Mengapa Semakin Banyak Orang Tidak Tahu Malu?

Home » Artikel » Mengapa Semakin Banyak Orang Tidak Tahu Malu?

Dilihat

Dilihat : 54 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 49
  • 70
  • 6,332

Oleh: Majaputera Karniawan

 

Kata tahu malu (Chi 恥) dalam bahasa mandarin terdiri dari dua komponen kata, yaitu kata telinga (Er 耳) dan hati/pikiran (Xin 心). Kedua huruf berposisi berdekatan yang dapat dimaknai secara harfiah sebagai: Hati/pikiran akan terjaga berkat mendengar penilaian dari orang lain. Karena adanya supervisi (pengawasan) dari orang lain yang tertuang dalam susunan norma dan etika di masyarakat, tentu akan membuat kita merasa malu dan takut untuk berbuat salah.                                                                                                    

Hati siapapun tentunya tidak mau mendengarkan penilaian buruk tentang dirinya. Siapapun tidak mau menjadi terlihat buruk di mata orang lain. Maka dari itu seseorang hendaknya memelihara rasa malu di dalam pikirannya dan mewujudkannya dengan tidak sembarangan berucap dan berbuat sesuatu. Khonghucu 孔夫子 mengajarkan kita bahwa orang berbudi luhur tidak mudah membuat sebuah statement karena merasa malu kalau tidak dapat melaksanakannya (Lun Gi IV: 22). Kita bisa melihat bahwa banyak orang-orang besar yang tidak mudah membuat janji karena khawatir mereka tidak dapat melaksanakannya.

Hanya saja, di masa kini sebagian besar orang tidak lagi takut untuk tidak berbuat kebohongan, janji-janji palsu, tindakan amoral, semua seperti sudah mulai biasa saja dilakukan. Bahkan sebagian besar pelakunya seperti merasa tidak melakukan kesalahan apapun, apalagi menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan. Malahan, beberapa dari mereka menjadi terkenal dan di elu-elukan se-antero negeri. Sebenarnya, apa yang menyebabkan hal ini?

Dalam teori Abhidhammatasangaha, Buddhisme mengajarkan bahwa rasa malu berbuat salah dan takut berbuat salah adalah sebab terdekat daripada perilaku bermoral seseorang (Panjika, 2009). Dengan demikian sangat wajar apabila dikatakan rasa malu berbuat salah dan takut berbuat salah sebagai ajaran yang melindungi dunia dari kekacauan akibat degradasi moral.

Hal ini sejalan dengan teori kepribadian psikoanalisa milik Sigmound Freud (1923). Ilmuwan ini menyatakan pada dasarnya psikis manusia terdiri dari 3 bagian:

  1. Id adalah bagian primitif dan insting dari pikiran yang berisi dorongan hasrat nafsu seperti seksual, agresif, dan berbagai ingatan tersembunyi.
  2. Ego adalah sifat realita seseorang. Tugasnya adalah sebagai komponen pengambilan keputusan berdasarkan realita yang ada. Bedanya dengan Id, Ego bekerja dengan alasan, sedangkan id kacau dan tidak masuk akal.
  3. Superego adalah hati nurani dan nilai-nilai moral yang dianut oleh seseorang. Tugasnya menekan keliaran Id dan mempersuasif Ego untuk bertindak sesuai dengan nilai kebajikan yang telah diketahui diri sendiri (Materi Konseling, 2021).

Rasa malu dan takut berbuat salah ada di unsur super ego. Ketika Id lebih dominan daripada superego, maka akan mengarahkan ego seseorang untuk berbuat hal-hal yang tidak masuk akal, ini semua karena hasrat keinginan buruk seseorang sudah memiliki otoritas yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral dalam dirinya.

Contoh sederhana: Ketika seseorang ingin mencuri handphone, ia pasti memiliki insting untuk mencuri (Id), namun disisi lain hati nuraninya mengingatkan akan ajaran budi pekerti (Superego) untuk tidak mencuri milik orang lain. Akhirnya ia memutuskan (Ego) untuk tidak jadi mencuri karena super ego lebih berpengaruh daripada Id.

Maka apa yang bisa dilakukan? Adalah menjaga moral dan budi pekerti guna memperkuat rasa malu dan rasa takut akan akibat perbuatan salah. Karena ketika Super Ego benar-benar kita jaga dengan kuat, kita jadikan sebagai ketertiban dan rambu-rambu kehidupan, di sinilah kehidupan manusia akan terkontrol dengan baik. Karena secara alamiah memang semua manusia memiliki potensi-potensi hasrat nafsu dalam pikirannya, namun semua pilihan kembali kepada masing-masing individu. Memilih membiarkan pikiran buruk berkembang biak, atau memangkasnya. Bingcu 孟子berkata bahwa rasa malu berbuat salah berperan besar bagi manusia, kalau orang sudah bangga dapat berbuat muslihat dan licin, itu karena rasa malunya sudah tidak ada lagi, sementara yang tidak ada rasa malu, sudah tidak layak disebut sebagai ‘Manusia’ (Bingcu VII A: 7) Karena tanpa rasa malu, segala martabat dan harkat baik seseorang pasti akan hilang.

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

DAFTAR PUSTAKA

Tanpa Nama. 2015. Budi Pekerti Di Zi Gui 弟子规. Jakarta. 中华传统文化促进会.

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

PANJIKA (Pandit Jinaratana Kaharuddin). 2009. Abhidhammatasangaha. Tangerang. Padumuttara Publisher.

Materi Konseling. 2021. Id, Ego dan Superego Dalam Teori Konseling Psikoanalisis. https://www.materikonseling.com/2021/01/id-ego-dan-superego-dalam-teori-konseling-psikoanalisis.html. Diakses 22 September 2022.

Butuh bantuan?