Oleh: Jo Priastana
“Universitas bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu,
melainkan mercusuar yang menerangi masa depan”
(John F. Kennedy, 1917-1963, Presiden AS ke-35; 1961-1963)
Akankah Nalanda masa kini di Indonesia dan perguruan tinggi Buddhis lainnya telah mempersiapkan dirinya untuk bergerak menjadi Universitas modern. Edy Ramaputra Wijaya Rektor pertama Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya dalam kesempatan berjumpa di hari pertama, tanggal 30 Juli 2026 saat diresmikannya STABN Sriwijaya menjadi Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya, dengan tegas dan optimis menyatakan akan memperjuangkan lima tahun ke depan menjadi Universitas. Institut Agama Buddha Sriwijaya yang berada di Serpong Tangerang ini tampaknya memiliki segala potensi untuk menjadi universitas Buddhis Modern pertama yang menyandang nama agama Buddha, Universitas Agama Buddha Negeri Sriwijaya.
Tidak diragukan lagi bahwa perjalanan perguruan tinggi Buddhis di Indonesia, yang bermula dari Akademi, Sekolah Tinggi, Institut tampaknya juga akan bergerak menjadi universitas modern. Hal ini menjadi menarik untuk melihat kembali keunikannya seperti perguruan tinggi Buddhis Nalanda masa lalu di India yang sering disebut sebagai universitas pertama di dunia (abad 5-12) dan membandingkannya dengan Universitas modern di Eropa yang berkembang pada abad pertengahan (abad 12) dan terus menyejarah, dan yang kini menjadi model pendidikan di seluruh dunia.
Dalam dunia globalisasi masa kini, pastinya perguruan tinggi Buddhis di Indonesia akan bergerak menjadi universitas modern. Modal itu sesungguhnya telah terwariskan dalam sejarah pendidikan dan monastik Buddhis dengan sejarah keberadaan Nalanda. Untuk itu, segenap problematik dunia modern bersama keberadaan universitas modern akan menjadi ruang kajian dan perjuangan bagi dunia pendididikan tinggi Budhis yang saat ini yang telah berkembang menjadi institut untuk melangkah maju menjadi universitas modern. Perjuangan yang pastinya akan terletak pada pundak generasi milenial muda Buddhis terdidik saat ini.
Nalanda dan Universitas Modern
Di Nalanda, ilmu berkembang dalam sebuah komunitas monastik-intelektual. Ada aturan, struktur pengajaran, asrama, perpustakaan, dan tradisi debat. Namun, otoritas ilmu sangat terkait dengan garis transmisi guru-murid (avariya-sisya parampara), reputasi para guru besar, dan kemampuan seseorang dalam penguasaan ajaran.
Seorang cendekiawan Nalanda diakui bukan terutama karena sebuah sertifikat, tetapi karena: kedalaman pemahaman kitab, kemampuan berdebat, penguasaan logika, pengakuan komunitas ilmiah, dan kualitas praktik batinnya.
Sementara itu, universitas Eropa yang berkembang sejak abad pertengahan mengalami proses yang berbeda. Institusi seperti University of Bologna dan University of Paris perlahan membangun model, seperti: kurikulum baku, jenjang pendidikan, fakultas, gelar akademik, ujian, sertifikasi, administrasi universitas. Seorang mahasiswa tidak sekadar belajar pada satu guru, tetapi masuk ke suatu tradisi keilmuan.
Dengan demikian, ilmu tidak lagi hanya melekat pada figur guru tertentu, tetapi menjadi pengetahuan yang diorganisasi secara institusional. Seorang doktor bukan hanya dianggap ahli karena kebijaksanaan pribadi, tetapi karena melewati prosedur akademik yang diakui komunitas ilmiah.
Perbedaan ini dapat diringkas. Nalanda klasik memiliki otoritas ilmu melalui guru dan tradisi, pengetahuan terkait transformasi diri, pengakuan melalui reputasi dan debat, kurikulum lebih fleksibel dalam tradisi tertentu, guru sebagai pusat transmisi.
Sedangkan Universitas modern Eropa memiliki otoritas ilmu melalui institusi akademik, pengetahuan dikembangkan melalui disiplin ilmu, pengakuan melalui gelar dan sertifikasi, kurikulum terstruktur dan terdokumentasi, sistem akademik sebagai pusat reproduksi ilmu.
Namun menariknya, universitas modern juga tetap memiliki unsur “Nalanda” dimana seorang profesor besar masih menjadi pusat lahirnya paradigma baru. Sebaliknya, dunia pendidikan tinggi Buddhis modern banyak mengadopsi sistem universitas Barat, memiliki fakultas agama Buddha, program sarjana-magister-doktor, jurnal ilmiah, penelitian, dan akreditasi.
Dalam pemahaman yang agak tradisional, dalam konteks filsafat ilmu, perbedaannya mungkin dapat dirumuskan demikian: Nalanda bertanya “Bagaimana pengetahuan mengubah manusia yang mengetahui?” Universitas modern bertanya “Bagaimana pengetahuan dapat dikembangkan, diuji, diwariskan, dan dilembagakan?”
