Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (4) – Melawan Logika Pasar

Home » Artikel » Komodifikasi Buddhadharma di Era Kapitalisme (4) – Melawan Logika Pasar

Dilihat

Dilihat : 173 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 108
  • 571
  • 278,635
Pic 2614 logika pasar

Oleh: Jo Priastana

 

“Kapitalisme itu menjijikkan. Kapitalisme itu kotor, jorok,

sebuah ideologi yang membuat segalanya terasing.

Ia adalah sumber perang, kemunafikan dan kompetisi.

(Fidel Castro, 1926-2016, Presiden Kuba 1976-2008)

 

Mengapa Buddhadharma rentan dikomodifikasi dan begitu mudah didekati kapitalisme? Kapitalisme menyukai spiritualitas tanpa institusi, tanpa hirarkis, tanpa dogmatis, tanpa otoritatif, tidak eksklusif. Ciri-ciri ini terdapat dalam Buddhadharma. Buddhadharma relatif fleksibel. Hanya perlu beberapa komponen seperti: meditasi, mindfulness, citra Buddha, atau konsep “letting go,” sudah dapat dijual tanpa harus mengadopsi keseluruhan doktrin.

Buddhadharma mudah “dipotong-potong” menjadi modul kecil. Kapitalisme suka modularitas dan paket-paket kecil. “10 minutes meditation app, weekend retreat, zen for productivity course, Tibetan bowl healing session.” Buddhadharma memiliki banyak modul yang bisa dilepaskan dari konteks religiusitasnya dan dipasarkan sebagai “produk, komoditi.” Kapitalisme senang menjual identitas. Buddhadharma menyediakan citra identitas damai, gaya hidup minimalis, estetika “inner peace”, simbol eksotik premium. Konsumen membelinya bukan karena spiritualitas tapi identitas.

Kapitalisme dapat menunggangi “kekosongan makna” modernitas. Dalam masyarakat modern yang dilanda stres, bising, dan inividualis orang mencari ketenangan, fokus, penemuan diri, kesehatan mental. Buddhadharma menyediakan bahasa yang cocok untuk kebutuhan psikologis orang modern. Karena itu kapitalisme memasukkan Buddhadharma ke dalam industri, seperti “self-help,” “mental health,” produktivitas, “wellness luxury,” serta berbagai samaran dalam komodifikasi spiritualitas materialisme.

 

Memahami Kapitalisme dan Komodifikasi

Diyakini bahwa struktur ajaran dan praktik Buddhadharma lebih mudah diserap kapitalisme dibanding banyak agama lain. Mengapa? Buddhadharma memiliki elemen yang bisa disekularisasi, tidak menuntut komitmen total teologis. Dapat direduksi menjadi wellness, memiliki estetika yang sangat “jualable”, bersifat non-agresif dan mudah dibranding.

Tentunya ini bukan karena Buddhadharma pro-kapitalisme, melainkan karena kapitalisme sangat fleksibel, dan Buddhadharma memiliki banyak aspek yang kompatibel untuk dipaketkan menjadi produk. Sialnya, komodifikasi kapitalisme ini kerap juga diberlakukan oleh kalangan penyelenggara Buddhadharma itu sendiri. Entah mereka karena masih diliputi moha, lobha, confuse atau delusi dimana cara pikir materialisme lebih dominan ketimbang spiritulitas atau memang bukan orang spiritual namun hanya menjadikan Buddhadharma sebatas identitas.

Buddhadharma yang hilang arah? Kekhawatiran akan Buddhadharma menjadi “Buddhadharma Lite,” atau spiritualitas tanpa konten etika pembebasan. Mindfulness menjadi alat produktivitas, bukan jalan menghancurkan dukkha. Simbol sakral hanya jadi dekorasi komersial. Kapitalisme menyerap Buddhadharma lalu menyalurkan dalam versi hiperrealitas yang dikuasai logika pasar, bukan dialektika dhamma.

Buddhadharma tidak pro dan juga tidak sejalan dengan kapitalisme. Karenanya sangat mungkin sekali untuk melakukan perlawanan terhadap Kapitalisme yang telah mereduksi Buddhadharma sekadar komoditi. Kapitalisme yang mereduksi Buddhadharma yang religius-spiritual menjadi paket komoditi komersial dalam samaran spiritual materialisme. Demi logika pasar atau keuntungan dan market-place.  Logika kapital yang cenderung akumulatif bergerak mencari keuntungan dan berkelindan dengan keserakahan atau lobha.

