Oleh: Jo Priastana
“Komodifikasi adalah cara kapitalisme untuk menggiring konsumen mengikuti kehendak
para kapitalis, dimana simbol agama juga dijadikan identitas sosial yang bernilai komersial”
(Studi Sosiologi Agama)
Kapitalisme juga merambah agama, tidak terkecuali Buddhadharma. Di era kapitalisme lanjut, agama tidak lagi sekadar sistem kepercayaan dan praktik spiritual. Ia juga beroperasi sebagai objek konsumsi dan komoditi. Buddhadharma menjadi salah satu tradisi yang paling menonjol mengalami fenomena ini, terutama karena sifatnya yang dianggap universal, non-dogmatis, dan cocok dengan industri “wellness,” atau produk peningkatan kualitas fisik, mental emosional.
Proses komodifikasi Buddhadharma ini tampak tidak hanya di negara-negara Barat, tetapi juga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Terjadi ketika ajaran, praktik, simbol, atau identitas keagamaan diproduksi, dikemas, dan dipasarkan sebagai barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Fenomena ini berlaku, baik pada Theravada, Mahayana, maupun Vajrayana.
Mengapa Buddhadharma mudah dikomodifikasi? Ada beberapa ciri Buddhadharma yang membuatnya rentan dijadikan komoditi, seperti citra Buddhadharma yang universal, damai, dan non-dogmatis yang menarik dan sesuai dengan pasar global. Praktik meditasi yang dapat dipisahkan dari konteks religius, sangat mudah dijual sebagai “wellness tool”. Begitu pula dengan simbol-simbol dan artefak yang estetis, bernilai tinggi dalam industri dekorasi dan lifestyle di dalam era Kapitalisme.
Buddhadharma Sebagai Komoditas
Melihat konten di media sosial, banyak muncul akun, seperti “Quotes Buddha” yang dipertanyakan keakuratannya. Ada “lifestyle Zen minimalism,” konten “healing, journaling, meditatif aesthetic,” serta Buddhisme yang diekstrak menjadi kata mutiara, bukan ajaran yang mendalam. Ini semua adalah bentuk “hyperreality” Buddhis seperti teori dari filsuf Kebudayaan, Postmodern, Jean Baudrillard (1929-2007), dimana citra representasi gambar dramatis tetapi kehilangan fondasi, substansinya.
Meditasi “mindfulness” telah menjadi produk komersial. Mindfulness awalnya merupakan praktik meditasi dalam Buddhadharma, terutama dari tradisi Vipassana Theravada. Di era Kapitalisme meditasi mendapat sentuhan komersial, diperjualbelikan melalui aplikasi seperti “Calm, Hedspace.” Dijual sebagai paket pelatihan korporat, seperti “corporate mindfulness training,” menjadi bagian dari industri “self-help” atau pengembangan diri, dimana elemen religiusnya dihilangkan, diganti dengan “sains otak” agar lebih mudah diterima pasar.
Kapitalisme menyukai “mindfulness tanpa moralitas,” yang tanpa kekritisan. Untuk menghindari semakin masifnya komodifikasi Buddhadharma, maka komunitas Buddhis harus mengembalikan sila, kebijaksanaan dengan menegaskan tujuan akhir pencerahan adalah pembebasan (Nirvana) dan kepedulian terhadap derita dunia.
Kegiatan retreat harus tetap non-profit atau berbasis dana sukarela (dana). Tidak menjadi paket “pelatihan premium,” dan tidak ada diferensiasi kelas VIP, fasilitas khusus dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk melawan logika kapital yang bersemboyan “akses berdasarkan kemampuan bayar,” dengan berganti “siapa saja boleh turut karena pintu nirvana terbuka untuk semua makhluk sekalipun sepotong rumput”.
Komoditasi dalam bentuk wisata spiritual atau spiritual tourism. Banyak tempat Buddha menjadi tujuan wisata yang dikemas sebagai pengalaman komersial. Bodhgaya (India) lengkap dengan paket “meditasi enlightenment.” Chiang Mai di Thailand, sebagai tempat retreat meditasi komersial untuk turis Barat. Tibet atau Nepal dengan paket “Spiritual Journey” yang dipasarkan agen travel. Seringkali tujuan religius tersubordinasi demi keuntungan ekonomi.
