagian 10, Kemarahan

Berisi tentang bahaya menjadi pribadi yang tempramental (memiliki banyak musuh, hidup tidak tenang, dsb). Bagi orang yang sudah paham konsep Tat Twam Asi (Itu adalah engkau, Dia adalah kamu, aku adalah dia, engkau adalah aku, dst) maka akan muncul rasa altruistik dan tidak egois. Bagian ini juga menjelaskan bahwa minuman keras boleh diminum hanya bagi mereka yang sudah bisa mengendalikan indera-inderanya.

Bagian 11, Dunia Akhirat

Bagian ini menjelaskan konsep dunia akhirat dimana adanya penghakiman atas perbuatan. Juga berisi nasihat walaupun seseorang ragu terhadap alam akhirat dan hukum karma, setidaknya tetaplah jauhkan diri dari perbuatan jahat, dengan jalan ini seseorang tidak akan sengsara di dunia.

Bagian 12, Perkataan – Berbahasa

Bicara tentang etika dan manfaat menjaga perkataan (tidak berbohong, mencaci, memfitnah, mengumpat, dan mencela) agar selalu membawa kebaikan, sekalipun berniat baik tapi kalau disampaikan dengan kurang baik, akan membawa masalah dan menyakiti perasaan lawan bicaranya.

Bagian 13, Kebenaran

Bagian ini menjelaskan bahwasannya di dalam dirinya, manusia memiliki kebebasan untuk memilih meminum obat (kebenaran) atau racun (kejahatan). Bahkan ritual, kurban, sedekah, dan kias tidak sebanding dengan manfaat nilai kebajikan kebenaran dalam mencerahkan batin. Selanjutnya berisi nasihat agar orang hidup dengan benar. Termasuk soal berbohong demi kebaikan menyelamatkan banyak nyawa, dipandang tindakan bijaksana dan sesuai kebenaran.

Bagian 14, Ahimsa (Tidak menyakiti)

Berisi ajaran-ajaran untuk tidak menyakiti mahluk lain, sebagian darinya juga menganjurkan tidak membunuh untuk makanan, menghargai kehidupan setiap mahluk walaupun kecil.

Bagian 15, Mencuri

Berisi nasihat akan akibat buruk apabila terlibat dalam pencurian, serta nasihat agar mengutamakan menolong orang sakit, teraniaya, butuh perlindungan, dan miskin.

Bagian 16, Memperkosa

Berisi nasihat agar seseorang menjauhi perbuatan asulila, menguraikan bahaya perbuatan asusila rudapaksa, yakni mendatangkan bahaya  dan konflik.

Bagian 17, Kesusilaan

Berisi sejumlah nasihat akan etika peraturan moral masyarakat yang perlu dipenuhi (menghindari pikiran, perkataan, dan perbuatan yang mengarah pada kejahatan dan pembunuhan). Orang dihormati karena moralitasnya, bahkan seorang agamawan sepuh tidak layak dihormati apabila tidak bermoral, sebaliknya orang miskin yang bermoral lebih patut dihormati.

Bagian 18, Sedekah

Berisi nasihat tentang manfaat dan bahaya apabila seseorang tidak sedekah. Sedekah tidak selalu material, bisa berupa imaterial, dilakukan semampunya namun penuh ketulusan dan tanpa tendensi menonjolkan diri. Sedekah akan bermanfaat besar bila dilakukan dengan tulus diiringi menjaga moral dan dengan penerima yang bermoral baik, besar kecilnya pahala bergantung pada keiklasan (kualitas sedekah) bukan jumlahnya (kuantitas sedekah).

Bagian 19, Etika Anak Terhadap Orang Tua

Berisi banyak nasihat dan etika moral dalam berperilaku terhadap orang tua (ibu dan ayah) maupun orang yang dituakan seperti guru maupun agamawan yang bijaksana. Berisi perilaku apa yang harus dilalukan dan tidak boleh dilakukan dalam rangka berbakti kepada mereka. Juga dijelaskan 4 jenis pahala dari berbakti pada orang tua (Pujian, hidup bahagia-panjang umur, teman setia-kekuasaan, dan jasa-pertolongan).

Bagian 20, Pengendalian diri (Brata)

Bagian ini menjelaskan 10 poin yang harus dilakukan untuk mengendalikan hawa nafsu (Yama Brata), dan 10 poin yang harus dikerjakan untuk meneguhkan mental (Niyama Brata). Beserta kerugian apabila tidak melatihnya.

Bagian 21, Harta Kekayaan

Bagian ini berisi nasihat pemanfaatan harta kekayaan dengan jalan kebenaran, disarankan bila seseorang mendapat laba hasil usaha membaginya jadi 3: untuk mengamalkan kebajikan, untuk kebutuhan hidup, dan untuk keberlangsungan usaha. Nasihat-nasihat beramal dan berketerlibatan sosial (engage) juga banyak di sini. Terakhir soal pemanfaatan kekayaan dari hasil kejahatan untuk kebajikan sebaiknya jangan pernah dilakukan.

Bagian 22, Kesenangan

Menjelaskan tentang 4 bidang kesenangan: 1. Senang di masa kini, tidak senang di masa lain; 2. Tidak senang di masa kini, senang di masa lain; 3. Senang di masa kini dan lain; 4. Tidak senang di masa kini dan lain. Beserta segala akibat dan penyebabnya.

