Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (4) – Situs Percandian Muaro Jambi Kejayaan Peradaban Sriwijaya

Home » Artikel » Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (4) – Situs Percandian Muaro Jambi Kejayaan Peradaban Sriwijaya

Dilihat

Dilihat : 72 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Jo Priastana

 

Culture is the widening of the mind and of the spirit

(Jawaharlal Nehru)

Pusat Pendidikan terkenal di Nusantara yang terletak di Muaro Jambi tumbuh semasa zaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Di komplek percandian Muaro Jambi ini terletak kampus Buddha, pusat pendidikan agama Buddha terbesar pada zamannya. Sungguh suatu keindahan cermin kebesaran pendidikan dan peradaban di masa lalu. Dan karena itulah mungkin, Pusat Pendidikan di Muaro Jambi ini akan dibangkitkan kembali bagi kebesaran dan kejayaan Nusantara di zaman Indonesia kini.

Nusantara memang kaya peninggalan-peninggalan budaya karya luhur nenek moyang yang mencerminkan peradaban dan budaya Nusantara yang begitu tinggi dan masyhur ke berbagai Negara pada masanya. Pusat Pendidikan Muaro Jambi membuktikan kecerdasan para leluhur jaman dahulu, tidak semata kemampuan teknologis namun juga kecerdasan spiritual.

Banyak terdapat situs-situs percandian bertebaran di Nusantara, baik di pulau Jawa dan Sumatera. Situs percandian peninggalan kejayaan agama Hindu dan Buddha di Nusantara dahulu kala yang lama terpendan dan kini banyak yang terkuak kembali memperoleh pemugaran dan perawatan, sebagaimana halnya dengan pusat pendidikan yang terletak di komplek percandian Muaro Jambi.

 

Terbesar dan Terluas

Bila kita berkesempatan mengunjungi situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi, maka pastilah akan terbayang bahwa situs ini adalah sebuah kompleks percandian Buddha yang sangat besar dan bahkan terluas di Indonesia. Situs Muaro Jambi yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu ini terletak Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di tepi sungai Batanghari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi.

Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 km serta luas 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Kompleks percandian Muaro Jambi berisikan 61 candi, sebagian besar berupa gundukan tanah/menapo yang belum dikupas (diokupasi). Juga terdapat beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu. Terdapat 85 menapo yaitu gundukan tanah/gunung kecil, diantaranya di bukit Sagalapo yang terdapat Candi Bukit Perlak.

Menginjakkan kaki di kompleks Candi Muaro Jambi, maka akan terbayanglah kebesaran dan keagungaan situs Muaro Jambi yang telah berdiri sejak abad ke 11 M ini. Dikabarkan bahwa Situs ini merupakan tempat pendidikan agama Buddha terbesar yang banyak dikunjungi mahasiswa mancanegara.  Kompleks candi yang terbesar di Pulau Sumatera ini mendapat perawatan yang cukup baik dan mulai banyak menerima kedatangan turis baik domestik maupun turis mancanegara.

Kabar gembira bahwa sejak tahun 2009 kompleks Candi Muaro Jambi ini telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia. Dengan hal ini, menjadikan Situs Muaro Jambi semakin menjadi terbuka untuk menerima kedatangan wisatawan asing mancanegara, dan sekaligus menuntut kita untuk semakin memberi perhatian dengan menjaga, merawat dan memunculkan berbagai kreativitas agar Muaro Jambi semakin menarik dan dilirik wisatawan.

Keberadaan komplek percandian Muaro Jambi ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang Letnan Inggris bernama S.C. Crooke. Letnan Inggris ini kala itu sedang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius dipimpin R. Soekmono.

Penelitian ahli selanjutnya bahwa Situs Muaro Jambi dibangun semenjak kerajaan Sriwijaya berdiri. Berdasarkan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke 9-12 Masehi, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Di situs ini baru ada sembilan bangunan yang telah dipugar, dan kesemuanya adalah bercorak Buddhis. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.  

 

 Mandala dan Peninggalan Berharga

Di kompleks Situs Muaro Jambi ini dapat kita saksikan berbagai penemuan benda-benda dari berbagai negara. Dari sekian banyaknya penemuan yang ada itu, Junus Satrio Armojo  menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan “wajra” pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari.  Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 61 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas (diokupasi). Dalam kompleks percandian ini terdapat pula beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.

Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat penampungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat. Bila menapo itu dikupas maka diyakini akan terkuak batu-batu candi.

Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumping/lesung batu. Terdapat juga gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddha yang ditulis kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata tertulis bergambar dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen dan perunggu.

Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Segalo atau Candi Bukit Perak. Letak Bukit ini yang konon menyimpan benda-benda upacara yang terbuat dari emas agak jauh dari Situs Muaro Jambi yang kini terbuka dikunjungi banyak wisatawan. 

Memang diperlukan waktu yang cukup banyak, lebih dari sehari atau dua hari untuk dapat menuntaskan kunjungan kepada keseluruhan kompleks situs percandian Muaro Jambi ini. Terlebih lagi bila kita mau meresapi segenap sudut-sudut kompleks Situs Muaro Jambi yang sangat luas ini, serta bermeditasi di malam hari di halaman candi seraya bervisualisasi atau bahkan akan terbayang dan terbentang ribuan bhikkhu dahulu kala sedang studi Buddhadharma di halaman candi.

Di Zaman Sriwijaya ini terdapat kampus Buddha, pusat pendidikan agama Buddha terbesar pada zamannya. Sungguh suatu keindahan spiritual yang teresapi dan sulit dibentangkan dengan kata-kata tentang kebesaran Sriwijaya. Hanya langkah kita saja yang dapat membuktikannya untuk dapat dan menyaksikan serta mengalami sendiri. Datang, lihat kebesaran dan keindahan Situs Muaro Jambi dengan membiarkan batin mengalami dan menceritakannya, seperti yang terungkap dalam Sajak Muaro Jambi di bawah ini.

