Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (2) – Fenomenal “Nirvana For Sale”

Home » Artikel » Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (2) – Fenomenal “Nirvana For Sale”

Dilihat

Dilihat : 164 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 121
  • 571
  • 278,648
Pic 2612 Nirvana 4 sale

Oleh: Jo Priastana

 

“Spiritual Materialism is what happens when we use spiritual concepts,

practices, and tool to reinforce the false sense of self, the ego.”

(Aletheia Luna, Penulis Buku Spiritual)

 

Berbagai praktik keagamaan yang terjadi tidak berlangsung di ruang hampa. Ia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Era modernitas dan ekonomi pasar kapitalis misalnya, memunculkan varian baru yang berkaitan antara kemakmuran duniawi (wealth, prosperity) dengan praktik keagaman. Karenanya, institusi keagamaan akan mendorong penganutnya untuk memberikan sumbangan material yang beralasan dengan membantu dan mendukung institusi agama bisa menjadi cara “berbuat baik” untuk menghasilkan merit serta memperbaiki kondisi sosial-ekonomi donatur sendiri.

Lalu yang terjadi adalah komodifikasi agama, termasuk Buddhadharma yang begitu fenomenal dan terjadi seperti di Negara Buddhis terbesar Thailand, seperti dalam kasus Dhammakaya Temple. Sebagaimana dijelaskan dalam buku “Nirvana for Sale?: Buddhism, Wealth, and the Dhammakaya Temple in Contemporary Thailand,” oleh Racchelle M. Scott (2009), terlihat hubungan antara agama Buddha, kekayaan, dan ekonomi, termasuk aspek “komodifikasi” ekonomi Kapitalisme.

Buku Racchelle M. Scott secara tegas mengeksplorasi bagaimana agama Buddha di Thailand kontemporer, khususnya melalui studi kasus Dhammakaya Temple (Wat Phra Dhammakaya), berhubungan dengan kekayaan materi, investasi sosial, nilai-kemakmuran, dan hal itu tercermin dalam komodifikasi dan paket merit-making. Racchelle Scott lalu bertanya: “Apakah hubungan yang tepat antara agama (ketaatan Buddhis) dan kemakmuran material dalam konteks Thailand?

 

Komoditas, Komersialisasi dan Spiritual Materialisme

Dalam bukunya itu, Racchelle M. Scott menunjukkan bahwa Dhammakaya telah menggabungkan praktik tradisional Theravada seperti meditasi dan perbuatan baik (merit-making) dengan kerangka kapitalisme modern yang menekankan kemakmuran pribadi dan sosial sebagai hasil dari berbuat baik. Inikah materialisme spiritualisme dalam Buddhadharma dimana kebajikan dilihat semata secara material penuh pamrih transaksional dan bukan lagi secara spiritual sebagai kode perilaku luhur?

Adakah ini Buddhadharma tengah memasuki zaman kegelapannya? Dimana materi menjadi begitu dominan diatas spiritual dan bahkan mengatasnamakan spiritualitas atau yang dikenal juga sebagai spiritual materialisme. Ada kritik terhadap teknik penggalangan dana atau fund-raising, yang dimaksudkan seperti untuk pembangunan monumen yang besar, dan cara “merit-making” yang tampak dikaitkan dengan sumbangan besar, semakin besar semakin banyak pahalanya.

Lalu, masih bersinarkah hati nurani bodhicitta? Masih adakah para Bodhisattva yang sekiranya akan menyalakan cahaya kebenaran kesunyataan Buddha dengan menghadirkan wacana untuk sebuah perdebatan tentang “Buddhisme autentik” vs Komersialisasi atau komodifikasi Buddhadharma?

Apakah ini memang zaman hadirnya “komoditas agama Buddha, Kapitalisme, dan Materialisme?”  Buku Racchelle M. Scoot ini memang membahas masalah yang berkenaan dengan hal itu, materialisme dan komersialisasi Buddhadharma. Bahwa dalam konteks tertentu, aspek ekonomi atau material dari agama Buddha bisa tampil dengan cara yang menyerupai mekanisme pasar atau logika kapitalis. Ada beberapa poin penting yang sekiranya menunjukkan ke arah hal itu.

Ditekankannya konsep “merit-making” atau perbuatan baik yang menghasilkan pahala/merit, yang dalam tradisi Buddhis biasa sesungguhnya dilihat sebagai hal non-material. Keutamaan moral dan spiritual bukan semata material, namun tindakan-tindakan luhur dalam kebajikan, pengorbanan non-ego, seperti ati dana maupun mahati dana tanpa syarat, unconditional.