Idealnya, pendidikan tinggi Buddhis masa kini dapat mempertemukan keduanya: mengambil penyelidikan institusional universitas modern sekaligus mempertahankan visi Nalanda bahwa ilmu bukan hanya akumulasi informasi, tetapi jalan pembebasan dari kebodohan (avidya) dan penderitaan (dukkha) dan dalam perguruan tinggi Buddhis masa kini dikembangkan melalui metodologi ilmu pengetahuan modern sejalan zaman yang terus berubah dan berkembang problematik deritanya, dukkha dunia global.
Filsuf India, Ekonom Amartya Sen (lahir 1933), peraih Nobel Ekonomi dalam berbagai tulisannya tentang tradisi intelektual India, menekankan bahwa Nalanda merupakan contoh awal kosmopolitanisme intelektual. Ia melihat Nalanda sebagai ruang dimana berbagai tradisi pemikiran bertemu, mirip dengan fungsi universitas modern sebagai tempat dialog ilmu. Amartya Sen menulis buku terkenal (1973) “On Economic Inequality” Oxford New York: Clarendon Press Oxford University Press.
Gagasan ekonom Amartya Sen Sen dapat diringkas, “Nalanda was a place of extraordinary intellectual openness, where scholars from different regions and traditions came together.” Maksudnya, Nalanda adalah tempat keterbukaan intelektual luar biasa, tempat para sarjana dari berbagai wilayah dan tradisi berkumpul.
Hirakawa Akira (1915-2002), sejarawan Buddhisme Jepang, terkenal dengan bukunya, “A History of Indian Buddhism: From Sakyamuni to Early Mahayana,” translated by Paul Groner, USA: Universitas of Hawaii Press, 1990. Ia menggambarkan mahavihara seperti Nalanda bukan hanya sebagai biara, tetapi sebagai pusat pendidikan tinggi Buddhis internasional. Ia menekankan bahwa Nalanda memiliki organisasi akademik, guru spesialis, mahasiswa dari berbagai negeri, tradisi penelitian dan debat.
Mungkin ungkapan yang lebih tepat, Nalanda bukan universitas modern pertama, tetapi merupakan salah satu leluhur konsep universitas. Secara filosofis menarik, universitas modern mewarisi Nalanda satu semangat penting, bahwa ilmu berkembang melalui dialog, kritik, penelitian, dan komunitas pencari kebenaran. Bedanya, universitas modern kemudian menambahkan struktur birokrasi, kurikulum, gelar, dan sistem akreditasi.
Membawa Cahaya Nalanda Menjadi Universitas Modern
Setelah peresmian gedung Nalanda baru bernama “Balaputradewa’ berakhir, di ruang sunyi gedung baru itu, seorang dosen muda berdiri di antara buku-buku Buddhadharma, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Di tangannya bukan hanya tergenggam lembaran penjelasan disertasi doktoral dari sebuah universitas studi Buddhisme global internasional, tetapi juga sebuah mimpi panjang yang seakan diwariskan dari ribuan tahun yang lalu.
Ia membaca nama gedung baru dan lantas menyelami kisah Nalanda, mahavihara agung di tanah India, tempat para pencari kebijaksanaan dari berbagai negeri pernah berkumpul. Ia membaca catatan perjalanan Xuanzang tentang ribuan pelajar yang datang menempuh perjalanan jauh demi mencari pengetahuan. Ia mendengar gema para ilmuwan modern yang melihat Nalanda sebagai salah satu akar dari tradisi universitas dunia, sebagai ruang terbuka tempat gagasan bertemu, perbedaan dalam dialog, dan kebenaran dicari dengan ketekunan.
Dadanya bergetar. Bukan sekadar kejayaan masa lalu, tetapi karena ia melihat sebuah pesan yang melampaui zaman, bahwa Buddhisme pernah melahirkan peradaban ilmu yang tidak takut berdialog dengan dunia. Nalanda bukan benteng keyakinan yang tertutup, melainkan taman intelektual tempat filsafat, logika, kedokteran, kesehatan masyarakat, bahasa, astronomi, arkelologi, dan pencarian makna kehidupan tumbuh.
“Apakah cahaya itu telah padam?” tanyanya dalam hati. Lalu ia tersenyum. Sebab ia menyadari, Nalanda bukan hanya bangunan batu yang pernah runtuh. Nalanda adalah semangat. Nalanda adalah keberanian manusia untuk bertanya. Nalanda adalah pertemuan antara kebijaksanaan batin dan kejernihan pikiran.
Kini, di tangannya ada tugas baru. Ia tidak ingin sekadar menghidupkan nama Nalanda sebagai nostalgia sejarah. Ia ingin menghadirkan kembali ruhnya, membawa api Nalanda dalam bentuk universitas modern yang mampu menyantuni zamannya secara saintifik. Sebuah tempat di mana studi Buddhadharma tidak berhenti pada hafalan kitab, tetapi menjadi dialog dengan filsafat, ilmu sosial, sains, teknologi, ekologi, psikologi, arkeologi dan persoalan kemanusiaan global.
