Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.
“Pengikut teori konspirasi dan tukang obat tidak akan percaya apapun yang menentang pandangan mereka, tetapi kita semua dapat berbuat lebih baik. Dan ingatlah: Membaca dan mengikuti berita adalah keahlian yang seperti keahlian lain, akan lebih baik ketika terus dilatih. Cara terbaik menjadi konsumen berita yang baik adalah menjadi konsumen rutin berita.” (Tom Nichols 2024: 204)
A. Pendahuluan
Era posmodern berdiri di atas puing-puing realitas (Piliang 2011), maka tidak heran bahwa di era posmodern memang berisi orang-orang yang merayakan sensasi daripada esensi. Sepanjang 2025 dan puncaknya pada menjelang akhir tahun ular 4723 HE/2025 ramai di media sosial (medsos) seperti Facebook, Tiktok, dan Instagram para orang-orang yang muncul dan mengaku sebagai Indigo, entah dadakan atau tidak. Mereka memberikan aneka ramalan-ramalan di medsos dan saran-saran kepada orang-orang. Beberapa orang sakit dikatakan karena auranya kotor dan diberikan saran tidak masuk akal dan berujung pada komodifikasi fethisisme (Jualan jimat) dengan harga tertentu dengan klaim yang sedikit irasional seperti ‘membersihkan aura’, sama seperti pendapat Tan Malaka yang menyatakan logika mistika memang tumbuh subur dan sangat mudah menginfeksi masyarakat (Malaka 1943).
Masalah muncul bukan karena munculnya para indigo dadakan seperti itu, para indigo memang ahli dalam mengupas permasalahan mistika yang tidak dapat dijelaskan secara logika, akan tetapi mereka bukan ahli di luar bidangnya. Pernah sekali waktu mendapat orang dengan keluhan abses pada area genital, berujung pada analisis past karmic moment (karma masa lampau) bahwa orang tersebut dulunya pernah menjadi korban pemerkosaan, saran kuratif tidak diberikan. Saya menemukan bahwa kasus ini medis, sehingga segera merekomendasikan dokter internis atau kulit kelamin untuk menganalisa kasus ini, dengan beberapa infus antibiotik Metronidazole ia pun sembuh.
Ini hanya di satu bidang, bagaimana di bidang lainnya? Banyak orang-orang sok tahu muncul di media sosial: Pakar cinta dadakan, pakar anak dadakan, pakar keuangan dadakan, pakar investasi dadakan, dan jutaan pakar dadakan lainnya. Memang internet sendiri selain mengunggah pengetahuan, juga mengunggah ‘factoid’ (Pernyataan palsu yang disajikan sebagai fakta sebenarnya ), bahkan Tom Nichols mempergunakan kembali analisis hukum Sturgeon bahwa ‘90% dari semua hal adalah sampah’, dalam konteks ini Nichols menyatakan bahwa ‘90% dari semua hal di Internet adalah Sampah’, karena memang saat ini banyak tempat sampah di Internet, karena orang bebas mengunggah apapun dan mempercayai apapun dari Internet sehingga ruang publik dibanjiri info-info tidak berguna dan pemikiran setengah matang lainnya (Nichols 2024: 18, 129-131). Benarkah internet kini menjelma sebagai monster penghancur pengetahuan?
B. Matinya Kepakaran
Kasus seperti lebih percaya dukun indigo dadakan daripada dokter, percaya teori antivaksin, percaya teori konspirasi, vitamin C dapat menyembuhkan kanker, atau hal-hal aneh lainnya di Internet adalah tanda bagi matinya kepakaran itu sendiri, masyarakat tidak lagi percaya pakar, melainkan percaya apa yang disuguhkan di media (dahulu koran, kini Internet). Pakar menurut Tom Nichols (Nichols 2024: 34-37) adalah mereka yang menguasai keahlian yang asli, dalam arti memiliki pengetahuan yang diandalkan orang lain dan tidak terukur. Seorang pakar mendapat keahlian aslinya setidaknya memadukan 4 hal: Pendidikan yang baik, bakat, pengalaman (jam terbang), pengakuan dari rekan sejawat (seperti lewat proses blind reviewer dalam karya ilmiah).
