Kuliah Umum Nalanda: Eksistensialisme Buddhis di Tengah BANI-ERA

Home » Artikel » Kuliah Umum Nalanda: Eksistensialisme Buddhis di Tengah BANI-ERA

Dilihat

Dilihat : 147 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 143
  • 571
  • 278,670
Pic 1 Kuliah umum Nalanda

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd. (Sia Wie Kiong 謝偉強)

 

“Dunia ini dirundung oleh kematian. Terbungkus oleh usia tua. Terluka oleh anak panah ketagihan. Selalu terbakar oleh keinginan”

(Buddha, Samyutta Nikaya 1.66 Attahata Sutta)

 

Dunia semakin rapuh, di tengah globalisasi dan pengaruh ekonomi kapitalistik yang menyebabkan semuanya menjadi serba cepat, rupanya tidak hanya serba cepat, resiko dari kecepatan semuanya menjadi serba dangkal (banalitas), serba dangkal menjadi apa adanya asal jadi, sehingga menjadi cepat rapuh dan berubah terlalu dinamis hingga pada akhirnya menjadi ekstase kegilaan emosional kolektif di tengah masyarakat. Pembangunan yang dilandasi paham manusia modern Need of Archievement (N.Ach, keinginan untuk berprestasi/pencapaian) kini menjadi bayang-bayang bagi eksistensi manusia di era BANI, ada yang menyerah, ada yang terus memaksa sehingga menjadi manusia hidup tetapi tidak merasakan kebahagiaan hidup. Di tengah narasi-narasi kegamangan dunia terhadap ketidakstabilan dan kerapuhan, narasi-narasi Need of Archievement mulai dipandang berbeda, yakni dengan narasi Self-Welfare (Kesejahteraan diri) yang dicirikan dengan mengutamakan kebahagiaan dan pertumbuhan diri daripada memaksakan sebuah prestasi secara gila-gilaan. Justru dengan memenuhi kesejahteraan diri (termasuk kesejahteraan pikiran) seseorang akan mendapatkan lingkungan yang cukup untuk berprestasi dan mencapai apa yang sebelumnya tidak pernah ia capai.

Setidaknya ada dua narasi yang membahas hal tersebut: Stoikisme dan Buddhisme. Kali ini, kita akan bahas dari sisi Buddhisme. Kontributor Setangkaidupa.com, (Majaputera Karniawan, M.Pd.) berkesempatan menghadiri secara virtual (Zoom) acara Kuliah Umum Semester Genap Institut Nalanda Tahun 2025/2026 pada Jumat (30/01/2026) yang mengusung tema “From Chaos to Calm: Applying the Dhamma in an Age of Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible (BANI) Realities“, acara ini dilandasi kegamangan akan bayang-bayang fenomena BANI di  tengah ketidakpastian dunia yang semakin kompleks melanda eksistensi manusia posmodern. Meskipun kuliah umum, tetapi acara ini terbuka untuk umum, acara ini juga bertujuan membekali masyarakat dengan nilai-nilai spiritual dalam menghadapi tantangan zaman. Acara ini menghadirkan narasumber internasional, Ven. Asst. Prof. Dr. Phramaha Somphong Kunakaro dari IBSC Mahachulalongkorn University, Thailand, dan dimoderatori oleh Gustiya Gandha Metri, M.Pd. ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan YouTube.

 

A. Memahami Era BANI: Tantangan Mental di Dunia yang Tak Terprediksi

Secara sederhana, Era BANI adalah kerangka kerja untuk memetakan kondisi dunia saat ini yang penuh ketidakpastian. Istilah ini merujuk pada empat karakteristik utama: Brittle (rapuh), Anxious (memicu kecemasan), Non-linear (tidak berpola), dan Incomprehensible (sulit dipahami). Di era ini, sistem yang tadinya terlihat kokoh bisa tiba-tiba runtuh, menyebabkan kecemasan massal karena hubungan sebab-akibat tidak lagi mudah dipetakan, bahkan dengan bantuan data dan teknologi tercanggih sekalipun.