Ia membayangkan ruang-ruang kelas yang terbuka seperti taman Nalanda dahulu. Di sana seorang mahasiswa dari Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika duduk bersama. Mereka tidak hanya bertanya, “Apa ajaran Buddha?” tetapi juga bertanya, “Bagaimana kebijaksanaan Buddha menjawab penderitaan manusia abad ke-21?’
Ia ingin melahirkan akademisi yang tidak hanya mampu mengutip sutra, tetapi mampu membaca kegelisahan zaman. Para ilmuwan yang tidak hanya memahami teori, tetapi memiliki welas asih. Para pemimpin yang tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi menjaga keseimbangan bumi. Baginya, gelar PhD bukan mahkota pengetahuan, melainkan amanah.
Lalu, ia menatap cakrawala dan merasakan seolah para guru Nalanda masa lalu sedang berbisik: “Jangan hanya menjaga abu peradaban lama. Nyalakan kembali apinya.” Maka langkahnya menjadi mantap.
Di antara reruntuhan sejarah dan harapan masa depan, seorang dosen muda berdiri membawa benih Nalanda baru. Bukan Nalanda yang terkurung di masa lalu, tetapi Nalanda yang berjalan bersama, universitas modern global yang menyatukan ilmu dan kebijaksanaan, penelitian dan pembebasan, kecerdasan dan semangat kasih sayang dalam melenyapkan derita.
Dari perspektif yang lebih jauh, tidak hanya sekali, setiap kali ia akan memasuki gedung baru itu, ia menatap bangunan baru gedung Nalanda yang diberi nama “Balaputradewa,” lebih dalam, seakan hormati pada leluhur dimana kesinambungan terjadi sebelum aktivitas baru di dalam dimulai.
Lebih jauh, ia merasa langkah ini bukan sekadar menggambarkan bangunan sebagaimana Raja Nusantara itu membangun gedung bagi pondokan mahasiswanya di Nalanda, tetapi sebagai proyek lahirnya peradaban Nalanda Baru, tempat dimana para mahasiswa dari segala negara datang berkumpul, sebagaimana dirinya yang juga kerap berkumpul dengan sarjana mahasiswa lain dari berbagai negara ketika berada di universitas luar negeri.
Proyek peradaban kemanusiaan global yang menghidupkan kembali visi pendidikan Buddhis masa lalu, dimana cahaya Nalanda bertemu dengan standar universitas modern.
Ketika melangkah mengawali aktivitas di gedung baru itu, ia sekali lagi memandang gedung baru itu dengan mata berbinar, dan melihat ke sekelilingnya dengan optimis bahwa gedung baru Nalanda itu merupakan momentum untuk sungguh mewujud sebagai universitas modern.
Terbayang, seperti di universitas Buddhis Internasional dimana ia belajar dan sempat melakukan pengajaran kepada mahasiswa dari berbagai negara. Ia membayangkan berbagai mahasiswa dari berbagai negara itu juga akan berkumpul di sini dalam semangat akademik.
Akan ada riset, kurikulum, internasionalisasi, keterbukaan dan dialog lintas ilmu, tidak sekedar lintas iman. Seperti wujud nyata prinsip “ehipassiko”: datang dan melihat sendiri, menguji penalaran, bukan sekadar menerima warisan dogma yang tertutup. Prinsip Ehipassiko sebagai yang mendasari semangat Buddhadharma global saintifik modern.
Inilah prinsip dasar keterbukaan, penyelidikan berciri saintifik dalam Buddhadharma yang selalu dipikirkan matang-matang, sebagai dosen muda yang sedang membawa cahaya Nalanda ke Abad Baru. Ia percaya, selama manusia masih mencari kebenaran dan masih merindukan pembebasan dari kebodohan, cahaya Nalanda akan terus hidup, dan akan menemukan bentuknya dalam Universitas Nalanda modern untuk peradaban kemanusiaan global.
Setiap pagi, ia menghafal motto terkenal Universitas Nalanda dahulu, “Ano bhadrah kratavo yantu visvatah” yang berarti “Semoga pikiran mulia datang kepada kita dari segala arah.” Ia memandang ke segala arah dan kemudian secara mendalam melihat keberadaan gedung baru yang bernama “Balaputradewa,” seperti api Nalanda dalam semangat baru.
Sambil memejamkan mata, dengan pikiran dan tekad mulia, ia merasakan inilah momentum membangkitkan api Nalanda dahulu untuk menjadi universitas modern global masa kini. Sebuah cahaya kebijaksanan dan welas asih Buddha untuk hadirnya komunitas internasional sebagai tempat dimana guru dan murid berkumpul mencari, menguji, dan mengembangkan pengetahuan serta kebijaksanaan.
Meneruskan cahaya mercu suar Nalanda historis dalam zaman modern dunia global masa kini dengan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi bangsa dan dunia. Api Nalanda masa lalu yang bertansmisi menjadi Universitas modern di masa di zaman modern kini. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: dok tim Nalanda