Di beberapa tempat, retret vipassana dikemas sebagai paket kesehatan mental, “healing weekend,” paket retreat premium. Meskipun bermanfaat, namun menunjukkan spiritualitas menjadi sebagai jasa pasar. Spiritualitas tidak lagi menjadi pendalaman pembelajaan (pariyatti), praktik dalam pengalaman keseharian (pattipatti) dan pencerahan atas fenomena sebagaimana adanya (pativeda).
Artefak simbol-simbol Buddhisme dijual sebagai produk dekorasi atau fashion. Ada patung Buddha untuk dekorasi rumah atau kafe. Kaos, gelang, atau tattoo “Buddha smile.” “Incense, singing bowl,” atau “mala beads” dijual tanpa konteks ritual. Di banyak negara Barat, Buddha menjadi “brand” estetika, bukan obyek spiritual. Ini menggeser fungsi simbol dari sakral menjadi estetika komoditi.
Buddhist Aesthetic di Industri kuliner dan “wellness,” kafe dan spa di kota besar menggunakan patung Buddha sebagai dekorasi, musik chanting sebagai ambience, konsep “Zen Cafe” atau “Buddha Spa,” simbol Buddhis yang berfungsi sebagai “brand” ketenangan, tidak terkait kultus atau devosi. Kuliner vegetarian dengan rasa cinta kasih berkembang di banyak kota.
“Buddhist Wellness” dan Yoga Studio. Beberapa pusat yoga atau “Zen Studio” memaknai citra Buddhis sebagai “branding.” Misalnya “Zen Spa”, “Buddha Bar”, “Zen Living Furniture”. Elemen interior seperti patung Buddha, mandala untuk menciptakan atmosfer tenang. Semua ini memanfaatkan citra Buddhadharma untuk kepentingan komersial dan sering tanpa pemahaman doktrinal.
Pop-Buddhism atau “Buddhisme lite” tampak di media sosial, dapat diketemukan dalam bentuk kutipan Buddha yang dijadikan konten motivasi. Buku “Buddhist Lifestyle” dijual sebagai trend. Muncul influencer yang menjual konsep “Zen minimalism” sebagai gaya hidup. Buddhadharma direduksi menjadi produk lifestyle yang fashionable. Ini menciptakan Buddhadharma dengan estetika minimalis modern versi “hyperreal” dalam budaya digital.
Komodifikasi Budaya Spiritual Buddhis
Komodifikasi agama terjadi ketika elemen keagamaan seperti ritual, simbol, ajaran, maupun identitas diproduksi dan dipasarkan sebagai barang atau jasa bernilai ekonomis. Komodifikasi terjadi di negara yang memiliki peninggalan budaya Buddhis, seperti di negara Buddhis, misalnya di Thailand, Myanmar, Jepang, maupun Indonesia dengan peninggalan budaya spiritualnya.
Di Thailand ada amulet (jimat Buddha) yang diperdagangkan secara masif, bahkan ada “market price” untuk amulet tertentu. Di Myanmar, ada festival dhamma atau meditasi yang kadang disponsori oleh perusahaan. Di Jepang beberapa kuil menawarkan ritual atau peringatan kematian sebagai “paket bayaran” berjenama (bermerek).
Di Indonesia berkembang wisata publik ke Vihara, pemasangan Chattra yang mendapat dukungan pemerintah sebagai daya tarik wisata spieritual. Beberapa Vihara besar misalnya Vihara di sekitar Borobudur Magelang, Maha Vihara Maitreya Medan, menjadi destinasi wisata umum. Pengunjung non-Buddhis mengambil foto sebagai estetika. Patung Buddha menjadi spot selfie, ritual dipandang sebagai obyek budaya, bukan sakralitas.
Perayaan Waisak di Candi Borobudur kini, dimana aspek kapitalisme begitu kental meninggalkan perayaan Waisak dalam suasana kebatinan, kesederhanaan, kekhusyukan. Tiada lagi keheningan yang amat dalam, diantara lima gunung dan kesucian malam di Borobudur. “Hyperrealities” dan “simulakra,” diketengahkan sebagai representasi berlebihan namun semu menjelma mengganti substansi ajaran dan realitas spritual yang sebenarnya.
