Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (5) – Keterkaitan Pusat Pendidikan Sriwijaya dan Nalanda

Home » Artikel » Membangkitkan Pusat Pendidikan Muaro Jambi (5) – Keterkaitan Pusat Pendidikan Sriwijaya dan Nalanda

Dilihat

Dilihat : 52 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Jo Priastana

 

“Orang yang tidak mengetahui sejarah, asal usul,

dan budaya masa lalunya seperti pohon tanpa akar”

(Marcus Garvey, 1887-1940, Aktivis, Pemimpin Gerakan Pan-Afrikanisme)

Sejarah memperlihatkan adanya hubungan kebudayaan yang erat antara India dan Indonesia, khususnya Nusantara jaman dahulu, baik di Sumatera maupun Jawa. Demikian, Rabindranath Tagore, penyair dunia mengungkapkan. Hubungan budaya itu tercermin dalam warisan budaya yang ditinggalkannya, seperti Candi Borobudur maupun candi-candi yang bertebaran di Sumatera, baik di Muara Jambi, Muara Takus, Padang Lawas semasa kerajaan Sriwijaya.

Peningalan berupa candi-candi itu pun, tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keterampilan yang dimiliki oleh nenek moyang yang menghasilkannnya. Tidak terkecuali, keterampilan itu terbentuk juga adanya pusat pendidikan, seperti pusat pendidikan di Muara Jambi yang terkenal semasa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Pusat pendidikan di Sumatera ini pun memilki keterikatan dan kaitan yang erat dengan pusat pendidikan Nalanda di India.

“Pusat-pusat pendidikan itu telah mempengaruhi ajaran Buddha di Nusantara,” kata Agus dalam pidato kebudayaan yang berjudul “Hubungan Muaro Jambi, Nalanda, Vikramasila dan Candi Borobudur” pada  acara Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF)  di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, Kamis malam (23/11/2017). Keterkaitan ini memungkinkan berkembangnya berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak sebatas pengetahuan agama, serta pertukaran para pakar dan mahasiswa.

 

Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Nalanda

Arkeolog Agus Widiatmoko menguraikan bahwa pusat-pusat pendidikan Buddha di India muncul sejak awal masehi. Ditandai dengan adanya Situs Piprahwa dari abad 1 dan 2 M, Situs Nagarjunakonda abad 3 M, Situs Ganwaria dari abad 4 M, dan Situs Nalanda yang didirikan masa pemerintahan Gupta pada abad 5 M.

Arkeolog Agus Widiatmoko mengungkapkan tentang Nalanda. Masa Gupta ditandai dengan pendirian tempat pendidikan Nalanda yang membawa ajaran Buddha memasuki era sumber ilmu pengetahuan. Memasuki abad 6 M, tak hanya dikenal dengan institusi Buddha yang menghasilkan karya seni, Nalanda juga menjadi pusat ajaran Mahayana.

Memasuki periode Pala pada akhir abad 8 M hingga akhir abad 11 M, tradisi di Nalanda memainkan peranan penting. Di masa jaya Pala yang memerintah di Bengal dan Bihar itu, Buddha menjadi ajaran dan praktik resmi di kerajaan. Pada masa ini pula, pertumbuhan dan perkembangan Buddha Mahayana sangat pesat, khususnya aliran Tantrayana.

Pada periode Pala banyak didirikan vihara sebagai bagian dari universitas dan pusat pendidikan Buddha, antara lain Vihara Vikramasila, Odantapuri, Somapura, dan Jagaddala. Di antara Universitas itu, Nalanda menjadi unggulan dan acuan.

 “Pusat-pusat pendidikan itu telah mempengaruhi ajaran Buddha di Nusantara,” kata Agus dalam pidato kebudayaan yang berjudul “Hubungan Muaro Jambi, Nalanda, Vikramasila dan Candi Borobudur” pada acara Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, Kamis malam (23/11/2017).

Dari hasil penelitian arkeolog di Situs Batujaya, Karawang juga dapat diketahui telah ada pembangunan candi bercorak Buddha pada abad 6-7 M dan pembangunan tahap kedua abad 8-10 M. Bukti awal kemampuan penduduk Nusantara membangun candi sebenarnya sudah sejak milenium pertama.

