Konfusianisme (儒教) Sebagai Bahan Bakar Kebangkitan Asia (Part II)

Home » Artikel » Konfusianisme (儒教) Sebagai Bahan Bakar Kebangkitan Asia (Part II)

Dilihat

Dilihat : 49 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
22222 konfusianisme

Oleh: Gifari Andika Ferisqo 方诸德.

 

Keselarasan Konfusianisme (儒教) dengan Dunia Modern

Konfusianisme (儒教) pada dasarnya adalah doktrin tentang etika dan moralitas kemanusiaan demi mencapai kehidupan bermasyarakat yang harmonis, dan moralitas yang merupakan karakteristik teori dan praktik Konfusianisme (儒教). Ajarannya dijabarkan dalam kitab Sishu Wujing (四書五經). Etika Konfusianisme (儒教) secara integral juga mencakup aspek keagamaan, politik, pendidikan, psikologis, dan metafisik. Ajaran Konfusianisme (儒教) yang mengatur hubungan antarmanusia adalah wulun (五伦) atau lima hubungan. 

Wulun (五伦) pada dasarnya mengatur tata hubungan manusia di dunia, berdasarkan legalitas (kaisar/皇帝 dengan menteri/部长), kedekatan (bapak dengan anak), perbedaan (suami dengan istri), keteraturan (kakak dengan adik), dan kesetiaan (sesama teman), yang semuanya dilaksanakan dengan berpedoman pada nilai-nilai kebajikan (德). Dalam kutipan di atas, terungkap tiga nilai kebajikan, yaitu kebijaksanaan, keluhuran budi, dan keberanian yang harus dipraktikan dalam kehidupan. Maka pada umumnya, dalam kehidupan di dunia, penganut Konfusianisme (儒教) harus selalu berpegang dan mengamalkan delapan kebajikan (八德), yaitu: 

  1. Laku bakti/xiao (孝), 
  2. Rendah hati/ti (悌), 
  3. Setia/zhong (忠), 
  4. Dapat dipercaya/xin (信), 
  5. Susila/lin (禮), 
  6. Benar atau adil/yin (義), 
  7. Suci hati/lian (廉),  
  8. Tahu malu/chi (恥) 

Pola hubungan dalam wulun (五伦) menuntut manusia untuk berperilaku sesuai posisinya dalam masyarakat sehingga dapat tercipta keharmonisan. Ajaran itu masih dilengkapi lagi dengan konsep zhengming (正名) atau nama/penamaan yang tepat. Praktiknya adalah bahwa segala sesuatu harus menempatkan atau ditempatkan sesuai dengan nama, posisi, ataupun predikat yang melekat padanya, sederhananya adalah melakukan sesuatu sesuai hak dan kewajiban.

Konsep zhengming (正名) dalam Konfusianisme (儒教) ini mengandung makna bahwa, penguasa atau pejabat negara harus memerintah secara benar; yaitu tindakannya harus sesuai dengan tujuan tindakan yang mencerminkan makna kata penguasa/pejabat. Demikian halnya seorang bapak atau ibu, mereka mestinya menjadi orang tua yang benar, yang harus membangun hubungan dengan anak-anaknya dengan cara-cara yang benar, sebagaimana kata bapak dan ibu itu dimaknai, begitupun juga seorang anak.

Secara mendasar ada alasan kuat mengapa kombinasi antara Konfusianisme (儒教) dengan Komunisme membuat ‘ledakan’ yang luar biasa pada ekonomi, sosial dan politik di Tiongkok dan menjadi pemicu kebangkitan Asia karena adanya kesamaan antara keduanya yang mengandung suatu kontrak implisit antara rakyat dan negara. Jika negara gagal memenuhi kewajibannya, petani, menurut Konfusianisme (儒教), berhak mencabut Mandat Langit/tianming (天命) dari kaisar (皇帝), sedangkan dalam komunisme, buruh berhak memberontak atau melakukan revolusi atas nama perjuangan kelas jika terjadi ketidakadilan sosial. Kombinasi ini yang berhasil menempatkan pada posisi masing-masing sesuai penempatan namanya dan sama-sama ‘tahu diri’.