Pelepasan lampion yang sekejap memancarkan cahaya yang indah namun artifisial sejauh pandangan inderawi mata dan merusak ekologi lingkungan begitu mengasingkan. Permainan cahaya menggambar Buddha di langit Borobudur yang tampak mengesankan karena pantasnya berada di tempat wisata sebagai tontonan, telah menggantikan laku kontemplatif-meditatif dibawah sinar alami dan natural rembulan purnama siddhi yang mengaktifkan spiritualitas dalam kejernihan batin.
Kebebalan, kedunguan batin atau moha karena pesona akal serakah kapitalisme telah membelenggu kesadaran, pencerahan sejati yang seharusnya muncul di hari suci Waisak. Menukar cahaya alami sempurna terang bulan purnama siddhi di atas sana, dengan terang semu lampion yang non-ekologis, serta permainan teknologis yang justru terjadi persis di malam suci Waisak.
Kesadaran spiritualitas sunyi yang sepantasnya hadir bertukar pada sandaran keramaian ilusi materialistis. Adakah ini cermin kebingungan, kebodohan? Masihkah itu merayakan kesadaran berwaisak suci atau halusinasi kesadaran dalam keramaian pasar malam? Rute dipermudah, ritual dipersingkat, bangunan suci diubah ditambah dengan alasan dan argumen historis, pseudo-saintifik, religius semu dan teknologis.
Kasus rencana, ide pemasangan Chattra di Candi Borobudur, budaya bangsa masa lalu yang didukung dan menjadi kebijakan pemerintah namun masih mendapat penolakan arkeolog, menyimpan politik budaya kontrol yang akan melemahkan budaya spiritualitas komunitas. Ia hanya sekadar dijadikan daya tarik wisata masa lalu, investasi budaya yang dilegitimasi narasi Buddhis arkeologis, namun tanpa daya spiritualitas yang berakar pada budaya spiritual bangsa dan sekaligus melemahkan daya integratif komunitas minoritas.
Hal ini seakan mengingatkan ucapan George Orwel (1903-1950), “siapa yang mengontrol masa lalu, mengontrol masa depan. siapa yang mengontrol masa kini, mengontrol masa lalu.” Sastrawan Inggris yang terkenal kritis, terutama terhadap totalitarianisme, pengawasan negara. Orwell terkenal dengan karyanya “nineteen eighty-four (84)” dan “animal farm,” memperlihatkan bahwa kebenaran bisa diarahkan oleh kekuasaan.
Aroma komersial, kapitalisme sampai izin masuk mengikuti perayaan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja, umat Buddha maupun makhluk-makhluk apa pun juga sudah dikenakan tanda beraroma komersial material. Aura Waisak di Borobudur telah menjelma menjadi komoditi budaya dan pasar malam spiritual materialisme. Dengan beraroma ekonomi material cahaya lampion berdampak ekologis memberikan image merendahkan spiritualitas waisak di bawah daya spiritual sinar rembulan purnama siddhi yang bisa dinikmati siapa saja.
Analisis Sosiologi Agama dan Filsuf Post-Modern
Fenomena komodifikasi Buddhadharma di era kapitalisme dapat dipahami dari pandangan dan teori beberapa tokoh sosiologi agama maupun filsuf Post Modernisme. Ada Karl Marx (1818-1883) yang membicarakan hubungan agama dan kapitalisme. Karl Marx fokus pada agama sebagai alat legitimasi struktur ekonomi, namun hal ini juga dapat dilihat dalam konteks Buddhisme dimana komodifikasi yang terjadi telah mengubah praktik spiritual menjadi barang dagangan atau semacam investasi komersial.
Budaya agama dan bahkan spiritualitasnya telah berfungsi sebagai komoditi fetisme. Ada “Mindfulness Kapitalis” yang meredakan stres pekerja tetapi tidak mengubah struktur eksploitatif. Meditasi mindfulness menjadi “opiate” candu versi baru.
Bapak Sosiologi Max Weber (1864-1920) mengemukakan tentang fenomena rasionalisasi dan disenchantment yang terjadi dalam masyarakat modern. Max Weber melihat proses modernisasi menghilangkan unsur sakral. Hal ini berlaku terhadap komodifikasi Buddhadharma yang menunjukkan terjadinya rasionalisasi dan disenchantment atau hilangnya daya magis.