Racchelle Scott menunjukkan bahwa dalam konteks Dhammakaya, merit-making tersebut dikaitkan dengan sumbangan finansial besar dengan kamuflase dampak sosial-ekonomi yang nyata, sehingga semata menekankan amisa-dana (dana material) yang berjargon bersyarat, transaksisonal, beriming-iming pamrih kesuksesan dan kesejahteraan. Buddhadharma tampaknya menjadi sungguh duniawi (lokiya) dan bukan jalan spiritual lokuttara (transenden, mengatasi duniawi).

Adakah masalah itu juga dianggap sebagai “sacred consumption.” Sebuah frase yang beralasan dimana kegiatan donasi bukan sekedar komersialisasi murni, tetapi sebagai bentuk adaptasi ke konteks modern. Konteks modern dalam globalisasi, konsumerisme. Apakah hal ini dapat dibenarkan, meski beralasan untuk kebutuhan religius masyarakat urban, sambil mengambil narasi religius?

Apabila sumbangan besar dipandang sebagai jalan untuk memperoleh “kelebihan berkah” atau hasil spiritual-temporal, maka apakah itu mendekati “membeli” keutamaan atau janji spiritual yang membawa nuansa komodifikasi agama? Komersialisasi agama? Konsumerisme agama? Buddhadharma dalam perbuatan luhur menjadi komoditas dalam paket-paket berdana layaknya warung McDonaldi? Mc.Donalisasi Buddhadharma? Adakah institusi Buddhadharma, termasuk Sangha penerima dana layaknya warung Mc.Donald wujud peradaban kapitalisme?

Tetapi dengan jernih, Racchelle Scott sendiri tidak secara sederhana mengatakan bahwa Dhammakaya adalah “kapitalis agama” secara total. Dia hanya sekedar menunjukkan bahwa ada ketegangan antara tradisi Buddhis yang menekankan pengikisan keterikatan pada materi dan realitas sosial-ekonomi modern masa kini yang dikuasai oleh kapitalisme dan konsumerisme. Diskusi tentang ini dapat dibaca dalam bukunya itu, dalam bab “the consumerism and commercialization of Buddhism.”

Masihkah Thailand sebagai negara Buddhis besar menyimpan keluhuran yang sesungguhnya dalam berdana (merit making)? Dalam pengorbanan ego tanpa syarat, dan dalam tindakan berbudi luhur layaknya cerminan Bodhisattva dalam kisah Jataka? “seeks to complicate a simplistic … view that ‘authentic’ Theravada Buddhism … is inherently antithetical to the actual of wealth.”

Namun nyatanya kini, merit-making itu dihadapkan dengan realitas ekonomi kapitalisme yang materialistik. Dan ironisnya cara berpikir kapitalis materialistik ini meresap ke dalam pemangku institusi agama maupun dalam penyelenggaraan beragama Buddha yang tidak terkecuali, rentan akan penyalahgunaaan dan godaan keduniawian semu.

Orang pun lalu bertanya, sungguhkah keberagamaan Buddha itu bersifat materialistik? Spiritual materialistik, komodifikasi Buddhadharma, dan upaya-upaya menumbuhkan konsumerisme dalam berdana secara material dengan jargon investasi kesejahteraan dalam narasi religius?

Buddhadharma yang direduksi dalam dunia materalisme adalah sebuah bentuk kebingungan dalam beragama di tengah kenyataan dunia saat ini yang sarat dengan perekonomian komersial yang bersifat transaksional dan bersyarat. Apakah merit-making itu bukan lagi unconditional? Masih pantaskah hal itu disebut metta atau dana ketika telah jatuh menjadi transaksional?

 

Lobha Moha atau Confuse Delusi?

Kebingungan mereka yang berjubah tampaknya sedang terjadi di tengah dunia materialisme. Dan hasilnya adalah spiritual materialisme.  Kebingungan sebagai sebuah bentuk delusi atau kebodohan batin, dan karenanya memunculkan narasi pembelaan dalam bentuk pertanyaan. Bukankah Buddhadharma itu juga tidak anti kekayaan? Benar, Buddhadharma tidak anti kekayaan, orang lapar tidak bisa diberi spiritualitas.

Namun, lihatlah bagaimana reduksi Buddhadharma itu terjadi dalam tindakan komodifikasi, komersialisasi Buddhadharma demi pembangunan sarana-sarana materialisme spiritual yang megah, mewah. Adakah itu wujud monumen ego keserakahan materialisme spiritual atau tugas mulia sesungguhnya untuk  pembebasan atas penderitaan?

