Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (3) – Dampak Positif dan Negatif

Home » Artikel » Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (3) – Dampak Positif dan Negatif

Dilihat

Dilihat : 133 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 121
  • 571
  • 278,648
Pic 2613 positif neg

 Oleh: Jo Priastana

 

“If there is such a thing as spiritual materialism, it is displayed in the urge

to possess the mountains rather than to unravel and accept their mysteries.

 (Wojciech Kurtyka, lahir 1947, Pendaki Gunung Polandia)

 

Buddhadharma sangat potensial menjadi komoditi karena sifatnya yang universal, estetis, fleksibel, dan mudah disekularisasi. Kapitalisme memanfaatkan aspek-aspek ini untuk menciptakan produk spiritual, estetika, dan wellness. Buddhadharma bukan mendukung kapitalisme, tetapi kapitalisme lihai memilih aspek-aspek Buddhadharma yang mudah dipasarkan. Yang tersisa di ruang publik sering kali adalah “simulacrum” Buddhadharma, memang lebih menenangkan tetapi kehilangan kedalaman soteriologis (ajaran pembebasan), dan sekadar anestesi.

Komodifikasi Buddhadharma terjadi di banyak negara, termasuk negara Buddhis, dan juga dalam Buddhadharma di Indonesia. Di Indonesia, penganut agama Buddha adalah minoritas sehingga mudah dikontrol dan karena itu simbol keagamaannya, bahkan peninggakan spiritualnya lebih dipandang sebagai budaya, bukan lagi sakral. Hal itu juga didukung karena kurangnya pendidikan publik dan politik kebudayaan yang mengarahkan peninggalan sakral menjadi industri pariwisata yang digalakkan secara rakus, menjadi sekadar bentuk budaya yang dikomersialisasikan.

Ironisnya komunitas lokal maupun elite Buddhis juga tergoda. Vihara lebih tampil sebagai spot wisata, perayaan Waisak dan keagamaan di candi Borobudur dipandang sebagai obyek wisata, dan menjadi tontonan menarik ala festival. Kelas menengah urban yang haus mencari spiritualitas instan melalui meditasi yang dijual sebagai healing cepat. Institusi Buddhis bersaing menarik umat, dan menggoda cara-cara marketing ala korporasi. Sialnya lagi, umat minim literasi agama dan minim pendidikan Buddhadharma yang kritis.

 

Rentan Dikomodifikasi

Tanpa sikap kritis para pemimpin, mahasiswa, dan kaum cendekiawan Buddhis yang tidak mampu memahami fenomenologi agama mengenai batas sakral-profane dan pengalaman spiritualitas, Buddhadharma begitu rentan dikomodifikasi. Buddhadharma tidak eksklusif, karena tidak menuntut kepercayaan teologis mutlak, sehingga dapat dipraktikkan tanpa identitas beragama formal. Nilai universal yang menjadi ciri Buddhadharma menjadikannya mudah dipasarkan ke audiens global.

Kapitalisme modern telah mengglobal. Karenanya, jika suatu ajaran tidak bergantung pada ritual rumit atau tanpa keanggotaan komunitas tertutup, maka ia bisa dipotong sebagian, dikemas ulang, dijual sebagai modul wellness. Dalam Buddhadharma terbuka ruang untuk menjadi daya tarik kapitalisme untuk menjualnya ke pasar global sehingga tidak menutup kemungkinkan lahirnya para marketer, makelar, entrepreneur agama di kalangan agama itu sendiri, apalagi di tengah dunia global yang semakin terhubung dan terkoneksi.

Komodifikasi Buddhadharma tampil paling jelas dalam meditasi mindfulness. Meditasi dimana manfaat psikologisnya bisa diklaim tanpa menyebut agama. Hal Ini membuatnya ideal bagi kapitalisme, karena perusahaan bisa memasarkan mindfulness tanpa dianggap beragama. Produk dapat dipasarkan sebagai “scientifically proven.” Praktik religius bisa “ditarik keluar” dari agama sehingga sangat mudah dikomodifikasi. Begitu juga dengan estetika Buddhadharma yang kuat dan mudah dikenali, memungkinkan mudah dikomodifikasi.

