Konfusianisme (儒教) Sebagai Bahan Bakar Kebangkitan Asia (Part I)

Home » Artikel » Konfusianisme (儒教) Sebagai Bahan Bakar Kebangkitan Asia (Part I)

Dilihat

Dilihat : 66 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 22
  • 41
  • 29,359
konfffusianisme

Oleh: Gifari Andika Ferisqo 方诸德.

Kebangkitan Asia bisa dikatakan diwakili oleh Tiongkok sebagai pelopor ajaran Konfusianisme (儒教) dan juga sebagai raksasa ekonomi dunia yang mampu menandingi supremasi negara-negara barat. Tanda-tanda ini mulai ditunjukan saat permulaan tahun 2000-an atau tepatnya pada tahun 2008 dan belakangan ini kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi Amerika (diperparah oleh COVID-19) dan memburuknya krisis utang di Eropa mengakibatkan rontoknya bursa dunia. Indeks Wall Street meluncur 512,76 point pada kamis, 4 Agustus 2022 atau yang terburuk sejak krisis finansial 1 Desember 2008. 

Seperti dalam ajaran Buddha yang sering menekankan pada anicca (अनिच्चा) yaitu ketidakkekalan, dan dengan melihat kegagalan Amerika dan Eropa sebagai “poros ekonomi dunia”, bisa dikatakan sebagai waktunya Asia mengambil peran tersebut. Inilah momentum terbaik kebangkitan perekonomian Asia. Negara-negara Asia yang ekonominya berkembang pesat, seperti Tiongkok, India, Korea Selatan dan Indonesia, memiliki potensi besar tersebut. Terutama Tiongkok dengan tiga sumber modal potensial, yakni demografis/sumber daya manusia, stabilitas politik dan sumber daya alam yang melimpah,menjadikan sesuatu tersebut tidak mustahil.

Pada abad ke-20, Tiongkok mulai mengalami berbagai revolusi yang membuat stabilitas ekonomi domestiknya bergejolak, sehingga Tiongkok melalui kepemimpinan terpusatnya berupaya memodernisasi perekonomiannya dan menghasilkan kebijakan yang pragmatis.  Pada masa pasca pemerintahan Mao Zedong (泽东), yaitu masa pemerintahan Deng Xiaoping (邓小), Tiongkok mulai tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang terbuka bagi kerja sama internasional. Masa pemerintahan Deng Xiaoping (邓小), beliau mempelopori program reformasi dan keterbukaan (改革开放), keterbukaan ini semakin longgar, terutama untuk merekonstruksi krisis ekonomi yang disebabkan oleh politik isolasi pada masa pemerintahan Mao Zedong (泽东).

Pada abad-21, keterbukaan ini semakin menjurus pada tujuan kebijakan ekonomi politik internasional Tiongkok yang ekspansif dan hegemonik. Hu Jintao () mewujudkan tujuan ini dengan mencanangkan The Peaceful Rise of China (中国和平崛起), yakni kebangkitan Tiongkok yang damai, pada 22 Desember 2005 dalam dokumen China Peaceful Development Road (中国和平). Kemudian program ini dilanjutkan oleh kepemimpinan Presiden Xi Jinping (习近) dengan One Belt One Road Initiative (带一) yang ingin kembali menghidupkan jalur sutra versi modern.

 

Naga Asia yang Membangkitkan dan Membabarkan Konfusianisme (儒教)

Saat Deng Xiaoping (邓小平) memimpin Tiongkok (1975 – 1989), beliau pada tahun 1981 menghapus sistem komune (人民公社) yang membuat pola dan tradisi kehidupan di perdesaan kembali ke asal, termasuk tradisi menjalankan ritual yang berkaitan dengan kepercayaan dan tradisi agama Tionghoa (Tridharma/三教). Sebaliknya, fokus pembangunan lebih terpusat di perkotaan sehingga pengawasan pemerintah pada kegiatan masyarakat di pedesaan lebih longgar. Tetapi, pemerintah juga justru cenderung mendukung perkembangan kegiatan yang berkaitan dengan tradisi dan keagamaan dengan mengategorikannya sebagai pengembangan warisan budaya. Pembangunan ekonomi yang dilaksanakan secara masif berpengaruh besar pada kehidupan tradisi dan keagamaan masyarakat. 

Perhatian pada filsafat tradisional Tiongkok, khususnya Konfusianisme (儒教) yang menjadi landasan untuk kebangkitan Asia, mulai muncul antara lain saat berdirinya China Confucius Foundation/CCF (中国孔子基金会) pada tahun 1984 di masa pemerintahan Deng Xiaoping (邓小). 

Kemudian saat masa kepemimpinan Hu Jintao (胡锦涛), Presiden Hu (胡) tampak menekankan pada nilai-nilai budaya Tionghoa dalam program kerjanya, dan melakukan upaya sistematis untuk mengaktualkannya, khususnya nilai-nilai Konfusianisme (儒教) tanpa berbenturan dengan nilai-nilai komunisme yang dianut Partai Kuomintang (中国共).

Ketika Presiden Hu (胡) terpilih untuk kedua kalinya pada 2007, dalam pidatonya beliau mengemukakan serangkaian slogan yang diusungnya, yaitu ‘penerapan konsep ilmiah dalam pembangunan’ (科学发展观), untuk menciptakan ‘masyarakat sosialis yang harmonis’ (社会主义和谐社会) sehingga dengan demikian juga turut menciptakan ‘dunia yang harmonis’ (和谐世界). Untuk menyukseskan ‘pembabaran’ ajaran Konfusianisme (儒教) pemerintah Tiongkok juga pernah merilis film berjudul 孔子 (Konfusius) yang dibintangi oleh Chow Yun-Fat (周润发) untuk memperingati 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok dan ulang tahun Konfusius (孔夫) ke-2560.