Pakar juga bisa salah, tetapi presentasi kelirunya pakar tidak sebanyak orang awam pada umumnya, sehingga publik harus menerima saran pakar dengan skeptisisme sekaligus kerendahan hati, sebagaimana pendapat Bertrand Russel (1928): (1) Saat para pakar sepakat maka pendapat berseberangan tidak dapat dianggap pasti; (2) Saat para pakar tidak sepakat maka tidak ada pendapat yang bisa dipastikan orang bukan pakar; (3) Saat pakar menganggap tidak ada dasar yang kuat untuk berpendapat, maka masyarakat awam juga seharusnya menunda penilaian (Dalam Ibid, 250-251).
Menurut Tom Nichols (2024), ada sejumlah hal yang menyebabkan matinya kepakaran itu sendiri, di antaranya:
- Internet itu sendiri: Sebagai media, internet mengizinkan siapapun (bahkan dalam Anonimitas) untuk berbicara baik yang kompeten maupun inkompeten, konten-konten factoid bertebaran di mana-mana, bahkan di internet sendiri, fakta pun kadang-kadang bukan fakta (ibid, 127-135, 157-161). Kita bisa lihat bahwa di 2025 saja kita sudah mulai kesulitan mengidentifikasi mana konten asli mana konten fabrikasi AI. Lalu bagaimana jika konten tidak bermutu malah dikonsumsi orang-orang bodoh yang gampang termanipulasi? Akan timbul Efek Dunning Kruger “Semakin bodoh anda, semakin anda yakin kalau anda sebenarnya tidak bodoh”. Menurut Dunning Kruger, memang semua orang menilai diri mereka terlalu tinggi, namun orang-orang kurang kompeten melakukannya lebih banyak daripada kita semua (Ibid, 52-53).
- Bias Konfirmasi: Masyarakat masa kini berkecenderungan mencari informasi hanya untuk membenarkan apa yang kita yakini, menerima fakta hanya untuk memperkuat penjelasan yang disukai, dan menolak fakta dan data yang menentang hal tersebut (Ibid, 56). Takhayul paling rentan terhadap bias konfirmasi (Ibid, 66). Dahulu saya pernah melihat pendapat seorang pria, jika cewekmu percaya membuta horoskop, kelar hidupmu! Karena ia akan selalu mengemukakan bias konfirmasi seperti ‘Tuh kan ramalannya benar’ ‘Ramalan bilang begini’. Padahal antara ramalan dan fenomena sebagian besar arbitrer (tidak ada hubungannya), terlebih di era post-truth saat ini ketika kebenaran faktual kalah penting daripada sensasi emosional!
- Komodifikasi Pendidikan: Institusi pendidikan tinggi tidak lagi menjamin ‘Pendidikan tinggi’ itu sendiri, universitas mulai gagal dalam memberi pendidikan itu sendiri karena berorientasi pada keuntungan semata, beberapa universitas abal-abal hanya berorientasi pada pengejaran keuntungan bahkan menganggap mahasiswa adalah pelanggan, di mana pelanggan selalu benar yang wujudnya dalam praktik Inflasi nilai: Bila nilai saya jelek, maka dosen mengajar kurang bagus. Mereka para mahasiswa hasil inflasi nilai juga mendapatkan bonus berupa fenomena Inflasi gelar (Ibid, 85-116). Akhirnya sama seperti yang dikatakan Rocky Gerung dalam sebuah video Tiktok bahwa Ijazah adalah tanda seseorang pernah sekolah, bukan tanda orang pernah berpikir.
- Penipuan Pakar: Beberapa pakar membuat blunder dengan melakukan serangkaian penipuan yang membuat mereka menjadi pakar korup, seperti fabrikasi (pembohongan), falsifikasi (pemalsuan), dan plagiarisme (plagiat/penjiplakan), mereka berbohong tanpa tahu malu untuk memperoleh keuntungan tertentu. Mereka berubah menjadi pakar jadi-jadian yang ketika mereka berbohong tidak hanya membahayakan profesi dan sejawat mereka sendiri, melainkan juga masyarakat sebagai kliennya (ibid, 216-217)
- Pakar bicara di luar kepakaran: Beberapa pakar terlalu senang dalam memberikan prediksi pendapat, bahkan untuk hal-hal di luar kepakarannya, hal ini menyebabkan blunder bagi pakar itu sendiri, terutama ketika prediksi atau pendapatnya itu ternyata salah (Ibid, 202).
