Oleh: Yohannes Raynar
治大国若烹小鲜
Memerintah negara besar seperti memasak ikan kecil: jangan terlalu sering diaduk.
— Laozi, Dao De Jing, Bab 60 (Dr. I. D. Lika, 2015)
諸行無常,是生滅法。
Segala hal yang terbentuk adalah tidak kekal; yang muncul pasti akan lenyap.
— DN16. Mahaparinibbana Sutta (Suttacentral, 2016a)
I. Mandala Dunia Baru
Mandala adalah kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Pali dan Sansekerta yang berarti ‘Lingkaran/circle’, juga bisa merujuk pada pemaknaan sebagai ‘cakupan/lingkup’ (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016; Bluesky, 2015). Saat ini, dunia sedang menata ulang dirinya — seperti pasir di dasar laut yang teraduk perlahan oleh arus sejarah. Apa yang dahulu dianggap pusat, kini menjadi pinggiran. Apa yang pernah menjadi “mercusuar kebebasan”, kini diselimuti debu keraguan dan bunyi retak dari dalam tubuhnya sendiri. Amerika Serikat, sang raksasa yang dulu berlari di garis depan modernitas, kini berjalan dengan langkah berat. Bukan karena lawannya terlalu kuat, tetapi karena beban dari kesombongannya sendiri.
Sementara itu, di Timur jauh, China — yang selama berabad-abad dianggap tidur — mulai membuka matanya sepenuhnya.Ia tidak berteriak, tidak mengaum, hanya bekerja… dan dunia pun mulai mendengar dengung mesinnya. Namun kebangkitan ini bukan soal siapa yang lebih baik, melainkan siapa yang lebih banyak belajar dari kesalahan masa lalu.
II. Bayangan di Timur dan Barat
Selama abad ke-20, dunia hidup di bawah narasi tunggal: bahwa kebebasan ala Barat adalah puncak peradaban. Namun “kebebasan” ternyata memiliki harga yang mahal — terlalu mahal bahkan bagi mereka yang mencetuskannya. Ketika Amerika Serikat menyebarkan demokrasi, ia juga menyebarkan pangkalan militer. Ketika ia berbicara tentang hak asasi, ia juga menjatuhkan bom di Baghdad, Tripoli, dan Kabul. Dunia pun mulai bertanya dengan getir:
“Kalian membela kebebasan — tapi kebebasan siapa?”
Sementara itu, China melangkah dengan cara lain. Tidak menjual ideologi, hanya menjual beton, baja, dan serat optik. Di Afrika, di Asia, di Amerika Latin, ia tidak datang membawa “doktrin”, tetapi “proyek”. Bagi banyak negara, itu terasa lebih nyata daripada janji demokrasi yang datang dengan syarat.
III. Cermin yang Retak
Ironisnya, China menjadi kuat justru karena kesalahan yang dibuat oleh Barat sendiri.
Demi mengejar keuntungan maksimal, perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa memindahkan pabriknya ke Timur — tanpa menyadari bahwa mereka juga memindahkan masa depan mereka sendiri.
Kapitalisme, seperti ular yang menelan ekornya, akhirnya melilit dirinya sendiri. Detroit menjadi monumen dari kesombongan industri, sementara Shenzhen tumbuh menjadi laboratorium masa depan. Di mana Amerika membangun “impian”, China membangun “rencana”.
Ketika Washington menebarkan sanksi dan tarif, Beijing membalas dengan ketenangan Laozi:
“Bila engkau menekan air, ia tidak melawan — ia hanya mencari jalan lain.”
(Dao De Jing Bab 8, 78)
IV. Bara di Tengah Hegemoni
Dunia tidak lagi tunduk pada satu kutub kekuasaan. Ketika Gaza terbakar dan dunia menyaksikan anak-anak Palestina tertimbun di bawah reruntuhan, citra moral Amerika Serikat pun ikut runtuh. Tidak ada lagi “pemimpin dunia bebas” di mata rakyat yang kehilangan rumahnya karena rudal yang dibayar pajak Amerika.
Di sisi lain benua, Venezuela berdiri menantang. Negeri yang dulu dianggap kecil dan lemah kini menjadi simbol perlawanan di halaman belakang Washington sendiri. Benua Amerika — yang dulu disebut “halaman depan demokrasi” — kini menjadi cermin retak dari sistem yang mulai kehilangan makna. Sementara itu, negara-negara lain menatap: Brasil, Meksiko, Argentina, bahkan Kanada — semuanya bertanya dengan nada sama:
“Apakah kita masih hidup di dunia yang dipimpin oleh kebajikan, atau oleh kepentingan?”