 

Pendidikan Konfusianisme (儒教) untuk Grand Plan Kebangkitan Asia

Pada dekade 1990-an, kebangkitan Konfusianisme (儒教) terus meluas hingga muncul fenomena yang memperlihatkan kerinduan masyarakat pada tradisi, nilai-nilai keagamaan, dan ajaran moral, khususnya Konfusianisme (儒教). Kajian tentang Konfusianisme (儒教) terus digencarkan baik di kalangan akademisi maupun masyarakat, dan didukung pula oleh media massa. Ini membuat pemerintah menyelenggarakan program kajian tentang Konfusianisme (儒教) di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi.

Pengajaran untuk murid di tingkat menengah atau untuk remaja dan dewasa disebut xuetang (学堂), dan untuk kajian yang lebih akademis disebut shuyuan (书院). Semangat masyarakat mempelajari dan mengajarkan kembali ajaran moral Konfusianisme (儒教) menyebar ke berbagai lapisan masyarakat di seluruh Tiongkok. Banyak orang yang terlibat secara suka rela, bahkan ada pula yang secara langsung jadi kecipratan rejeki, terutama yang bisnisnya berkaitan dengan penyediaan atau pencetakan dan distribusi bahan ajar. 

Kemudian melalui media televisi, pemerintah Tiongkok memunculkan Yu Dan (于丹), yaitu seorang profesor muda yang memandu acara The Lecture Room (百家讲坛). Acara itu mengangkat kembali ajaran-ajaran Konfusianisme (儒教) untuk menjadi pedoman dalam mencapai kehidupan bahagia di dunia modern yang terus berkembang dan penuh tantangan, The Lecture Room (百家讲坛) berhasil menjadi acara favorit pemirsa saluran televisi CCTV di banyak kota besar Tiongkok. Kumpulan bahasan dalam acara itu kemudian dijadikan buku berjudul Ajaran Konfusius dari Hati (論語心得). Saking larisnya kemudian diterbitkan edisi bahasa Inggris dari buku tersebut pada tahun 2006 dan berhasil menjadi buku terlaris dengan jumlah penjualan resmi mencapai 4,2 juta eksemplar.

Saat Xi Jinping (习近) terpilih menjadi Presiden Tiongkok pada 2014 menggantikan Hu Jintao (), ketika berpidato pada peringatan 2565 tahun Konfusius () beliau juga menegaskan, “meneliti tentang Konfusius (孔夫) dan ajarannya (儒教) adalah satu cara penting untuk mengenal karakter bangsa Tiongkok dan akar sejarah kerohanian bangsa Tiongkok saat ini”. Pernyataan itu menjadi salah satu indikator Konfusianisme (儒教) yang dapat selaras dengan kondisi dunia saat ini. Konfusianisme (儒教) adalah basis karakter dan semangat yang menjadi ‘bahan bakar’ yang sangat berguna sebagai kekuatan lunak dalam diplomasi budaya yang unggul bagi bangsa Asia.

Bersambung ke part II

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

Daftar Pustaka (Part I dan II)

  • Bai Shouyi. 2010. An Outline History of China (revised edition). Beijing: Foreign Languages Press.
  • Billioud, Sebastien. 2007. Confucianism, “Cultural Tradition” and Official Discourse in China at the Start of New Century. China Perspective 3: 50–65.
  • 邓小平 Deng Xiaoping. 1979. 社会主义 也可以搞 市场经济 (Sosialisme juga boleh menjalankan ekonomi pasar). Dalam 邓小平文选 (Karya Tulis Terpilih dari Deng Xiaoping) 2008. 第二 (jilid II): 231-236. 北京:人民出版社 (Beijing: Penerbit Rakyat).
  • 黄道根 Huang Daogen. 1990. , () 复交及两国面临世界形势的桃展 (Perbaikan Hubungan Tiongkok-Indonesia dan Tantangan Perkembangan Dunia yang Dihadapi Kedua Negara). 东南亚研 (Kajian Asia Tenggara) 4.
  • Wibowo, I. 2000. Berkaca dari Pengalaman Republik Rakyat Tiongkok: Negara dan Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Wang Gungwu. 1991. The Chineseness of China: Selected Essays. Oxford, New York, Toronto: Oxford University Press.
  • MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). 2012. Su Si (Kitab Suci yang ke Empat) Kitab Suci Agama Khonghucu.
  • Hu Jintao. 2007. Hu Jintao proposes scientific therapy to unleash vitality of socialism. The 17th CPC National Congress, 08:43, October 16. http://en.people.cn/90002/92169/92188/6283733.html (diakses 28 Desember 2022).
  • Jiang Qing dan Daniel A. Bell. 2012. A Confucian Constitution for China. New York Times, July 12. https:// www.nytimes.com/2012/07/11/opinion/a-confucian-constitution-in-china.html, (diakses 28 Desember 2022).
  • 习近平 Xi Jinping. 2014. 在纪念孔子诞辰 2565 周年国际学术研讨会上的讲话 (Pidato dalam Seminar Ilmiah Internasional Memperingati 2565 Kelahiran Konfusius). http://news.xinhuanet.com/2014- 09/24/c_1112612018_2.htm (diakses 28 Desember 2022).
  • People’s Daily Online. 2006. China promotes its culture overseas to dissolve “China threat”. 28 May 2006. http://en.people.cn/200605/28/eng20060528_269209.html (diakses 28 Desember 2022).

https://new.qq.com/omn/20191022/20191022A0JBMF00.html. (Diakses 30 Desember 2022)

 

Butuh bantuan?