Simbol Buddha yang memiliki ciri damai, tenang, minimalis, eksotis, spiritual. Ciri-ciri ini cocok dengan estetika lifestyle modern, seperti juga spa, meditasi, zen interior, minimalism movement, maupun branding produk kesehatan, dan lain-lain. Ajaran yang non-dogmatis menjadi “brand” yang sempurna untuk kapitalisme. Contoh patung Buddha menjadi ikon “cool spiritual”, dan stupa menjadi bentuk yang berfungsi dekoratif, minim kandungan spiritual, dan mandala menjadi motif yang mudah untuk dijual.

Apakah karena tiadanya tradisi tanpa “God-centered theology,” menjadikan Buddhadharma begitu rentan dikomodifikasi, layaknya komoditi yang bernilai ekonomi. Buddhadharma dikenal sebagai agama yang tidak fokus pada Tuhan personal sehingga lebih mudah dipahami sebagai filosofi, bukan agama otoritatif dengan dogma ketat. Hal ini kerap membuat konsumen global lebih nyaman, karena tidak terasa “mengancam keyakinan asli,” dan dapat dikonsumsi dari sedikit aspek saja.

Agama yang tidak menuntut komitmen teologis total akan menjadi mudah difragmentasi dan mudah dijadikan komoditi. Selain aspek teologis, dalam ranah politik, Buddhadharma cenderung apolitik dan mungkin lebih tepat netral. Netralitas politik dan citra non-kekerasan menjadikan Buddhadharma sering dipersepsikan sebagai agama yang mengandung kedamaian, meditatif, moderat, tidak ofensif. Hal ini menjadikannya lebih dapat diterima dalam pasar global, berbeda dengan agama yang dikaitkan dengan politik dan konflik.

Sangat jarang terdengar kaum Buddhis terlibat dalam persoalan dukkha dunia, melakukan tindakan adviokasi dalam ranah politik, sosial, maupun masalah internasional. Tidakkah dunia dipenuhi dengan berbagai macam dukkha, seperti pelanggaran hak asasi manusia, ketidakadilan, kerusakan ekologis, korupsi dan lainnya? Bukankah Buddhadharma dikenal agama pembebasan yang diliputi oleh compassion dan memiliki tipologi “Engaged Buddhism?”

 

Kesadaran Keterlibatan

“Engaged Buddhism,” yang memperlihatkan spiritualitas kesadaran Buddha dalam keterlibatan nyata mengatasi penderitaan. Buddha adalah kesadaran, dan kesadaran bersama kebijaksanaan, wisdom mengandung dimensi compassion yang tidak lain sadar akan derita lingkungan. Ciri liberatif, progresif humanistik, emansipatoris, solidaritas Buddhadharma yang terlibat ini, sangat mungkin berlawanan dengan logika kapitalisme yang justru menyumbang pada kerusakan ekologis, pelanggagaran hak asasi manusia, korupsi, kesenjangan sosial, ketidak-adilan dan lainnya.  

Namun keluhuran Buddhadharma itu tidak tampak dalam dunia yang semakin menuntut sikap-sikap Bodhisattva. Buddhadharma telah dilepaskan daya radikal transformatifnya, dan sekadar menjadi komoditi spiritual materialisme. Bahkan tradisi asketik menjadi kompatibel dengan gaya hidup modern di dunia postmodernisme yang jatuh dalam simulakra dan hiperrealitas. Selain itu, ironisnya, nilai-nilai seperti kesederhanaan, kesunyian, keheningan, mindfulness juga dapat direbranding sebagai lifestyle seperti dalam “silent retreat luxury,” “minimalis design furniture.”

Kapitalisme memang begitu liat dan fleksibel sejauh itu mendatangkan manfaat ekonomi. Akumulasi modal perlu disalurkan menembus berbagai ranah kehidupan termasuk membuat berbagai aspek keagaman menjkadi komoditi di pasar global. Bahkan kesederhanaan hidup spiritual berubah menjadi komoditi yang dapat dikonsumsi meski sebatas simulakara dan hiperealitas. Lepas pakai jubah dalam jangka waktu tertentu menjadi mode karena ada sponsor kapitalisme di baliknya. Haruskah Buddhadharma menjadi “brand of sophistication,” dan lahan subur untuk dikapitalisasi?

