Loh, Kok Gak Ada Payungnya?

Home » Artikel » Loh, Kok Gak Ada Payungnya?

Dilihat

Dilihat : 47 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 5 Loh Kok Gak Ada Payungnya

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

Catatan: Kisah ini murni fiktif belaka, sebagai refleksi epistemologis atas materi persembahan vs kesadaran berDharma kita.

 

Suatu ketika, Metta baru saja membeli miniatur stupa berarca Buddha untuk menambah keyakinannya kepada Triratna (Buddha-Dharma-Sangha), ia berencana memasukan relik/sarira Dhamma berupa salinan gatha Paticcasamuppada/Pratityasamutpanna (“Pali: Ye dhammā hetuppabhavā, tesaṃ hetuṃ tathāgato āha, tesañca yo nirodho, evaṃ vādī mahāsamaṇo – Skt: Ye dharma hetuprabhavastesham hetum tathagata uvaca, Tesham ca yo nirodha evamvadi mahasramanah  – Segala sesuatu yang terjadi berasal dari suatu sebab, sebab itu telah diberitahukan oleh Sang Tathagata; dan juga lenyapnya. Demikianlah yang diajarkan oleh Sang Petapa Agung”) sebagaimana praktik Abhisekha Stupa ataupun Cetiya yang lazim dilakukan di India tempo doeloe dalam membuat objek pemujaan.

 

Saat sedang menyelipkan kertas berisi gatha paticasamuppada tersebut di bagian dalam stupa, datanglah Bodhi dan ia mengomentari. “Loh, Metta, rupang Buddhamu dan stupanya bagus. Tapi kok gak ada payungnya?” “Hah payung? Emang stupa ada payungnya ya, Bodhi?”

“Ada Metta, namanya Chattra. Harusnya dia pakai payung loh. Supaya sakral dan cantik terlihatnya”. Metta pun terdiam. Ia bingung lalu berkata “Tapi dari penjualnya gak dapat loh saya, cuma dapat begini saja. Jadi gimana dong? Pakai atau kaga pakai payung nih?”. Bodhi pun kemudian mengemukakan pendapatnya mengenai payung.

 

A. Payung Kain

“Kamu tau gak Metta, kalau kita mempersembahkan Chattra (payung) kebesaran kepada stupa, itu sebagai cara menghimpun kusala kamma (karma baik)? Karena persembahan apapun yang dipersembahkan kepada Triratna itu pasti jadi jasa pahala besar. Sebagaimana dalam kitab Karmavibhangga juga dikatakan demikian loh.”

“Hmmm. Chattra dari apa yah bagusnya Bodhi?” “Kalau menurutku sih, bagusnya dari batu biar seirama dan sesuai dengan desain stupa kamu, Metta, atau ukir yang indah, dari emas saja”

 

“Tapi Bodhi, kalau dari batu penjualnya gak kasih awalnya, lalu kalau dari emas biayanya mahal, sementara esensinya Chattra itu kan payung kebesaran, bagaimana kalau aku buat saja dari kain? Kebetulan aku pernah liat sebuah payung di altar dari kain berwarna putih dengan rumbai-rumbai berwarna keemasan sangat cantik di wihara. Kata Bhante, payung itu terinspirasi dari payung kain putih penahan cahaya matahari yang muncul sewaktu Sang Bodhisattva baru lahir dan berjalan 7 langkah ke arah utara sebelum mengemukakan auman Singa-Nya”

“Ya tidak apa-apa juga sih. Toh pada intinya kan esensinya adalah pemujaan pada Triratna” sahut Bodhi. Sehingga kemudian mereka sepakat akan membuat payung putih kecil untuk menghias altar stupa tersebut.

 

B. Pentingkah Payung?

“Bodhi, aku mau tanya, kalau misalnya nih, sambil menunggu payungnya jadi, gimana kalau kita pakai stupa Buddha ini sebagai objek puja? Apa harus tunggu payungnya jadi?” Tanya Metta.

“Hmmm. Gimana yah, Metta, aku agak bingung, yang aku tahu sih sepanjang kita memberikan persembahan kepada Triratna itu juga yang akan memberikan arus jasa pahala kepada kita. Tetapi aku pernah baca dalam Dhammadayada Sutta (MN3) Sang Buddha ajarkan jadilah pewarisku dalam Dhamma dan bukan benda-benda materi, karena ya memang yang paling berharganya ya Dharma Heritage (Warisan Dhamma) Sang Buddha”

Metta berkata “Oke, jadi kalau menurutmu, esensialkah Payung Chattra ini? Apakah kita tidak bisa melaksanakan puja apabila tidak ada payung ini?”

“Yaa nggak juga sih, puja mah puja saja, payung kan bisa menyusul” sahut Bodhi.

