Melirik Lagu “Meraih Bintang” Via Vallen (2) – Spiritualitas Kehidupan Bernilai via Buddha

Home » Artikel » Melirik Lagu “Meraih Bintang” Via Vallen (2) – Spiritualitas Kehidupan Bernilai via Buddha

Dilihat

Dilihat : 37 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 6
  • 63
  • 9,446

Oleh: Jo Priastana

 

 “Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses,

tetapi menjadi orang yang bernilai”

(Albert Einstein)

Manusia dikenal sebagai homo-semioticus, yaitu manusia pencari arti. Arti terdapat pada apa saja, dalam benda-benda, gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa. Benda, peristiwa dan alam merupakan suatu simbol yang dibaliknya terdapat makna dan arti. Ernst Cassirer (1874-1945) menyebut manusia sebagai homo-simbolicum, manusia yang mencipta simbol karena dalam simbol terkandung makna. Berbagai wujud budaya merupakan simbol-simbol dari ekspresi manusia. Dalam simbol-simbol itulah terkandung makna.

Manusia juga pencari makna atas kehidupannya. Filsuf Buddhis Nagarjuna (sekitar abad pertama) mengungkapkan manusia mencari akan makna keberadaannya, the urge of meaning. Manusia yang terbatas mencari arti akan makna ketidakterbatasan. Manusia yang menderita mencari makna ketidakterbatasan yang mengatasi penderitaannya. (Jo Priastana, Ada Apa dengan Aku: Telaah Epistemologi Filsafat Nagarjuna, Jakarta, 2005).

Lagu “Meraih Bintang” pada akhirnya membudaya-historis, dan menjadi mitos karena terus saja dinyanyikan berulang seakan makna universal yang terkandung itu sudah terendap dalam bawah sadar banyak orang yang kerap ingin disegarkan kembali.  Begitu pula dengan umat Buddha yang selalu menyegarkan batinnya kembali dengan mengulangi pembacaan sutta-suttanya, mantram dan paritta-paritta yang mengandung pesan-pesan dan makna spiritual untuk hidup yang bernilai.

Lagu Meraih Bintang dan Buddhadharma

Lagu “Meraih Bintang” juga menjadi fenomenal atau membudaya, dinyanyikan berulang dalam berbagai versi bahasa dan beragam nada tanpa suatu otoritas penafsiran. Hal itu sejalan dengan fenomena Buddhadharma yang begitu fenomenal dan terus hadir membudaya dalam sejarah dari kemunculannya 2500 tahun lalu serta tidak ada otoritas tunggal dalam interpretasi maknanya sehingga siapa saja dapat menginterpretasi dan mengkonstruksi.

Buddhadharma pun berkembang dalam berbagai aliran, tumbuh dalam berbagai budaya memberi semangat yang adaptif bagi motivasi penganutnya untuk merasakan nada yang satu dan sama, Satu Buddha.  Dengan pendekatan semiotika, penafsiran atau interpretasi secara herheneutik, lagu “Meraih Bintang“ yang dipopulerkan oleh penyanyi Via Vallen bila dibaca secara semiotika Buddhadharma menunjukkan kesesuaian pesan yang dikandungnya yakni dalam semangat dan berjuang mencapai cita-cita.

Sebagai tanda bahasa, lirik lagu “Meraih Bintang” merupakan konsep (signifier) yang tidak bisa dipisahkan dari maknanya (signified). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa, dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri. (Kaelan:2009: 184-185).

Penanda dan petanda merupakan kesatuan, seperti dua sisi dari sehelai kertas. Dengan dasar inilah, “Lagu Meraih Bintang” sebagai tanda, tidak bisa sebagai konsep dan makna, dan untuk menangkap makna atau pesan yang terkandung dalam lagu itu diperlukan pendekatan hermeneutika yang memiliki karakter sebagai paradigma intrpretatif. Karenanya, lagu “Meraih Bintang” baik lirik maupun nada-nadanya dapat diinterpresikan melalui semiotika dan hermeneutika Buddhadharma.