Ibu Dharmika Pranidhi, M.Si., Keynote Speaker yang juga Wakil Rektor Institut Nalanda, menekankan bahwa realitas BANI sangat berdampak pada stabilitas emosional kita. Karena kehidupan tidak lagi bisa diprediksi secara akurat, kerapuhan dan kegelisahan menjadi hal yang lumrah ditemukan dalam berbagai aspek keseharian. Dalam kondisi ini, tantangan terbesarnya bukan lagi soal bagaimana kita mengendalikan situasi eksternal, melainkan bagaimana kita menjaga ketenangan internal. Stres sebaiknya dipandang sebagai indikator untuk segera membangun kesadaran diri (mindfulness). Pilihannya ada di tangan kita: melatih diri untuk tetap stabil dan tenang, atau membiarkan mental kita runtuh yang nantinya akan berdampak buruk pada perilaku serta tutur kata kita sehari-hari.

 

B. Apa Sebab Kecemasan (Chaos)?

Ven. Assc. Prof. Phramaha Somphong Khunakaro, Ph.D Menyampaikan dalam materinya bahwa dalam kaca mata Buddhist, semua kekacauan dalam era BANI berasal dalam diri, yakni dari pikiran. Sebagaimana Buddha sampaikan dalam Dhammapada ayat 1 dan 2, jika kita bisa mengontrol pikiran kita, maka kita bisa mengontrol situasi diri. Buddhisme memandang semua kekacauan (Chaos) bermula dari pikiran yang tidak terkendali. Akar dari pikiran imoral dalam sudut pandang Buddhisme adalah Keserakahan, Kebencian, Delusi (Lobha, Dosa, Moha). Sebaliknya akar dari pikiran moral adalah tidak serakah, tidak membenci, dan tidak berdelusi (Alobha-Adosa-Amoha).

Sejak manusia hidup, manusia terus berpikir, dan karena ia berpikir maka ia menjadi eksis (mengada) sebagaimana tesis dari Rene Descartes, ‘Aku berpikir, maka aku ada’, namun diktum tersebut tidak selalu malah memperkuat eksistensialisme dalam diri seseorang di ruang dan waktu yang berbeda, terlebih di era BANI. Kita bisa temukan di masa kini, orang-orang cenderung banyak berpikir sehingga ia menjadi cemas, ‘Aku cemas karena aku banyak pikiran’ nampaknya menjadi diktum kausalitas yang semakin relevan di era BANI saat ini. Dalam Buddhis mengenal istilah Prapanca/Papanca (Diferensiasi, Perkembangbiakan pikiran), yang membuat orang orang berpikiran secara bercabang. Sebab dari Papanca adalah nafsu (Tanha), pembandingan diri (Mana), dan pengaruh pandangan (Ditthi).

Apa itu nafsu? Venerable Somphong menjelaskan dengan sangat sederhana: “Semakin banyak yang kamu lekati semakin banyak yang kamu inginkan“, demikian juga dalam aspek bernegara saat ini, banyak negara negara berlomba-lomba untuk mengokupasi negara lain, semua didasari adanya Nafsu sehingga muncul banyak konflik akibat  nafsu yang menjelma menjadi berbagai kepentingan. Kemudian ada Perbandingan diri (Mana), banyak masyarakat mulai membanding-bandingkan satu dengan lain sehingga menciptakan penghakiman dan prasangka, serta mau menunjukan kekuasaan, siapa lebih berkuasa, siapa setara, dan siapa lebih inferior. Kemudian pengaruh pandangan (Ditthi), orang-orang merasa pandangan mereka lebih penting daripada pandangan orang lain. Orang hanya perduli dengan pandangannya sendiri yang menurutnya adalah realitas padahal sesungguhnya adalah realitas palsu yang ia yakini semata.