Reduksi Buddhadharma yang dikaitkan dengan penggalangan sumbangan untuk pemenuhan dana abadi dengan jargon dan narasi investasi spiritual demi mencapai tujuan abadi menuju Nirvana, dharmakaya. Nirvana for sale? Tidakkah ini sebuah bentuk Buddhadharma yang sangat egois?

Transaksi perdagangan merasuk dalam aktivitas Buddhadharma menimbulkan para marketer-marketer Buddhadharma, seperti atas nama pembangunan vihara, pendidikan, bakti sosial, monumen-monumen keagamaan, wisata spiritual, dan sekaligus melahirkan kepanitia-panitiaan dan makelar-makelar yang disarati dengan diskon dan komisi, menempatkan Buddhadharma menjadi market-place.

Riuhnya dinamika loka pasar di wilayah spiritualitas Buddhadharma ditengah zaman kapitalisme materialisme. Keriuhan yang sepi, keramaian yang kosong yang menghadirkan kejelian para pedagang, penyelenggara beragama dengan cara pandang komersial-materialistik-konsumeristik dalam komodifikasi. Beragama menjadi fashionable dan sosialita, flexing, dan terlebih-lebih lagi menjadi simulakra, hiperealitas dalam ritualistik yang indah, lebih indah dari aslinya namun menyimpan kemunafikan dan hipokrisi. 

Kembali ke relung batin terdalam dan menyelam ke dasar batin yang dari kedalamannya masih tersimpan kesunyian, meski muncul dalam percikan-percikan, riak-riak gelombang gugatan dan pertanyaan. Lalu, dimana keheningan dan kekosongan itu berada dalam berkebajikan (merit-making) yang membuat orang terpesona, bergetar, kagum seperti dalam tindakan pengorbanan?

Tindakan altruisme kepahlawanan yang sungguh-sungguh demi mengatasi penderitaan? Soteriologi Buddhadharma sebagai jalan dharma untuk pembebasan dukkha? Dalam doa semoga semua makhluk berbahagia, bumi memberkati, semesta merestui, selalu mendukung dalam kelimpahannya yang sudah ada.

Kemiskinan, kerusakan lingkungan, korupsi, pelanggaran hak-hak asasi, kekejaman dalam perang, marginalisasi kelompok-kelompok terpinggirkan, ketidakadilan sosial, bencana ekologis dan fenomena dukkha lain sebagainya, tidakkah itu bukan lagi bagian dari tindakan merit-making?

Dunia ramai dengan hiruk pikuk lobha, dosa dan moha dan alam pun pun menjawabnya. Kehidupan bumi dengan perubahan iklim yang semakin meninggi dimana suhu bumi yang makin panas, hujan yang tidak lagi tepat pada waktunya, dan bencana ekologis dimana-mana.

Kerusakan alam lingkungan akibat eksploitasi kerakusan kapitalisme mengancam keselamatan segenap makhluk hidup di atas bumi. Sejarah mencatat dalam ribuan peperangan, perlombaan senjata pemusnah masal, kelaparan, anak-anak terlantar, pembunuhan, kemiskinan, jurang ketidakadilan sosial kaya-miskin.

Apakah solidaritas dan kepedulian Bodhisattva tidak lagi kontekstual, tidak lagi menengok dan mengatasi fenomena penderitaan dunia itu? Dan berganti dengan kepentingan kesejahteraan diri dan kelompok semata? Untuk apakah Bodhisattva Siddharta meninggalkan kerajaannya, kemewahannya, jabatan kebesaran duniawi maupun jabatan spiritualitas?

Pencarian yang revolusioner dari Siddharta Muda, akan hidup kekal abadi, tiada derita lagi, tidak lahir mati lagi dalam keabadian Nirvana, dalam pengalaman penemuan Buddhadharma atas hukum kesunyataan anatta tiada inti yang kekal, dan solidaritas terhadap segala kesenjangan yang terjadi di alam semesta serta bumi manusia.

Lalu untuk apa, dan bagaimana sikap berBuddhadharma kini itu? Adakah dukkha yang abadi itu tidak mewujud secara historis kontekstual? Sungguhkah kepedulian atas derita dunia dan semesta itu kini harus bertransformasi atau ditukar dan direduksi menjadi upaya penggalangan keabadian material? Bersama narasi untuk pembangunan sarana spiritual yang berjargon investasi spiritual, dan yang pada akhirnya demi mencapai pembebasan, Nirvana?  “Nirvana for Sale!” (JP) ***  

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Meta AI

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?