C. Matinya Pengarang
Matinya pengarang adalah konsep yang dikemukakan oleh Roland Barthes pada 1967, pada intinya konsep ini menggambarkan bahwa para penulis/pengarang di masa kini, tidak lagi dianggap sebagai sumber utama makna dalam karya sastra, sebaliknya makna tersebut ditentukan oleh pembaca itu sendiri dan konteks sosial budaya di mana karya itu di baca. Dengan kata lain, pengarang tidak lagi memiliki kontrol penuh atas makna karya mereka dan pembaca (dengan riang gembira) merayakan kebebasan untuk menafsirkan karya tersebut sesuai dengan perspektif mereka sendiri (Piliang 2012: 116-118).
Berkaca apa yang disampaikan Barthes, pada era posmodern saat ini, siapapun bisa menjadi penafsir. Berkaca dari apa yang disampaikan Nichols, dalam kegilaan dan anonimitas Internet, siapapun bisa menjadi pengarang! Berkembangnya AI yang bahkan bisa membuat buku dan jurnal penelitian dalam hitungan detik saja, sudah menjadi tanda bahwa keotentikan eksistensi pengarang sudah mulai dirajang. Bahkan saat ini, anda tidak perlu gelar Doktor untuk sekedar bisa menerbitkan karya ilmiah Disertasi, perintahkan saja beberapa AI, mereka akan membuatkannya untuk anda!
Kita masih ingat kejadian Ghilbi Studio yang keberatan karena gaya karya mereka dijiplak habis-habisan bahkan bisa difabrikasi oleh siapa saja berkat bantuan AI. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, kita akan kesulitan mendapat pakar (yang ada pakar jadi-jadian), kita akan kesulitan mendapat realitas (yang ada hiper-realitas), kita akan sulit mendapat pengetahuan/sains (yang ada pseudo-sains), bahkan untuk sekedar mengutip, kita akan kesulitan untuk mengutip/mensitasi (yang ada halusinasi sitasi, dari AI memberikan sitasi yang tidak pernah ada!)
D. Permainan Bebas Tanda
Dunia semakin bergerak pada permainan bebas tanda. Tanda (sign) dalam semiotika Saussure sendiri terdiri dari 2 struktur (Baskin 2011): (1) Penanda (Signifier) berupa bentuk citraan seperti sebuah tampilan, benda, bentuk, suara, tulisan dan sebagainya; dan (2) Petanda (Signified), yakni konsep abstrak yang dihasilkan oleh penanda. Hubungan antara penanda dan petanda (signification) kemudian menghasilkan makna yang dapat diinterpretasikan oleh penafsir.
Agar tidak ditafsirkan sewenang-wenang, biasanya sebuah tanda dimaknai lewat hasil konsensus (kesepakatan bersama), salah satunya dengan melibatkan ahli. Kita dapat memaknai bahwa lampu merah dalam lampu lalu-lintas artinya berhenti, sedangkan lampu merah di pintu radiologi artinya ada pasien yang sedang diperiksa dengan peralatan radiologi, semua itu karena adanya ahli yang memperkenalkan dan mempergunakan tanda itu lewat konsensus.
Tetapi apa jadinya bila makna tersebut didekonstruksi dan diperlakukan (diperkosa) secara sewenang-wenang? Karena otoritas pakar sudah mati dan pengarang juga sudah mati, siapapun bisa menjadi penafsir bahkan ahli dadakan! Saat ini kita bisa menemukan dengan mudah para pelanggar lampu merah dalam berlalu lintas, bahkan beberapa mulai memaknai lampu merah sebagai 3 detik pertama masih ada waktu untuk tancap gas! Inilah yang disebut permainan bebas tanda dalam hipersemiotika (Piliang 2012: 46-52) ketika struktur tanda bebas didekonstruksi secara habis-habisan, sehingga ia kehilangan ‘Prima causa’ strukturnya dan dapat dimaknai sebagai apapun dalam ruang dan waktu yang berbeda (diakronik).
