Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (1) – Jokowi dan Inspirasi Kejayaan Sriwijaya di Candi Kedaton

Home » Artikel » Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (1) – Jokowi dan Inspirasi Kejayaan Sriwijaya di Candi Kedaton

Dilihat

Dilihat : 78 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Jo Priastana

 

“Membacalah dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan”

(Jokowi, Presiden RI 2014-2024)

 

Kabar menggembirakan tentang Muaro Jambi sebagai pusat pendidikan terkenal di masa lalu. Pusat Pendidikan semasa kejayaan Srwijaya pada abad 7-14 M ini akan dihidupkan kembali. Pusat Pendidkan Muaro Jambi Dihidupkan Lagi. Dana lebih dari Rp 1,5 triliun dialokasikan untuk mengekskavasi serta memugar candi dan gundukan bata berstruktur candi untuk siap dimanfaatkan sebagai kampus. (Kompas, 23 Mei 2022).

Sebagaimana dahulu kala, pusat pendidikan yang tidak sebatas pendidikan agama di kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi ini akan dihidupkan lagi. Pusat Pendidikan ini memberikan pendidikan agama, filsafat, juga arsitektur, seni, serta kedokteran dan obat-obatan. Telah ada langkah pemerintah mewujudkan rencana itu. Pemerintah pusat telah menganggarkan Rp 1,5 triliun dan Pemerintah Provinsi Jambi mengalokasikan Rp 260 miliar.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan, seluruh dana itu untuk mengekskavasi serta memugar candi dan menapo (gundukan bata berstruktur candi), untuk siap dimanfaatkan sebagai kampus. Jika menilik masa lalunya pada abad VII hingga XIV, kawasan itu merupakan pusat pendidikan agama Buddha beserta sejumlah bidang studi strategis lainnya. “Bahkan, Candi Muaro Jambi ini diakui sebagai pusat pendidikan terbesar di Asia pada masanya.” ujarnya saat menghadiri perayaan Waisak di Candi Kedaton, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022).

 

Jokowi dan Candi Kedaton

Kejayaan Sriwijaya dengan pusat pendidikan terbesar di Asia pada masa lalu itu memberikan inspirasi untuk bangkitnya kejayaan Indonesia dengan meningkatkan SDM melalui bidang pendidikan. Cita-cita luhur membangkitkan kembali kejayaan Indonesia dengan berkaca pada pusat pendidikan Muaro Jambi semasa kejayaan Sriwijaya masa lalu ini bermula ketika kedatangan Jokowi ke Candi Kedaton yang terletak di Muaro Jambi.

Pada 7 April 2022 lalu, Presiden  Joko Widodo, Nyonya Iriana, bersama sejumah menteri  meninjau Candi Kedaton yang berlokasi di cagar budaya Muaro Jambi. Di Candi Kedaton itu, Presiden sempat menyinggung kawasan ini sebagai jejak peradaban Indonesia. Lokasi tersebut pernah menjadi pusat pendidikan terbesar di Asia pada abad VII. Tidak hanya yang berkaitan dengan teologi, tetapi kawasan ini dulu juga menjadi pusat pendidikan kedokteran dan obat-obatan, filsafat, arsitektur, seni, dan lain-lain.

Presiden mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi akan kembali memulai restorasi di beberapa titik dari total 3.980 hektar luas kawasan tersebut. Luas itu 20 kali lebih besar dibandingkan Candi Borobudur dan dua kali kompleks candi Angkor Wat di Kamboja. Tercatat ada 11 candi utama  yang ditemukan di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi. Sejumlah candi telah dipugar. Namun, di sekitar kawasan tersebut diperkirakan masih terdapat 82 menapo di dalam gundukan tanah. Bekas-bekas kanal dan parit di Candi Muaro Jambi merupakan konsep arsitektur tata kota zaman dulu yang menakjubkan. Parit selebar 2-3 meter dibuat mengelilingi candi dan berfungsi sebagai pembatas, sedangkan kanal selebar 6-10 meter dibuat mengular membelah candi-candi dengan fungsi sebagai jalur transportasi. Kanal pun menyambung dengan Sungai Batanghari. (Kompas, 23 Mei 2022).

 

Peran dan Partisipasi Umat Buddha

Keinginan pemerintah membangkitkan kembali Pusat Pendidikan di Muaro Jambi itu didukung oleh umat Buddha. Di Tahun 2022 ini untuk pertama kalinya, perayaan Waisak 2566/2022 seluruh umat Buddha di Jambi dipusatkan di Candi Kedaton. Pada waktu-waktu terdahulu, perayaan Waisak berlangsung di kompleks Candi Gumpung yang berjarak 1 kilometer dari Kedaton.

 Menurut Ketua Perkumpulan Umat Buddha Jambi Rudy Chang, hal itu menjadi tanda dukungan umat  atas rencana pemerintah merestorasi Candi Muaro Jambi. “Di Jambi, seluruh umat dari berbagai perkumpulan berkumpul. Ini menjadi bentuk persatuan kami untuk mendukung upaya pemerintah menghidupkan kembali candi ini sebagaimana masa lalunya,” katanya. (Kompas, 23 Mei 2022).