Kita ingat Sang Guru Konfusius (meninggal 479 M) berkata, “Jika perilaku Anda hanya ditentukan oleh pertimbangan keuntungan, Anda akan membangkitkan kebencian yang besar.” 

Lech Walesa (lahir 1943), Mantan Presiden Polandia menulis, “kapitalisme berupaya menghasilkan lebih banyak uang, tetapi tidak memperhatikan rakyat. Masalah ini semakin memburuk di seluruh dunia.”

Sementara penulis buku dan sutradara film AS Michael Moore (lahir 1954) bilang, “Aku akan melawan kapitalisme, bahkan jika ia membunuhku. Sungguh salah jika orang-orang sepertimu merasa nyaman dengan cukup makan sementara di sekitarmu orang-orang kelaparan.” 

Buddhadharma dijadikan komoditi karena mudah meraih keuntungan dalam dinamika arus modal dan lahan subur bagi orang-orang berjiwa kapitalisme. Dalam memahami rentan dan kompleksnya komodifikasi Buddhadharma di era kapitalisme ini, sangat penting bila menyimak pandangan kritis beberapa tokoh sosiolog agama maupun para filsuf budaya.

Dalam kerangka filsafat ekonomi ada filsuf Karl Marx (1818-1883) yang dalam teorinya melihat agama telah menjadi fetisisme, dan bukan lagi gerakan pembebasan. Hal ini tampaknya juga berlalu untuk Buddhadharma yang menjadi fetisisme komoditi. Bagaimana untuk dapat mengatasinya?

Sosiolog Max Weber (1864-1920) mengungkapkan tentang “disenchantment” atau kemagisan (daya magis) yang terkandung dalam agama yang semakin menghilang. Teori ini juga bisa ditujukan bagi Buddhadharma dimana berbagai aspek ritualnya yang kini telah banyak hilang dan berubah menjadi teknik psikologis. Adakah ini harus memang begitu?

Sedangkan filsuf Michael Foucault (1926-1924) melihat “mindfulness” sebagai alat biopower kapitalisme. Yaitu alat kekuasaan dan kontrol yang terjadi dalam diri individu itu sendiri dan menguntungkan korporat. Tokoh Posmo seperti Jean Baudrillard dengan teorinya juga bisa melihat Buddhisme menjadi simulacrum dan hyperreality, lebih “nyata” daripada ajaran aslinya, tetapi tanpa isi spiritual.

Untuk itu, agar tidak terjerumus dalam logika kapitalisme, perlu ditegaskan lagi, harus ada langkah-langkah realistis dan berbasis teori untuk menjadikan integritas Buddhadharma tetap tegak berdiri. Berbagai stake-holder Buddhadharma harus memiliki kesadaran kritis ini sehingga dapat melakukan tindakan mengembalikan integritas Buddhadharma sebagai agama pembebasan.

Langkah perlawanan bisa dimuai dari sisi institusi, seperti vihara, sangha, organisasi dan pendidikan. Harus dapat menegaskan kembali batas profane-sakral. Area vihara harus dikelola sebagai ruang suci. Bukan spot foto. Ada edukasi publik yang dilakukan pendidik, aktivis, pengelola sekolah seperti melalui poster, panduan, volunteer tentang tata krama di ruang ibadah.

 

Institusi Pendidikan dan Perlawanan Kaum Terpelajar

Ada beberapa langkah umum untuk mencegah terjerumus ke dalam kapitalisme atau spiritual materialisme, dan agar Buddhadharma tidak terkomodifikasi. Beberapa langkah untuk dapat mengembalikan Buddhadharma ke tujan asal (soteriologi ajaran luhur Buddha sebagai pembebasan dukkha, dan peduli terhadap derita dunia), bukan sekadar “wellness,” anestesi atau bahkan menjadi sejenis opium.

Patut diperhatikan, untuk dapat menegaskan batas sakralitas dan simbol-simbol Buddhis yang tidak boleh jadi estetika konsumsi. Dana sukarela (dana) harus menggantikan jasa berbayar. Pendidikan Dhamma harus kritis terhadap logika kapitalisme atau logika kapital yang didukung keserakahan dan menyamar dalam lahan subur ragam spiritual materialisme.

Mari menjaga ketegasan sakralitas keheningan Buddha di bawah Pohon Bodhi, dan pencerahan Buddha di bawah bulan purnama Siddhi. Praktik Buddhadharma yang sesungguhnya yang bermuatan spirit pembebasan, misalnya dengan menjaga lingkungan, ekosistem, sebagai rasa terika kasih kepada alam dimana Buddha tercerahkan di bawah pohon Bodhi, di hutan Uruwela, di tepi Sungai Neranjara. Praktikkan spirit kepedulian dan solidaritas terhadap lingkungan dan korban bencana ekologis-kemanusiaan dan bencana alam dimana kapitalisme punya andil lewat penambangan dan penggundulan hutan.