V. Bayang-bayang Teknologi
Kekuatan tidak lagi diukur dari jumlah kapal induk, tetapi dari algoritma dan sirkuit silikon.
Perang kini dimenangkan bukan oleh senjata, tetapi oleh data. Dalam senyap, China membangun jalannya sendiri — dari chip, AI, hingga satelit komunikasi — bukan untuk meniru Barat, melainkan untuk melampauinya.
Amerika yang dulu menjadi simbol kemajuan kini menjadi museum nostalgia digital: menjual masa lalu dalam bentuk saham dan kenangan kejayaan. Sementara itu, Asia menulis masa depan di layar-layar biru. Kita hidup di zaman di mana kecepatan menggantikan kebijaksanaan, namun justru di tengah percepatan itu, muncul kebutuhan paling kuno dari manusia: makna. Karena resiko daripada percepatan adalah banalitas (kedangkalan makna, Piliang, 2011: 83-87).
VI. Dunia yang Melelahkan Diri Sendiri
Kita hidup di era ketika semua orang ingin menjadi pusat. Negara ingin menjadi adidaya, korporasi ingin menjadi dewa, individu ingin menjadi bintang. Namun semakin keras kita berputar, semakin cepat kita kehilangan arah.
Mandala dunia berputar, tetapi pusatnya kosong. Kosong bukan karena nihil, melainkan karena potensi — ruang bagi kebijaksanaan yang belum ditemukan. Dalam kekosongan itu, hanya yang tenang yang bisa melihat. Barangkali, di situlah peradaban baru akan lahir: bukan dari ambisi, tetapi dari kejernihan.
VII. Refleksi di Ujung Peradaban
Sejarah selalu bergerak seperti ombak — kadang lembut, kadang menggulung.
Kita telah melihat kebangkitan dan kejatuhan kekaisaran Romawi, kolonialisme Eropa, dan kini hegemoni Amerika. Setiap puncak selalu membawa bibit kejatuhannya sendiri.
Mungkin, dunia baru yang sedang lahir bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang manusia yang mulai belajar menundukkan kepala, menata ulang arah, dan menyadari bahwa keseimbangan lebih penting daripada kejayaan.
Seperti kata Laozi:
“Bila engkau ingin menundukkan dunia, engkau akan kehilangan kendali. Dunia adalah sesuatu yang suci, tidak dapat dikuasai, hanya dapat diikuti.”
Dao De Jing Bab 29
Dan seperti pesan Sang Buddha:
“Segala sesuatu muncul karena sebab, dan akan lenyap ketika sebab itu hilang.”
SN56.11 Dhammacakkapavatana sutta (Suttacentral, 2016b)
VIII. Penutup
Mungkin, dunia baru bukan di Timur atau Barat. Ia berada di dalam diri manusia yang kembali mengingat — bahwa segala kekuasaan, segala sistem, dan segala kebanggaan hanyalah debu di bawah sinar kesadaran. Mandala Dunia Baru bukan manifesto politik, melainkan refleksi atas siklus lama umat manusia: Dari keserakahan menuju kehancuran, dari kehancuran menuju kebijaksanaan. Apabila dunia kembali berputar dalam arus yang sama, semoga kali ini ia berputar sedikit lebih lambat, agar kita sempat melihat — bukan siapa yang menguasai dunia, tetapi siapa yang telah mampu berdamai dengannya.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, K. P. (2016). KBBI VI Daring. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/
Bluesky, L. of. (2015). Digital Universal Buddhist Dictionary (DUBD) (Android Version (1.0.0)).
Dr. I. D. Lika, Ms. (2015). Dao De Jing – Kitab Suci Utama Agama Tao. Elex Media Komputindo.
Piliang, Y. A. (2011). Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. MATAHARI.
Suttacentral. (2016a). Dīghanikaya. https://suttacentral.net/pitaka/sutta/long?lang=en
Suttacentral. (2016b). Saṁyutta Nikaya. https://suttacentral.net/pitaka/sutta/linked?lang=en
Gambar: https://idn.freepik.com/gambar-ai-gratis/seni-digital-dengan-manusia-dan-planet-bumi_94939432.htm Diakses 1 November 2025.