Leading by Example: The Power of “以身作则” – Memimpin dengan keteladanan: Kekuatan dari “以身作则”

Home » Artikel » Leading by Example: The Power of “以身作则” – Memimpin dengan keteladanan: Kekuatan dari “以身作则”

Dilihat

Dilihat : 8 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 18
  • 41
  • 29,355
Pic Memimpin teladan

Oleh: Xie Zheng Ming 谢峥明

 

Dalam Analects of Confucius, dalam bab “Zilu,” dinyatakan, “Ketika seseorang mencapai integritas, tidak perlu bagi orang lain untuk memberinya perintah; dia akan dengan sukarela mematuhinya. Namun, jika seseorang tidak memiliki integritas, bahkan jika diberi perintah, dia tidak akan menurutinya.” Kutipan ini memberi tahu kita bahwa tanggung jawab seorang pemimpin adalah yang terpenting, karena setiap kebijakan dan keputusan yang dikeluarkannya harus dipraktikkan dan dilaksanakan terlebih dahulu oleh dirinya sendiri. Hanya ketika pemimpin memimpin dengan memberi contoh, menunjukkan perilaku positif dan konstruktif, mereka dapat memperoleh kepercayaan dan dukungan dari masyarakat.

In the Analects of Confucius, in the chapter of “Zilu,” it is stated, “When a person achieves integrity, there is no need for others to give him commands; he will voluntarily obey. However, if a person lacks integrity, even if given commands, he will not comply.” This quote tells us that the responsibility of a leader is paramount, as every policy and decree they issue must be practiced and implemented first by themselves. Only when leaders lead by example, demonstrating positive and constructive behaviors, can they earn the trust and support of the people.

Ungkapan “以身作则Yǐshēnzuòzé” berarti memberikan contoh keteladanan melalui tindakan sendiri. Sebagai mahasiswa, kita juga harus memimpin dengan memberi contoh teladan dan membenamkan diri sepenuhnya dalam berbagai aspek untuk mendapatkan pengalaman langsung.

The phrase “以身作则Yǐshēnzuòzé” means setting an example through one’s own actions. As university students, we should also lead by example and fully immerse ourselves in various aspects to gain firsthand experience.

Dalam sejarah kuno, ada sebuah cerita terkenal yang menggambarkan pentingnya memimpin dengan memberi contoh keteladanan. Ini menceritakan kisah Qi Linggong, penguasa Qi selama periode Musim Semi dan Musim Gugur, yang melarang orang-orang mengenakan pakaian mewah dan flamboyan. Qi Linggong terobsesi dengan kemewahan dan kesenangan. Untuk menonjolkan statusnya, ia memerintahkan masyarakat umum untuk mengenakan pakaian yang sederhana dan tidak mencolok. Namun larangan ini menuai pertentangan keras dari masyarakat.

In ancient history, there is a famous story that illustrates the importance of leading by example. It tells the tale of Qi Linggong, the ruler of Qi during the Spring and Autumn period, who banned the people from wearing extravagant and flamboyant attire. Qi Linggong was obsessed with luxury and indulgence. In order to highlight his own status, he ordered the common people to wear simple and unnoticeable clothing. However, this ban sparked intense opposition from the people.

Pada masa itu, Qi adalah negara kuat dengan perekonomian yang makmur. Namun, Qi Linggong tidak memiliki ambisi dan menghabiskan hari-harinya dengan bersenang-senang. Dia menyukai kemewahan dan menjalani gaya hidup yang tidak bermoral, sering kali mengenakan pakaian yang menarik perhatian dan aneh, yang menuai kritik publik. Dalam upayanya untuk menetapkan posisinya sendiri, ia mengeluarkan dekrit bahwa hanya bangsawan yang berhak menikmati pakaian mewah.

During that time, Qi was a powerful state with a prosperous economy. However, Qi Linggong lacked ambition and spent his days indulging in pleasure. He had a penchant for luxury and led a debauched lifestyle, often wearing attention-grabbing and peculiar outfits, which drew public criticism. Seeking to establish his own position, he issued the decree that only nobles were entitled to enjoy extravagant clothes.

Namun larangan ini memicu kemarahan dan perlawanan di kalangan masyarakat. Mereka percaya bahwa apa yang mereka kenakan adalah kebebasan pribadi dan tidak boleh diatur oleh penguasa. Masyarakat memprotes dengan keras, mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap gaya hidup Qi Linggong yang boros.

However, this ban sparked anger and resistance among the people. They believed that what they wore was a matter of personal freedom and should not be regulated by the ruler. The public protested vehemently, expressing their discontent with Qi Linggong’s extravagant lifestyle.

Pada akhirnya pelarangan Qi Linggong tidak mencapai hasil yang diharapkan melainkan justru menimbulkan kebencian masyarakat. Para menteri bersatu dan membunuh Qi Linggong, menghapuskan larangan dalam prosesnya.