“Iya aku pikir juga demikian, Bodhi. Stupa dan rupang Buddha ini kan ada dahulu, tetapi setelah adanya stupa barulah kita memikirkan payungnya. Ini yang dikatakan eksistensi mendahului esensi, jadi kupikir, ada baiknya lebih baik diadakan dahulu saja Stupa-Nya sebagai objek sakral baru kemudian Payung Chattra-Nya”

 

C. Living Dharma Heritage

“Bodhi-Bodhi, aku mau nanti kedepannya altar berbentuk Stupa ber-rupang Buddha ini juga bisa dipakai beribadah oleh banyak sahabat Dharma yang main kerumahku, aku jadi terinspirasi untuk terus mempercantiknya. Duhh jadi gak sabar deh menunggu Chattranya jadi supaya altar kecilku ini terpancar keindahannya.”

Bodhi berkata “Iya benar juga, kayak kamu bilang tadi eksistensi mendahului esensi, jadi gapapa berchattra saja dahulu, supaya orang bisa lebih bersalutasi kepada Triratna. Tetapi saranku awas kemakan narasi gombalan maut pedagang barang puja kamu. Nanti ada aja tambahannya altarmu jadi showroom aksesoris nanti 🤣”

“Hehehe iya, Bodhi, aku sih berpikir begitu. Awalnya aku juga berpikir pengen payung emas yang indah untuk altarku, tetapi aku berpikir, siapa yang diuntungkan dengan payung emas ini? Apakah Triratna butuh payung ini? Apakah kita tidak bisa memuja Triratna dengan sederhana? Akhirnya aku pun memilih jalan menjadikan altarku sebagai Living Dharma Heritage, warisan Dharma berwujud tempat ibadah dan mempraktikan Dharma yang terus hidup meskipun di tengah realitas kekosongan dunia/Svabhava Sunya.”

“Maksudnya gimana? Kalau agak filosofis aku pusing nih” sahut Bodhi. “Maksudku sederhana, sejak aku memasukan Gatha Pratityasamutpanna ke dalam stupa ini, aku sadar bahwa segala hal yang terbentuk kosong dari substansi inti dan karenanya gagasan keakuan dalam segala kemelekatan manusia termasuk kemelekatan ingin menjadi ini dan itu justru malah mendegradasi Dharma yang luhur itu sendiri, Pratityasamutpanna membuka kesadaranku bahwa tidak ada substansi inti dalam segala hal yang terbentuk (Svabhava sunya) melainkan semua hanya perpaduan aneka sebab saja, sehingga semua fenonena bersifat tidak kekal, bila dilekati membawa penderitaan dan kosong dari aku. Inilah yang dimaksud Kesempurnaan Kebijaksanaan atau Prajnaparamitra, nah aku mau Altar Stupa ini menjadi ruang living heritage, ruang warisan yang hidup sepanjang masa untuk terus orang-orang datang mempraktikan Dharma dan menyadari Svabhava Sunya.” Sahut Metta.

“Hmmm, kalau begitu, kalau semuanya Svabhava Sunya, semua ini gak penting dong?” sahut Bodhi. “Saat ini, kita sebagai manusia biasa masih penting, tetapi untuk bisa bilang itu semua gak penting, kita harus mencapainya dulu. Sama seperti kita ajarkan kalau sembahyang tidak penting pakai dupa fisik, karena kita tahu tidak pokok dupa itu, tetapi untuk bisa berkata dupa fisik itu tidak penting, kita harus memahami makna persembahan dupa sejati yang mewangi dari hati, yakni praktik Dharma dari perbuatan ucapan dan pikiran, bukan dupa fisik yang kita beli di toko dupa.” jelas Metta.

“Hmm, untuk itu semua orang butuh waktu, saat ini butuh, tetapi kelak bisa tidak lagi butuh, sama seperti orang yang sudah bisa berjalan tidak penting lagi tongkatnya dan tongkat itu akan ditinggalkan. Tongkat masih punya fungsi tetapi fungsinya tidak lagi relevan bagi dirinya, aku paham, Metta” sahut Bodhi.

 

Lalu Metta tergelitik dan memandang Bodhi “Ehhh kamu yang tanya yah tadi ‘Loh kok gak ada payungnya?’; Sekarang kutanya, jadi persembahan payung ini penting gak?”; Bodhi pun menjawab humor filsafatnya Metta: “Persembahan payung tidak penting bagi seseorang yang telah tercerahkan, Metta, tetapi untuk bilang itu tidak penting, ia harus tercerahkan dulu… hahahaaa🤣”

Akhirnya payung Chattra pun tiba, mereka segera mempersiapkan altar dengan stupa Buddha berpayung Chattra kain, langkah kecil sudah mereka mulai untuk menapaki jalan keBodhian hari ini.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar pustaka

Anandajoti, Bhikkhu. 2021. Karmavibhaṅga (Deeds and their Results). Diakses via Photodharma.net pada 6 Mei 2026.

Anggara, Indra. 2016. Digha Nikaya. Diakses via Suttacentral.net pada 6 Mei 2026.

Anggara, Indra. 2016. Majjhima Nikaya. Diakses via Suttacentral.net pada 6 Mei 2026.

Priastana, Jo. 2016. Filsafat Buddha. Jakarta. Penerbit Yasodhara Puteri.

Takakusu, J. 2014. Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma Dari Lautan Selatan.

T. Soewarto. 1995. Buddha Dharma Mahayana. Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia: Jakarta.

Gambar: Gemini AI

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?