Bebaskan para pemimpin organisasi Buddhis, penyelenggara Buddhadharma, pandita maupun sangha, dharmaduta yang telah terbelenggu logika pasar, spiritualitas materialisme. Hal ini sangat merendahkan sekali ajaran Buddha yang agung, luhur, luas dan dalam yang diperoleh Siddharta hingga tubuhnya kurus kering sampai tulang depan dan tulang belakangnya hampir menyatu.

Kaum terpelajar Buddhis perlu memahami kapitalisme yang pada hakikatnya didasari oleh keserakahan sehingga menyumbang bagi kerusakan alam lingkungan, pertikaian, konflik perebutan sumber daya. Ciri kapitalisme itu berlawanan dengan spiritualitas Buddhadharma untuk melenyapkan keserakahan, bila tidak mau terjerumus ke dalam moha, kebodohan batin atau kedunguan.

Ajari mahasiswa Buddhis cara pikir yang berprinsip pada kritisisme dialektis sebagaimana yang dikemukakan Nagarjuna dalam Filsafat Madhyamika. Agar mahasiswa menjadi ilmuwan Buddha atau cendekiawan yang cerdas, kritis, mampu menerapkan cara berpikir dialektika, serta mampu melihat secara jernih jebakan dari samaran spiritualitas materilisme yang terdapat di dalam praktik Buddhadharma yang bernyawa kapitalisme. 

Adakan edukasi politik bagi para mahasiswa untuk bisa mencermati kebijakan-kebijakan pemerintah yang bersifat kontroling dan bisa saja berdampak melemahkan spiritualitas Buddhadharma sebagai agama pembebasan yang kritis dan revolusioner. Misalnya, konsekuensi sebuah kebijakan atau dukungan yang nyatanya hanya menjadikan bangunan suci Buddha sekadar artefak budaya dan daya tarik wisatawan dengan melepaskan sisi spiritualisnya dan sekaligus alat kontrol terhadap komunitas.

Melatih dan membekali komunikator Dharma atau Dharmaduta dengan prinsip-prinsip dhamma emansipatoris dan kritis terhadap logika pasar, dan bukan justru menjadi bagian dari logika pasar seperti sebagai motivator “self-help.” Vihara perlu memberi edukasi tentang apa itu komodifikasi agama, bagaimana simbol Buddha sering disalahgunakan. Bagaimana mencegah reduksi ajaran menjadi sekadar “lifestyle.” Ini penting agar umat tidak secara tidak sadar ikut dalam komodifikasi dan menjadikan Buddhadharma sekadar identitas yang fashionable tidak lebih dari sekadar flexing dan pencitraan.

Terutama “mindfulness kapitalis” harus dikritisi secara sadar, dan harus dibangunkan kesadaran kritis para intelektual dan cendekiawan yang kesadarannya delutif, karena terkontaminasi atau telah dikooptasi logika pasar atau sekadar jadi marketer, makelar ritual, entrepreneur Buddhadharma.

Ajarkan kritisisme dan daya liberatif atau energi pembebasan yang menjadi substansi Buddhadharma dalam ranah pendidikan Buddnis termasuk di sekolah-sekolah, perguruan tinggi atau dhammasala vihara, karena Buddha hadir untuk pembebasan, dengan melibatkan kaum terpelajar Buddhis.

Kuatkan literasi Buddhis agar anak-anak sejak dini sudah melek kitab suci dan buku-buku Buddhis dengan mengadakan edukasi-diskusi, agar buku-buku memang dibaca dan bukan sekadar komoditi ekonomis yang terus diproduksi demi akumulasi dana namun selalu berdebu di sudut-sudut altar, di rak perpustakaan, atau hanya sekadar jadi estetika di lemari kaca ruang tamu, namun sepi dari catatan pembaca, diskusi, polemik dan perdebatan dharma.

Memastikan institusi pendidikan Dhamma lebih menekankan etika konkrit yang dinamis dengan membangun etika sosial Buddhis guna menjawab problem-problem kontekstual aktual. Sejalan dengan itu adalah menumbuhkan pribadi yang mandiri secara moral dan etos yang peduli terhadap lingkungan, permasalahan sosial maupun derita dunia.