Semiotika dan Heremeneutika Buddhadharma

Filsafat Jalan Tengah Nagarjuna mengungkapkan tentang masalah tanda dan makna dengan istilah Nama dan Laksana, yaitu tanda dan acuannya atau pesan yang diacunya. Teori Filsafat Jalan Tengah Madhyamika Nagarjuna tentang nama dan laksana mengingatkan kita pada teori bahasa semiotika Ferdinand de Saussure, yaitu tentang tanda bahasa yang mempunyai dua segi, yaitu: signifier dan signified. Signifier merupakan suatu bentuk penanda, sedangkan Signified adalah sebuah ide atau petanda. (Kaelan:2009: 184).

Tanda dengan maknanya atau ide yang tekandung perlu memperoleh interpretasi atau hermeneutika. Hermeneutika merupakan salah satu metode dalam filsafat yang berhubungan dengan rasionalitas. Secara etimologis, kata hermeneutic berasal dari bahasa Yunani hermeneutikos dari kata hermeneuo yang berarti interpretasi.

Dalam The Concise Oxford Dictionary of Current English (1954:562) hermeneutika yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris hermeneutic memiliki arti interpretasi dari sesuatu (of interpretation). Interpretasi terutama dari Kitab Suci (interpretation especially of Scripture).

Dalam Buddhadharma dikenal Buddhis Hermeneutik atau interpretasi teks ajaran Buddha yang mencakup kegiatan yang menguraikan langkah-langkah dalam menginterpretasikan, memahami serta melaksanakan ajaran Buddha secara bertahap dan berkesinambungan. Mulai dari hal-hal mendasar dan bersifat konkrit konvensional (samutti) sampai hal-hal tertinggi dan bersifat abstrak irasional (paramattha). Hermeneutik (hermeneutic) dalam bahasa Pali adalah anuvada atau anuvadayatta (Buddhadatta Mahathera, 1979:245).

Tugas hermeneutik Buddhis adalah sebagai pembimbing (as a guide) untuk memahami ajaran Buddha termasuk mitologi yang terkandung di dalamnya secara bertahap dan berkesinambungan pada kebenaran tertinggi (paramattha sacca). Hermeneutik adalah kegiatan melakukan penafsiran dan memberikan komentar terhadap makna simbolis seperti yang terdapat dalam kitab suci.

Lirik lagu “Meraih Bintang” merupakan bahasa simbolis yang juga mengandung pesan universal dan dapat diinterpresikan secara Buddhadharma. Pesan universal yang dalam lagu “Meraih Bintang” juga dapat dibaca secacara Buddhis hermeneutik yakni melihat hal yang bernilai (paramattha) dalam pesan dan makna yang terkandung dalam lirik-lirik lagu tersebut (samutti).

 

Spiritualitas Kehidupan Bernilai

Pesan universal atau paramattha yang terkandung dalam lirik lagu “Meraih Bintang” bahwasanya menempuh kehidupan untuk meraih bintang kesuksesan di dunia ini sejalan dengan karir cita-cita menjadi Buddha. Puncak tertinggi dalam menempuh kehidupan yang bernilai, kehidupan yang bermanfaat bagi orang banyak, dunia kehidupan, bagi para dewa dan manusia dan merupakan kesuksesan dari segala kesuksesan yang sesungguhnya, Buddha!

Seperti diungkapkan dalam teori semiotika Ferdinand de Saussure, sebuah tanda menunjuk atau mengandung pesan dan makna yang bisa ditafsirkan secara hermeneutik. Tanda dan maknanya disebut sebagai sigfinifier dan signified, penanda dan petanda, tanda dan maknanya.

Dengan melirik dan terinspirasi dari lagu “Meraih Bintang,” sebagai sebuah penanda, kita diajak untuk mengenali tugas yang sesungguhnya dari hidup kita yang sedang, berproses menjadi Buddha. Lirik-lirik lagu dalam “Meraih Bintang” mengandung pesan yang bisa diinterpretasikan secara hermeneutik.

Lirik dan lagu itu merupakan tanda yang menunjuk kepada sesuatu, pesan yang hendak disampaikan dan bisa diinterpretasikan dalam konteks tertentu, seperti misalnya dalam konteks Buddhadharma. Secara hermeneutika Buddhadharma, maka lagu “Meraih Bintang” dapat diinterpretasikan sebagai ajakan untuk meraih kesuksesan dalam menjalani kehidupan yang bernilai.