Rasionalisasi telah menjadikan meditasi dipisahkan dari karma, nirvana, etika sila, dan sekadar menjadi teknik psikologis ilmiah yang rasional. Disenchantment atau hilangnya kemagisan atau daya magis, dimana amalan seperti chanting atau puja dipersempit jadi “wellness”, bukan ritual sakral. Dalam posmodernisme, disenchantment Max Weber sering berbalik menjadi re-enchantment komersial dimana spiritualitas diproduksi lagi sebagai produk.
Sosiolog agama Peter Berger (1929-2017) melihat agama di pasar pluralistik. Peter Berger menyatakan agama menjadi bagian dari pasar bebas gagasan, sama seperti produk lain. Dalam Buddhadharma, retret meditasi bersaing sebagai produk spiritual. Kuil menawarkan berbagai “paket ritual.” Identitas Buddhis menjadi gaya hidup (Zen Minimalism) untuk kelas menengah atas. Agama harus memasarkan dirinya agar relevan dalam dunia plural, sehingga muncullah para marketer dan makelar dan entrepreneur agama.
Filsuf Prancis Michael Foucault (1926-1984) melihat kekuasaan atas tubuh. Foucault membantu menjelaskan bagaimana “mindfulness” modern mengatur tubuh dan pikiran, mencipta “subyek produktif” yang “self-disciplined,” memindahkan kontrol dari perusahaan ke psikis pekerja itu sendiri. “Mindfulness” dalam korporasi menjadi bentuk baru biopower, kontrol modal, kekuasaan lewat spiritualitas yang menormalisasi kepatuhan.
Kita lihat juga analisis komodifikasi Buddhadharma dalam era kapitalisme dan konsumerisme dengan mengikuti pandangan filsafat dari tokoh Posmodernisme seperti Jean Baudrillard dan Filsuf Prancis Jean-Francois Lyotard. Pandangan Filsuf Prancis Jean Baudrillard (1929-2007) yang terkenal tentang “simulacrum” dan “hyperreality” sangat relevan untuk komodifikasi Buddhadharma.
Simulakra spiritual terjadi terhadap patung Buddha yang diadakan di kafe, spa, hotel dan tidak merepresentasikan Buddhadharma. Patung ini hanya difungsikan untuk meniru citra Buddhis tanpa asal. Sedangkan hyperreality dalam Buddhadharma terlihat dalam apa yang menjadi konsumsi publik, seperti ketenangan, estetis minimalis, damai, dan lifestyle. Semua itu bukan tidak mencerminkan Buddhadharma historis, tetapi versi hyperreal yang lebih “nyaman,” namun jauh dari ajaran asli yang penuh disiplin etika dan latihan panjang.
Versi Buddha yang tenang, minimalis, damai yang dikomersialisasikan di media sosial lebih populer daripada Buddhadharma historis yang menuntut sila, disiplin, dan kesadaran diri mendalam. Aplikasi meditasi memberikan “sensasi tenang” 10 menit, menjadi sekadar simulasi spiritualitas.
Jean-Francois Lyotard (1924-1998) terkenal dengan pandangannya “The End of Grand Narratives.” Konsep ini bisa diberlakukan untuk narasi besar Buddhadharma tentang nirvana, karma, kelahiran kembali, yang dipecah menjadi “wellness”, “relaxation”, “stress management.” Komodifikasi menciptakan narasi kecil (little narratives) yang sesuai dengan selera pasar, dan juga merambah pada topik ceramah para dharmaduta.
Toponimi sebuah tempat religius menurut Baudrillard hanya menjadi konsumerisme estetika. Di era posmo, identitas dikonsumsi melalui gaya hidup. Buddhadharma menjadi ikon gaya hidup, seperti minimalis dalam Zen. Zen dan kata Buddhis lainnya menjadi “brand” estetika, ekonomi, daya tarik turis. Zen Cafe, Dharma Kitchen, Buddha Bar, Shambala City atau Village, bukan lagi falsafah mendalam dan spiritualitas yang berdaya.
Era Kapitalisme mengajukan Buddhadharma tak luput mengalami komodifikasi. Berbagai komoditas Buddhadharma muncul dalam kapitalisme global. Komodifikasi ini bukan hanya fenomena di Barat, tetapi juga muncul di negara asalnya yang memiliki budaya spiritual. Komodifikasi terjadi ketika ajaran, praktik, atau simbol Buddhadharma dipasarkan sebagai produk yang menguntungkan, seringkali terlepas dari konteks spiritual aslinya. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Meta AI