 

Advocacy dan Soteriologi Buddhadharma

Lakukan aksi advocacy dan demonstrasi, atau boikot untuk tidak membeli atau memakai simbol Buddha sebagai dekorasi non-sakral atau tidak fungsional untuk pencerahan. Patung Buddha bukan interior kamar mandi atau kafe apalagi menemani toilet yang berharga 200 juta, tegaskan itu bukan  dekorasi atau simbol estetika konsumsi.

Dalam komunitas, sosialisasikan tindakan habituasi atau pembiasasan berdana secara cerdas, tepat dan bijak (yang sungguh bebas lepas, tanpa pamrih dan jelas sasarannya) sebagai wujud latihan spiritual dan kepedulian empatis, bukan pembayaran jasa. Dana adalah bukan tarif layanan. Ini adalah salah satu cara melawan kapitalisme dari struktur internal agama itu sendiri yang bisa dimulai sejak dini.

Dari sisi umat dan praktisi harus ditekankan bahwa praktik meditasi bukan sebagai “healing instan.” Buddhadharma harus dipahami sebagai latihan batin jangka panjang. Bukan alat untuk produktivitas bekerja, dalam jargon sukses duniawi, dimana seharusnya memahami dan tercerahkan tentang suksesi hidup dan mati dalam lingkaran samsara dan pembebasan.

Sangat penting sekali dari sisi kepemimpinan Sangha untuk menolak transformasi ritual menjadi komoditi. Tidak menjual “jasa doa”, paket pelimpahan jasa,” dan lain-lain. Biarkan umat berdana sukarela, bukan tarif dalam paket spiritual layaknya berjualan donat atau ayam potong.

Penting sekali teladan Sangha itu sendiri dalam penguatan etika monastik (vinaya) di tengah daya tarik pesona cahaya modernitas dan kapitalisme. Sangha yang kuat dalam vinaya lebih tahan terhadap komodifikasi. Vinaya membatasi kepemilikan, konsumsi, hubungan dengan kekuasaan, hubungan dengan ekonomi pasar.

Institusi Sangha menjadi benteng melawan kapitalisme, antitesa spiritualitas asketisme dengan materialisme-hedonisme. Dan bahkan sekalipun ajaran lenyap biar masih ada seorang Bhiksu yang bertahan dalam vinaya yang bagus, sederhana dan seperlunya hidupnya, Buddhadharma tetap hidup dan lestari. Mari kita temukan siapa bhiksu seperti itu!

Dari sisi birokrat pemerintah bisa melakukan edukasi publik kepada masyarakat luas bahwa simbol Buddha adalah simbol sakral, bangunan suci adalah bangunan sakral yang harus dihormati, bukan sasaran kebijakan komoditi budaya, tidak sekadar masuk dalam agenda pembangunan di bidang wisata termasuk wisata spiritual yang mereduksi nilai-nilai spiritual.

Usulkan dan lakukan kebijakan dengan didukung politisi Buddhis bahwa wisata spiritual mengunjungi obyek-obyek Buddhis di Nusantara harus mengindahkan aspek spiritualitas dan dasar keyakinan umat Buddha yang menjadi bagian tak terpisahkan atas bangunan suci itu sendiri, dalam rangka membentuk manusia yang seutuhnya.

Bagi masyarakat Buddhis yang di daerahnya memiliki obyek wisata Buddhis perlu diingatkan bahwa dalam wisata religi sensitif terhadap ruang sakral. Karenanya wisata boleh, tapi dengan aturan yang menghormati ritual, seperti pembatasan spot selfie di area suci.

Jaga bangunan suci, jangan jadikan sekadar obyek wisata semata yang bersifat sekular hanya karena untuk menarik banyak wisatawan. Jangan memodifikasi dan menjadikan komoditi ritual perayaan suci yang memang sepantasnya dan seharusnya diketengahkan secara utuh sebagai ritual sakral yang sungguh membatin dan mencerahkan.

Buddhadharma adalah agama yang bermuatan spiritualitas pembebasan, pembebasan dari lobha, dosa, dan moha. Menjaga soteriologi Buddhadharma untuk pembebasan. Siddharta lahir dan Buddha hadir untuk pembebasan dari segenap macam bentuk penderitaan, terutama penderitaan batin untuk tidak jadi moha, bodoh, dungu.

Ciri agama pembebasan adalah radikal, revolusioner disertai kritisisme-kecerdasan dan humanisme. Haruskah ciri ini ditaklukkan oleh komodifikasi kapitalisme dan kebijakan politik budaya yang melemahkan integritas spiritualitas Buddhisme dan daya integratif komunitas? Mari melakukan perlawanan terhadap komodifikasi Buddhadharma di era kehidupan yang diselimuti oleh Kapitalisme dewasa ini! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Meta AI

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?