Meraih hidup yang bernilai bagi sesama dengan keutamaan-keutamaan hidup yang luhur dan mulia, yang bermanfaat bagi lingkungan, dunia kehidupan alam semesta. Hidup yang mengatasi kesuksesan dengan menempuh kesuksesan berdasarkan nilai-nilai keutamaan dan itulah keberhasilan sesungguhnya, sebuah kehidupan yang bernilai.

 

Lirik Meraih Bintang dalam Spiritualitas Buddhadharma

Mari meresapi pesan universal dan makna spiritualitas kehidupan yang bernilai dari baris-baris kata di bawah ini. Spiritualitas kehidupan bernilai Buddhadharma yang ditarik dan berinspirasi dari lirik lagu “Meraih Bintang” melalui pendekatan semiotika dan penafsiran secara hermeneutika Buddhis.

“Setiap saat adalah kesadaran. Setiap waktu adalah upaya kausalya. Setiap keadaan adalah kesempatan, perjuangan untuk berbuat baik dan perlu diwujudkan atau dilakukan. Semangat bergelora (viriya), berjuang kerja keras membuktikan. Selalu optimis dan berhasil dalam menempuh jalan Dharma.

Kehidupan memang membawa beban karma, namun kemenangan atas segala keburukan harus selalu dilakukan, sehingga keberhasilannya akan selalu dikenang dan menjadi benih untuk proses samsara, sejarah kelahiran berikutnya yang lebih baik. Yakin dengan memiliki niat (chanda) yang kuat mencapi goal atau tujuan.

Pikiran menentukan keadaan. fokus, fokus pada goal (citta) Buddha mengajarkan dan menganjurkan untuk meditasi untuk memusatkan atau memfokuskan pikiran. Selalu meditasi untuk terus fokus. Keberhasilan adalah melampaui batas, yakni keberhasilan dalam meraih pencerahan yang adalah melampaui pikiran. Sadar selalu setiap saat. Present moment, hanya itu. Saat itu, saat ini. titik itu.

(Sillable Yo ayo yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo) suku kata yang terus diulang sebagai penyemangat, layaknya dalam bija-mantra yang terdiri dari suku kata yang diulang-ulang, dan juga paritta, yang selalu dibaca dan diulang, menjadi cambuk penyemangat, membangun aura, suasana kondusif dalam keriangan. Seperti mantram keberhasilan yang selalu diulang nyanyikan: Gate-gate pararagate parasamgate Bodhi Svaha. Om Mani Padme Hum, Om Mani Padme Hum, Om Mani Padme Hum. Om Ah Hum, Om Ah Hum, Om Ah hum. Svaha!

Fokus dalam meditasi samatha mencapai keberhasilan keheningan, ketenangan. One pointedness, ekagata tercapai dalam meditasi. Hanya satu titik, hanya titik itu, dan raih pencerahan (samyak sambodhi), keberhasilan, mencapai kesukesaan iddhipada.

Jangan frustrasi, jangan pernah menyerah berjuang, sebagaimana dalam perjuangan Siddharta bertapa sampai kurus kering dan hampir mati. Keberhasilan adalah buah prestasi, upaya dalam menapaki dasa bhumi sepuluh tahapan ekstase dalam meditasi. Kadang belum tercapai bukan berarti menyerah dan karenanya harus cerdas bijaksana menjalankannya (vimamsa). Keberhasilan juga adalah berkat dorongan sesama sehingga harus juga membantu sesama mencapai keberhasilan, seperti Maha Kasyapa membantu secara sportivitas Ananda untuk tercerahkan atau sebagaimana solidaritas Bodhisattva yang menunda masuk nirvana karena masih ada yang belum tercerahkan

Inilah, motto olahraga vini, vidi, vici yang selalu mengingatkan akan sikap dasar seorang Buddhis, yaitu Ehipassiko: kita datang, kita lihat, kita buktikan, benar dan berhasil! Appamadeta Sampadeta: berjuang-berjuang terus dengan segenap tekad dan upaya sampai berhasil. Om Mani Padme Hum, Om Mani Padme Hum, Om Mani Padme Hum. Om Ah Hum, Om Ah Hum, Om Ah hum. Svaha! (JP) ***

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

 

Sumber gambar: https://dribbble.com/shots/9085890-Reach-for-the-Stars

Butuh bantuan?