Kumpulan Ungkapan Belasungkawa Tionghoa

Home » Artikel » Kumpulan Ungkapan Belasungkawa Tionghoa

Dilihat

Dilihat : 28 Kali

Pengunjung

  • 17
  • 1
  • 17
  • 30,758
Pic Ungkapan Kematian

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd. (Sia Wie Kiong 謝偉強)

 

Kematian merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti akan mengalaminya, baik itu orang terdekat maupun orang asing. Kematian juga merupakan peristiwa yang penuh dengan kesedihan dan duka cita. Kata 奠 diàn yang identik dengan upacara perkabungan Tionghoa berarti memberikan persembahyangan kepada yang meninggal mengindikasikan betapa kesedihan dan dukacita diwujudkan dalam kesakralan yang luar biasa, karena kata ini sendiri dibentuk dengan kata 酋 Qiu (Kepala suku) dan 大 Da (Besar) yang bermakna memberikan persembahan besar kepada yang dijunjung.

Dalam tradisi Tionghoa, kematian merupakan peristiwa yang penting dan sakral. Ada banyak ritual dan tradisi yang dilakukan untuk menghormati orang yang telah meninggal. Salah satu ritual paling sederhana yang akan dilakukan dalam suasana kedukaan adalah memberikan ungkapan belasungkawa. Ungkapan belasungkawa merupakan bentuk penghormatan dan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Ungkapan ini dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam pandangan agama dan budaya Tionghoa yang banyak terdampak kepercayaan Buddhisme, Taoisme, bahkan agama kepercayaan rakyat Tionghoa, Kematian bukanlah akhir, namun hanya proses berubah bentuk. Misalnya dalam Buddhisme meyakini adanya konsep 31 alam kehidupan yang mana kesadaran mahluk-mahluk akan mengembara ke alam berikutnya sesuai benih perbuatan baik dan buruk serta tingkat pengembangan kesadarannya, bisa ke alam lebih baik atau lebih buruk.

Dalam kepercayaan Taoisme istilah “kematian” disebut “Yu Hua” 羽 化  ungkapan tersebut berarti “untuk mengubah bentuk” (Li Zhi Wang, 2009:72). Jadi kematian sebagai sesuatu yang dinamis tidak dipandang akhir dari kehidupan dan tugas seseorang. Melainkan adalah langkah awal seseorang dalam menjalankan keberlanjutan kehidupannya di alam berikutnya.

Saat ini beliau berakhir sebagai manusia, namun di kehidupan mendatang ia sebagai apa kita tidak tahu. Apakah ia sudah selesai dengan lingkaran kehidupan dan kematian, ataukah melanjutkan di alam yang berbeda. Inilah yang membuat gelisah mereka yang ditinggalkan. Namun ada benarnya kata Konfusius. Daripada meributkan ritual dan perlengkapan persembahyangan lebih baik ada rasa sedih yang benar (Lun Gi III: 4).

Lalu bagaimanakah ungkapan belasungkawa tersebut? Ungkapan belasungkawa dalam tradisi Tionghoa memiliki makna yang mendalam. Ungkapan ini tidak hanya sekadar ungkapan simpati, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal, maka dari itu perlu melihat apakah ungkapan tersebut sesuai dengan kepercayaan yang dianut alm/almh. Ada sangat banyak ungkapan yang bisa diberikan, di sini kami berikan 12 contohnya:

  1. 深表哀悼Shēn biǎo āidào (Belasungkawa sedalam-dalamnya)
  2. 节哀顺便Jié’āi shùnbiàn (Turut menanggung/menahankan kesedihan kepergian alm/almh)
  3. 一路光明Yīlù guāngmíng (Sepanjang perjalanan terang gemilang)
  4. 一路好走Yīlù hǎo zǒu (Sepanjang perjalanan senantiasa baik)
  5. 乃统天Nǎi tǒng tiān (Semua kembali kepada Thian, Biasanya untuk keyakinan Khonghucu)
  6. 乃顺承天Nǎi shùn chéng tiān (Semuanya patuh mengikuti Thian Biasanya untuk keyakinan Khonghucu)
  7. 呜呼哀哉Wūhū’āizāi (Alangkah menyedihkannya karena musibah ini, Biasanya untuk keyakinan Khonghucu)
  8. 往生净土Wǎngshēng jìngtǔ (Semoga terlahir ke alam tanah murni, Biasanya untuk keyakinan Buddhis)
  9. 早得超升Zǎo dé chāo shēng (Semoga bangun ke alam tanah suci, Biasanya untuk keyakinan Buddhis/Taois)
  10. 蒙佛接引Méng fú jiē yǐn (Semoga diterima Buddha di alam tanah suci, Biasanya untuk keyakinan Buddhis)
  11. 万物无常Wànwù wúcháng (Segala sesuatu tidak kekal adanya, Skt: Sarva Sankhara Anitya, Biasanya untuk keyakinan Buddhis).
  12. 德范长存Dé fàn chángcún (Nilai Kebajikan [Alm] menjadi model/contoh hidup terus menerus).

Untuk cara penyampaian bisa disampaikan secara langsung ataupun tidak langsung. Namun pada umumnya orang lebih suka memberikan ungkapan-ungkapan dukacita secara tidak langsung seperti dengan karangan bunga, maupun ditulis di amplop putih/Pekpao. Hanya perlu digarisbawahi hindari warna merah (simbol kebahagiaan) dalam atribut kedukaan (terkecuali alm yang meninggal berusia 80 tahun lebih sudah puas dengan hidupnya, itupun hanya sebatas alat sembahyang seperti hio dan lilin saja yang merah).

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka:

Adegunawan, Suyena (陳書源 Tan Su Njan). 2018. Kompilasi 《四书》- Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. TSA.

___________. 2019. Wuhu Ai Zai Sejarah dan Penggunaannya. https://www.gentarohani.com/2019/08/wuhu-ai-zai.html. Diakses 23 Januari 2024.

Li Zhi Wang, Dkk. 2009. Taoist Day 2009 Singapore & Indonesia Commemorative Handbook. Semarang. Taoist Mission Singapore.

https://www.huitu.com/design/show/20210319/185714140070.html。 Diakses 23 Januari 2024.

Berbagai sumber media masa.

 

Butuh bantuan?