Gambaran kecenderungan masyarakat Tiongkok pada nilai-nilai Konfusianisme (儒教) yang dibahas di atas sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah Tiongkok yang menetapkan bidang ekonomi sebagai titik pusat pembangunan. Salah satu di antaranya adalah memberi tekanan pada peningkatan produktivitas masyarakat yang kemudian dijewantahkan dalam gerakan turun ke lautan/xiahai (下海) yang memungkinkan rakyat Tiongkok mengembangkan usaha pribadi yang kemudian menjadi mitra dagang dunia dan membuat seluruh dunia memiliki ketergantungan terhadap Tiongkok.

Pertumbuhan dan transformasi perdagangan Tiongkok telah menciptakan efek yang signifikan dalam regional and global supply chain. Tiongkok menjadi pemasok utama baik dalam produk komoditas, barang setengah jadi, barang modal, maupun barang jadi. Semakin pentingnya peran perekonomian Tiongkok dalam global value chain juga sangat dipengaruhi oleh upaya penggencaran hubungan dagang oleh pemerintah Tiongkok dalam bentuk kesepakatan perdagangan bilateral dengan negara- negara lain, yang secara tidak langsung memperkuat daya tawar politik Tiongkok di dunia internasional. 

Tiongkok memiliki peluang yang cukup kuat untuk dapat ikut serta dalam setiap bagian prosedur pengambilan kebijakan, termasuk di dalamnya adalah proses pembentukan norma, tata peraturan, prinsip dan penentuan berbagai kebijakan global, serta pengadaan program di dalamnya. Tidak menutup kemungkinan bagi Tiongkok untuk menyelipkan kepentingan nasionalnya di antara kepentingan Amerika dan sederet misi pembangunan dunia.

Ditambah lagi, Amerika merupakan kreditur terbesar dari Tiongkok yang bisa dengan lebih mudah bagi Tiongkok untuk mencari celah untuk memperkokoh power-nya dan secara bertahap berpeluang untuk dapat ‘menundukkan’ dominasi Amerika di dunia, sembari mengumpulkan sekutu/ally terutama di kawasan Asia-Pasifik yang juga bisa menandai sebagai titik kebangkitan Asia yang dipelopori oleh ajaran Konfusianisme (儒教) sebagai ‘bahan bakarnya’, dan saat ini Konfusianisme (儒教) oleh pemerintah Tiongkok digunakan sebagai anti-dote budaya yang ampuh dalam menghadapi westernization.

‘Memanaskan’ Konfusianisme (儒教) di Indonesia

Konfusianisme (儒教) di Indonesia sebenarnya hanya populer di kalangan Tionghoa Indonesia yang diterapkan sehari-hari baik secara sadar ataupun tidak sadar karena sudah terbiasa secara turun-temurun. Seperti dalam keluarga saya untuk contoh mudahnya, salah satu penerapan nilai yang dianggap penting yang saya pelajari sejak kecil adalah nilai-nilai keluarga, kejujuran, dan integritas. Anak-anak akan diajarkan bagaimana cara menghormati kedua orang tua dan menjalankan yang diperintahkan kepadanya.

Saat anak masih sangat belia, anak-anak belajar dari perilaku dan kepercayaan kedua orang tua dan orang lain di lingkungan sekitar mereka, termasuk para pengasuh dan kakek-nenek. Misalnya, menghindari mengumpat atau berkata kasar, menghormati orang yang lebih tua, dan tidak mengeluarkan kata-kata yang mencela. Tidak hanya kepada kedua orang tua, tetapi pada siapapun yang usianya lebih tua, termasuk kepada asisten rumah tangga, begitupun terhadap teman sebaya yang mana anak dilatih untuk bersikap fair. Kemudian ini terbentuk sampai dewasa dan menjadi nilai integritas dari anak tersebut. Karakter ini yang terus terbawa hingga anak tersebut mencapai karirnya dan berefek pada sumbangan ekonomi pada negara karena nilai-nilai kepercayaan dan integritas yang ditanam.

Semangat Konfusianisme (儒教) juga kembali digelorakan oleh para pemuda Tionghoa Indonesia yang belakangan mulai banyak yang melanjutkan pendidikan ke Tiongkok, dan hubungan yang semakin erat ini dengan pemerintah Indonesia juga dihadiahi dengan banyaknya program beasiswa yang diberikan pemerintah Tiongkok untuk meningkatkan sumber daya manusia pemuda Indonesia dengan landasan nilai-nilai Konfusianisme (儒教) agar tidak hanya populer di kalangan Tionghoa saja dan bisa sama-sama memetik hasil dari kebangkitan Asia. 