Rudy Chang juga sempat mengusulkan agar terdapat fakultas keagamaan Buddha bilamana Pusat Pendidikan di Muaro Jambi itu berdiri. Untuk itulah, aktivis Buddhis di Jambi ini mengingatkan akan pentingnya peran dan parstipasi umat Buddha, khususnya di dalam menyiapkan tenaga-tenaga terdidik di dalam bidang studi kegamaan Buddha.

“Pastinya membutuhkan pakar-pakar tentang Buddhadharma seperti para doktor dan profesor dalam bidang Buddhologi atau Buddhist Studies,” ujar Rudy Chang dalam pembicaraan langsung dengan penulis melalui telpon. (Rabu, 16/06/22).

 

Pusat Pendidikan Muaro Jambi

Membangkitkan kembali pusat pendidikan Muaro Jambi mengingatkan kejayaan kerajaan Sriwijaya masa lalu. Memori sejarah ini memberikan kita harapan dan kekuatan bahwa kemajuan bangsa Indonesia ke depan hanya bisa dicapai melalui bidang pendidikan. Bidang pendidikan ini pula yang menjadi keyakinan Jokowi sabagai syarat yang tidak dapat tidak untuk kembalinya kejayaan Nusantara melalui Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jokowi sangat peduli pada pendidikan untuk menekankan peningkatan SDM bangsa. Ia selalu menyerukan agar anak-anak bersekolah dan membaca, agar pintar dan menjadi tahu, termasuk membaca kebesaran sejarah dan kejayaan bangsanya seperti pengetahuan mengenai Kawasan Budaya, Pusat Pendidikan terbesar di Asia masa lalu, Situs Muaro Jambi.

Kawasan Budaya Muaro Jambi dikenal juga sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya dikenal juga sebagai pusat bagi pendidikan agama Buddha di Nusantara. Sebagai pusat atau tempat pendidikan Buddha di Nusantara, Sriwijaya  terpengaruh dari pusat pendidikan agama Buddha yang terdapat di India. Namun begitu, Sriwijaya juga membangun tempat pendidikan di India. (Risa Herdahita Putri, 24 Nov 2017, 20:38, “Historia”. (https://historia.id)

Menurut Arkeologi Agus Widiatmoko, dalam pidato kebudayaannya (23/112017), terkait hubungannya dengan India, ada kesamaan antara Muara Jambi dengan Situs Nalanda dan Situs Vikramasila di India. Dua situs Buddha di India punya kronologi masa perkembangan yang saling berkesinambungan. Situs Nalanda dari abad 5-12 M. Situs Vikramasila dari sejak abad 8-13 M. Sedangkan Situs Muara Jambi dari abad 7-12 M.

Keberadaan Pusat Pendidikan di Muaro Jambi juga ditengarai oleh I-Tsing. Pengelana asal Tiongkok yang datang ke Nusantara pada abad 7 M. Dalam Nanhai ji Gui Neifa Zhuan (kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan), ia menyebutkan bahwa di wilayah kekuasaan ada Foshi pusat pendidikan Buddha, tepatnya di daerah yang oleh orang India Selatan disebut Suvarnadvipa atau kini bernama Sumatera.

Sejarah Nusantara kaya dengan banyaknya candi-candi yang merupakan peninggalan semasa kerajaan Hindu-Buddha. Tetapi tak semua tinggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa candi pemujaan. Seperti Situs Nalanda di India, yang merupakan pusat pendidikan agama Buddha terkenal di dunia, Indonesia juga punya bangunan kuno sebagai tempat belajar ajaran Buddha dan asrama para pendeta. Pusat belajar ini terdapat di Sriwijaya.

 

Inspirasi dari Pusat Pendidikan Muaro Jambi

Jokowi tampaknya sangat terinspirasi kejayaan Sriwijaya dengan Pusat Pendidikannya di Muaro Jambi, pusat pendidikan yang menyelenggarakan berbagai macam ilmu pengetahuan yang menunjang kejayaan Sriwijaya. Secara khusus, Presiden ke 7 RI ini, memang begitu peduli pada pendidikan di Indonesia sebagaimana yang tercermin dalam konsepnya tentang “Revolusi Mental.” Konsep “Revolusi Mental” yang tentunya dalam pelaksanaannya mensyaratkan peningkatan SDM melalui pendidikan.

Dalam keseharian dan blusukannya ke pelosok-pelosok daerah, beliau juga kerap menjumpai anak-anak, dan layaknnya seorang guru, beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan perihal berbagai pengetahuan dasar yang menggugah pengetahuan sang anak. Dalam beberapa kesempatan, beliau bahkan selalu membawa serta banyak buku tulis dan membagi-bagikannya kepada anak-anak yang ditemuinya.

Tak hanya untuk kunjungan yang dekat, hal ini juga dilakukannya saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Berbagai kutipan dan pantun menarik diselipkan di sampul buku-buku itu, agar anak-anak yang menerimanya bisa memiliki motivasi yang besar untuk belajar dan belajar lagi. (Siti Hadijah, “kutipan terbaik dari Jokowi Presiden Republik Indonesia”, Cermati.com/290522.)

***

Sumber foto: https://nasional.kontan.co.id/news/tinjau-kcbn-muaro-jambi-jokowi-berharap-jejak-peradaban-dilestarikan

Butuh bantuan?