 

C. Benang Merah Kekacauan-Konflik-Nafsu

Dalam perspektif Buddhisme, konflik dan peperangan yang marak di dunia saat ini berakar dari tiga masalah utama tersebut. Fenomena ketegangan antarnegara—termasuk yang melibatkan kelompok separatis—sering kali disalahpahami sebagai konflik agama. Padahal, secara esensial, agama mengajarkan kedamaian. Konflik tersebut sebenarnya dipicu oleh kepentingan lain, seperti ambisi okupasi wilayah dan keinginan untuk memuaskan nafsu kekuasaan yang tidak ada habisnya. Menanggapi realitas ini, Venerable Somphong membagikan sejumlah langkah praktis berbasis nilai Buddhisme. Panduan ini dirancang agar setiap individu mampu menjaga eksistensi dirinya sendiri baik secara jasmaniah maupun stabilitas mental dan tetap tenang di tengah kekacauan dunia di era BANI.

  1. Sabar (Khanti), merupakan praktik pertapaan yang tertinggi (Dhammapada 184), dikatakan ketika seseorang membenci, ia menjadi umpan bagi kebencian dan pikirannya menjadi terobsesi dengan kebencian, sehingga ia melakukan beragam perilaku buruk seperti membunuh, mencuri, asusila, berdusta, dan sebagainya (Visudhimagga 291). Ketika seseorang bisa sabar dan mengalahkan kebencian dengannya, maka kebencian akan sirna (Dhammapada 3-5). Maka tidak ada sikap kontrol yang lebih tinggi selain bersikap sabar, tidak ada hal yang lebih baik dari kesabaran yang karenanya seseorang bisa menapaki jalan ke nibbana (Visuddhimagga 291).
  2. Menjadi bijaksana. Karena kebijaksanaan adalah cahaya dunia (Samyutta Nikaya 1.80 Pajjota Sutta), dengan kebijaksanaan seseorang bisa memahami mana yang baik dan buruk, mana yang layak dan tidak layak. Bisa dikatakan, kebijaksanaan adalah kompas seseorang dalam mengarungi dunia.
  3. Miliki hidup yang mengikuti hukum alam: Pahami hukum alam bekerja, seperti saat anda marah, anda perlu sadari dan akui saat itu bahwa “Oh saya sedang marah”, kenali situasi dan bahayanya. Dengan demikian seseorang bisa melihat sebuah fenomena sebagaimana adanya dan mengetahui apa yang harus ia lakukan di saat itu sambil tetap menjaga welas asihnya (Karuna) dan memelihara bumi ini dengan cinta kasih (Metta).
  4. Tenangkan chaos, karena yang terpenting adalah bersikap stabil dan tetap tenang dalam menghadapi segala sesuatu. Buat diri sendiri menjadi pusat yang stabil dengan kesabaran (Khanti), kesadaran (Sati), dan kebijaksanaan (Panna).

Dengan melaksanakan kiat-kiat demikian, seseorang akan lebih siap dalam menghadapi era BANI yang penuh dengan ketidakpastian, sekaligus tetap berkesadaran dalam menjalankan hidup sehari-hari. Kesadaran dan kontrol diri yang baik dapat menjaga eksistensi seseorang untuk terus hidup dan berkarya, serta bermanfaat bagi banyak orang, sekalipun dunia sedang tidak baik-baik saja.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

Kosambi, D. (1989). Visuddhimagga of Buddhaghosâcariya. India: Motilal Banarsidass.

Mansour Fakih. (2001). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta : Insist Press.

Piliang, Yasraf Amir. (2010). Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.

Sustainable Development, Humanities, and Social Sciences for Society 5.0. (2024). Amerika Serikat: IGI Global Scientific Publishing.

Suttacentral. (2016). Dhammapada. http://suttacentral.net/dhp. Accessed on 30 Jan. 26

Suttacentral. (2016). Samyutta Nikaya. http://suttacentral.net/sn. Accessed on 30 Jan. 26

Foto: Dokumentasi Pribadi.

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?