Bagian 23, Kemiskinan

Menjelaskan dua jenis miskin yakni miskin harta dan miskin jiwa, keduanya memiliki akibat buruk, maka dari itu seseorang hendaknya berusaha memakmurkan dirinya dan keluar dari jerat kemiskinan. Bagian ini juga menjelaskan tentang sebab orang selalu gagal dalam usaha, yakni karena dulu tidak melakukan perbuatan bajik sehingga saat ini hidup berkekurangan.

Bagian 24, Pergaulan

Berisi nasihat-nasihat tentang pergaulan, kriteria orang yang tidak layak dan layak untuk diajak bergaul, disertai bahaya bergaul dengan orang yang salah serta manfaat bergaul dengan orang yang tepat dan bijaksana.

Bagian 25, Hukum Sebab Akibat

Bagian ini menjelaskan tentang hakikat-hakikat hukum sebab akibat (Karma Vipaksa), beserta sifatnya yang tidak bsia ditolak, dijauhkan, maupun dipercepat.

Bagian 26, Kematian 

Berisi nasihat-nasihat yang berhubungan dengan kematian, bahwasannya hidup ini singkat dan sebagai mahluk hidup berada di bawah bayang-bayang kematian, maka kita tidak boleh lengah dan bermalas malasan, terus berbuat bajik untuk bekal saat dan setelah kematian.

Bagian 27, Jalan Para Leluhur dan Para dewa

Bahwasannya ada dua jalan untuk merealisasi alam surga, yakni Pitrayana (Jalan para leluhur, cocok bagi perumahtangga: Lewat pelaksanaan pengorbanan, pengendalian diri lewat moral etika, dan teguh pada kebenaran) maupun lewat Dewayana (Jalan lepas dari ikatan nafsu duniawi dan ego). Beserta kelebihan dan kekurangannya.

Bagian 28, Diri sendiri

Berisi nasihat bahwasannya sahabat maupun musuh sejati seseorang adalah dirinya sendiri. Bagaimana ia membina pikiran dan perilaku menentukan apakah ia menjadi musuh atau sahabat bagi dirinya sendiri.

Bagian 29, Kebodohan

Bagian ini menjelaskan bahaya kebodohan dan nasihat untuk melenyapkan kebodohan.

Bagian 30, Keseimbangan Rohani Jasmani

Bagian ini menjelaskan bagaimana proses purifikasi jiwa menuju kesucian sangat bergantung pada seberapa cerdas dan giat dalam berusaha. Bagian ini memberikan banyak nasihat-nasihat untuk dapat menyeimbangkan batin (jiwa) dan raga dalam berbagai sendi kehidupan.

Bagian 31, Nafsu Seksual

Bagian ini menjelaskan bagaimana pergaulan dengan orang yang salah (wanita/pria hidung belang) dapat menjerumuskan sekalipun orang bijaksana pada nafsu seksualitas. berisi bahaya dan himbauan agar berhati-hati terhadap jeratan nafsu seksualitas.

Bagian 32, Cinta Buta

Berisi bahaya dari mencintai seseorang secara membuta, rela mengorbankan apa saja demi cinta sesaat. Istilah masa kininya menjadi Budak Cinta (Bucin).

Bagian 33, Keinginan

Berisi bahaya daripada keinginan. Baik keinginan akan harta, tahta, dan wanita. Bahkan bisa mengarah pada permusuhan dan pelerangan. Intinya keinginan menimbulkan ksserakahan dan menjadi rumah akan segala kejahatan.

Bagian 34, Cinta Buta Pada Keluarga

Berisi bahaya daripada mencintai keluarga secara membabi buta, membiarkan mereka (anak, istri, dll) tidak bermoral dan bersikap sembarangan asalkan mereka senang atas nama cinta. Bagian ini menasihati pembaca agar mau memberikan teguran hingga hukuman apabila orang yang dicintai memang bersalah dan jatuh pada tindakan amoral.

Bagian 35, Pembebasan

Berisi nasihat-nasihat bahwa kehidupan di dunia ini sementara, memupuk harta dan kebahagiaan duniawi bukanlah tujuan utama bagi seseorang. Sebaliknya seseorang harus dengan tekun membersihkan dan mensucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Utamanya mensucikan pikiran. Dengan jalan inilah seseorang bisa melenyapkan kesengsaraan hidup dan mencapai kebahagiaan adi duniawi yang hakiki.

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

Untuk membaca kitab aslinya, silahkan melalui Link Ekstensi berikut ini (di luar web setangkaidupa.com) :

  1. Versi Wedangga (Kementerian Agama, DIRJEN Bimas Hindu) lengkap dengan aksara devanagari dan bahasa sansekerta serta terjemahan bahasa indonesia: https://wedangga.kemenag.go.id/ebooks?category=sarasamuccaya
  2. Versi Made Suarte : https://www.academia.edu/6435993/Made_Suarte_i
  3. Versi aplikasi Android : https://apkpure.com/id/kitab-sarasamuscaya-offline/com.arcusstudio.kitabsarasamuscayaoffline

 

Butuh bantuan?