 

Keterkaitan Sriwijaya dan Nalanda

Ada keterkaitan antara Nalanda di Sriwijaya dan Pusat Pembelajaran Agama Buddha di Srwijaya. Keterkaitan ini menjadikan terjadinya pertukaran dan penyebaran Ilmu Pengetahuan antara perguruan tinggi Nalanda dan perguruan tinggi di Sriwijaya. Sarjana Tiongkok yang juga peziarah dan musafir ilmu pengetahuan, Yijing (I Ching) melukiskan suasana ilmu pengetahuan di kedua kampus besar itu pada 1.300 tahun lampau. (Iwan Tanoto, “Mencari Kurikulum Sriwijaya”, Kompas 4-10-2016)

Diungkapkan oleh Iwan Tanoto dalam tulisannya itu, Pendeta Buddha I Tsing ini pernah belajar di dua simpul utama jaringan pengetahuan pada era keemasan Asia itu. Upaya mencari makna Jalur Pengetahuan sebagai bagian dari penyebaran pengetahuan, ketimbang Jalur Sutra sebagai jaringan perdagangan barang, dituliskan di artikel Contemplating the Knowledge Route (Pranoto, 2016)

Ilmu pengetahuan yang dibelajarkan di episentrum pengetahuan Nalanda (di Rajgir, India), yang arti bebasnya “Sang Pemberi Derma Tiada Henti”, juga terdapat di Sriwijaya. Kedalaman ilmu pengetahuan di Sriwijaya tak beda dengan Nalanda, bahkan dikatakan studi di Nalanda tak akan lengkap jika belum studi di Sriwijaya. Pelajar yang ke Nalanda seperti I Tsing juga melengkapi dirinya di Sriwijaya.

Nalanda dan Sriwijaya saling melengkapi. Dengan menelusuri Nalanda sama juga memahami Sriwijaya dan memahami peradaban ilmu pengetahuan di kepulauan khatulistiwa ini. Sayangnya, pendidikan di Sumatera yang saat itu begitu maju sebagaimana dilaporkan I Tsing belum diketemukan bukti tertulisnya, bukti tertulis tentang pencapaian ilmu pengetahuan yang diajarkan.

 

Vihara Sriwijaya di Nalanda

Sumber lain, prasasti di India, Nalanda copperpalate dari abad 9 M yang ditemukan di Vihara I Nalanda, menyebut hubungan bilateral  Raja Pala dengan keturunan Dinasti Syailendra bernama Balaputradewa dari Sumatera. Sriwijaya membangun vihara di Nalanda demi kepentingan pengembangan pusat pendidikan di Nusantara dan pusat studi ilmu filsafat Mahayana di Nalanda menjadi rujukan Buddha di Sriwijaya.

“I-Tsing bilang ada pusat pendidikan di Sumatera. Ini menarik. Kalau memang ada, di mana ?” kata Agus. Agus kemudian menjelaskan Situs Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Kawasan ini sudah ada sejak abad 7-12 M seiring keberadaan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno yang berpusat di Sumatera. Secara umum ada dua kompleks bangunan, yaitu vihara dan tempat pemujaan. Ada pembagian ruang di bagian vihara di antaranya ruang tinggal, halaman, tempat ritual (cetiyagraha),  pendopo (mandapa), dan fasilitas lain sebagai kelengkapan bangunan, kolam dan sumur.

Sementara kuil pemujaan hanya terdiri dari satu satuan ruang. Dalam satu satuan ruang berpagar keliling terdapat pusat ritual atau candi induk, mandala, struktur stupa. Dengan adanya situs ini, kata Agus, menunjukkan sejak awal perkembangan Buddha di Nusantara, telah ada lokasi untuk mendidik para penganutnya.

“Penemuan Prasasti Karangberahi di Jambi, setidaknya dimaknai kekuasaan Sriwijaya pada abad 7 M ikut mendorong kemajuan pendidikan Buddha khususnya di Muaro Jambi,” jelasnya.

Menurut Agus, terkait hubungannya dengan India, ada kesamaan antara Muaro Jambi dengan Situs Nalanda dan Situs Vikramasila di India. Dua situs Buddha di India punya kronologi masa perkembangan yang saling berkesinambungan. Situs Nalanda dari abad 5-12 M. Situs Vikramasila dari sejak abad 8-13 M. Sedangkan Situs Muara Jambi dari abad 7-12 M.

Dari sisi arsitektur dan teknologi bangunan, ketiganya pun nampak mirip. Sama-sama memakai bata sebagai bahan utama. Pun soal pola dan bangunan, meski ada beberapa penyesuaian dengan kondisi geografi lokal. Masing-masing situs mempunyai kompleks bangunan vihara dan kuil pemujaan.