 

Sajak Muaro Jambi

Oleh Jo Priastana

 

Hamparan candi-candi di desa sunyi

Menyimpan masa silam yang selalu menanti

Untuk digali dihadapkan dan dimaknai kembali

Lukisan kejayaan dan kemegahan terpatri abadi

 

Hamparan gundukan tanah dalam hutan sepi

Memendam keemasan dan kecemerlangan,

Kejayaan bagi sejarah negeri

Kejayaan Sriwijaya di tepi Sungai Batanghari

Kedigdayaan bangsa dalam budaya bahari

 

Di tepian Sungai Batanghari  yang luas dan lebar

Duduk memandang jauh ke masa silam Nusantara

Sejarah keemasan negeri makmur Svarnadvipa

Kemegahan Budaya Buddha yang terus memancar

 

Wahai masa silam dalam hamparan batu candi

Yang mengabarkan kegemilangan dan kebanggaan

Bersama arus sungai yang mengalir perlahan

Jiwa-jiwa masa kini datang menemui

 

Menyelam jauh ke masa silam sejarah

Menggeliat dalam arus kesadaran Nusantara

bersama hamparan batu-batu yang berwarna merah

yang menanam dalam akar budaya bangsa

(Muaro Jambi, 29 Desember 2013)

***

 

Sriwijaya dan Keseimbangan Darat dan Laut

Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7–13) diperkirakan berpusat di sekitar Palembang, meski pendapat ini masih menjadi bahan perdebatan. Banyak peninggalan berupa candi ditemukan di Sumatera. Ada kelompok Candi Muara Takus di Riau dan kelompok Candi Gunung Tua di Tapanuli Selatan yang bercorak Mahayana.

Di Palembang, tepatnya di Telaga Batu banyak didapatkan batu-batu yang bertulisan “siddhayatra”, maksudnya perjalanan suci yang berhasil. Sedangkan di Bukit Seguntang didapatkan sebuah arca Buddha dari batu yang besar sekali, karya abad ke-6.

Kerajaan Sriwijaya dikenal juga sebagai negara maritim. Segala potensi kerajaan Sriwijaya diarahkan ke arah teknologi membangun kapal untuk armada perdagangan dan kapal perang untuk melindungi armada dagang itu. Bangunan yang mereka dirikan kebanyakan terbuat dari kayu sehingga tidak meninggalkan bekas ditelan zaman.

Sriwijaya juga tidak hanya sebagai negara yang memiliki kekuatan poros maritim, namun juga keseimbangan dengan daratan. Meski dikenal memiliki kekuatan budaya bahari, namun budaya laut atau budaya bahari yang dimiliki Sriwijaya ini juga dilengkapi dengan budaya daratan.

“Ada kesadaran akan adanya kesalingterkaitan dan keseimbangan antara darat dan laut, sebagaimana diwujudkan secara simbolik oleh penguasaan Sriwijaya sebagai the Lord of the Mountain dan the Maharaja of the Isles. Hal ini disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dari Arab beratus tahun. (Bambang Purwanto, Kompas, 8 Desember 2018)

Diungkapkan oleh Bambang Purwanto, pengajar di Departemen Sejarah FIB UGM, bahwa Sriwijaya mengalami kejayaannya karena memiliki keseimbangan darat dan laut. Darat dan laut merupakan suatu kesatuan yang membentuk kestabilan, dengan air sebagai unsur pokok.

Kenneth Hall, menyebutkan penguasan Sriwijaya memiliki “kekuatan magis menguasai air”. Ruang pesisir misalnya, adalah ruang pertemuan antara unsur laut dan darat yang membentuk tradisi “kemajuan”, sebagaimana yang juga terjadi di Pantai Utara Jawa.

Selanjutnya diungkapkan, sebagai kekuatan yang berporos pada air itu, tumbuh peradaban besar yang pernah terbentuk di sekitar Muaro Jambi, dan Muara Takus, dan (Muara) Upan. Kekuatan itu tumbuh ketika agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha membentuk dirinya sebagai unsur dominan di wilayah Nusantara.

Sriwijaya mengalami keruntuhannya pada abad XIV. Lenyapnya Sriwijaya, selain faktor geografis – ketika Palembang semakin jauh dijangkau dari pantai – juga karena komoditas produk hutan semakin langka. Faktor eksternal adanya serangan dari kerajaan Cola dan Majapahit.

Selain itu, kelemahan Sriwijaya juga karena faktor internal dalam kerajaan, seperti intrik politik internal dan lenyapnya keteladanan. Setelah Raja Balaputeradewa wafat pada 835, Sriwijaya tak lagi menemukan sosok pemimpin yang adil dan bijaksana. Akibatnya, banyak pemberontak di tubuh kerajaan. Sejumlah pihak berebut ingin jadi pemimpin.

Selain itu, faktor yang sesungguhnya sangat penting yang melemahkan Sriwijaya adalah fakta mundurnya peran Orang Laut sebagai armada kedaulatan Sriwijaya. Ketika kemudian mulai berkurangnya jumlah personel armada laut yang sebagian besar diisi oleh orang daratan, dan orang laut telah tersingkir, maka keruntuhan Sriwijaya pun tinggal menunggu waktu.  (JP).

 

 (Sumber: Jo Priastana, “Buddhist Backpacker: Jelajah Jejak Buddha Nusantara”, Yayasan Yasodhara Puteri, 2019).

Butuh bantuan?