Ahli sendiri dapat dipandang sebagai ‘Authority Sign’ (Simbol figur otoritas), namun kini ahlipun mulai tidak berdaya dalam kecepatan perubahan ruang dan waktu. Bila siapapun bisa menjadi ahli dadakan, menjadi pengarang dadakan (dibuktikan dengan mudahnya menjadi konten kreator viral saat ini) dengan memanfaatkan arus algoritma yang tidak peduli dengan fakta dan data, melainkan hanya peduli dengan sensasi dan hasrat penonton, di saat itulah kita akan kesulitan membuat pilihan yang bijak!
E. Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Metakognisi: Kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak dari realitas, melihat atas apa yang sedang anda lakukan, dan menyadari bahwa anda salah melakukannya (Nichols 2024: 54). Apapun yang anda lakukan, sebelum, saat, dan setelah anda lakukan, renungkan apakah perbuatan tersebut membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain? Bila iya segera hentikan, bila tidak boleh lanjutkan dan tetap evaluasi secara rutin (Buddha: MN61, Suttacentral 2016)
- Hukum Parsimoni (Pisau Occam): Penjelasan yang paling mungkin adalah yang membutuhkan lompatan logika atau asumsi goyah paling sedikit (Ibid, 67). Kita harus memilih penjelasan paling sederhana yang masuk akal untuk sebuah fenomena terlebih dahulu, sebagai contoh dalam diagnosis sakit medis: jika anda demam dengan bersin-bersin, lebih mungkin karena flu biasa daripada penyakit langka, kecuali ada bukti lain. Anda mungkin akan menemukan hasil penyakit ganas dan aneh apabila mencari gejala gejala demam dan bersin aneh di google, tetapi kesampingkan itu semua! Segera ke dokter dan dapatkan obat flu batuk.
- Gunakan akal sehat (Common sense) dalam menganalisis sebuah fenomena. Ada beberapa hal yang tidak perlu diselidiki dan sudah selesai dengan akal sehat: Anda tidak perlu menguji apakah anda benar-benar menginjak tai dengan mencobanya, atau anda tidak perlu mencari tahu apakah air kencing unta membawa penyakit atau menyehatkan. Cukup gunakan akal sehat, karena di atas semua hukum dan pakar, akal sehat adalah yang terunggul!
- Selektif, Namun Jangan Sinis: Anda berhak selektif, bahkan terhadap berita dan apa yang ditulis oleh akun-akun centang biru di Internet, tetapi tetaplah berendah hati, jangan bersikap sinis! Kita harus berendah hati bahwa setidaknya pakar yang menulis rekomendasi telah menghabiskan waktu lebih banyak dari anda dalam meriset hal tersebut, bahkan tidak hanya dia yang bisa salah, anda pun juga bisa! Adanya peluang salah justru membuat kita bisa menyelidiki dengan selektif, bahkan para ahli hanya membantu dengan memberi rekomendasi, tetapi pilihan tetap di tangan anda.
- Hindari Adhominem: Kita seringkali merasa kesal pada orang karena pendapatnya, padahal yang harus diserang adalah pendapatnya, bukan orangnya. Demikian sebaliknya, jangan terpaku kepada siapa yang menyampaikan, tetapi fokuslah pada isi pendapatnya!
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Daftar Pustaka
Baskin, Wade. 2011. Course in General Linguistics: Ferdinand de Saussure. edited by P. Meisel and H. Saussy. New York: Columbia University Press.
Malaka, Tan. 1943. MADILOG Materialisme Dialektika Dan Logika. Koleksi Ro. Jakarta: Econarch Institute.
Nichols, Tom. 2024. MATINYA KEPAKARAN THE DEATH OF EXPERTISE. Cetakan 9. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: MATAHARI.
Piliang, Yasraf Amir. 2012. Semiotika Dan Hipersemiotika: Kode, Gaya & Matinya Makna. Yogyakarta: MATAHARI.
Suttacentral. 2016. “Majjhima—Navigation.” Retrieved January 1, 2025 (https://suttacentral.net/pitaka/sutta/middle?lang=en).
Gambar: Tiktok @cikadiary, https://www.tiktok.com/@cikadiary/video/7346722744702143750