“Kesamaan ini menunjukkan, lokasi yang dipakai sebagai pusat pendidikan Buddha pada dasarnya tempat tinggal para biksu dalam menjalankan pendidikan  Buddha,” kata Agus.

Ketiganya juga memilih pola lokasi yang sama. Bangunan-bangunan itu tak jauh dari aliran sungai besar. Sumber daya air di sekitar ketiga situs itu pun melimpah.

Meski mirip dengan di India, pusat pendidikan di Sumatera sebenarnya sudah berkembang sebelum pendirian vihara di Nalanda oleh Sriwijaya. Ini terkait berita  I-Tsing pada abad 7 M yang sempat tinggal dua bulan di wilayah Sriwijaya untuk memperdalam sabdavidya sebelum ke Nalanda.

“Sriwijaya mendirikan vihara di Nalanda dapat dimaknai sebagai upaya menjadikan Svarnadvipa setara dengan pusat pendidikan di Nalanda,” ujar  Agus.

Tak cuma di Sumatera, Agus menambahkan, di wilayah Yogyakarta pun ada bangunan yang diperkirakan menjadi pusat pendidikan Buddha, yakni Candi Sewu dan Candi Sojiwan. Kedua candi itu difungsikan sebagai bangunan pemujaan.

“Di dekatnya ada Ratu Boko. Itu kalau menurut saya pribadi vihara besar,” katanya. Sebab, pola ruang yang ada di Ratu Boko punya kemiripan dengan bangunan vihara lainnya. Padahal, selama ini situs itu lebih sering dikaitkan dengan keraton. “ini harus dikritisi,” tegasnya.

Keterkaitan pusat pendidikan Nalanda di India dengan pusat pendidikan di Nusantara patut diapresiasi karena menyangkut pikiran yang merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan yang membangun kecerdasan bangsa.

 

Negarawan berbudaya, inspirasi dan energi negeri

Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam kesempatan sambutan seminar,“Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail” di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, 8 Agustus 2017,  menyatakan:

“Di mana ada hubungan langsung antara Sriwijaya dan Nalanda. Penting untuk diketahui, bahwa sebelum zaman modern, bangsa Indonesia sudah terhubung dengan hal yang sangat penting, yaitu pikiran.” Terbukti bahwa rasionalitas, pikiran yang mencerdaskan akan menciptakan bangsa yang besar dengan meninggalkan warisan budayanya.

Bangsa yang besar tidak meninggalkan warisan budaya dan melupakan sejarahnya. Ketinggian seorang pemimpin negara yang selalu memikirkan kesejahteraan bangsa dan kemajuan negaranya adalah seorang Negarawan yang sangat menghargai kekayaan, warisan budaya bangsanya serta belajar dari sejarah kecemerlangan dan kejayaan negara yang pernah tumbuh dan berkembang dalam sejarah negerinya.

Warisan Budaya dan kecemerlangan sejarah masa lalu selalu menyimpan inspirasi dan motivasi bagi kehidupan masa sekarang. Bukan tenggelam ke masa lalu namun menjadikan masa lalu menjadi sumber energi untuk kembali membangun kejayaan bangsa dan negara. Masa lalu selalu aktual dan sejarah senantiasa relevan bila dimengerti dan dipahami dengan sebenarnya,

Membangkitkan kembali pusat pendidikan di Muaro Jambi yang menandai kejayaan Sriwijaya kiranya akan memberi pemahaman terhadap kebenaran perjalanan bangsa yang akan memberi inspirasi dan energi bagi kebangkitan dan kejayaan Indonesia di jaman kini dan seterusnya dengan selalu mengaktulisasikan pemahamanan kebenaran sejarah.

Kebesaran sejarah bangsa harus dipahami dengan benar dan masyarakat harus dibangunkan, agar tetap kuat berdasarkan pemahaman kebenaran sejarah yang tetap terjaga, tidak lenyap, tidak dirusakkan. Karena, George Orwell penulis terkenal mengingatkan, “The most effective way to destroy people is to deny and obliterate their own understanding of their history.” (JP).

 

(Sumber: Jo Priastana, “Buddhist Backpacker: Jelajah Jejak Buddha Nusantara”,  Yayasan Yasodhara Puteri, 2019).

https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/buddhisme-antara-sriwijaya-dan-borobudur

 

Butuh bantuan?