Buddhadharma bercirikan saintifik, begitu yang terjadi meditasi dan neurosains. Fungsi terapeutik Buddhadharma dalam meditasi dapat diukur, dan kapitalisme senang akan hal yang bisa dikuantifikasi secara sains karena bisa dijual ulang. Dapat diukur manfaatnya, seperti stress reduction, focus improvement, dan terhubung ke sains, neuroscience. Meditasi memiliki studi ilmiah yang mudah dikutip dan diiklankan: “8 week mindfulness reduces cortisol”, “meditation increase productivity.” Ajaran yang bisa dibuktikan secara ilmiah mudah dijadikan produk wellness.

Haruskah begitu rentannyakah Buddhadharma terkomodifikasi? Karena tiada larangan terkomodifikasi secara teologis. Berbeda dengan agama yang memiliki larangan ketat terhadap komoditi benda sakral, menggunakan simbol keagamaan secara profan, atau monetisasi ritual. Buddhadharma lebih beragam dan terbuka dalam hal itu, mungkin karena moderatnya atau ketidakcerdasannya dalam berspiritual?  

Adakah masyarakat Buddhis beranggapan adalah bukan masalah besar dalam perdagangan patung Buddha, amulet, atau jasa spiritual selama tidak merusak sila? Beberapa negara tradisi Buddhis (Thailand) bahkan memiliki pasar amulet yang sangat komersial, dan konyolnya hal ini juga menjadi transaksi di kalangan Buddhis sendiri, tidak kecuali timbulnya para eksportir-importirnya.

Komodifikasi Buddhadharma adalah fenomena global yang terjadi akibat logika pasar kapitalisme yang mencerminkan rasionalisasi modern, dan estetisasi posmodernisme. Melalui perspektif sosiologi agama dan teori budaya, terlihat bahwa Buddhadharma berubah dari tradisi pembebasan menjadi komoditi spiritual dan estetika. Tampaknya sukar menghindari komodifikasi Buddhadharma di era kapitalisme.

Mungkin fenomena ini justru memiliki manfaat tertentu, seperti terjadinya kemudahan akses publik dan pelestarian budaya. Namun begitu, tidak juga menutup kemungkinan risiko, terutama hilangnya dimensi kedalaman spiritual dan transformasi ajaran menjadi “simulacrum hyperreal,” sebagaimana dijelaskan teori Filsuf Posmo Jean Baudrillard. Masa depan Buddhadharma akan bergantung kemampuan komunitas dalam menjaga integritas ajaran sambil berinteraksi dengan pasar global yang telah menjadikan Buddhadharma sebagai marketplace dengan daya tarik persepsi inderawi terhadap spiritual materialisme.

 

Dampak Positif dan Negatif

Memang tidak dipungkiri adanya dampak positif dari komodifikasi Buddhadharma dalam perkembangan Buddhadharma dewasa ini. Terbangunnya akses yang lebih luas terhadap praktik Buddhis dan pengenalan Buddhadharma. Hal ini tampak dalam meditasi mindfulness yang menjadi mudah diakses oleh publik global. Lewat meditasi diharapkan dapat mengenali lebih jauh kedalaman Buddhadharma, spirit Buddhadharma sebagai agama pembebasan, dan bukan sekadar anestesi.

Dampak positif juga terlihat dengan terjadinya kegiatan masif dalam pelestarian atau kemunculam kuil, vihara besar serta lembaga Buddhis. Pendapatan dari wisata spiritual atau penjualan artefak dapat membantu untuk pelestarian dan pengembangan bangunan, institusi, dan kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk untuk pendidikan.

Selain itu, dampak positifnya juga terlihat pada memungkinkan terjadinya dialog atau pertukaran Budaya. Komodifikasi kadang membuka ruang interaksi lintas budaya, sehingga mudah memperkenalkan nilai etika Buddhis, seperti karuna dan metta.

Terbukanya aktivitas pengembangan industri ekonomi lokal. Contoh wisata Bodhgaya, Chiang Mai retreat center, industri amulet di Thailand, serta aktivitas perekonomian umat Buddha di desa yang melahirkan industri rumahan, seperti membuat penganan, benda-benda, simbol Buddhis.