Selain itu, hubungan Tiongkok-Indonesia juga semakin erat untuk menandai salah satu titik kebangkitan Asia dengan politik gastro diplomasi, yaitu menggunakan kuliner untuk mengeratkan tali persaudaraan atau diplomasi. Saat ini contohnya kita bisa melihat Mixue (蜜雪) dengan icon badut xuewang (雪王) ada di mana-mana, sampai ada anekdot; “di mana ada ruko kosong kelak di situ segera akan ada Mixue (蜜雪)”, dan tidak butuh waktu lama perlahan mulai menggeser popularitas McDonald dengan icon badut Ronald-nya yang dikenal sebagai simbol kapitalisme Amerika.

Selain itu, masakan peranakan yang sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia yang dibawa oleh leluhur Tionghoa Indonesia dari Tiongkok sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia dibandingkan masakan Barat. Implikasinya juga berdampak pada para pedagang makanan yang lebih menguasai dan lebih cuan jika menjual masakan peranakan daripada masakan Barat.

Revitalisasi budaya dan peradaban, terutama yang berbasis Konfusianisme (儒教) menjadi bentuk alternatif yang berbeda dari yang ditawarkan Barat. Sejumlah masalah sosial, budaya, ekonomi, dan politik saat ini terus mengemuka sejalan dengan laju arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang informasi dan komunikasi.

Oleh karena itu, diperlukan gagasan unggul berbasis budaya untuk mengatasinya. Konfusianisme (儒教) yang mengedepankan harmoni atau keselarasan, kemanusiaan, dan kepatuhan, memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan tersebut yang menjadi titik balik kebangkitan Asia. Bukan tidak mungkin jika keunggulan budaya yang berbasis Konfusianisme (儒教) itu juga dapat ditawarkan untuk turut menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi berbagai negara dan bangsa di dunia.

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

Daftar Pustaka (Part I & II)

Bai Shouyi. 2010. An Outline History of China (revised edition). Beijing: Foreign Languages Press.

Billioud, Sebastien. 2007. Confucianism, “Cultural Tradition” and Official Discourse in China at the Start of New Century. China Perspective 3: 50–65.

邓小平 Deng Xiaoping. 1979. 社会主义 也可以搞 市场经济 (Sosialisme juga boleh menjalankan ekonomi pasar). Dalam 邓小平文选 (Karya Tulis Terpilih dari Deng Xiaoping) 2008. 第二 卷 (jilid II): 231-236. 北京:人民出版社 (Beijing: Penerbit Rakyat).

黄道根 Huang Daogen. 1990. 中, 印 (尼) 复交及两国面临世界形势的桃展 (Perbaikan Hubungan Tiongkok-Indonesia dan Tantangan Perkembangan Dunia yang Dihadapi Kedua Negara). 东南亚研 究 (Kajian Asia Tenggara) 4.

Wibowo, I. 2000. Berkaca dari Pengalaman Republik Rakyat Tiongkok: Negara dan Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wang Gungwu. 1991. The Chineseness of China: Selected Essays. Oxford, New York, Toronto: Oxford University Press.

MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). 2012. Su Si (Kitab Suci yang ke Empat) Kitab Suci Agama Khonghucu.

Hu Jintao. 2007. Hu Jintao proposes scientific therapy to unleash vitality of socialism. The 17th CPC National Congress, 08:43, October 16. http://en.people.cn/90002/92169/92188/6283733.html (diakses 28 Desember 2022).

Jiang Qing dan Daniel A. Bell. 2012. A Confucian Constitution for China. New York Times, July 12. https:// www.nytimes.com/2012/07/11/opinion/a-confucian-constitution-in-china.html, (diakses 28 Desember 2022).

习近平 Xi Jinping. 2014. 在纪念孔子诞辰 2565 周年国际学术研讨会上的讲话 (Pidato dalam Seminar Ilmiah Internasional Memperingati 2565 Kelahiran Konfusius). http://news.xinhuanet.com/2014- 09/24/c_1112612018_2.htm (diakses 28 Desember 2022).

People’s Daily Online. 2006. China promotes its culture overseas to dissolve “China threat”. 28 May 2006. http://en.people.cn/200605/28/eng20060528_269209.html (diakses 28 Desember 2022).

https://new.qq.com/omn/20191022/20191022A0JBMF00.html. (Diakses 30 Desember 2022)

 

Butuh bantuan?