Mendidik Bukan Soal Menjual Ilmu

Home » Artikel » Mendidik Bukan Soal Menjual Ilmu

Dilihat

Dilihat : 64 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
WhatsApp Image 2023-07-18 at 6.06.10 AM

Oleh: Jo Priastana

 

“Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak; menuntun  segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat” (Ki Hajar Dewantara)

 

Di dalam sejarah filsafat Yunani terdapat kelompok yang menjajakan ilmunya dengan menarik bayaran. Kelompok yang disebut kaum Sofis. Kaum sofis sering dipandang secara negatif. (Bertens. 1990. “Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, Kanisius. Hal 67-70). Kaum sofis ini mengajar untuk mendapatkan uang yang banyak, menghalalkan segala cara untuk memenangkan argumentasi, serta mengajarkan relativisme. (Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 34-38).

Kaum Sofis sebutan untuk penjual ilmu muncul pada pertengahan abad ke-5 SM. Kaum Sofis hidup dan berkarya pada zaman yang sama dengan Socrates. Mereka mengajarkan ilmu-ilmu seperti matematika, astronomi, dan tata bahasa maupun ilmu retorika. Beberapa nama yang termasuk kaum sofis diantaranya: Protagoras, Gorgias, Prodikos, Hippian, Antiphon dan lainnya. Mereka menarik bayaran dari aktivitasnya itu, berbeda dengan Sokrates yang mengajar di jalan-jalan semata untuk membangunkan jiwa dan kebenaran pada diri anak-anak muda sebagai sosok guru dan filsuf yang cinta kebijaksanaan.

Secara etimologis philosophia (filsafat) berarti cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat. Berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu pholein atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan sophis atau sophos yang berarti kebijaksanaan. Dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, Pythagoras adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah philosophia. Pythagoras memberikan definisi filsafat sebagai “the love of wisdom”, sebuah istilah untuk aktivitas berfilsafat yang bernada kerendahan hati ketimbang kaum Sofis (Sophia) yang menganggap dirinya telah memiliki kebijaksanaan dan mengajar ilmunya dengan menarik bayaran.

 

Filsafat dan Pendidikan

Baik Sokrates, Pythagoras maupun Kaum Sofis melakukan aktivitas berfilsafat dan mengajar. Sejak awalnya filsafat sudah berkaitan dengan pendidikan, dan pendidikan tidak terpisahkan dari filsafat. Filsafat merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Berfilsafat berarti mencari nilai-nilai ideal (cita-cita) yang lebih baik, sedangkan pendidikan mengaktualisasikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia.

Pendidikan bertindak mencari arah yang terbaik, dengan berbekal teori-teori pendidikan yang diberikan antara lain oleh pemikiran filsafat. Filsafat mengadakan tinjauan yang luas terhadap realita termasuk manusia, maka dibahaslah antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep ini selanjutnya menjadi dasar atau landasan penyusunan tujuan dan metodologi pendidikan. Sebaliknya pengalaman pendidik dalam realita menjadi masukan dan pertimbangan bagi filsafat untuk mengembangkan pemikiran pendidikan.

Filsafat memberi dasar-dasar dan nilai-nilai yang sifatnya das sollen (yang seharusnya). Praksis pendidikan mengimplementasikan dasar-dasar tersebut, tetapi juga memberi masukan dari realita terhadap pemikiran ideal pendidikan dan manusia. Ada hubungan timbal balik di antara keduanya. Filsafat pendidikan sebagai fondasi dari teori pendidikan. Ilmu pendidikan merupakan ilmu interdisipliner, dibangun atas dasar atau fondasi utama: filsafat, psikologi, sosiologi. Ilmu pendidikan hampir pasti mempunyai dasar filsosofisnya, disamping dasar psikologis dan sosiologis.

Filsafat dan pendidikan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan merumuskan secara tegas sifat hakiki pendidikan dan hakikat manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, serta merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan maupun hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan. Selain itu, filsafat pendidikan juga berperan merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan), maupun sistem nilai dan norma atau isi moral pendidikan yang menjadi tujuan pendidikan.

Karenanya filsafat pendidikan berperan sangat penting dalam kebijakan pendidikan suatu negara dan perlu dipelajari oleh setiap mahasiswa dan insan pendidikan. Menyelami filsafat pendidikan akan memungkinkan mahasiswa menjadi lebih kritis dan lebih dapat berpikir reflektif dalam memandang persoalan pendidikan. Filsafat pendidikan memperluas cakrawala berpikir mahasiswa agar lebih arif dalam memahami problem pendidikan.

 

Filsafat Pendidikan dan Guru

Filsafat pendidikan memberikan orientasi berpikir dalam memecahkan problem-problem dasar kependidikan dengan menggunakan kebebasan intelektual dan tanggung jawab sosial, menyelami dunia pendidikan yang sesungguhnya dan berpikir kritis terhadap kebijakan pendidikan yang ditawarkan. Filsafat Pendidikan pada dasarnya merupakan penerapan suatu analisis filosofis terhadap lapangan pendidikan. 

Hubungan filsafat dan pendidikan juga diulas oleh pemikir pendidikan John Dewey (1859-1952). Filsuf pendidikan ini mengungkapkan, filsafat merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Kritikus sosial tentang pendidikan yang merintis dasar keilmuan di bidang psikologi pendidikan ini melihat eratnya hubungan filsafat dan pendidikan, adalah suatu keharusan bila kebijakan pendidikan yang akan diambil berdasarkan pada filsafat pendidikan.

Filsafat dan pendidikan tidak terpisahkakan dan karenanya filsafat pendidikan menjadi penting dipahami bagi civitas dunia pendidikan, termasuk kalangan pendidik atau guru. Pendidikan dan guru adalah sosok yang dapat membentuk jiwa dan watak peserta didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Guru bertugas mempersiapkan manusia susila yang dapat diharapkan membangun dirinya dan membangun bangsa dan negara. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.

Tugas Guru secara umum adalah mendidik. Dalam operasionalnya mendidik adalah suatu rangkaian proses mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, membentuk contoh dan membisakan. Tugas khusus bisa sebagai pengajar, pendidik atau sebagai pembimbing, pemimpin dan lainnya, atau bercermin pada Buddha seorang guru yang menghantar pembebasan dari kebodohan dan menghadirkan pencerahan siswa. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://static.wixstatic.com/media/f01121_a238413dec4d4358ac5ad89bffc34453~mv2.jpg/v1/fill/w_600,h_360,al_c,q_80,usm_0.66_1.00_0.01,enc_auto/f01121_a238413dec4d4358ac5ad89bffc34453~mv2.jpg

Butuh bantuan?