Namun begitu, selain dampak positif, ada pula dampak negatifnya. Terutama yang perlu menjadi perhatian adalah terjadinya reduksi ajaran, hilangnya sakralitas, keterputusan guru-murid yang beralih kepada para influencer, berguru pada medsos, ketimpangan kekayaan dalam institusi agama, kota dan daerah, serta terjadinya eksotifikasi dan orientalisme seperti cultural colonialism.

Perlu mendapat perhatian serius adalah yang berkenaan dengan reduksi ajaran, dimana ajaran Buddhadharma dipermudah atau dipisahkan dari konteks soteriologis atau tujuan pembebasan. Meditasi mindfulness hanya menjadi alat produktivitas korporat. Penggunaan simbol-simbol Buddha menjadi semata dekorasi seperti di kafe atau branding bisnis, dan pemanfaatan dalam pengumpulan dana yang tidak jelas.

Hilangnya sakralitas, dimana objek-obyek sakral Buddhis menjadi barang dagangan, menjadi simulakra spiritual. Terjadi keterputusan hubungan Guru dan Murid, dimana komodifikasi menggantikan hubungan guru-murid dengan konsumsi individual. Guru diganti influencer, retret spiritual diganti paket komersial, persembahyangan yang khusyuk religius yang membutuhkan keseriusan kehadiran umat bertransformasi dengan mendapatkan pemain pengganti dalam kemudahan paket-paket religius dan jasa spiritual.

Ketimpangan kekayaan dalam institusi agama, seperti adanya kuil, vihara kaya yang berlawanan dengan kuil, atau vihara miskin kecil. Timbulnya gaya dan tradisi yang menjadikan agama sebagai industri, serta penataan kelembagaan religus dalam perspetif korporasi. Eksotika dan orientalisme, dimana Buddhisme dijadikan obyek eksotika untuk konsumsi Barat, bukan tradisi hidup dengan konteks Asia dengan tradisi, historisitas dan spiritualitasnya.

 

Keakraban atau Perlawanan

Apakah ini berarti Buddhadharma akrab dengan kapitalisme? Jawabannya, bisa Ya. Tetapi apakah itu juga dalam arti Buddhadharma mendukung kapitalisme? Sungguhkan Kapitalisme memberi dampak positif lebih besar ketimbang dampak negatifnya terhadap Buddhadharma? Ataukah sebaliknya, tidakkah terlalu murah agama Buddha yang begitu bermakna dalam, luas hanya sekadar menjadi komoditi pasar ekonomi?

Dengan begitu rentannya komodifikasi Buddhadharma dalam jiwa kapitalisme ini, apakah menunjukkan Buddhadharma harus sejalan dengan kapitalisme? Bagaimana dengan dampak negatifnya yang mereduksi Buddhadharma sebagai komoditas dalam logika pasar atau sebagai market-place? Apakah lebih baik dan seharusnya justru perlu melakukan perlawanan?

Komodifikasi Buddhadharma memang menghasilkan akses publik luas dalam mengenali Buddhadharma, tetapi haruskah itu dibayar dengan hilangnya kedalaman spiritual? Adakah komodifikasi Buddhadharma itu masih mengungkapkan spiritualitas Buddhadharma sebagai jalan pembebasan dukkha? Apakah kapitalisme telah melecehkan Buddhadharma hanya sekadar menjadi komoditi dalam aroma ekonomi? Pantaskah Buddhadharma ditempatkan sebagai market place dengan logika pasar kapitalisme?

Pertanyaaan-pertanyaan yang pantasnya menjadi bahan renungan dan kajian bagi para cendekiawan Buddhis yang keilmuannya sarat dengan nilai, teori dan fenomena. Perlukah komodifikasi Buddhadharma di pertahankan, yang bukan tidak mungkin juga akan terus mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan pasar. Apakah sebaiknya tegaskan saja dengan kalimat melawan logika pasar?

Tugas mulia bagi para cendekiawan Buddhis untuk menyikapi hal ini. Apakah komodifikasi Buddhadharma menjadi sebuah spesies baru Buddhadharma yang hadir di era modernitas kapitalisme yang memang menghantar kebahagiaan manusia modern? Ataukah, dia justru hanya sekadar anestesi atau opium dalam versi baru, bukan sesungguhnya sebagai obat original bagi pembebasan dukkha? (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Gemini AI

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?