In the end, Qi Linggong’s ban did not achieve the intended effect but rather aroused the people’s resentment. The ministers united and killed Qi Linggong, abolishing the ban in the process.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa jika perilaku seorang pemimpin dipertanyakan, bahkan jika perintah sudah dikeluarkan, orang-orang tidak akan mematuhinya. Hanya ketika para pemimpin memberikan contoh dan menunjukkan perilaku positif, mereka dapat memimpin orang-orang ke arah yang benar.

This story teaches us that if a leader’s own behavior is questionable, even if commands are issued, people will not comply. Only when leaders set an example and demonstrate positive behavior can they lead the people in the right direction.

Para tetua dan pemimpin harus menganut prinsip “以身作则” dan berusaha untuk mempelajari bahasa Mandarin dan bahasa Mandarin klasik. Dengan begitu, mereka bisa menjadi contoh yang baik bagi generasi muda. Jika buta huruf menghalangi seseorang untuk memahami aksara Tiongkok dan Tiongkok klasik, mereka akan kehilangan khazanah intelektual dari Empat Buku dan Lima Klasik (Si Shu Wu Jing), sehingga menghambat perkembangan intelektual mereka.

Elders and leaders should embrace the principle of “以身作则” and strive to learn the Chinese language and classical Chinese. By doing so, they can set a good example for the younger generation. If illiteracy prevents individuals from understanding Chinese characters and classical Chinese, they will miss out on the intellectual treasures of the Four Books and Five Classics, hindering their intellectual development.

Kesimpulannya, “以身作则” menekankan pentingnya memimpin dengan memberi contoh. Pemimpin harus menjadi panutan yang mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan. Hanya dengan mewujudkan integritas dan perilaku positif, pemimpin dapat memperoleh rasa hormat dan pengikut dari masyarakat. Sebagai individu, kita juga harus berusaha untuk menjadi teladan dalam semua aspek kehidupan, menginspirasi orang lain melalui tindakan kita sendiri.

In conclusion, “以身作则” emphasizes the importance of leading by example. Leaders should be role models who practice what they preach. Only by embodying integrity and positive behavior, can leaders earn the respect and followership of the people. As individuals, we should also strive to lead by example in all aspects of life, inspiring others through our own actions.

 

“子曰:其身正,不令而行;其身不正,虽令不从。”

Nabi Kongzi berkata: “Bila diri telah lurus, dengan tanpa memerintah semuanya akan berjalan beres. Bila diri tidak lurus, sekalipun memerintah tidak akan diturut.”

《论语·子路 Lun Gi XIII:6》

 

在《论语·子路》一文中指出:“一个人自己做到了正直,别人就不需要再给他命令,他也会主动去执行;一个人自己身上欠缺正直,即使别人给他命令,他也不会去遵守。”这句话告诉我们,领导者的责任最重,因为他们发布的任何政策法令都必须首先在自己身上实践执行。只有领导者能够以身作则,做出积极正面的榜样,才能够赢得民众的信任和支持。

“以身作则”这个成语,意味着通过自身实际行动给别人树立榜样。作为一名大学生,我们也应该以身作则,在各个方面全力实践并亲身体验。

古代历史中有一个著名的故事,讲述了齐国君主齐灵公禁止百姓穿着奇装异服的事情。齐灵公是春秋时期齐国的统治者,他酷爱奢华,生活堕落。为了突显自己的地位,他下令禁止百姓穿着引人注目的特殊服饰。然而,这个禁令引发了百姓的强烈反对。

当时的齐国国力强盛,经济繁荣。然而,齐灵公却不思进取,整日沉迷于享乐之中。他嗜好奢华,生活颓废,经常穿着引人注目的奇装异服,引起公众的非议。为了彰显自身的地位,他下令百姓只能穿着朴素的服饰,认为只有贵族才能享受华美的衣物。

然而,这个禁令却激起了百姓的愤怒和反抗。百姓们认为,他们穿什么样的衣服是自己的自由,不应该由君主来规定。大家纷纷议论纷纷,对齐灵公的奢靡生活更加不满。

最终,齐灵公的禁令没有达到预期效果,相反却激起了百姓的怨恨。大臣们联合起来,将齐灵公杀死,并废除了这个禁令。

这个故事告诉我们,领导者如果自身行为不端,即使发布命令,人们也不会服从。只有领导者率先示范,做出正面的榜样,才能够引领民众朝着正确的方向前进。

长辈和领导者应当以身作则,努力学习汉语和文言文,才能为后辈们树立良好榜样。如果文盲不懂得汉字和文言文,就会在智力上半途而废,无法接触到四书五经的智慧。

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Butuh bantuan?